Kini tibalah hari yang sudah dinantikan. Hari mendebarkan yang sudah dipersiapkan dengan sangat matang oleh kedua belah pihak keluarga.
Seorang gadis duduk tegak dengan polesan make up dan sanggul di rambut yang telah bertahtakan hiasan mahkota.
Senyum terus merekah di bibirnya. Meski tak dipungkiri hatinya tengah berdebar menanti ikrar suci yang akan diucapkan.
Zylda menatap pantulan dirinya dari cermin di depannya. Seorang MUA masih memoleskan beberapa aplikasi make up. Padahal penampilannya kini sudah nampak sempurna.
Zylda terlihat sangat cantik. Aura pengantin begitu kuat terpancar dalam dirinya.
Telapak tangan yang telah dihias mehndi ia silangkan di atas lutut.
"Nak, kamu sudah siap?"
Sang ibu masuk ke kamarnya. Mendekat padanya dengan merangkul pundaknya.
"Cantik sekali putri ibu." Ucapnya tulus.
"Zubair dan keluarganya sudah datang. Kamu tunggu disini sampai ikrar terucap sempurna dan dinyatakan sah oleh penghulu dan para saksi."
Ucapan sang ibu terjeda. Tenggorokannya seolah tercekat. Bukan hanya karena kesedihan, tapi rasa haru karena sang putri tengah berbahagia menunggu lembaran baru dalam hidupnya.
Rasa haru itu bercampur kesedihan tatkala mengingat sang putri yang lepas dari tanggung jawabnya dan beralih ke suaminya.
Membayangkan Zylda yang akan menghadapi ombak bahkan badai untuk mengarungi biduk rumah tangga, memunculkan rasa khawatir dalam hatinya.
Bagaimana jika nantinya sang putri tidak bahagia?
Bagaimana jika Zylda tak sekuat karang untuk menghadapi badai dalam rumah tangganya.
Suara dari mikrofon yang keluar melalui speaker sound system mulai terdengar.
Penghulu meraih tangan Zubair lalu di satukan dengan tangan Laksamana Yudha menjadi sebuah jabat tangan.
Penghulu mulai membaca doa, dua kalimat Syahadat serta sholawat. Hingga akhirnya menyerahkan ijab kepada ayah dari mempelai wanita.
Suara Laksamana bergetar. Ini adalah momen terberat dalam hidupnya. Melepas sang putri tunggal dan menyerahkannya kepada seorang prajurit.
"Zubair Al Tamish! Saya nikahkan engkau dengan putri saya, Zylda Sahira binti Yudha Wicaksana dengan mas kawin perhiasan emas dibayar tunai!"
Tangan Zubair di hentak perlahan oleh Laksamana sebagai pertanda waktunya ia menjawab ijab.
"Saya terima nikahnya Ar…."
Suaranya tercekat ketika tangannya di remaas kuat oleh Laksamana.
Zubair dalam kebimbangan. Sejak pagi ingatannya tentang Armita yang menangis seolah tak hilang dari pikirannya.
Sang ayah yang duduk disebelah Zubair menepuk pundak sang anak. Memberi semangat untuk kembali menyempurnakan tekad.
"Sepertinya pengantin laki-lakinya grogi. Ndredeg!" Seru sang ayah sehingga membuat para tamu yang hadir tertawa mendengarnya.
Penghulu pun meyakinkan Zubair. Beliau meminta Zubair untuk mengatur napas supaya lebih rileks.
"Sudah siap mas Zubair?" Pertanyaan penghulu ini dijawab anggukan kepala oleh Zubair.
"Baik pak Yudha, kita ulangi pembacaan ikrarnya."
Laksamana mulai mengulang ikrarnya.
"Zubair Al Tamish! SAYA NIKAHKAN ENGKAU DENGAN PUTRI SAYA, ZYLDA SAHIRA BINTI YUDHA WICAKSANA DENGAN MAS KAWIN PERHIASAN EMAS, TUNAI!!!
Zubair langsung menjawab, "Saya terima nikahnya Zylda Sahira binti Yudha Wicaksana dengan mas kawin tersebut, Tunai!"
SAAAAHHHH !!!!!!
Suara dari saksi dan para tamu undangan memenuhi seisi rumah.
Penghulu menutup ijab kabul itu dengan doa. Setelah itu Zubair diperkenankan untuk menjemput pengantin wanita ke kamarnya lalu membawanya ke hadapan penghulu.
Zubair beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Zylda.
Tanpa mengetuk pintu, Zubair langsung masuk ke dalam kamar itu.
Ia melihat Zylda yang duduk dengan anggun di kursi rias.
Zubair mengakui kalau Zylda kini terlihat sangat cantik.
Polesan make up di wajahnya membuat ia tampak dewasa dan bijaksana. Seolah menghilangkan sifat manja dalam dirinya.
Zubair sempat terpaku sejenak. Ia maju mendekati Zylda dan meraih tangan dan menggandengnya.
Zubair dan Zylda berjalan menuju penghulu untuk menandatangani surat nikah.
Suasana haru dan bahagia sangat terasa. Meski semuanya hampa bagi Zubair.
Setelah proses akad nikah selesai, kini kedua pengantin beserta keluarga bersiap untuk acara resepsi yang dilaksanakan di gedung Auditorium milik Angkatan Laut.
Zylda berganti kostum. Ia mengenakan gaun putih panjang bentuk ballgown yang mengembang di bagian bawah.
Mahkota diatas kepalanya benar-benar membuat penampilannya bak seorang princess.
Zubair sudah menggunakan seragam putihnya. Dengan lencana yang sudah terpasang dan topi diatas kepalanya.
Kini hanya tinggal menunggu instruksi dari WO untuk menjalani prosesi pedang pora.
Semua tamu undangan telah bersiap di posisinya.
Beberapa dari mereka bahkan sudah siap dengan kamera untuk mengabadikan momen sakral ini.
Pintu auditorium terbuka. Beberapa orang pasukan berjalan tegap sembari membawa pedang, mengawal sepasang pengantin di belakang mereka.
Pasukan itu berjalan sesuai instruksi dari komandan upacara. Kemudian berhenti lalu menyilangkan pedang-pedang itu diatas kepala membentuk sebuah gapura.
Zubair melangkah maju diikuti oleh Zylda di sebelahnya yang sedari tadi selalu menggandeng tangannya.
Tangan Zylda terasa semakin erat ketika berjalan dibawah pedang. Ia tersenyum bahagia dan memalingkan wajahnya ke arah Zubair.
Tiba-tiba senyumnya tertahan karena melihat ekspresi wajah Zubair yang nampak datar.
Namun saat ini tidak tepat untuk menanyakannya. Zylda terus berjalan hingga di depan pelaminan.
Pasukan pembawa pedang itu lalu berjalan mengelilingi mereka berdua. Pasukan itu berhenti dengan membentuk lingkaran menutupi kedua mempelai.
Suatu budaya yang biasa terjadi ketika momen ini adalah momen kissing, yakni mencium pasangan.
Sesuai aba-aba dari inspektur upacara, pasukan yang melingkar kemudian menundukkan badan dan duduk jongkok dengan satu kaki.
Zubair meraih kepala Zylda dan mencium keningnya.
Zylda terperangah.
"Kening? Kenapa zubair mencium keningku? Bukankah seharusnya…"
Zylda hanya mampu protes dalam hatinya. Seharusnya momen ini adalah Zubair mencium bibirnya. Tapi suami sahnya itu seolah menolak.
Dari sekian kejanggalan yang dirasakannya, Zylda berusaha mengabaikan. Ia ingin menikmati momen bahagia sekali dalam seumur hidupnya.
Tanpa ia sadari ada tetesan air mata yang mengalir dari tempat tamu undangan berdiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rima baharudin
Ayo armitha, tetap semangat untuk menyongsong hari esok. kepakkan sayap mu untuk menjadi dokter yang sangat bisa diandalkan. mungkin zubair bukan jodoh mu, pasti akan ada bahu yang akan selalu ada untukmu armita
2023-10-03
1
Herwy Kurniati
aq nyesek thor...
2023-03-16
0
Ifah Fatur
kok aku sedih ya zubair nikah am zylda,,,, duh armita past hatiny hancur i saat pujaan hati nikah dg yg lain,,,, pokokny hidup segan mati tak mau
2022-12-05
4