Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.

Hujan mulai turun rintik-rintik sehingga membuat Affan tidak bisa menunggu lagi. Dia membuka bagasi lalu mengambil dua buah payung, satu untuknya dan satu lagi untuk Faya dan Aira.

Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi juga tidak sedang bergembira. Dengan langkah yang cepat, Affan berjalan menghampiri mereka.

Aira yang melihat kedatangan Affan terlebih dahulu mencolek bahu Faya. Meskipun tidak bicara apa-apa, Faya tahu jika aira ingin menunjukkan sesuatu. Dia kemudian menoleh mengikuti arah pandang Aira.

"Gusti, Steve, kami pulang dulu, ya," pamit Aira pada kedua pria itu. mereka pun mengangguk.

"Assalamualaikum," ucap Faya.

"Wa'alaikum salam," jawab Gusti yang disusul oleh Steve.

Faya dan Aira berjalan menghampiri Affan, Faya kemudian menerima payung dari ayahnya dan membukanya. Dia menggunakan payung itu bersama Aira dan berjalan mengikuti Affan. Sesampainya di samping mobil Affan membukakan pintu untuk mereka dan memayungi mereka saat melipat payung. Sebagai orang tua tunggal, Affan sangat protektif terhadap Faya.

Mobil Affan melaju dengan pelan karena hujan semakin deras. Dia hanya duduk sendiri di jok depan, Faya dan Aira duduk di jok belakang. Mau tidak mau Affan harus bertindak seperti sopir.

Faya beranjak dari duduknya lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Affan. Dia ingin berbicara padanya. Suara hujan yang deras membuat volume bicaranya meninggi.

"Ayah, aku ada les di Griya Pintar. Nanti turunkan aku di sana, ya," pinta Faya.

"Iya, Sayang," jawab Affan singkat.

Faya dan Aira tidak berpikir macam-macam. Mereka tidak tahu jika Affan sedang dirundung kekecewaan pada Aira. Cita-citanya membangun keluarga yang sesungguhnya bersama Aira seakan menguap.

'Gadis yang terlelap di sampingku semalam ternyata tidak mencintaiku. Aku harus menahan perasaan ini sebelum benar-benar mencintainya.' Affan berusaha untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.

Faya berpamitan pada Affan dan Aira ketika telah sampai di tempat les privat. Affan tidak hafal jadwal les putrinya karena pak Toni yang lebih sering menjemput sekolahnya.

Setelah menurunkan Faya, mobil Affan kembali melaju dengan pelan. Affan menghentikan mobilnya saat lampu merah dan menoleh ke belakang.

"Pindah ke depan!" perintah Affan pada Aira.

Aira tidak berani membantah dia pun bergegas untuk membuka pintu tetapi Affan memintanya untuk melompat ke depan saja. Dia pun menurut. Setelah Affan merendahkan jok disampingnya, Aira bisa melewatinya dengan mudah.

Tepat ketika Aira duduk, lampu hijau telah menyala. Mobil Affan kembali melaju dengan santai membelah jalanan ibukota.

Aira melirik ke arah Affan yang mengemudi dengan fokus. Hatinya menghangat ketika melihat ayah sahabatnya yang sangat berkharisma itu.

"Apa yang kamu lihat? Aku sadar jika aku sudah terlalu tua untukmu." Affan berbicara dengan suara bergetar, meliriknya sekilas lalu kembali melihat jalanan.

Aira terkesiap. Matanya membulat dengan jantung yang memompa lebih cepat. Dia tidak menyangka jika Affan tahu jika dirinya sedang memperhatikannya. Sebenarnya Aira sangat malu, tetapi dia tidak ingin Affan lebih salah paham lagi jika dia hanya terdiam.

"Kamu salah paham, Om. Aku tidak pernah berpikir jika, Om, itu tua. Insyaallah, aku ridho dengan pernikahan ini dan akan menjalaninya dengan sepenuh hati." Aira menatap Affan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Bukankah banyak pria yang menyukaimu di sekolah. Kamu bisa memikirkannya lagi." Affan tidak bisa berbicara lebih banyak karena mereka telah sampai di rumah mereka.

Saat Affan hendak membuka pintu mobilnya, Aira menahan tangannya.

'Aku tidak peduli jika apa yang kulakukan ini dianggap rendahan. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuktikan jika aku sungguh-sungguh dengan perkataan ku.' Aira bermonolog dalam hati.

Aira melepaskan sabuk pengamannya tanpa melepaskan tangan Affan. Dengan gerakan cepat dia memeluk tubuh Affan. Ini adalah hal yang paling berani yang pernah dia lakukan.

Apa yang dilakukan oleh Aira membuat Affan terkejut. Meskipun tinggal dalam kamar yang sama dia tidak berani untuk menyentuhnya. Hingga beberapa detik dia terdiam tetapi dia pun akhirnya membalas pelukan Aira.

'Ya, Allah. Apa-apaan yang dilakukan Aira. Apakah dia tidak tahu jika pria bisa menjadi buas saat berdekatan dengan wanita.' Affan berusaha menahan dirinya. Kulitnya yang putih membuat wajahnya yang memerah terlihat sangat jelas.

"Aira apa yang kamu lakukan? Aku hanya manusia biasa yang tidak bisa luput dari kekhilafan." Affan berbicara dengan suara berat.

"Jangan tinggalkan aku, Om! Aku ingin kita menjadi pasangan yang sesungguhnya." Aira terisak.

Affan baru tahu jika Aira menangis. Perlahan dia merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Aira dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis! Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya merasa tidak pantas untuk memiliki istri cantik dan semuda kamu. Jalanmu masih panjang, aku takut kamu akan menyesal."

Aira menggeleng lalu berkata, "Tidak akan."

Mereka sudah terlalu lama berada di dalam mobil yang telah berhenti. Saat menyadari Bi Sumi dan Nami sudah berdiri di luar mobil, mereka segera bersiap untuk keluar. Affan menyentuh pipi Aira sambil tersenyum sebelum membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Aira tersipu menerima perlakuan itu.

Bi Sumi dan Nami tersenyum dan merasa salah tingkah saat melihat Affan membantu Aira turun setelah membukakan pintu untuknya. Mereka berpikir jika pasangan beda usia itu tidak bisa romantis. Nyatanya tuannya begitu perhatian pada nyonya mudanya.

Sesampainya di kamar Aira mencoba untuk mengikis kecanggungan di antara mereka. Dia membantu melepaskan dasi Affan dan melakukan tugasnya layaknya seorang istri.

'Aku tidak yakin bisa terus bertahan jika Aira terus mendekatiku seperti ini.' Affan bernapas dengan cepat ketika Aira menjauh karena saat berdekatan dia menahannya.

Aira kembali menghampiri Affan dengan membawakan baju ganti untuknya. Affan menerimanya dengan wajah terbengong. Selama menduda dia terbiasa melakukan semuanya sendiri. Hari ini dia merasa menjadi orang yang spesial.

"Aku mandi di kamar sebelah, ya, Om. Kita shalat berjamaah setelah ini," ucap Aira sambil mengambil baju gantinya.

"Tidak, tidak, kamu saja yang mandi di kamar ini. Aku yang akan mandi di kamar tamu. Auratmu harus dijaga." Affan segera pergi setelah mengatakan hal itu.

Aira tersenyum dan semakin yakin jika Affan adalah jodoh yang tepat untuknya.

Keduanya shalat berjamaah. Ketukan pintu berbunyi bertepatan dengan shalat mereka yang telah selesai. Affan meminta Aira untuk tetap berada di tempatnya kemudian beranjak untuk membuka pintu kamarnya.

"Maaf, Tuan. Bu Amanda menunggu Anda di ruang keluarga." Bi Sumi terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan kedatangannya.

"Bilang suruh menunggu sebentar, ya," ucap Affan.

"Baik, Tuan."

Bi Sumi pergi dari hadapan Affan dan kembali menemui Amanda.

Amanda adalah teman kuliah Affan dan teman dekat Kayra. Setelah kematian Kayra, dia berusaha untuk mendekati Affan dan bekerja di perusahaannya. Namun, Affan tidak mencintainya dan selalu mengingat Kayra saat melihat wajah Amanda.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Berarti imur Amanda juga 38 tahun dong,Umur yg segitu belum menikah juga?? terlalu tuanutk umur seorg wanita utk belum menikah,umur 40 itu udah berisiko utk mempunyai anak dan melahirkan..kalo lelaki mah gak papa..

2023-06-13

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Bicara dan tanyakan baik2 Affan,jgn berandai2 dan memutuskan sesuatu dgn sepihak,Kadang apa yg kita lihat tdk sesuai dgn kenyataan..

2023-06-13

0

fitriani

fitriani

baca novel ini jadi ingat om Steven sama Tiara om bule suamiku

2023-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!