Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana

Zubair sudah berusaha untuk meyakinkan Armita supaya membatalkan niatnya mendaftar di kemiliteran. Namun semuanya perkataan yang meluncur dari mulutnya seolah hanya angin lalu bagi Armita.

Mereka berpisah tanpa menghasilkan sebuah kesepakatan. Meski cukup lama mereka berdebat.

Zubair berjalan dengan langkah gontai menuju pintu rumahnya.

Malam sudah sangat larut. Ia sudah memarkir motornya di garasi dan mengambil kunci rumah yang ia bawa di saku celananya.

Clek!

Zubair melangkah masuk setelah berhasil membuka pintu.

"Assalamualaikum.."

Zubair sengaja memberi salam karena melihat lampu di ruang tamu masih menyala terang.

Namun ia terpaku sejenak ketika melihat Zylda yang tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang tamu.

Zubair berjalan mendekat. Ia jongkok di depan Zylda, meraih tangan dan menciumnya.

Zylda tetap terlelap. Zubair merapikan anak rambut yang menutupi wajah Zylda.

"Maafkan aku. Kamu pasti lelah menungguku pulang hingga larut."

Zubair bangkit. Berdiri di sebelah kursi lalu mengangkat tubuh Zylda dengan kedua tangannya, membawanya masuk ke dalam kamar.

Zubair membaringkan tubuh Zylda diatas ranjang.

Ini adalah hari pertama sang istri tidur di rumahnya, tapi malah ia tinggalkan sendirian dirumah.

○○○

Zubair mengerjapkan mata. Baru tersadar pagi ini sang istri sudah tidak disisinya.

Zubair bangun dan mulai menggelliat. Ia beranjak dari ranjang dan keluar kamar.

Zubair melihat Zylda sudah berkutat dengan peralatan dapur.

Zubair melihat jendela, matahari bahkan belum memancarkan sinarnya tapi sang istri sudah sibuk menyiapkan sarapan untuknya.

Zubair menuju dapur, menarik kursi makan lalu duduk sambil melihat sang istri.

Zylda menyadari kehadiran sang suami. Ia tersenyum menyapa Zubair.

"Sudah bangun mas? Apa aku terlalu berisik sampai membuat mas bangun?"

Zubair hanya menggeleng kepala karena suaranya pun masih berat.

"Ini mas, diminum dulu." Zylda meletakkan segelas air putih di meja makan. Tepat di depan Zubair.

Zubair langsung meminumnya. Dalam beberapa kali tegukan saja, air dalam gelas itu pun tandas.

"Mas mandi dulu saja. Dalam 20 menit makanan sudah siap." Ucap Zylda tersenyum tulus.

Ketulusan senyuman itu berhasil mengusik Zubair.

"Istriku terlalu baik untukku. Tapi aku masih tak mampu membagi hatiku."

Zubair menatap lekat wajah Zylda dalam diam. Menikmati indahnya senyum ketulusan yang terasa mengiris hatinya karena tak mampu membalas ketulusan itu.

Zubair telah selesai mandi dan duduk di kursi makan.

Dengan cekatan, Zylda menyiapkan sarapan untuknya. Semua kebutuhan Zubair telah disiapkan oleh Zylda. Mulai dari ia bangun tidur, sarapan, sampai seragam dinasnya pun telah siap. Beberapa lencana sudah disiapkan, sepatu pun sudah disemir hingga mengkilap.

"Aku ada siaran pagi ini. Apa mas bisa mengantarku?"

Zylda sudah duduk disebelah Zubair, ikut bergabung untuk sarapan.

"Hemm." Hanya itu jawaban Zubair.

Zylda tak pernah mempermasalahkan sikap dingin Zubair. Karena dari awal ia mengenal Zubair, suaminya itu memang bersikap dingin padanya. Dia tidak peduli.

Zylda melanjutkan makannya sambil berbincang.

"Oh iya mas, sepulang siaran nanti, aku akan bergabung dengan para istri prajurit. Kata ibu, aku harus masuk dalam organisasi itu. Organisasi wanita istri prajurit angkatan laut. Boleh kan?"

"Iya, ikut saja." Jawab zubair

"Mungkin acaranya sampai sore hari. Kemungkinan aku baru pulang saat petang. Mas mau dimasakin apa untuk makan malam?"

"Terserah. Sesuai seleramu saja."

Begitulah obrolan mereka. Dari banyak kata yang diucapkan Zylda, Zubair hanya menjawab sekenanya. Meski begitu tak membuat Zylda bersedih. Zylda terus saja mengajak Zubair bicara. Entah suaminya itu minat atau tidak dengan apa yang ia bicarakan.

"Apa mas nanti akan pulang malam lagi?"

Zubair telah selesai sarapan. Ia meneguk air putih dalam gelas.

Zylda masih menunggu jawaban darinya.

"Iya. Sepertinya aku akan pulang malam lagi kali ini." Zubair menaruh gelas diatas meja.

Ia beranjak dari kursi.

"Segera selesaikan sarapanmu. Kita harus berangkat lebih pagi karena aku harus mengantarmu terlebih dulu."

Zylda pun membereskan sisa makanan di atas meja makan. Ia tumpuk peralatan bekas masak dan piring kotor di sink tanpa mencucinya.

Zylda sengaja menunda pekerjaannya untuk membersihkan dapur. Akan ia kerjakan setelah ia pulang dari siaran saja nanti.

Zylda bergegas masuk ke dalam kamar untuk membantu Zubair memakai seragam.

Zylda selalu bersemangat untuk melayani Zubair. Berusaha menjadi istri yang baik yang selalu dicintai Zubair.

○○○

Zubair memukul kepalan tangannya di atas meja. Ponselnya tergelak begitu saja diatas meja.

Sudah beberapa hari berlalu, namun Armita tetap tak menjawab panggilan telponnya.

Zubair memutuskan untuk bertemu Armita di rumah sakit tempatnya bekerja.

Zubair izin kepada sang komandan kapal kemudian pergi dengan mengendarai motornya.

Cukup lama Zubair menunggu, Namun sampai sore hari ia masih belum berhasil bertemu dengan Armita.

Zubair meminta tolong pada Naya untuk membuat janji bertemu dengan Armita tanpa sepengetahuan Armita.

Berhasil.

Kini Armita sudah duduk di hadapannya.

"Jangan jadi manusia egois!" Ungkap Armita penuh emosional saat lagi-lagi Zubair menghalanginya masuk ke kemiliteran.

"Dengan seenaknya kamu masuk ke militer dan meminta ku menunggumu! Dengan leluasa kamu mengejar karir dan impianmu dan tetap membiarkanku menunggu dengan harapan besar bahwa suatu saat kamu akan menikahiku!" Tatapan kekecewaan ia tunjukkan di depan Zubair.

"Dan sekarang? Kenapa kamu menghalangiku bergabung ke kemiliteran?"

"Ku mohon Ta.." zubair meraih telapak tangan Armita namun langsung ditepis olehnya.

"Aku tidak akan sanggup melihatmu menjalani susahnya pendidikan militer. Pendidikan militer itu berat sayang. Ku mohon."

Ucapan permohonan Zubair layaknya seorang pengemis.

"Aku sangat mencintaimu, Mita. Aku yakin kamu tau dan bisa merasakannya. Kamu boleh menghukumku atas kesalahanku. Menghajarku bahkan membunuhku! Aku akan rela melakukannya untukmu. Tapi jangan membuatku melihatmu menderita. Aku tidak akan sanggup!"

Armita masih terdiam. Dia selayaknya wanita pada umumnya. Mudah luluh dengan pernyataan tulus dari pria yang dicintainya.

Ya! Rasa cinta itu masih ada untuk Zubair. Namun rasa marah kini sudah memenuhi ruang hati Armita.

Tiba-tiba ponsel Zubair berdering. Tertera nama "Zylda Zahira" di layar.

Zubair memang tak menganggap Zylda spesial, jadi ia tak mengganti nama Zylda yang tersimpan di Handphonenya.

"Istrimu mencarimu! Temui dia dan bersenang-senanglah! Tak perlu mengurusi hidupku! Aku sudah bukan siapa-siapa mu!"

Armita bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan zubair.

Zubair masih tak menjawab panggilan Zylda. Ia terus termenung memikirkan bagaimana cara meyakinkan Armita supaya membatalkan keputusannya.

Ponsel yang tergeletak itu terus berdering. Zubair menatap lekat foto profil yang muncul di profil akun miliknya.

Itu adalah foto pernikahannya bersama Zylda. Tampak foto pengantin bersama kedua orang tuanya.

"Laksamana…" Zubair bergumam saat melihat foto Laksamana.

"Ah iya! Laksamana! Aku akan meminta bantuan Laksamana untuk menolak pendaftaran Armita."

Terpopuler

Comments

Ifah Fatur

Ifah Fatur

dua wanita yg sama" terluka akan sikap zubair,,,, disatu sisi armita sakit hati ditinggal nikah,,, di satu sisi zylda yg mnahan perasaan karena sikap suami yg dingin,,,,, cinta serumit itu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2022-12-13

2

lala malala

lala malala

kasian juga sama zylda. dia juga korban. dia sudah berusaha yang terbik buat jadi istri zubair.
zubairnya yg hrus tegas gak bisa genggam dua2nya.

2022-12-13

0

Lilis Yuanita

Lilis Yuanita

klo q jd armita lebih baik prgi dan menikah dengan orang lain kamu jugaberhak bahagia

2022-12-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!