Zubair terus memikirkan Ucapan Armita.
Memang benar bahwa hanya Armita orang yang selalu memberikan semangat kepadanya untuk mengejar cita-cita menjadi Tentara. Armita selalu mendukung setiap keputusannya. Menjadi orang yang selalu menemaninya setiap waktu. Orang setia menunggunya dan rela berkorban apapun untuknya. Bertahun-tahun menjalin hubungan dan tak pernah sekalipun Armita membuatnya kecewa.
Bayangan Armita yang menangis terisak tak bisa hilang dari pikirannya. Membuat Zubair tidak fokus dalam bekerja.
“Aku tidak bisa membiarkan Mita menangis. Aku tak akan mengecewakannya! Aku harus memilih! Kali ini aku yang harus berkorban untuk Mita!”
Tekad Zubair sudah bulat. Ia pergi untuk menemui sang Laksamana.
Zubair mulai mengetuk pintu dan menjalankan izin melapor sesuai protokol.
Terdengar suara Laksamana dari dalam ruangan mempersilahkan dia untuk masuk.
Zubair melangkah dengan yakin. Menghadap dan memberi hormat.
“Apa ini urusan kedinasan?” Tanya sang Laksamana.
“Siap! Bukan!” Zubair menjawab.
“Kalau begitu duduklah. Katakan dengan baik keperluanmu.”
Zubair duduk di kursi menghadap sang Laksamana. Ia pun mulai permohonan maaf.
“Saya mohon maaf. Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan itu.”
“Apa maksudmu? Kamu ingin membatalkannya? Kenapa?” Laksamana bertanya dengan suara yang berat dan tegas.
“Saya tidak mencintai putri anda. Saya mencintai orang lain dan sudah berjanji untuk menikahinya. Sekali lagi saya mohon maaf.”
Laksamana menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Menopang kedua tangannya pada sandaran kursi.
“Mayor Zubair!” Mode dan intonasi Laksamana Yuda mulai berubah. Ia berbicara para anggota yang menolak tugas darinya.
“Undangan sudah disebar. Kamu pasti tau siapa saja tamu undangan yang akan datang ke acara itu. Para perwira tinggi sudah mengosongkan jadwalnya. Semua schedule pejabat juga sudah disusun untuk hadir diacara pernikahan itu. Bisa kamu bayangkan jika tiba-tiba acara itu batal?”
Laksamana menatap tajam kearah Zubair.
“Seorang Mayor pasti tau konsekuensi dari setiap keputusan yang akan dia ambil. Apa kamu yakin jika sampai pengadilan militer bahkan harus memanggilmu karena sebuah alasan, mangkir dari tugas dan kamu siap menghadapinya?”
Laksamana mulai mengeluarkan ancamannya.
Zubair telah berhasil mengumpulkan tekadnya demi berkorban untuk Armita. Ia siap menghadapi segala resikonya.
“Saya Siap!” Zubair menjawab mantab.
Emosi Laksamana mulai naik. Ia bangkit dari kursi kerjanya masih menatap tajam kearah Zubair. Pemuda di depannya nampak sangat serius dengan perkataannya. Laksamana Yuda harus berpikir tenang supaya semua rencana tetap berjalan seperti seharusnya.
“Pergilah! Temui orang tuamu! Jelaskan pada mereka tentang resiko yang akan kamu hadapi jika sampai membatalkan acara ini.”
Zubair beranjak dengan sopan dan memberikan penghormatan lalu pamit pergi meninggalkan ruangan.
Zubair pulang ke rumahnya.
Ia memarkir motornya dan memberi salam. Zubair menghampiri sang ayah yang sedang duduk sambil melihat acara berita di televisi.
“Kamu sudah pulang nak?” sang ayah menatap heran.
“Ada yang ingin Zubair sampaikan kepada ayah. Ini mengenai rencana pernikahan Zubair dan Zylda.”
Ayah memegang remot untuk mematikan televisi. Ia mulai mendengarkan Zubair dengan seksama.
“Kenapa nak? Apa ada perubahan rencananya? Bukankah acaranya tinggal satu bulan lagi?” Tanya sang ayah.
Semua keluarga Zubair sudah diberi tahu tentang rencana pernikahannya. Semua sudah disiapkan. Meski ini adalah acara pernikahan tanpa didahului acara lamaran dari kedua belah pihak keluarga seperti pada umumnya, namun kedua orang tua Zubair menerima alasan yang telah dijelaskan oleh Laksamana Yuda sewaktu dulu berkunjung kerumahnya.
“Zubair ingin membatalkan acara pernikahan itu ayah.”
Sang ayah terkejut mendengar perkataan Zubair. Remote di genggaman tangannya pun sampai terjatuh ke lantai.
“BU! IBU! Kemarilah! Dengarkan perkataan putramu!”
Mendengar suara teriakan sang suami, Ibu pun tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Ada apa ayah? Kenapa teriak-teriak?”
Ayah pun meminta ibu untuk duduk dan mendengar perkataan Zubair.
“Kenapa toh nak? Kenapa harus dibatalkan? Bukankah semuanya sudah dipersiapkan? Bukankah kamu dan Zylda juga sudah saling menerima.” Kata ibu.
“Aku tidak mencintainya bu. Ibu pasti mengerti siapa gadis yang aku pilih. Aku tidak bisa meninggalkan Mita bu. Aku sangat mencintai dia.” Zubair berkata dengan memohon supaya sang ibu mau mengerti keinginannya.
“Apa kamu sudah berbicara pada pihak keluarga Zylda?” Tanya ibu.
“Aku sudah menemui Laksamana Yuda dan menjelaskannya.” Zubair menjawab dengan lesu.
“Lalu apa kataya?” Desak sang ayah.
“Konsekuensinya adalah pangkat dan jabatanku. Bahkan bisa jadi aku akan diseret ke pengadilan militer. Aku terlanjur berjanji pada Laksamana di hadapan para perwira tinggi. Tapi aku akan menerima konsekuensi apapun itu. Aku sangat mencintai Armita, ayah ku mohon. Aku bahkan siap jika harus dipecat dari kesatuan.”
Emosi sang ayah sudah memuncak. Ia bangkit berdiri dan meluapkan emosinya.
“Lupakan tentang cinta dan segala omong kosongnya itu! Pikiranmu sedang tidak waras Zubair! Susah payah kamu memperjuangkan posisimu sekarang bahkan dengan taruhan nyawa! Tapi kamu justru rela melepasnya demi cinta?”
“Tekad Zubair sudah bulat ayah! Zubair akan menikahi Armita. Apapun resikonya!”
Emosi sang ayah semakin naik. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan jatuh di kursi.
“AYAAAAH!!!” Ibu berteriak panik.
Zubair membopong tubuh ayahnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rima baharudin
realita banget, yang tidak punya pengaruh selalu di korbankan dan di suruh untuk mengalah
2023-10-03
0
Ifah Fatur
semua yg dilakukan pasti ada konsekwensiny
2022-11-28
0
lala malala
apapun bisa dilakukan yah kalau sudah pegang kekuasaan
haduuuhh... jadi kasian sama nasib armita
2022-11-28
0