Aira terus mengetuk pintu rumahnya sambil meminta maaf hingga suaranya serak. Namun, om dan tantenya tidak mau peduli. Mereka tidak juga membukakan pintu untuknya.
Affan merasa iba pada Aira tetapi dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tidak peduli sebesar apa kesalahan yang dilakukan oleh Aira, seharusnya om dan tantenya tidak harus mengusirnya seperti ini.
Isak tangis Aira membuat hatinya teriris. Affan memunguti barang-barang milik Aira yang masih tercecer lalu membawanya ke hadapan pemiliknya.
Keadaan Aira terlihat sangat menyedihkan. Dia terduduk di teras rumahnya sambil memeluk lututnya. Dagunya menempel di lututnya untuk menyangga kepalanya yang terasa berat
"Aira. Bolehkah aku tahu apa yang terjadi? Mungkin aku bisa membantumu." Affan duduk berjongkok di hadapan Aira.
Aira menatap wajah Affan dengan mata sembabnya. Air matanya masih mengalir tanpa permisi. Besar keinginannya untuk bercerita tetapi bibirnya sulit untuk digerakkan.
Warga yang tinggal di sekitar rumah Aira mulai berdatangan. Kabar begitu cepat menyebar meskipun pada awalnya hanya satu dua orang saja yang tahu. Mereka saling berbisik sambil melirik ke arah keduanya.
Affan menjauh dari Aira dan menjaga pandangannya. Kini dia berpaling ke arah warga yang berkerumun dan berniat untuk meminta tolong pada mereka.
"Tunggu di sini! Aku akan bertanya di mana rumah ketua RT pada mereka. Aku ingin mereka menyelesaikan masalah di keluargamu," ucap Affan lembut.
Aira mengangguk. Badannya berguncang saat terisak.
Baru beberapa langkah dia berjalan. Sebuah mobil Alphard berwarna putih berhenti tepat di belakang mobilnya. Seorang pria keluar dari dalam mobil itu dan melangkah menyibak kerumunan.
Pria itu melangkah tergesa menuju ke arah Affan dan Aira berada. Tangannya mengepal dan sorot matanya terlihat menakutkan.
Aira segera beranjak dari duduknya dan menyusul Affan. Dia berlindung di balik punggung ayah sahabatnya itu.
Melihat wajah takut Aira, Affan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pria itu adalah pria yang mengejar Aira sebelum dia mengantarkannya pulang.
"Oh, jadi kamu memilih berkencan dengan om-om daripada bersamaku. Atau jangan-jangan kamu sudah menjalin hubungan dengan pria ini sejak lama? Hebat! Prok! Prok Prok!" Pria itu bertepuk tangan sambil menatap Aira dengan pandangan menghina.
"Jaga ucapanmu, Mas! Jangan asal bicara. Kami tidak serendah itu." Affan tidak terima dia dituduh telah melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.
"Sok alim! Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu sering mengantarkan Aira pulang dari sekolah!"
Affan terkejut mendengar ucapan pria itu. Dia memang beberapa kali mengantarkan Aira pulang, tetapi mereka tidak hanya berduaan. Ada Faya juga di dalam mobilnya.
"Sepertinya kamu salah paham. Sebaiknya kita duduk bersama dan membicarakan hal ini baik-baik." Affan mengangkat kedua tangannya sebatas dada berusaha menenangkan pria di hadapannya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Affan.
Beberapa orang warga lari mendekat dan memegangi tubuh pria itu. Mereka tidak ingin melihat perkelahian di sana
"Tenangkan dirimu, Rehan! Kita selesaikan masalah ini baik-baik," ucap salah satu warga yang memegangi Rehan.
"Lepaskan aku! Aku ingin menghajar pria brengsek ini. Berani-beraninya dia merebut calon istriku!" Rehan mencoba memberontak.
"Calon istri?" Affan menarik napasnya dalam. Kejadian yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya bingung. Dia dihadapkan dengan masalah yang tidak dia pahami.
Om dan tante Aira keluar dari dalam rumah setelah mendengar keributan yang terjadi di luar. Tidak lama kemudian Pak Seno selaku ketua RT setempat datang ke sana. Entah siapa yang memanggilnya.
Agung dan Reni terlihat gugup. Mereka tidak menyangka tindakannya mengusir Aira malam ini akan berbuntut panjang. Wajah mereka terlihat pucat pasi saat melihat Rehan yang menatap mereka tajam.
Pak Seno meminta Rehan, Aira, dan Affan masuk ke dalam rumah Agung. Dia juga meminta empat orang warga ikut bersamanya untuk menyelesaikan masalah ini.
Mereka duduk bersama untuk membicarakan keributan yang terjadi. Pak Seno meminta Agung untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Agung memiliki banyak hutang pada Rehan, perjaka tua yang tinggal di seberang rumahnya. Dia akan menganggap hutang mereka lunas jika Agung menikahkan Aira dengannya.
Hari ini, Rehan menjemput Aira sepulang sekolah dan membawanya jalan-jalan. Rencananya malam ini mereka akan menginap di hotel dan menghabiskan malam di sana. Aira menolak keinginan Rehan untuk melakukan hal dewasa layaknya sepasang suami istri.
Tidak ingin namanya menjadi buruk di mata masyarakat, Rehan memutar balikkan fakta dan membuat seolah-olah Affan yang bersalah. Dia mengatakan jika tidak semua yang dikatakan oleh Aira benar. Rehan juga mengatakan jika Aira sudah tidak suci lagi dan tidak lagi berminat untuk menikahinya.
Hati Aira benar-benar hancur. Fitnah itu begitu kejam dan membuatnya tak berdaya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kemalangan terus menerus datang memporak-porandakan hidupnya. Setelah kematian kedua orangtuanya, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Agung.
Rehan menuntut Agung untuk segera melunasi hutang-hutangnya atau mereka harus pergi dari rumah yang mereka tinggali saat ini. Mendengar akan hal itu, muncul pikiran jahat dipikirannya. Dia memaksa Affan untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang tidak dia perbuat.
Ketua RT pun sependapat dengan Agung. Dengan alasan tidak ingin membuat nama kampung mereka menjadi buruk, dia meminta Affan untuk bertanggung jawab dan menikahi Aira.
Pernikahan ini bertolak belakang dengan isi hatinya, tetapi dia tidak bisa membiarkan Aira dinilai buruk di mata masyarakat. Dengan terpaksa Affan pun menyetujui pernikahan ini. Dia juga melunasi seluruh hutang-hutang Agung pada Rehan.
Malam itu juga, Affan menikahi Aira secara agama dengan disaksikan oleh warga sekitar.
'Ya, Allah. Aku hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Semua yang terjadi begitu mengejutkan dan aku tidak bisa berpikir lagi.' Affan tertunduk lesu sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
Aira yang telah selesai mengemasi barang-barang miliknya berdiri mematung di hadapan Affan.
Agung dan Reni melihat keduanya dengan perasaan tidak senang. Meskipun begitu, Affan tetap bersikap sopan pada mereka.
"Om, Tante. Saya dan Aira mohon pamit. Terimakasih sudah menjaga Aira selama ini. Selamat malam." Affan meraih tangan Agung dan menyalaminya.
Aira belum bisa menguasai dirinya. Dia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Affan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat ini dia tak ubahnya hanya boneka yang dijual sebagai penebus hutang.
Tidak ada penyesalan di wajah Agung.
"Tinggalkan celenganmu! Kamu pikir itu uang dari mana? Setiap hari kami memberimu uang saku, kan?" ketus Reni.
Affan menatap Aira dengan lembut lalu mengangguk pelan. Dia ingin Aira merelakan barang yang diinginkan oleh tantenya itu.
Aira meletakkan celengan itu di atas meja dan melangkah mengikuti Affan untuk tinggal bersama. Hatinya berkecamuk. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini dan bagaimana tanggapan Faya tentang status barunya.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
GILA Tante dan omnya,Udah dibayarin semua hutang2 nya,Celengan juga mau di ambil,gila miskin banget tuh org,,🤦🏻♀️🤦🏻♀️😡😡
2023-06-13
1
itanungcik
semoga aira bahagia ..
2023-05-22
0
abdan syakura
sbr Airaa....
jalani saja...
2023-01-12
0