Zubair sudah berusaha untuk meyakinkan Armita supaya membatalkan niatnya mendaftar di kemiliteran. Namun semuanya perkataan yang meluncur dari mulutnya seolah hanya angin lalu bagi Armita.
Mereka berpisah tanpa menghasilkan sebuah kesepakatan. Meski cukup lama mereka berdebat.
Zubair berjalan dengan langkah gontai menuju pintu rumahnya.
Malam sudah sangat larut. Ia sudah memarkir motornya di garasi dan mengambil kunci rumah yang ia bawa di saku celananya.
Clek!
Zubair melangkah masuk setelah berhasil membuka pintu.
"Assalamualaikum.."
Zubair sengaja memberi salam karena melihat lampu di ruang tamu masih menyala terang.
Namun ia terpaku sejenak ketika melihat Zylda yang tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang tamu.
Zubair berjalan mendekat. Ia jongkok di depan Zylda, meraih tangan dan menciumnya.
Zylda tetap terlelap. Zubair merapikan anak rambut yang menutupi wajah Zylda.
"Maafkan aku. Kamu pasti lelah menungguku pulang hingga larut."
Zubair bangkit. Berdiri di sebelah kursi lalu mengangkat tubuh Zylda dengan kedua tangannya, membawanya masuk ke dalam kamar.
Zubair membaringkan tubuh Zylda diatas ranjang.
Ini adalah hari pertama sang istri tidur di rumahnya, tapi malah ia tinggalkan sendirian dirumah.
○○○
Zubair mengerjapkan mata. Baru tersadar pagi ini sang istri sudah tidak disisinya.
Zubair bangun dan mulai menggelliat. Ia beranjak dari ranjang dan keluar kamar.
Zubair melihat Zylda sudah berkutat dengan peralatan dapur.
Zubair melihat jendela, matahari bahkan belum memancarkan sinarnya tapi sang istri sudah sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
Zubair menuju dapur, menarik kursi makan lalu duduk sambil melihat sang istri.
Zylda menyadari kehadiran sang suami. Ia tersenyum menyapa Zubair.
"Sudah bangun mas? Apa aku terlalu berisik sampai membuat mas bangun?"
Zubair hanya menggeleng kepala karena suaranya pun masih berat.
"Ini mas, diminum dulu." Zylda meletakkan segelas air putih di meja makan. Tepat di depan Zubair.
Zubair langsung meminumnya. Dalam beberapa kali tegukan saja, air dalam gelas itu pun tandas.
"Mas mandi dulu saja. Dalam 20 menit makanan sudah siap." Ucap Zylda tersenyum tulus.
Ketulusan senyuman itu berhasil mengusik Zubair.
"Istriku terlalu baik untukku. Tapi aku masih tak mampu membagi hatiku."
Zubair menatap lekat wajah Zylda dalam diam. Menikmati indahnya senyum ketulusan yang terasa mengiris hatinya karena tak mampu membalas ketulusan itu.
Zubair telah selesai mandi dan duduk di kursi makan.
Dengan cekatan, Zylda menyiapkan sarapan untuknya. Semua kebutuhan Zubair telah disiapkan oleh Zylda. Mulai dari ia bangun tidur, sarapan, sampai seragam dinasnya pun telah siap. Beberapa lencana sudah disiapkan, sepatu pun sudah disemir hingga mengkilap.
"Aku ada siaran pagi ini. Apa mas bisa mengantarku?"
Zylda sudah duduk disebelah Zubair, ikut bergabung untuk sarapan.
"Hemm." Hanya itu jawaban Zubair.
Zylda tak pernah mempermasalahkan sikap dingin Zubair. Karena dari awal ia mengenal Zubair, suaminya itu memang bersikap dingin padanya. Dia tidak peduli.
Zylda melanjutkan makannya sambil berbincang.
"Oh iya mas, sepulang siaran nanti, aku akan bergabung dengan para istri prajurit. Kata ibu, aku harus masuk dalam organisasi itu. Organisasi wanita istri prajurit angkatan laut. Boleh kan?"
"Iya, ikut saja." Jawab zubair
"Mungkin acaranya sampai sore hari. Kemungkinan aku baru pulang saat petang. Mas mau dimasakin apa untuk makan malam?"
"Terserah. Sesuai seleramu saja."
Begitulah obrolan mereka. Dari banyak kata yang diucapkan Zylda, Zubair hanya menjawab sekenanya. Meski begitu tak membuat Zylda bersedih. Zylda terus saja mengajak Zubair bicara. Entah suaminya itu minat atau tidak dengan apa yang ia bicarakan.
"Apa mas nanti akan pulang malam lagi?"
Zubair telah selesai sarapan. Ia meneguk air putih dalam gelas.
Zylda masih menunggu jawaban darinya.
"Iya. Sepertinya aku akan pulang malam lagi kali ini." Zubair menaruh gelas diatas meja.
Ia beranjak dari kursi.
"Segera selesaikan sarapanmu. Kita harus berangkat lebih pagi karena aku harus mengantarmu terlebih dulu."
Zylda pun membereskan sisa makanan di atas meja makan. Ia tumpuk peralatan bekas masak dan piring kotor di sink tanpa mencucinya.
Zylda sengaja menunda pekerjaannya untuk membersihkan dapur. Akan ia kerjakan setelah ia pulang dari siaran saja nanti.
Zylda bergegas masuk ke dalam kamar untuk membantu Zubair memakai seragam.
Zylda selalu bersemangat untuk melayani Zubair. Berusaha menjadi istri yang baik yang selalu dicintai Zubair.
○○○
Zubair memukul kepalan tangannya di atas meja. Ponselnya tergelak begitu saja diatas meja.
Sudah beberapa hari berlalu, namun Armita tetap tak menjawab panggilan telponnya.
Zubair memutuskan untuk bertemu Armita di rumah sakit tempatnya bekerja.
Zubair izin kepada sang komandan kapal kemudian pergi dengan mengendarai motornya.
Cukup lama Zubair menunggu, Namun sampai sore hari ia masih belum berhasil bertemu dengan Armita.
Zubair meminta tolong pada Naya untuk membuat janji bertemu dengan Armita tanpa sepengetahuan Armita.
Berhasil.
Kini Armita sudah duduk di hadapannya.
"Jangan jadi manusia egois!" Ungkap Armita penuh emosional saat lagi-lagi Zubair menghalanginya masuk ke kemiliteran.
"Dengan seenaknya kamu masuk ke militer dan meminta ku menunggumu! Dengan leluasa kamu mengejar karir dan impianmu dan tetap membiarkanku menunggu dengan harapan besar bahwa suatu saat kamu akan menikahiku!" Tatapan kekecewaan ia tunjukkan di depan Zubair.
"Dan sekarang? Kenapa kamu menghalangiku bergabung ke kemiliteran?"
"Ku mohon Ta.." zubair meraih telapak tangan Armita namun langsung ditepis olehnya.
"Aku tidak akan sanggup melihatmu menjalani susahnya pendidikan militer. Pendidikan militer itu berat sayang. Ku mohon."
Ucapan permohonan Zubair layaknya seorang pengemis.
"Aku sangat mencintaimu, Mita. Aku yakin kamu tau dan bisa merasakannya. Kamu boleh menghukumku atas kesalahanku. Menghajarku bahkan membunuhku! Aku akan rela melakukannya untukmu. Tapi jangan membuatku melihatmu menderita. Aku tidak akan sanggup!"
Armita masih terdiam. Dia selayaknya wanita pada umumnya. Mudah luluh dengan pernyataan tulus dari pria yang dicintainya.
Ya! Rasa cinta itu masih ada untuk Zubair. Namun rasa marah kini sudah memenuhi ruang hati Armita.
Tiba-tiba ponsel Zubair berdering. Tertera nama "Zylda Zahira" di layar.
Zubair memang tak menganggap Zylda spesial, jadi ia tak mengganti nama Zylda yang tersimpan di Handphonenya.
"Istrimu mencarimu! Temui dia dan bersenang-senanglah! Tak perlu mengurusi hidupku! Aku sudah bukan siapa-siapa mu!"
Armita bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan zubair.
Zubair masih tak menjawab panggilan Zylda. Ia terus termenung memikirkan bagaimana cara meyakinkan Armita supaya membatalkan keputusannya.
Ponsel yang tergeletak itu terus berdering. Zubair menatap lekat foto profil yang muncul di profil akun miliknya.
Itu adalah foto pernikahannya bersama Zylda. Tampak foto pengantin bersama kedua orang tuanya.
"Laksamana…" Zubair bergumam saat melihat foto Laksamana.
"Ah iya! Laksamana! Aku akan meminta bantuan Laksamana untuk menolak pendaftaran Armita."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ifah Fatur
dua wanita yg sama" terluka akan sikap zubair,,,, disatu sisi armita sakit hati ditinggal nikah,,, di satu sisi zylda yg mnahan perasaan karena sikap suami yg dingin,,,,, cinta serumit itu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-12-13
2
lala malala
kasian juga sama zylda. dia juga korban. dia sudah berusaha yang terbik buat jadi istri zubair.
zubairnya yg hrus tegas gak bisa genggam dua2nya.
2022-12-13
0
Lilis Yuanita
klo q jd armita lebih baik prgi dan menikah dengan orang lain kamu jugaberhak bahagia
2022-12-12
1