Bab 6 : Keputusan Zubair

Zubair berjalan mondar mandir di depan IGD, menunggu panggilan dokter untuk mengetahui kabar tentang kondisi kesehatan sang ayah.

“Duduklah nak..”

Ibu menepuk kursi di sebelah tempatnya duduk. Zubair patuh. Ia duduk disebelah sang ibu, menunduk lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Berdoalah nak.. Doakan ayahmu baik-baik saja dan bisa pulang dengan kondisi sehat.” Ibu menepuk pundak Zubair. Beliau sangat paham jika putranya kini dalam kebimbangan.

“Aku bingung ibu. Ibu pasti mengerti bagaimana aku mencintai Armita dan sangat ingin menikahinya. Harapanku padanya sangat besar, ibu. Begitu juga harapannya padaku.”

Zubair menegakkan punggungnya. Melepas telapak tangan dari wajahnya. “Mita adalah wanita pertama yang mampu menarikku dari dunia berandalan dulu. Dia adalah orang yang percaya bahwa aku bisa sukses dengan impianku bahkan disaat ayahku sendiri meragukanku. Aku sangat mencintainya, ibu.”

Zubair menghela napas. “Tapi melihat kondisi ayah sekarang, aku menjadi bimbang. Aku merasa sangat bersalah jika ayah sampai sakit karena keputusanku.”

Ibu memutar tubuhnya menghadap Zubair. “Nak..” Sambil membelai lengan sang putra. “Ayahmu hanya mengkhawatirkan nasibmu. Beliau khawatir jika kamu sampai dikeluarkan dan harus menjalani sidang militer. Bagaimana nasibmu kelak jika sudah tidak menjadi seorang tentara.”

“Aku bukan dikeluarkan dari militer karena membatalkan pernikahan itu ibu.”

Zubair pun menceritakan kondisinya ketika Laksamananya memintanya untuk menikahi Zylda.

“Saat itu aku tidak mengerti sepenuhnya permintaan Laksamana Yuda. Aku mengira bahwa itu adalah sebuah tugas untuk menjaga putrinya. Aku menyanggupinya. Kesediaanku untuk menerima tugas itu disaksikan oleh banyak perwira tinggi disana.

Jika aku membatalkan pernikahanku kali ini, para perwira tinggi itu akan kecewa padaku dan menganggap bahwa tidak serius. Mereka tidak mengetahui kondisiku. Yang mereka tau bahwa aku tidak konsisten dengan perkataanku dan itu akan berpengaruh pada karirku di kemiliteran, ibu.

Aku tidak akan bisa bertahan dalam kondisi itu. Aku memilih untuk mengakhiri karirku di kemiliteran.”

Zubair kembali menunduk. Zubair masih berpikir dengan keputusan yang telah ia buat.

“Keluarga pasien Suwandi.”

Panggilan dari petugas medis menutup perbincangannya dengan sang ibu. Zubair dan ibu berdiri lalu berjalan menghampiri dokter di meja pemeriksaan.

“Bagaimana kondisi suami saya dok?” Tanya ibu. “Saya istrinya dok.”

Pandangan dokter beralih ke Zubair. Seolah hendak menanyakan status Zubair tehadap pasien.

“Saya putranya dok. Putra bapak Suwandi.” Zubair mengerti arti tatapan sang dokter.

“Baiklah, saya akan menjelaskan kondisi kesehatan pasien atas nama Bapak Suwandi.” Dokter menunjukkan hasil rekam medik.

“Pasien mengalami gejala stroke. Tekanan darahnya sangat tinggi. Beruntung bisa langsung ditangani. jadi gejala stroke masih bisa teratasi. Namun saya minta pada pihak keluarga untuk menjaga kesehatan pasien dengan menjaga pola makan, tidur teratur dan menjaga kondisi psikis pasien. Sebaiknya pasien tidak banyak pikiran dulu. Hal ini akan sangat berpengaruh pada tekanan darahnya dan kesehatannya.”

Ibu dan Zubair mendengar penjelasan dokter dengan seksama. setelah semua dijelaskan, Zubair mengurus administrasi untuk memindahkan ayah ke ruang perawatan.

Setelah semua administrasi selesai. Zubair duduk di kursi depan IGD lagi. Masih menunggu sang ayah dipindah ke kamar inap.

Ibu menghampirinya. Kembali duduk di sebelahnya.

“Nak, pertimbangkan kembali keputusanmu. Ibu yakin kamu bisa bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan.

Pernikahan itu hal yang rumit. dijalani seumur hidup. Butuh rasa cinta dalam menjalaninya. Namun cinta bukan satu-satunya alasan untuk memperkuat rumah tangga.

Armita memang gadis yang baik. Gadis yang sangat ideal untuk dijadikan seorang istri. Namun pikirkan juga kondisi kesehatan ayah jika kamu tetap nekad mengorbankan karirmu demi Mita. Pikirkan juga bagaimana kondisi Zylda dan rasa malu yang harus ditanggung keluargamu dan keluarga Laksamana Yuda.

Nak, bukankah pernikahan itu itu untuk membangun sebuah keluarga? Mengapa untuk membangun keluarga justru harus mengorbankan perasaan anggota keluarga yang lainnya? Apalagi jika itu ayahmu sendiri.”

Zubair semakin bimbang dengan keputusannya. “Aku bingung ibu.”

“Nak, jika Armita memang jodohmu, jalanmu tak akan terhalang apapun. Namun jika dia memang bukan jodohmu, kamu harus mengikhlaskannya nak.” Ibu masih berusaha meyakinkan sang putra.

“Tapi aku tidak mencintai Zylda. Semua perhatianku padanya hanya sebatas tugas.” Zubair masih menyangkal.

“Cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan kalian berdua membina rumah tangga. Asal kamu mau membuka hatimu, Zylda akan bisa mendapatkan cintamu.”

Cukup lama Zubair mengungkapkan segala resah di hatinya pada sang ibu. Dengan sangat bijak ibu mampu meyakinkan Zubair untuk membuat keputusan terbaik dalam hidupnya.

Hingga suara perawat memberitahu mereka bahwa sang ayah telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas 2.

Zubair dan ibu bergegas menghampirinya. Masuk ke dalam ruang rawat yang berisi enam orang pasien di dalamnya.

Zubair menarik kursi penunggu pasien untuk sang ibu. Ibu duduk disebelah bed ayah sambil menggenggam tangannya.

“Ayah baik-baik saja?” Tanya ibu.

Pandangan ayah langsung tertuju pada Zubair. Zubair mengerti arti tatapan sang ayah yang mempertanyakan keputusannya. Zubair mendekat.

Selang infus masih terpasang di tangan kiri. Selang oksigen juga masih terpasang di hidung sang ayah serta oksimeter yang masih menjepit jari telunjuk. Ayah berusaha mengeluarkan suara untuk memanggil sang putra. “Zu.. Zub..”

“Iya ayah.” Zubair memegang tangan ayah.

“Zubair akan patuh pada ayah. Zubair tidak akan mengecewakan ayah.” Zubair mencium tangan ayah. “Ayah harus segera pulih dan pulang kerumah supaya bisa hadir di pernikahan Zubair dan Zylda bulan depan.”

Ayah bernapas lega. sebuah senyuman terukir di bibirnya. Zubair harus mengorbankan perasaannya untuk senyuman itu.

Terpopuler

Comments

umamariri

umamariri

jadi penasaran sama cerita ini,
Zubair akhirnya sama Armita atau Zylda? peran utama wanitanya siapa ya?
kayaknya zylda juga gak jahat karena dia gak tau kalau zubair sudah punya Armita

2022-11-30

0

Ifah Fatur

Ifah Fatur

masalahny ngk cinta kan, tpi ngk nyakitin, percuma cinta klu menyakiti apa bedany zubair,,,,

2022-11-28

1

lala malala

lala malala

berarti zubair jadi nikah sama zylda? trus nasib armita gimana?

2022-11-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!