Aira dan Faya terus berjalan dan mengabaikan teman-temannya yang sedang bergosip. Mereka menyapa seperlunya ketika berpapasan langsung dengan murid-murid yang lain. Di mata teman-temannya Aira terkenal sangat ramah dan sopan dan itu juga membawa pengaruh bagi Faya. Sejak bersahabat dengannya, Faya menjadi sedikit ramah meskipun masih pemalu.
Semakin dekat dengan kelas mereka, kerumunan murid-murid yang memenuhi koridor semakin banyak. Mereka seperti sedang mengantri untuk menyapa seseorang.
"Sepertinya ada yang tidak beres, Ma. Pintu masuk kelas kita dipenuhi murid-murid dari kelas lain," bisik Faya.
Aira mengangguk membenarkan ucapan Faya. Keduanya tetap berjalan menuju ke kelas mereka karena bel masuk akan segera berbunyi.
"Permisi, kami mau lewat." Aira menggandeng tangan Faya sambil meminta jalan pada murid-murid yang bergerombol di tengah jalan.
Mereka memberi jalan untuk Faya dan Aira. Tatapan mereka tetap tidak bergeser dari pintu masuk kelas mereka. Suara mereka begitu gaduh. Obrolan dan candaan yang ceria khas anak SMA menggema di sepanjang koridor.
Aira tiba-tiba berhenti secara mendadak hingga membuat Faya menabrak punggungnya. Di depan pintu ruang kelasnya berdiri sesosok pria yang tidak asing baginya. Masih segar dalam ingatannya tentang pertemuan keduanya kemarin sore.
"Hai," sapa pria itu ketika melihat Aira dan Faya datang ke hadapannya.
Faya berjalan maju dan berdiri sejajar dengan Aira. Mereka berdua saling berpandangan.
"Steve!" seru mereka berbarengan.
Ucapan keduanya mengejutkan teman-temannya. Mereka menatap Aira dan Faya dengan tatapan yang aneh.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Steve?" tanya Faya menatap Steve dari atas ke bawah. Pria itu terlihat tampan dengan seragam SMA.
"Sekolah. Aku sengaja pindah ke sini agar bisa berteman dekat dengan kalian."
Jawaban Steve membuat murid-murid lain terkejut. Aira dan Faya terkenal sebagai sosok murid yang membatasi pergaulannya dengan seorang pria. Mereka lalu merapatkan diri dan berkumpul berkerumun.
"Alasan yang tidak logis." Aira membawa Faya masuk ke dalam kelasnya.
Steve tidak berusaha menghalang-halangi keduanya. Dia memilih untuk berjalan mengikuti Aira dan Faya masuk ke kelas dan pergi ke meja mereka.
Rupanya Steve juga berada di kelas yang sama dengan mereka. Aira dan Faya yang baru saja duduk merasa aneh dengan hal ini. Lebih aneh lagi Steve duduk di bangku yang berada tepat di belakang mereka.
"Jadi kamu juga pindah ke kelas ini?" tanya Faya dengan sisa-sisa keheranan di wajahnya.
"Iya, sudah kubilang aku ingin berdekatan dengan kalian." Steve tersenyum pada Faya dan Aira.
Brakk!
Wanita tercantik di kelas itu meletakkan tasnya dengan kasar di atas mejanya yang berada tepat di samping meja Faya.
Semua mata pun menatapnya setelah mendengar tasnya menabrak meja dengan suara yang keras.
Dengan gayanya yang khas Anggie berjalan mendekati Steve.
"Hai, kamu anak baru, ya? Namaku Anggie," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Steve. Dia tidak ingin melewatkan perkenalan dengan seorang pria tampan itu.
"Steve!" ucapnya sambil mengatupkan kedua tangannya.
Steve melakukan itu setelah melihat Aira dan Faya yang tidak ingin bersentuhan dengannya ketika berkenalan. Hal ini membuat Anggie merasa aneh. Seorang berwajah bule lengkap dengan aksen khasnya bersikap seperti seorang pria muslim yang taat.
"Jangan sok suci! Bukannya bule suka cewek seksi sepertiku." Anggie memuji dirinya sendiri sambil mengibaskan tangannya dengan gemulai.
Aira dan Faya menggeleng melihat tingkah Anggie. Beruntung bel masuk telah berbunyi sehingga perdebatan mereka telah berlanjut.
Selama pelajaran berlangsung, Steve selalu mencuri-curi pandang ke arah Aira. Rasa ketertarikannya pada Aira sangat jelas terlihat dari sorot matanya. Dari tempat duduk Anggie semuanya terlihat dengan jelas.
'Apa sih menariknya perempuan udik itu? Wajah dan penampilannya aja kampungan kayak gitu. Setahun tinggal di kota tetep aja terlihat kampungan dan norak.' Anggie menatap sinis pada Aira. Hatinya merasa sangat iri saat melihat Steve terus menatapnya.
Saat jam istirahat tiba, Steve kembali dikerubuti oleh murid-murid di kelas itu yang mengajaknya berkenalan. Dari obrolan yang terdengar, Aira dan Faya baru tahu jika dia adalah seorang YouTubers yang cukup terkenal.
Para murid pria mengajaknya untuk pergi ke kantin. Steve terpaksa menurutinya dan meninggalkan Aira dan Faya.
"Aira, Faya, kalian tidak ke kantin?" tanya Steve setelah berdiri di samping meja mereka.
"Kamu duluan aja," jawab Faya.
"Udah, ayo! Mereka gak bakalan mau." Salah satu teman sekelas mereka mendorong tubuh Steve agar segera berjalan.
Aira dan Faya saling berpandangan. Mereka merasa pemandangan ini terasa mengejutkan. Apa yang terjadi hari ini tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Berawal dari kecelakaan kecil mereka bertemu Steve lalu dengan tiba-tiba pria itu muncul di sekolahnya dan menjadi teman sekelasnya.
"Aku merasa ada yang tidak beres, Ma. Nanti aku akan menanyakan semua ini pada Pak Toni." Faya merasa curiga jika Steve tahu tentang informasi sekolah mereka darinya.
"Sudah, tidak usah diperpanjang. Sebentar lagi kita akan ujian, lebih baik kita fokus untuk belajar. Terserah pria itu maunya apa." Aira tidak suka membahas masalah yang tidak penting.
Faya pun mengangguk, tetapi dia tetap akan menanyakan masalah ini pada Pak Toni.
Waktu berlalu begitu cepat. Jam pulang sekolah pun datang. Entah bagaimana awal mulanya, Anggie sudah terlihat sangat akrab dengan Steve. Dia menghampiri meja Steve dengan menyandang tasnya.
"Steve, aku jadi ikut, ya!" seru Anggie.
Steve mengangguk dengan wajah datarnya. Tangannya masih sibuk merapikan buku-buku dan mengemasnya.
"Ayo, Steve!" ajak Anggie tidak sabar.
"Kamu duluan tunggu di mobil, aku masih ada urusan." Wajah serius Steve membuat Anggie merasa segan. Sebagai murid baru tentu alasannya ini masuk akal. Dengan wajah yang terlihat kesal, Anggie meninggalkan Steve menuju ke parkiran mobil.
Steve tidak kemana-mana, dia hanya menunggu Aira dan Faya saja. Di kelas itu hanya tinggal mereka bertiga saja.
"Apakah kalian masih lama?" tanyanya ketika melihat kelas itu telah kosong.
Aira dan Faya pun segera beranjak dari bangkunya. Tanpa banyak bicara mereka meninggalkan Steve. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan Anggie setelah melihat keduanya begitu dekat.
Steve tidak menyerah meskipun dia diacuhkan. Dia terus saja mengejar Aira dan Faya. Beberapa kali dia bertanya pada keduanya tetapi tidak mendapatkan respon.
'Wanita memang sulit dipahami. Sayangnya aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya,' gumam Steve dalam hati.
"Assalamualaikum, Aira, Faya," sapa Gusti.
"Wa'alaikum salam," jawab Aira dan Faya serempak.
Steve merasa kesal saat melihat keakraban di antara mereka bertiga. Sikap Faya dan Aira begitu dingin padanya tetapi begitu ramah pada Gusti.
Di kejauhan Affan tertegun menatap istri dan putrinya sedang bersama dua orang pria. Wajahnya terlihat murung, tidak seperti ketika berangkat ke sana yang begitu bersemangat. Pak Toni sedang berada di bengkel untuk memperbaiki mobilnya, Aira dan Faya tidak tahu jika dirinya yang menjemputnya pulang.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
sari emilia
jgn salah anggie org kampung itu meski tp sangat cantik2 alami bkn spt km cantik krn riyasan menor...km ank2 kampung ini jarang dandan
2023-06-23
1
Qaisaa Nazarudin
Iya menurut ku ini semua rencana Steve utk mendekati Aira,Bukan secara kebetulan..
2023-06-13
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk Rasain tuh Anggi,Dicuekin 🤣🤣🤣
2023-06-13
0