Mobil Affan melaju dengan kecepatan sedang. Malam itu cuaca cukup cerah, tidak seperti biasanya yang selalu hujan deras. Bimo teringat akan pesan istrinya yang ingin dibelikan roti bakar.
Jalanan malam itu tidak begitu ramai karena jam pulang kerja telah lewat. Bimo berkendara dengan santai sambil melirik pedagang kaki lima yang biasa berjualan.
Shuuiiiitttt ...!
Sebuah mobil menyalipnya dan berhenti tepat di depannya sehingga membuatnya harus menginjak rem kuat-kuat. Dada bergemuruh karena hampir saja mobilnya menabrak mobil di depannya.
Pemilik mobil itu segera keluar dan berjalan menghampiri mobil Affan yang dibawa oleh Bimo.
Keterkejutannya akibat mobil yang tiba-tiba muncul belum menghilang kini harus ditambah lagi dengan kedatangan orang yang sangat dikenalnya. Bimo memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.
"Mas Affan! Keluar!" teriak wanita yang berdiri di samping mobil Affan.
Bimo berusaha untuk menguasai dirinya. Tangannya menggapai-gapai air mineral dalam dasbor mobil Affan. Satu botol air mineral berukuran tiga ratus mili habis dalam beberapa tegukan.
Kaca mobilnya terus digedor-gedor dari luar dan memaksa Bimo untuk segera keluar.
"Selamat malam, Bu Amanda!" sapa Bimo setelah mereka saling berhadapan.
Amanda terlihat gelagapan saat melihat siapa pengendara mobil itu. Dia tidak menyangka jika Bimo yang mengendarai mobil milik Affan.
Tangan kanan Amanda memegangi kepalanya dengan tubuh yang terhuyung-huyung.
"Bu Amanda! Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Bimo khawatir sambil membantu Amanda berdiri dengan benar.
"Aku baik-baik saja, Bim. Di mana Mas Affan?" tanya Amanda terlihat sedih.
"Pak Affan sudah pulang beberapa waktu lalu bersama sopir kantor. Beliau juga sedang tidak enak badan," jelas Bimo.
Amanda mengangguk.
'Rencanaku untuk menjebak Affan gagal lagi. Aku benar-benar sial hari ini.' Amanda mengeratkan gigi-giginya.
"Apakah Anda perlu untuk saya antar? Wajah Anda terlihat sangat pucat, Bu Amanda." Bimo memperhatikan wajah Amanda penuh kepedulian.
"Tidak ... tidak perlu. Aku pergi dulu," pamit Amanda berjalan cepat meninggalkan Bimo yang masih terbengong.
'Wanita aneh! Apakah dia berpikir jika aku adalah Pak Affan? Sikapnya begitu mudah berubah seperti hidupnya yang penuh dengan drama.' Bimo menggeleng lalu masuk ke dalam mobil.
Amanda mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung tinggi. Bayangan wajah Affan membuatnya kembali teringat jika pria yang sangat dicintainya itu telah menikah.
Di rumah Affan,
Aira masih sibuk dengan buku-buku yang dibawanya ke ruang keluarga saat Affan datang. Di belakang Affan BI Sumi dan Neti membawakan barang-barangnya.
"Assalamualaikum, Aira," sapa Affan.
Aira segera membalikkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Affan.
"Wa'alaikum salam, Om." Aira tidak segera melepaskan tangan Affan karena merasakan sesuatu.
"Badanmu panas, Om. Apakah Om Affan sudah makan?" tanya Aira sambil menatap wajah Affan yang terlihat pucat.
"Sudah. Aku ingin istirahat saja," jawab Affan bersikap seolah dirinya baik-baik saja.
Aira tidak ingin membiarkan Affan pergi ke kamar mereka sendiri. Dengan gerakan cepat, dia mengambil buku-bukunya di atas meja lalu berjalan di samping Affan. Dia sangat ingin memapahnya tetapi tidak berani untuk melakukannya.
Sesampainya di kamar Affan langsung terduduk di tepi ranjang. Aira menghampirinya lalu membantu melepaskan dasi dan jasnya.
"Terimakasih. Aku ingin tidur sebentar. Jangan khawatir, aku hanya kelelahan saja." Affan mencoba menenangkan Aira.
Aira mengangguk. Dia kemudian membantu Affan untuk berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
'Tubuhnya panas sekali. Jika dia sudah minum obat kenapa masih sepanas ini.' Aira terlihat sangat cemas.
Dia tidak bisa tinggal diam dan mencari handuk kecil untuk mengompres kepala Affan. Di kamar mandi mereka tersedia water heater sehingga dia tidak perlu ke dapur untuk mengambil air panas.
Setelah handuk itu menjadi dingin, Aira membasahinya dengan air panas lalu memerasnya hingga setengah kering. Affan tertidur pulas dan tidak menyadari jika Aira mengompresnya.
Aira tidak bisa belajar lagi karena sudah sangat mengantuk. Dia kemudian menyusul Affan dan tidur di sampingnya. Mereka sama-sama tidak menyadari saat terlelap dengan posisi saling memeluk.
Tengah malam Affan terbangun. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ketika hendak terbangun dia merasakan ada sesuatu yang menimpa di dadanya. Tersungging sebuah senyuman di bibirnya.
'Sejak kapan Aira memelukku. Jika dia terbangun dalam keadaan seperti ini, pasti dia akan merasa sangat malu.'
Affan merasa menjadi suami yang paling beruntung memiliki Aira. Selain cantik dia juga memiliki akhlak yang baik.
Tangan Affan menggapai sebuah botol minumam yang selalu tersedia di nakas. Karena tidak sampai maka Affan mencoba melepaskan tangan Aira yang memeluknya.
Entah disengaja atau tidak, tangan dan kaki Aira malah memeluknya semakin erat. Affan pun semakin tidak bisa bergerak dan akhirnya memilih untuk menahan rasa hausnya hingga pagi.
Seperti biasa, pukul tiga pagi Aira terbangun untuk menjalankan sholat malam.
Dia terkejut dan hampir saja berteriak saat menyadari bahwa dirinya sedang memeluk Affan. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Obat yang diminumnya sudah menunjukkan efek dan reaksinya.
Sebelum Affan terbangun, dia segera menjauh lalu pergi mengendap-endap untuk mengambil air wudhu.
'Untung saja Om Affan tidak menyadari jika aku tertidur sambil memeluknya.' Aira pergi meninggalkan tempat tidur Affan.
Namun, Aira terlihat kebingungan saat selesai mengambil air wudhu. Dia tidak menemukan sosok Affan di atas tempat tidurnya.
\*\*\*\*
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cuiihh Hila banget nih cewek,kayakngak ada lelaki lain aja,Udah tua juga,,
2023-06-13
1
Veronica Maria
hadehhh manda. obsesi lo dgn affan ckp gede jg. jgn sampai lo ngelakuin kesalahan krn kebodohan lo sendiri. affan tuh jg gak cinta lo bodoh
2023-04-24
0
💖widia aja💖
semoga mereka bisa saling menerima secepatnya
2022-12-06
2