Faya tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Aira. Saat dia menatapnya Aira hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kita pulang naik apa, Faya? Apakah Om Affan akan menjemput kita?" tanya Aira.
Banyak hal yang belum dia ketahui tentang kehidupan Faya. Meskipun mereka bersahabat dekat, tetapi Aira tidak banyak mengetahui tentang urusan internal keluarganya.
"Tidak, Ai, maksudku Ma. Pak Toni yang akan menjemput kita. Ayah hanya menjemputku jika dia ingin atau pak Toni sedang ambil cuti," jelas Faya.
"Hmm." Aira mengangguk.
Keduanya melangkah menuju ke pintu gerbang. Beberapa kali mereka menyapa teman yang berpapasan dengan keduanya.
Langit terlihat mendung. Bulan Januari adalah musim penghujan yang membuat para siswa berteduh di halte-halte dan emperan ruko yang berjajar di pinggir jalan.
Mobil jemputan Faya sudah menunggu di ujung jalan. Aira berjalan mengikuti Faya berjalan mendekati mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah.
Pak Toni membukakan pintu untuk mereka berdua. Dia tidak terkejut dengan kehadiran Aira di sana karena bi Sumi sudah menceritakan semuanya.
"Kita pergi ke hyperm*rt yang ada di deket rumah dulu, ya, Pak. Ada barang yang harus kami beli," ucap Faya ketika mereka sudah berada di jok belakang bersama Aira.
"Baik, Non."
Aira kembali merasa tegang. Sepeserpun dia tidak memiliki uang.
'Apakah sebaiknya aku bilang pada Faya kalau aku tidak memiliki uang, ya? Tetapi aku merasa tidak enak padanya.' Aira menimbang-nimbang di dalam hatinya.
Faya terlihat mengantuk saat mobil yang dikendarainya mulai berjalan. Aira menatapnya dengan perasaan gelisah. sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuknya bicara.
'Faya sedang tertidur karena semalam tidur hanya beberapa jam saja. Aku tidak mungkin membangunkannya dan mengatakan masalahku.' Aira melihat Faya telah terlelap. Kebiasaan yang sudah diketahuinya sejak beberapa waktu yang lalu.
Saat mereka sedang belajar bersama, Faya beberapa kali tertidur dalam posisi duduk. Biasanya hal ini terjadi saat mereka belajar di rumah Faya.
Sebenarnya Aira juga sangat mengantuk tetapi dia berusaha untuk menahannya. Dia melihat jalanan kota yang tergenang air. Meskipun hujan telah berhenti, tetapi jalan-jalan masih menampung air hujan.
AC mobil yang dingin membuat Aira tidak tahan juga. Dia pun menyusul Faya pergi ke alam mimpi mereka. Keduanya sama-sama terlelap dalam waktu yang cukup lama karena jalanan yang macet memperlambat perjalanan mereka.
Pak Toni tahu jika Faya masih tertidur, tetapi jika dia tidak membangunkannya maka dia akan marah. Mobil yang dia bawa telah masuk ke parkiran sebuah pusat perbelanjaan yang berada tidak jauh dari kompleks perumahan tempat tinggal Faya.
Sebelum turun, Pak Toni mengintip dari spionnya. Namun, Faya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Akhirnya dia terpaksa memanggilnya dari depan tanpa membuka pintu mobilnya karena takut mengejutkan mereka berdua.
"Non Faya! Non Faya!" panggil Pak Toni setengah berbisik.
Meskipun Faya sendiri yang meminta untuk dibangunkan, tetapi pak Toni masih mengutamakan sopan santun. Berulang kali dia mencoba untuk membangunkan Faya hingga sebuah kejadian tidak menyenangkan terjadi.
Sebuah mobil sport keluaran terbaru muncul dari arah belakang dan menyenggol mobil Faya. Kejadian ini membuat mereka bertiga tersentak.
Faya dan Aira yang belum tersadar sepenuhnya sangat terkejut dan terlihat kebingungan. Mereka berpikir jika Pak Toni menabrak sesuatu ketika sedang mengemudi.
"Astagfirullah!" ucap Faya dan Aira hampir bersamaan.
Keduanya saling berpandangan lalu melihat ke sekeliling, sedangkan Pak Toni sudah keluar dari dalam mobil sebelumnya. Sopir yang telah bekerja sekitar lima tahun itu berjalan cepat menghampiri mobil yang sudah menabraknya.
Seorang pemuda berwajah blasteran turun dari dalam mobil itu. Penampilannya sedikit nyentrik dengan padu padan pakaian yang mirip seperti berandalan.
Pemuda tinggi jangkung itu berjalan menghampiri Pak Toni yang sedang menyongsongnya. Wajahnya tidak terlihat sedih tetapi tidak juga senang. Wajah bulenya menunjukkan ekspresi yang misterius.
"Selamat siang, Tuan. Maaf aku kurang hati-hati saat mau parkir." Meskipun bisa berbahasa dengan lancar, bule itu berbicara dengan aksen yang sedikit berbeda.
"Mari kita periksa separah apa kerusakan mobil ini," ajak Pak Toni setelah melihat itikad baik dari penabrak mobil majikannya itu.
Bagian samping kiri mobil Faya tergores dan sedikit penyok. Mereka meneliti bagian lain jika mungkin ada yang mengalami kerusakan.
"Sepertinya hanya ini, Tuan. Saya akan bertanggungjawab. Kita akan membawa mobil ini ke bengkel dan biar saya yang membayar tagihannya," ucap pemuda itu dia meminta Pak Toni untuk mencatat nomor ponselnya.
Faya dan Aira keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Pak Toni. Mereka ingin melihat apa yang terjadi secara langsung setelah menyadari keadaan di sekelilingnya.
Pemuda yang menabrak mobil Faya itu terbengong melihat dua gadis berseragam SMA di hadapannya. Jika dia bersekolah di sekolahan reguler, mungkin saat ini dia tengah duduk di tingkat dua belas, sebaya dengan Faya dan Aira.
Faya dan Aira sama-sama cantik tetapi wajah Aira terlihat lebih manis. Pemuda itu cenderung melirik Aira ketimbang Faya yang tak kalah cantik.
"Ada apa, Pak Toni?" tanya Faya melihat sopirnya sedang berbicara dengan pria asing. Sebenarnya dia telah mendengar percakapan mereka, tetapi dia ingin mendengar semuanya lebih jelas.
"Masnya ini tidak sengaja menabrak mobilmu, Non. Dia menyadari kesalahannya dan ingin bertanggung jawab untuk itu."
Faya mengangguk.
"Ya, sudah. Pak Toni urus saja masalah ini. Aku ingin berbelanja dan segera pulang sebelum ayah sampai di rumah." Faya menarik tangan Aira berjalan meninggalkan keduanya.
Pria blasteran itu tampak tertegun menatap Faya dan Aira yang berjalan meninggalkannya. Hatinya merasa tergoda untuk mengenal mereka.
"Nama saya Steve, Pak. Ini kartu nama papa. Boleh pinjam ponselnya, biar saya tulis nomor saya yang bisa Anda hubungi." Steve terlihat terburu-buru.
Pak Toni memberikan ponselnya pada Steve setelah menerima kartu nama seorang pemimpin sebuah perusahaan besar. Baginya yang terpenting saat ini adalah tanggung jawab dari Steve bukan seberapa kaya kedua orang tuanya.
Setelah mereka sepakat untuk bertemu besok di sebuah bengkel, Pak Toni pun mengijinkan Steve pergi.
Faya mengambil sebuah troli belanja. Aira menatapnya dengan wajah tegang.
Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Aira memegang tangan Faya sebelum mereka masuk ke dalam super market.
"Faya, aku tunggu di luar saja, ya." Aira berbicara dengan suara yang sangat pelan.
"Apakah kamu kurang enak badan? Baiklah kita pulang saja kalau begitu, biar mbak Nami yang berbelanja nanti." Faya bersiap untuk mengembalikan trolinya dan membawa Aira pulang.
"Tidak, Fay. Aku baik-baik saja. Hanya saja ...." Ucapannya terhenti sejenak lalu kembali berkata, "Aku tidak memiliki uang sama sekali."
Aira tidak peduli jika setelah ini Faya berpikir dia menikah dengan ayahnya karena uang. Dia hanya mencoba jujur dengan keadaannya yang sebenarnya.
Faya menatap Aira tidak percaya. Hatinya serasa teriris melihat sahabatnya yang terlihat tegar akan berkata seperti itu.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
abdan syakura
Steve ma Faya aza..
2023-01-12
0
Erna Fadhilah
si stive nanti kayaknya bakal yg jadi saingannya ayah
2022-12-26
1
Masyitah Ellysa
next yaa author 😘 ceritanya best 👍
2022-10-17
2