Bab 2. Pernikahan Mengejutkan

Aira terus mengetuk pintu rumahnya sambil meminta maaf hingga suaranya serak. Namun, om dan tantenya tidak mau peduli. Mereka tidak juga membukakan pintu untuknya.

Affan merasa iba pada Aira tetapi dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tidak peduli sebesar apa kesalahan yang dilakukan oleh Aira, seharusnya om dan tantenya tidak harus mengusirnya seperti ini.

Isak tangis Aira membuat hatinya teriris. Affan memunguti barang-barang milik Aira yang masih tercecer lalu membawanya ke hadapan pemiliknya.

Keadaan Aira terlihat sangat menyedihkan. Dia terduduk di teras rumahnya sambil memeluk lututnya. Dagunya menempel di lututnya untuk menyangga kepalanya yang terasa berat

"Aira. Bolehkah aku tahu apa yang terjadi? Mungkin aku bisa membantumu." Affan duduk berjongkok di hadapan Aira.

Aira menatap wajah Affan dengan mata sembabnya. Air matanya masih mengalir tanpa permisi. Besar keinginannya untuk bercerita tetapi bibirnya sulit untuk digerakkan.

Warga yang tinggal di sekitar rumah Aira mulai berdatangan. Kabar begitu cepat menyebar meskipun pada awalnya hanya satu dua orang saja yang tahu. Mereka saling berbisik sambil melirik ke arah keduanya.

Affan menjauh dari Aira dan menjaga pandangannya. Kini dia berpaling ke arah warga yang berkerumun dan berniat untuk meminta tolong pada mereka.

"Tunggu di sini! Aku akan bertanya di mana rumah ketua RT pada mereka. Aku ingin mereka menyelesaikan masalah di keluargamu," ucap Affan lembut.

Aira mengangguk. Badannya berguncang saat terisak.

Baru beberapa langkah dia berjalan. Sebuah mobil Alphard berwarna putih berhenti tepat di belakang mobilnya. Seorang pria keluar dari dalam mobil itu dan melangkah menyibak kerumunan.

Pria itu melangkah tergesa menuju ke arah Affan dan Aira berada. Tangannya mengepal dan sorot matanya terlihat menakutkan.

Aira segera beranjak dari duduknya dan menyusul Affan. Dia berlindung di balik punggung ayah sahabatnya itu.

Melihat wajah takut Aira, Affan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pria itu adalah pria yang mengejar Aira sebelum dia mengantarkannya pulang.

"Oh, jadi kamu memilih berkencan dengan om-om daripada bersamaku. Atau jangan-jangan kamu sudah menjalin hubungan dengan pria ini sejak lama? Hebat! Prok! Prok Prok!" Pria itu bertepuk tangan sambil menatap Aira dengan pandangan menghina.

"Jaga ucapanmu, Mas! Jangan asal bicara. Kami tidak serendah itu." Affan tidak terima dia dituduh telah melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.

"Sok alim! Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu sering mengantarkan Aira pulang dari sekolah!"

Affan terkejut mendengar ucapan pria itu. Dia memang beberapa kali mengantarkan Aira pulang, tetapi mereka tidak hanya berduaan. Ada Faya juga di dalam mobilnya.

"Sepertinya kamu salah paham. Sebaiknya kita duduk bersama dan membicarakan hal ini baik-baik." Affan mengangkat kedua tangannya sebatas dada berusaha menenangkan pria di hadapannya.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Affan.

Beberapa orang warga lari mendekat dan memegangi tubuh pria itu. Mereka tidak ingin melihat perkelahian di sana

"Tenangkan dirimu, Rehan! Kita selesaikan masalah ini baik-baik," ucap salah satu warga yang memegangi Rehan.

"Lepaskan aku! Aku ingin menghajar pria brengsek ini. Berani-beraninya dia merebut calon istriku!" Rehan mencoba memberontak.

"Calon istri?" Affan menarik napasnya dalam. Kejadian yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya bingung. Dia dihadapkan dengan masalah yang tidak dia pahami.

Om dan tante Aira keluar dari dalam rumah setelah mendengar keributan yang terjadi di luar. Tidak lama kemudian Pak Seno selaku ketua RT setempat datang ke sana. Entah siapa yang memanggilnya.

Agung dan Reni terlihat gugup. Mereka tidak menyangka tindakannya mengusir Aira malam ini akan berbuntut panjang. Wajah mereka terlihat pucat pasi saat melihat Rehan yang menatap mereka tajam.

Pak Seno meminta Rehan, Aira, dan Affan masuk ke dalam rumah Agung. Dia juga meminta empat orang warga ikut bersamanya untuk menyelesaikan masalah ini.

Mereka duduk bersama untuk membicarakan keributan yang terjadi. Pak Seno meminta Agung untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Agung memiliki banyak hutang pada Rehan, perjaka tua yang tinggal di seberang rumahnya. Dia akan menganggap hutang mereka lunas jika Agung menikahkan Aira dengannya.

Hari ini, Rehan menjemput Aira sepulang sekolah dan membawanya jalan-jalan. Rencananya malam ini mereka akan menginap di hotel dan menghabiskan malam di sana. Aira menolak keinginan Rehan untuk melakukan hal dewasa layaknya sepasang suami istri.

Tidak ingin namanya menjadi buruk di mata masyarakat, Rehan memutar balikkan fakta dan membuat seolah-olah Affan yang bersalah. Dia mengatakan jika tidak semua yang dikatakan oleh Aira benar. Rehan juga mengatakan jika Aira sudah tidak suci lagi dan tidak lagi berminat untuk menikahinya.

Hati Aira benar-benar hancur. Fitnah itu begitu kejam dan membuatnya tak berdaya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kemalangan terus menerus datang memporak-porandakan hidupnya. Setelah kematian kedua orangtuanya, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Agung.

Rehan menuntut Agung untuk segera melunasi hutang-hutangnya atau mereka harus pergi dari rumah yang mereka tinggali saat ini. Mendengar akan hal itu, muncul pikiran jahat dipikirannya. Dia memaksa Affan untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang tidak dia perbuat.

Ketua RT pun sependapat dengan Agung. Dengan alasan tidak ingin membuat nama kampung mereka menjadi buruk, dia meminta Affan untuk bertanggung jawab dan menikahi Aira.

Pernikahan ini bertolak belakang dengan isi hatinya, tetapi dia tidak bisa membiarkan Aira dinilai buruk di mata masyarakat. Dengan terpaksa Affan pun menyetujui pernikahan ini. Dia juga melunasi seluruh hutang-hutang Agung pada Rehan.

Malam itu juga, Affan menikahi Aira secara agama dengan disaksikan oleh warga sekitar.

'Ya, Allah. Aku hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Semua yang terjadi begitu mengejutkan dan aku tidak bisa berpikir lagi.' Affan tertunduk lesu sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

Aira yang telah selesai mengemasi barang-barang miliknya berdiri mematung di hadapan Affan.

Agung dan Reni melihat keduanya dengan perasaan tidak senang. Meskipun begitu, Affan tetap bersikap sopan pada mereka.

"Om, Tante. Saya dan Aira mohon pamit. Terimakasih sudah menjaga Aira selama ini. Selamat malam." Affan meraih tangan Agung dan menyalaminya.

Aira belum bisa menguasai dirinya. Dia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Affan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat ini dia tak ubahnya hanya boneka yang dijual sebagai penebus hutang.

Tidak ada penyesalan di wajah Agung.

"Tinggalkan celenganmu! Kamu pikir itu uang dari mana? Setiap hari kami memberimu uang saku, kan?" ketus Reni.

Affan menatap Aira dengan lembut lalu mengangguk pelan. Dia ingin Aira merelakan barang yang diinginkan oleh tantenya itu.

Aira meletakkan celengan itu di atas meja dan melangkah mengikuti Affan untuk tinggal bersama. Hatinya berkecamuk. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini dan bagaimana tanggapan Faya tentang status barunya.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

GILA Tante dan omnya,Udah dibayarin semua hutang2 nya,Celengan juga mau di ambil,gila miskin banget tuh org,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️😡😡

2023-06-13

1

itanungcik

itanungcik

semoga aira bahagia ..

2023-05-22

0

abdan syakura

abdan syakura

sbr Airaa....
jalani saja...

2023-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!