Bab 9 : Hari pernikahan

Kini tibalah hari yang sudah dinantikan. Hari mendebarkan yang sudah dipersiapkan dengan sangat matang oleh kedua belah pihak keluarga.

Seorang gadis duduk tegak dengan polesan make up dan sanggul di rambut yang telah bertahtakan hiasan mahkota.

Senyum terus merekah di bibirnya. Meski tak dipungkiri hatinya tengah berdebar menanti ikrar suci yang akan diucapkan.

Zylda menatap pantulan dirinya dari cermin di depannya. Seorang MUA masih memoleskan beberapa aplikasi make up. Padahal penampilannya kini sudah nampak sempurna.

Zylda terlihat sangat cantik. Aura pengantin begitu kuat terpancar dalam dirinya.

Telapak tangan yang telah dihias mehndi ia silangkan di atas lutut.

"Nak, kamu sudah siap?"

Sang ibu masuk ke kamarnya. Mendekat padanya dengan merangkul pundaknya.

"Cantik sekali putri ibu." Ucapnya tulus.

"Zubair dan keluarganya sudah datang. Kamu tunggu disini sampai ikrar terucap sempurna dan dinyatakan sah oleh penghulu dan para saksi."

Ucapan sang ibu terjeda. Tenggorokannya seolah tercekat. Bukan hanya karena kesedihan, tapi rasa haru karena sang putri tengah berbahagia menunggu lembaran baru dalam hidupnya.

Rasa haru itu bercampur kesedihan tatkala mengingat sang putri yang lepas dari tanggung jawabnya dan beralih ke suaminya.

Membayangkan Zylda yang akan menghadapi ombak bahkan badai untuk mengarungi biduk rumah tangga, memunculkan rasa khawatir dalam hatinya.

Bagaimana jika nantinya sang putri tidak bahagia?

Bagaimana jika Zylda tak sekuat karang untuk menghadapi badai dalam rumah tangganya.

Suara dari mikrofon yang keluar melalui speaker sound system mulai terdengar.

Penghulu meraih tangan Zubair lalu di satukan dengan tangan Laksamana Yudha menjadi sebuah jabat tangan.

Penghulu mulai membaca doa, dua kalimat Syahadat serta sholawat. Hingga akhirnya menyerahkan ijab kepada ayah dari mempelai wanita.

Suara Laksamana bergetar. Ini adalah momen terberat dalam hidupnya. Melepas sang putri tunggal dan menyerahkannya kepada seorang prajurit.

"Zubair Al Tamish! Saya nikahkan engkau dengan putri saya, Zylda Sahira binti Yudha Wicaksana dengan mas kawin perhiasan emas dibayar tunai!"

Tangan Zubair di hentak perlahan oleh Laksamana sebagai pertanda waktunya ia menjawab ijab.

"Saya terima nikahnya Ar…."

Suaranya tercekat ketika tangannya di remaas kuat oleh Laksamana.

Zubair dalam kebimbangan. Sejak pagi ingatannya tentang Armita yang menangis seolah tak hilang dari pikirannya.

Sang ayah yang duduk disebelah Zubair menepuk pundak sang anak. Memberi semangat untuk kembali menyempurnakan tekad.

"Sepertinya pengantin laki-lakinya grogi. Ndredeg!" Seru sang ayah sehingga membuat para tamu yang hadir tertawa mendengarnya.

Penghulu pun meyakinkan Zubair. Beliau meminta Zubair untuk mengatur napas supaya lebih rileks.

"Sudah siap mas Zubair?" Pertanyaan penghulu ini dijawab anggukan kepala oleh Zubair.

"Baik pak Yudha, kita ulangi pembacaan ikrarnya."

Laksamana mulai mengulang ikrarnya.

"Zubair Al Tamish! SAYA NIKAHKAN ENGKAU DENGAN PUTRI SAYA, ZYLDA SAHIRA BINTI YUDHA WICAKSANA DENGAN MAS KAWIN PERHIASAN EMAS, TUNAI!!!

Zubair langsung menjawab, "Saya terima nikahnya Zylda Sahira binti Yudha Wicaksana dengan mas kawin tersebut, Tunai!"

SAAAAHHHH !!!!!!

Suara dari saksi dan para tamu undangan memenuhi seisi rumah.

Penghulu menutup ijab kabul itu dengan doa. Setelah itu Zubair diperkenankan untuk menjemput pengantin wanita ke kamarnya lalu membawanya ke hadapan penghulu.

Zubair beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Zylda.

Tanpa mengetuk pintu, Zubair langsung masuk ke dalam kamar itu.

Ia melihat Zylda yang duduk dengan anggun di kursi rias.

Zubair mengakui kalau Zylda kini terlihat sangat cantik.

Polesan make up di wajahnya membuat ia tampak dewasa dan bijaksana. Seolah menghilangkan sifat manja dalam dirinya.

Zubair sempat terpaku sejenak. Ia maju mendekati Zylda dan meraih tangan dan menggandengnya.

Zubair dan Zylda berjalan menuju penghulu untuk menandatangani surat nikah.

Suasana haru dan bahagia sangat terasa. Meski semuanya hampa bagi Zubair.

Setelah proses akad nikah selesai, kini kedua pengantin beserta keluarga bersiap untuk acara resepsi yang dilaksanakan di gedung Auditorium milik Angkatan Laut.

Zylda berganti kostum. Ia mengenakan gaun putih panjang bentuk ballgown yang mengembang di bagian bawah.

Mahkota diatas kepalanya benar-benar membuat penampilannya bak seorang princess.

Zubair sudah menggunakan seragam putihnya. Dengan lencana yang sudah terpasang dan topi diatas kepalanya.

Kini hanya tinggal menunggu instruksi dari WO untuk menjalani prosesi pedang pora.

Semua tamu undangan telah bersiap di posisinya.

Beberapa dari mereka bahkan sudah siap dengan kamera untuk mengabadikan momen sakral ini.

Pintu auditorium terbuka. Beberapa orang pasukan berjalan tegap sembari membawa pedang, mengawal sepasang pengantin di belakang mereka.

Pasukan itu berjalan sesuai instruksi dari komandan upacara. Kemudian berhenti lalu menyilangkan pedang-pedang itu diatas kepala membentuk sebuah gapura.

Zubair melangkah maju diikuti oleh Zylda di sebelahnya yang sedari tadi selalu menggandeng tangannya.

Tangan Zylda terasa semakin erat ketika berjalan dibawah pedang. Ia tersenyum bahagia dan memalingkan wajahnya ke arah Zubair.

Tiba-tiba senyumnya tertahan karena melihat ekspresi wajah Zubair yang nampak datar.

Namun saat ini tidak tepat untuk menanyakannya. Zylda terus berjalan hingga di depan pelaminan.

Pasukan pembawa pedang itu lalu berjalan mengelilingi mereka berdua. Pasukan itu berhenti dengan membentuk lingkaran menutupi kedua mempelai.

Suatu budaya yang biasa terjadi ketika momen ini adalah momen kissing, yakni mencium pasangan.

Sesuai aba-aba dari inspektur upacara, pasukan yang melingkar kemudian menundukkan badan dan duduk jongkok dengan satu kaki.

Zubair meraih kepala Zylda dan mencium keningnya.

Zylda terperangah.

"Kening? Kenapa zubair mencium keningku? Bukankah seharusnya…"

Zylda hanya mampu protes dalam hatinya. Seharusnya momen ini adalah Zubair mencium bibirnya. Tapi suami sahnya itu seolah menolak.

Dari sekian kejanggalan yang dirasakannya, Zylda berusaha mengabaikan. Ia ingin menikmati momen bahagia sekali dalam seumur hidupnya.

Tanpa ia sadari ada tetesan air mata yang mengalir dari tempat tamu undangan berdiri.

Terpopuler

Comments

Rima baharudin

Rima baharudin

Ayo armitha, tetap semangat untuk menyongsong hari esok. kepakkan sayap mu untuk menjadi dokter yang sangat bisa diandalkan. mungkin zubair bukan jodoh mu, pasti akan ada bahu yang akan selalu ada untukmu armita

2023-10-03

1

Herwy Kurniati

Herwy Kurniati

aq nyesek thor...

2023-03-16

0

Ifah Fatur

Ifah Fatur

kok aku sedih ya zubair nikah am zylda,,,, duh armita past hatiny hancur i saat pujaan hati nikah dg yg lain,,,, pokokny hidup segan mati tak mau

2022-12-05

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!