Zubair berjalan mondar mandir di depan IGD, menunggu panggilan dokter untuk mengetahui kabar tentang kondisi kesehatan sang ayah.
“Duduklah nak..”
Ibu menepuk kursi di sebelah tempatnya duduk. Zubair patuh. Ia duduk disebelah sang ibu, menunduk lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Berdoalah nak.. Doakan ayahmu baik-baik saja dan bisa pulang dengan kondisi sehat.” Ibu menepuk pundak Zubair. Beliau sangat paham jika putranya kini dalam kebimbangan.
“Aku bingung ibu. Ibu pasti mengerti bagaimana aku mencintai Armita dan sangat ingin menikahinya. Harapanku padanya sangat besar, ibu. Begitu juga harapannya padaku.”
Zubair menegakkan punggungnya. Melepas telapak tangan dari wajahnya. “Mita adalah wanita pertama yang mampu menarikku dari dunia berandalan dulu. Dia adalah orang yang percaya bahwa aku bisa sukses dengan impianku bahkan disaat ayahku sendiri meragukanku. Aku sangat mencintainya, ibu.”
Zubair menghela napas. “Tapi melihat kondisi ayah sekarang, aku menjadi bimbang. Aku merasa sangat bersalah jika ayah sampai sakit karena keputusanku.”
Ibu memutar tubuhnya menghadap Zubair. “Nak..” Sambil membelai lengan sang putra. “Ayahmu hanya mengkhawatirkan nasibmu. Beliau khawatir jika kamu sampai dikeluarkan dan harus menjalani sidang militer. Bagaimana nasibmu kelak jika sudah tidak menjadi seorang tentara.”
“Aku bukan dikeluarkan dari militer karena membatalkan pernikahan itu ibu.”
Zubair pun menceritakan kondisinya ketika Laksamananya memintanya untuk menikahi Zylda.
“Saat itu aku tidak mengerti sepenuhnya permintaan Laksamana Yuda. Aku mengira bahwa itu adalah sebuah tugas untuk menjaga putrinya. Aku menyanggupinya. Kesediaanku untuk menerima tugas itu disaksikan oleh banyak perwira tinggi disana.
Jika aku membatalkan pernikahanku kali ini, para perwira tinggi itu akan kecewa padaku dan menganggap bahwa tidak serius. Mereka tidak mengetahui kondisiku. Yang mereka tau bahwa aku tidak konsisten dengan perkataanku dan itu akan berpengaruh pada karirku di kemiliteran, ibu.
Aku tidak akan bisa bertahan dalam kondisi itu. Aku memilih untuk mengakhiri karirku di kemiliteran.”
Zubair kembali menunduk. Zubair masih berpikir dengan keputusan yang telah ia buat.
“Keluarga pasien Suwandi.”
Panggilan dari petugas medis menutup perbincangannya dengan sang ibu. Zubair dan ibu berdiri lalu berjalan menghampiri dokter di meja pemeriksaan.
“Bagaimana kondisi suami saya dok?” Tanya ibu. “Saya istrinya dok.”
Pandangan dokter beralih ke Zubair. Seolah hendak menanyakan status Zubair tehadap pasien.
“Saya putranya dok. Putra bapak Suwandi.” Zubair mengerti arti tatapan sang dokter.
“Baiklah, saya akan menjelaskan kondisi kesehatan pasien atas nama Bapak Suwandi.” Dokter menunjukkan hasil rekam medik.
“Pasien mengalami gejala stroke. Tekanan darahnya sangat tinggi. Beruntung bisa langsung ditangani. jadi gejala stroke masih bisa teratasi. Namun saya minta pada pihak keluarga untuk menjaga kesehatan pasien dengan menjaga pola makan, tidur teratur dan menjaga kondisi psikis pasien. Sebaiknya pasien tidak banyak pikiran dulu. Hal ini akan sangat berpengaruh pada tekanan darahnya dan kesehatannya.”
Ibu dan Zubair mendengar penjelasan dokter dengan seksama. setelah semua dijelaskan, Zubair mengurus administrasi untuk memindahkan ayah ke ruang perawatan.
Setelah semua administrasi selesai. Zubair duduk di kursi depan IGD lagi. Masih menunggu sang ayah dipindah ke kamar inap.
Ibu menghampirinya. Kembali duduk di sebelahnya.
“Nak, pertimbangkan kembali keputusanmu. Ibu yakin kamu bisa bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan.
Pernikahan itu hal yang rumit. dijalani seumur hidup. Butuh rasa cinta dalam menjalaninya. Namun cinta bukan satu-satunya alasan untuk memperkuat rumah tangga.
Armita memang gadis yang baik. Gadis yang sangat ideal untuk dijadikan seorang istri. Namun pikirkan juga kondisi kesehatan ayah jika kamu tetap nekad mengorbankan karirmu demi Mita. Pikirkan juga bagaimana kondisi Zylda dan rasa malu yang harus ditanggung keluargamu dan keluarga Laksamana Yuda.
Nak, bukankah pernikahan itu itu untuk membangun sebuah keluarga? Mengapa untuk membangun keluarga justru harus mengorbankan perasaan anggota keluarga yang lainnya? Apalagi jika itu ayahmu sendiri.”
Zubair semakin bimbang dengan keputusannya. “Aku bingung ibu.”
“Nak, jika Armita memang jodohmu, jalanmu tak akan terhalang apapun. Namun jika dia memang bukan jodohmu, kamu harus mengikhlaskannya nak.” Ibu masih berusaha meyakinkan sang putra.
“Tapi aku tidak mencintai Zylda. Semua perhatianku padanya hanya sebatas tugas.” Zubair masih menyangkal.
“Cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan kalian berdua membina rumah tangga. Asal kamu mau membuka hatimu, Zylda akan bisa mendapatkan cintamu.”
Cukup lama Zubair mengungkapkan segala resah di hatinya pada sang ibu. Dengan sangat bijak ibu mampu meyakinkan Zubair untuk membuat keputusan terbaik dalam hidupnya.
Hingga suara perawat memberitahu mereka bahwa sang ayah telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas 2.
Zubair dan ibu bergegas menghampirinya. Masuk ke dalam ruang rawat yang berisi enam orang pasien di dalamnya.
Zubair menarik kursi penunggu pasien untuk sang ibu. Ibu duduk disebelah bed ayah sambil menggenggam tangannya.
“Ayah baik-baik saja?” Tanya ibu.
Pandangan ayah langsung tertuju pada Zubair. Zubair mengerti arti tatapan sang ayah yang mempertanyakan keputusannya. Zubair mendekat.
Selang infus masih terpasang di tangan kiri. Selang oksigen juga masih terpasang di hidung sang ayah serta oksimeter yang masih menjepit jari telunjuk. Ayah berusaha mengeluarkan suara untuk memanggil sang putra. “Zu.. Zub..”
“Iya ayah.” Zubair memegang tangan ayah.
“Zubair akan patuh pada ayah. Zubair tidak akan mengecewakan ayah.” Zubair mencium tangan ayah. “Ayah harus segera pulih dan pulang kerumah supaya bisa hadir di pernikahan Zubair dan Zylda bulan depan.”
Ayah bernapas lega. sebuah senyuman terukir di bibirnya. Zubair harus mengorbankan perasaannya untuk senyuman itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
umamariri
jadi penasaran sama cerita ini,
Zubair akhirnya sama Armita atau Zylda? peran utama wanitanya siapa ya?
kayaknya zylda juga gak jahat karena dia gak tau kalau zubair sudah punya Armita
2022-11-30
0
Ifah Fatur
masalahny ngk cinta kan, tpi ngk nyakitin, percuma cinta klu menyakiti apa bedany zubair,,,,
2022-11-28
1
lala malala
berarti zubair jadi nikah sama zylda? trus nasib armita gimana?
2022-11-28
1