POV Zubair
Dia hadir! Armita hadir di perayaan pernikahanku.
Sekali lagi aku melihatnya menangis. Ia bahkan tidak peduli pada setiap mata tamu undangan yang melihatnya menangis.
Bisa kubayangkan bagaimana sakitnya. Rasanya aku ingin segera mendekapnya dan menenangkannya.
Tapi nyatanya? Aku tak mampu berbuat apapun untuknya.
Hingar bingar pesta ini terasa semu untukku. Aku hanya ingin segera mengakhirinya supaya bisa beristirahat. Mengistirahatkan tubuh, pikiran dan hatiku.
Hingga malam pun mulai larut. Pesta pun sudah usai. Kini waktunya aku kembali ke rumah baru, rumah mertuaku.
Huft! Ini memang jalan takdirku. Harus ku hadapi bagaimanapun sulitnya.
Ingin rasanya segera beristirahat, namun para tamu di rumah masih enggan untuk pergi, membuatku harus melayani obrolan mereka.
"Pengantinnya kok masih disini?" Salah seorang kerabat Laksamana bertanya padaku.
"Istirahat dulu saja. Pasti capek habis acara. Lagi pula, sang pengantin wanita juga pasti sudah menunggu di kamar. Udah gak sabar!"
Hahahaaa….
Tawa para tamu memenuhi seisi rumah. Pengantin baru memang menjadi bahan paling menarik untuk di buat candaan.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Lalu meminta izin untuk beristirahat lebih dulu.
Kulihat kamar Zylda yang terlentak di lantai dua. Rasanya enggan untuk masuk kesana.
Aku memutuskan untuk pergi ke kamar belakang. Aku merebahkan tubuhku di lantai tanpa alas tidur.
Ku coba memejamkan mataku supaya lekas tertidur. Namun tidak berhasil.
Entah karena lantainya yang terasa dingin atau pikiranku yang terasa berat.
Jarum di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar.
Meski ragu, aku tetap masuk ke kamar itu. Tak peduli dengan hiasan di kamar itu karena mataku langsung terfokus pada gadis yang tertidur sambil bersandar di atas ranjang.
Dia pasti menantiku untuk malam ini.
Melihat wajahnya yang tertidur dengan tenang, terasa teduh. Hatiku merasa damai melihatnya.
Wajah yang beberapa waktu selalu bersamaku. Wajah manja dan ceria. Gadis polos yang menyatakan bahwa dirinya adalah anak remaja gaul era masa kini.
Tanpa sadar bibirku tersenyum mengingat tingkahnya selama masa tugasku menjadi pengawalnya.
Aku duduk di sisi ranjang, dekat dengannya. Ku singkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.
Gadis cantik berhati baik yang ingin bebas dari aturan sang ayah namun tak memiliki keberanian untuk melawannya.
Aku tau semua itu karena dia sering berkeluh kesah padaku tentang aturan yang dibuat ayahnya sampai membuatnya tak bisa bebas. Meskipun begitu dia sangat menyayangi ayahnya.
Aku masih ingat bagaimana dia menceritakan bagaimana hebatnya sang ayah. Sosok lelaki yang begitu dikaguminya.
Anak manja ini menjadi istriku sekarang. Apa dia mampu mendampingiku mengayuh perahu rumah tangga bersamaku? Apa dia bisa sabar menungguku jika aku mendapatkan tugas dan harus meninggalkannya dalam waktu yang lama?
Apa dia cukup dewasa untuk mengerti semuanya?
Tiba-tiba hatiku menghangat melihat wajah teduhnya. Kubaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu ku tutup tubuhnya yang terasa dingin dengan selimut. Dia pasti kedinginan karena suhu di ruangan ini cukup rendah dan baju yang dipakai sangat tipis.
Aku merebahkan tubuhku di sebelahnya, masih menatap wajahnya.
Aku tidak membencinya karena takdir yang menyeretku untuk menikah dengannya.
Ku akui selama ini aku peduli padanya. Bukan karena cinta, tapi kewajiban yang harus ku emban untuk selalu melindunginya.
Tapi tugas itu seperti menyatu dalam jiwaku.
Masuk ke dalam hatiku. Hingga terbit suatu keinginan untuk menjadi pelindungnya. Meski rasa yang kurasa padanya berbeda dengan rasaku pada Armita.
Dia bergerak!
Reflek aku memejamkan mataku. Pura-pura tertidur.
Dia membelai pipiku.
"Maaf ya mas, aku tertidur. Aku tak bisa menyambutmu malam ini." Terdengar penyesalan dari nada suaranya.
"Aku ingin melaksanakan kewajibanku. Tapi tak tega membangunkanmu. Kamu pasti lelah." Dia berkata dengan jarak sangat dekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa pipiku.
Dia melepas tangannya dari wajahku.
Cup!
Tiba-tiba dia mencium pipiku. Ciuman yang membawaku semakin tenang dan masuk ke dalam mimpi. Hingga aku pun terlelap tidur.
○○○
Hari sudah pagi. Aku bangun kesiangan kali ini. Namun tak terlalu buru-buru karena hari ini masih masuk waktu cutiku.
Aku melihat Zylda sudah mandi dan berpenampilan rapi. Mau kemana dia sepagi ini?
"Kenapa sudah rapi? Mau kemana?" Tanyaku.
Zylda memutar badan ke arahku. Senyumnya mengembang.
"Aku ada siaran pagi ini. Tidak papa kan kalau aku tinggal? Siaranku hanya 1 jam, mungkin hanya butuh dua jam setelah itu aku akan pulang."
Aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku mengizinkannya.
"Mas gak ingin mengantarku ke radio?" Pertanyaannya kali ini seperti menuntutku.
"Tunggu di bawah! Aku akan mandi dulu sebentar." Aku pun beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku pun bersiap dan turun ke bawah untuk mengantar Zylda.
"Sarapan dulu mas?"
Aku menghampiri Zylda di meja makan. Dengan cekatan dia melayaniku dengan menyiapkan sarapan sampai terhidang di hadapanku.
Aku makan tanpa basa basi. Segera kuselesaikan dan beranjak menuju garasi.
Zylda mengikuti dibelakangku.
"Aku cuma punya motor. Mobil dirumahku itu milik ayah. Gak papa kamu berangkat siaran naik motor?"
Aku tau Zylda anak tunggal. Ia pasti terbiasa dengan fasilitas dari ayahnya.
"Gak papa dong. Kan lebih romantis kalau naik motor." Jawabnya dengan senyum tersipu.
Aku memberikan helm padanya. Zylda duduk dibelakangku. Ternyata omongannya bukan sekedar candaan. Tangannya melingkar di perutku. Dia merapatkan pelukannya di punggungku.
Aku terus mengemudi tanpa mengajaknya berbincang karena aku pun bingung bagaimana membuka obrolan.
Ini adalah pertama kalinya aku dipeluk oleh gadis selain Armita. Tentu saja aku gugup.
Hingga sampai di depan kantor radionya.
Tampak seorang pemuda berdiri menyambut kedatangan kami. Namanya Amran.
Aku mengenalnya karena sudah beberapa kali bertemu dengannya ketika masih menjadi pengawal Zylda.
Dari sorot mata dan perhatiannya, aku tau kalau dia menyimpan perasaan untuk Zylda.
Zylda Turun dari motor dan menyerahkan helm padaku.
"Nanti pulangnya bisa jemput lagi gak? Aku cuma 2 jam kok disini." Nada manja keluar dari mulutnya.
"Entahlah. Nanti ku telpon jika aku bisa kesini."
Zylda meraih telapak tanganku dan menciumnya.
Aku pun bergegas pergi meninggalkannya saat kulihat Zylda berjalan masuk diikuti oleh Amran yang berjalan di sebelahnya.
Aku melajukan motorku. Menuju tempat favoritku, Rumah sakit daerah.
Aku betah untuk berlama-lama menunggu hanya untuk melihat wajah Armita.
Hah! Aku memang sepengecut itu.
Meski pernah menjadi lulusan terbaik dan mendapat banyak perhargaan dari profesiku sebagai Tentara, nyatanya aku masih terlalu pengecut jika berhadapan dengan urusan cinta.
Cukup lama aku menunggu tapi tetap tak bisa melihat wajah Armita.
Hingga suara dering ponsel memecah fokusku. Zylda menelponku.
Aku menjawab panggilan itu.
"Aku sudah selesai. Apa mas bisa menjemputku?"
Sayup kudengar suara Amran berbicara di belakang. Aku dengar ia menawari Zylda untuk mengantarnya pulang.
Tidak! Aku tak akan membiarkan Zylda pulang dengan Amran! Aku tak bisa membiarkan dia berdua-duaan dengan Amran!
Segera kulajukan motor menuju kantor radio untuk menjemput Zylda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ifah Fatur
zubair udah ngk usah inget armita lagi ,,,, ksmu udah terlalu mnyakiti dia yg setia menunggu namun penantian dia semua sia" ,,,, bngunlah rumah tanggamu diatas penderitaan armita,,,
2022-12-07
1
Andi Eka
ia nyesek jdi amrita, udah nunggu lm2 taunya cma dphpin doang,
2022-12-06
1
Indah Alifah
apa maksudnya ini cerita?plin-plan cowoknya
2022-12-06
0