Bab 13 : Kebahagiaan Zylda

Zylda sudah mendapatkan beberapa ilmu tentang menaklukkan hati suami.

Ibu menjelaskan padanya bahwa untuk menaklukkan hati suami, maka kita harus memuaskannya pada 4 titik tubuhnya.

"Yang pertama adalah Mata. Dengan selalu memperhatikan penampilan saat di hadapan suami. Zylda harus memastikan penampilannya menarik, tidak kucel dan harum.

Kedua adalah lidah. Manjakan lidahnya dengan makanan makanan lezat sesuai dengan seleranya.

Ketiga adalah perut. Penuhi kebutuhannya masalah asupan nutrisi. Suami akan mudah mendengarkan kita jika perutnya kenyang.

Terakhir adalah bagian sensitif di bawah perut. Penuhi semua kebutuhan nafsunya maka seorang suami akan menuruti apapun keinginan istrinya."

Ilmu yang sangat berguna untuk Zylda. Meskipun ia bingung karena tak tau apa makanan kesukaan Zubair.

"Coba datang ke mertuamu dan tanyakan padanya. Beliau pasti tau apa yang disuka dan tidak disuka oleh putranya."

Saran dari ibu langsung dilaksanakan oleh Zylda. Ia pergi ke rumah mertuanya dan tanpa basa basi langsung menanyakan makanan favorit Zubair.

Zylda datang dengan membawa puding favorit sang ibu mertua.

Kedatangannya ini disambut senang oleh mertuanya. Sikap sopan dan perhatian Zylda pada sang mertua menambah poin plus untuk menjadikannya menantu yang disayang.

"Zubair itu doyan banget sama ayam adun yang terbuat dari ayam kampung."

"Ayam Adun?"

Zylda baru pertama kali mendengar nama masakan itu.

Ibu mertuanya begitu sabar dan telaten mengajarinya untuk memasak. Ini demi rumah tangga sang anak.

Ibu Zubair mengajari beberapa resep masakan favorit sang putra.

Selama beberapa hari Zylda harus wara wiri ke rumah sang mertua untuk belajar.

Kini dia sudah siap mempraktekkannya. Zylda sibuk memasak di dapur seharian. Tentu saja sang ibu selalu sedia membantunya.

Kini semua hidangan telah tersaji di atas meja makan.

Ayam Adun, tempe goreng yang kedelainya masih terlihat jelas, Tahu goreng setengah hancur dan es kelapa nangka favorit Zubair.

Tak menunggu lama, suara motor Zubair terdengar memasuki garasi.

Zylda sudah siap dengan penampilan terbaiknya untuk menyambut sang suami.

"Assalamualaikum suamiku.."

Sapanya dengan senyum mengembang. Zylda meraih punggung tangan Zubair kemudian menciumnya.

Zubair terpaku di tempat. Sudah satu bulan lebih usia pernikahannya dan ia baru merasakan disambut istri saat pulang dinas.

"Wa'alaikumussalam." Jawabnya datar.

Zylda meraih tas yang tergantung di pundak Zubair kemudian mendekapnya di depan dada. Zylda berjalan di samping Zubair. Menemaninya hingga masuk ke dalam kamar.

Zylda meletakkan tas kerja Zubair di atas nakas, kemudian ia mendekat lalu meraih ikat pinggang Zubair untuk melepasnya.

Zubair yang terkejut reflek menangkis tangan Zylda.

"A.. Apa yang kamu lakukan?" Zubair terbata karena mengira sikap Zylda begitu agresif.

"Aku bantu lepas seragamnya." Zylda melanjutkannya dengan melepas kancing baju depan Zubair.

"Bukankah sudah tugasku sebagai istrimu untuk selalu melayanimu, suamiku?"

Zubair mematung. Ia tak mampu menanggapi sikap lembut dan perhatian Zylda kali ini.

"Celananya apa perlu aku bantu lepas sekalian?"

Sebenarnya Zylda terlalu malu jika harus berurusan dengan tubuh Zubair bagian bawah.

Apalagi sekarang ia bisa melihat Zubair telanjang dada dihadapannya.

Jantungnya terasa berdetak cepat. Tubuh Zubair begitu tegap dan atletis. Tubuh prajurit yang menggiurkan.

Tubuh Zylda seolah tertarik ingin memeluknya. Namun ia terlalu malu untuk melakukannya.

Ingatannya pada percakapannya dengan ibu tadi siang.

"Tidak masalah jika seorang istri lebih dulu mengajak sang suami untuk melayaninya diatas ranjang. Justru dalam agama kita, seorang istri yang melayani suami lebih dulu tanpa permintaan dari sang suami, pahalanya lebih besar. Tidak perlu malu untuk urusan ranjang. Persiapkan dirimu malam ini. Ibu akan membantumu."

Perkataan sang ibu inilah yang membulatkan tekad Zylda.

Untuk beberapa waktu Zylda menunggu Zubair yang sedang mandi.

Ia sudah menyiapkan baju ganti untuk Zubair.

Clek!

Suara pintu kamar mandi terbuka. Zubair keluar dengan rambut basah dan hanya menggunakan celana pendeknya.

Zylda menyerahkan atasan berbahan kaos untuknya.

"Aku sudah menyiapkan makan malam. Kita akan makan malam bersama dengan ayah dan ibu."

Zubair yang berusaha memakai kaosnya pun terhenti.

"Ada ayah juga?" Tanyanya.

"Iya, kita akan makan malam bersama kali ini."

Zubair langsung mengambil celana panjang dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengganti celana pendeknya.

Meski sekarang sudah berstatus sebagai anak menantu, tapi Zubair belum terbiasa untuk bersikap biasa pada Laksamana. Ia terbiasa bersikap layaknya kedinasan dengan sang ayah mertua. Rasanya tidak sopan jika dia bertemu dengan Laksamana hanya menggunakan celana pendeknya.

"Ayo! Jangan sampai membuat ayah menunggu lama."

Zubair seperti tergesa-gesa menuju meja makan. Ia tak mau Laksamana sampai menunggunya. Jiwa prajuritnya benar-benar mengalir dalam darahnya.

Laksamana layaknya sang komandan yang tidak boleh menunggu kedatangan prajuritnya terlalu lama.

Zubair menyapa Laksamana yang sudah duduk di meja makan. Meski tanpa hormat menggunakan tangan, namun sikapnya masih terasa kaku dan formal.

"Bersikaplah biasa! Selayaknya kamu dengan ayahmu di rumah. Bukankah aku ini ayahmu juga?" Laksamana berusaha bersikap biasa dan jauh dari kata formal.

"Duduklah nak, Zylda memasak menu spesial malam ini." Kata ibu.

Zubair melihat hidangan yang tersaji diatas meja. Matanya berbinar. Dari aromanya saja dia sudah tau bahwa itu makanan kesukaannya.

Makanan istimewa yang biasa dimasak oleh ibu dirumah hanya saat lebaran.

"Waaahh… ini ayam adun kan?" Ceplos Zubair dengan pandangan berbinar.

Sikap Zubair ini benar-benar membuat Zylda bahagia. Ia melirik sang ibu dengan senyum merekah.

Semua lelahnya terbayar lunas dengan melihat respon Zubair.

Zylda duduk disebelah Zubair. Ia mulai mengambilkan nasi dan hidangan itu di piring Zubair.

Satu suapan masuk ke mulutnya, matanya melebar. Ini benar-benar masakan favoritnya. Rasanya persis seperti yang dibuat oleh ibunya.

Zubair makan dengan lahap. Ia seolah lupa bahwa kini dirinya berada di rumah mertua.

Laksamana tersenyum melihat tingkah menantunya. Sikap formal bahkan rasa jaim Zubair menghilang akibat masakan dari sang istri.

Zubair bahkan menambah porsi makannya. Ia benar-benar doyan.

Setelah selesai, Zubair merasa kekenyangan. Ia bersandar di sandaran kursi makan sambil mengelus perutnya. Tanpa sadar dirinya sampai bersendawa cukup keras.

Zubair reflek menutup mulutnya. Ia malu dilihat oleh mertuanya. Rasanya sangat tidak sopan.

Hahahahaaaa…

Suara tawa Laksamana memenuhi ruang makan.

Ibu menyodorkan gelas ke depan Zubair.

"Minum ini nak. Kalau minuman ini, ibu yang buat. Ini minuman penghilang lelah. Ayahmu dulu juga meminumnya."

Zubair tersenyum lalu meraih gelas itu dan meminumnya.

"Ini kopi tapi rasanya seperti jamu ya?" Responnya.

Ibu hanya tersenyum menjawabnya.

Selesai makan malam bersama, kini Zylda dan ibu sibuk membereskan meja makan dan mencuci piring.

Sementara Zubair sedang menemani Laksamana bermain catur di ruang tengah.

Mereka berdua begitu fokus melihat papan berwarna hitam putih itu. Laksamana dan Zubair memang dikenal sebagai orang yang ahli dalam mengatur strategi. Laksamana cukup tertantang untuk bermain catur dengan Zubair. Beliau merasa mendapat lawan yang tangguh kali ini.

Fokus terpecah ketika ibu mertua datang dan duduk di sebelah Laksamana sambil meletakkan wedang madu di hadapan Laksamana.

Bukan karena wedang madunya, tapi sikap sang mertua yang tiba-tiba duduk lalu mencium pipi Laksamana sambil mengusap paha sang suami, membuat pikiran Zubair tak karuan.

Tubuh Zubair mulai bereaksi. Ia merasakan seperti ada dorongan dalam tubuhnya yang terpacu semangat.

Zubair mulai gelisah. Duduknya menjadi tidak tenang.

Sang ibu mertua menangkap sinyal itu. Beliau tersenyum.

"Kalau nak Zubair mulai lelah, istirahat saja di kamar. Zylda juga sudah siap di kamar."

Mendengar itu, Zubair pun pamit pada kedua mertuanya untuk masuk ke dalam kamar.

Sang mertua tersenyum penuh arti karena menyadari bahwa minuman penambah staminanya mulai berfungsi.

"Bersiaplah nak, malam ini putriku akan menjadi istri sepenuhnya." Ibu bergumam di dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

Rima baharudin

Rima baharudin

wah..... ibu mertua main curang

2023-10-03

0

Ifah Fatur

Ifah Fatur

ah mles am zubair ,,,, armita bener" terlupakan ,,, kisah armita dong kak dpet jodoh hidup bahagia ,,,

2022-12-09

0

veetachaz

veetachaz

apa kabar armita? zubair kehilangannya cuma diawal² doank.
dikasi zylda ya mau² aja. hem... lelaki....🙄

2022-12-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!