Zubair menggendong Zylda dengan berlari. Berusaha menjauh dari lokasi.
"Bertahanlah Nona! Anda pasti akan selamat!" Zubair berusaha mengajak bicara untuk membuat Zylda tetap tersadar.
Namun satu orang musuh melihat mereka dan melepas peluru ke arahnya.
Dor!
Tembakan itu tepat mengenai lengan kiri Zubair sehingga membuat tubuh Zylda merosot jatuh dari gendongannya.
Zubair mengangkat tubuh sang nona dan menjadikan pundaknya sebagai tumpuan.
"Bertahanlah Nona! Kita akan segera keluar dari sini!"
Zubair menggendong tubuh Zylda yang lemas layaknya karung beras. Ia berlari keluar dari gudang dengan menghindari beberapa tembakan yang ditujukan ke arahnya.
Sungguh mimpi buruk bagi Zylda. Meski berhasil selamat tapi Zylda mengalami trauma berat. Zylda tidak bisa bertemu siapapun selain Zubair. Tubuhnya akan gemetar ketakutan setiap didekati oleh orang lain. Termasuk ayahnya sendiri.
"Tidak! Tidaaak!! Keluar! Keluaar! Jangan dekati aku! Pergi! Pergiiii!!"
Begitu terdengar teriakan Zylda dari kamar, Zubair langsung berlari masuk dan memeluk Zylda.
"Tenang Nona. Tenang. Anda berada di rumah. Anda aman. Anda bersamaku Nona."
Zylda menangis dalam dekapan Zubair. Ketakutannya mulai hilang. Perlahan-lahan mulai tenang. Zubair membaringkan tubuh Zylda di tempat tidur.
"Nona istirahat ya? Saya akan berjaga di luar kamar." Zubair berkata dengan suara lembut.
Namun Zylda menahan tangannya. Zylda Menggenggamnya erat. "Tidak! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku tak mau sendiri!"
Nampak raut wajah penuh ketakutan dari zylda. Zubair tak tega melihatnya. Ia menuruti semua kemauan sang Nona. Dengan sabar zubair selalu mendampingi Zylda.
Laksda Yuda tersenyum melihat pemandangan ini. Meski khawatir pada kondisi sang putri, namun ia bersyukur ada Zubair yang mampu menjaga sang putri dengan baik.
Begitu Zylda sudah terlelap, Laksda Yuda memanggil Zubair untuk bicara.
"Aku pasrahkan putriku padamu! Aku memberi tugas padamu untuk menjaga putriku selama 24 jam full sampai dia sembuh dari traumanya."
Zubair mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Menemani Zylda setiap waktu dan memeluknya saat Zylda mengalami mimpi buruk. Zubair selalu mendekap tubuh Zylda sampai gadis itu terlelap tidur. Hanya dengan cara inilah sang nona bisa tidur dengan tenang.
Meski hubungan mereka sangat dekat secara fisik, tapi tak membuat perasaan Zubair berubah. Zubair menjalankan ini sebagai tugas dan tanggung jawab. Dia tidak menggunakan perasaan dalam menjalankannya karena hati dan pikirannya hanyalah untuk Armita.
Laksamana Yuda mengutus tim dokter kerumahnya untuk menyembuhkan Trauma Zylda.
"Tak perlu takut Nona. Ini adalah dokter yang akan memeriksa anda. Mereka orang baik. Mereka akan membantu anda untuk segera sembuh." Zubair menjelaskan dengan perlahan ketika tim dokter yang terdiri dari psikolog dan psikiater datang untuk melakukan terapi pada Zylda.
Laksamana Yuda sangat terkesan dengan sikap Zubair. Tak hanya pandai, Zubair juga merupakan pria yang baik dan bertanggung jawab.
Laksamana Yuda sudah membuat rencana. Saat Zylda sembuh dari traumanya, ia akan memanggil Zubair untuk memberinya sebuah hadiah.
Saat itu tiba. Zylda sudah sembuh dan mulai beraktifitas kembali. Laksamana Yuda memanggil Zubair untuk menghadap.
Dengan disaksikan oleh beberapa perwira tinggi, Laksamana Yuda mengumumkan untuk menaikkan pangkat Zubair menjadi Mayor.
"Atas keberhasilanmu dalam memimpin pasukan dan menyusun strategi dengan baik disaat genting untuk misi penyelamatan seorang putri Laksamana yang menjadi tawanan, kami memberikan sebuah penghargaan kepada Kapten Zubair berupa kenaikan pangkat sebagai Mayor!"
Laksda Yuda maju kedepan Zubair.
"Mayor Zubair!" Seru Laksamana Yuda.
"Siap!" Jawab Zubair dengan sikap sempurna.
"Bersediakah kamu menjalankan tugas untuk menjaga putriku?" Seru Laksamana Yuda.
"Siap Pak!" Jawab Zubair.
"Kalau begitu lakukan tugasmu! Untuk mendampingi putriku sepanjang hayatmu!" Ujar Laksamana dengan tempo yang sangat cepat. Dan Zubair langsung menyahut.
"Siap-" ucapan Zubair kali ini tertahan. Ia tak mampu mencerna seluruh kata dari ucapan sang Komandan. Tapi ia mendengar jika Laksamana memintanya menjadi pengawal seumur hidup. Sungguh Zubair tidak paham dengan maksud Sang komandan.
Belum selesai ia berpikir, tiba-tiba ruangan itu dipenuhi oleh suara tepuk tangan dan ucapan selamat dari seluruh perwira tinggi yang hadir.
Mereka memberi ucapan selamat kepada Zubair. "Selamat ya! Calon menantu Laksamana yuda!"
Tubuh Zubair membeku. Ia baru menyadari maksud ucapan Laksamana. Tugas yang diberikan padanya kali ini adalah menikahi putrinya. Menjadi suami Zylda.
Takdir seolah telah tercatat. Zubair tak bisa mengelak. Ia sudah terlanjur menyatakan sikap sedia untuk memenuhi tugas. Tugas terberat untuknya karena harus dijalani seumur hidupnya.
Zubair pasrah menerimanya. Dia harus bertanggung jawab atas keputusannya. Namun bagaimana dengan Armita?
Zubair mencoba menghubungi kekasihnya itu.
"Halo sayang? Bagaimana? Apa tugasmu berjalan lancar? Apa sudah selesai?"
Suara riang Armita di seberang telpon begitu mengiris hatinya.
"Aku diberi tugas tambahan." Suara Zubair terdengar sedikit gemetar.
"Apa tugas itu sangat berat sayang?"
"I-ya… sangat berat!" Zubair merasa ingin menangis di pundak Armita.
"Kamu pasti bisa menjalaninya sayang! Zubairku adalah seorang prajurit hebat. Pasti bisa melaksanakan tugas dengan baik!" Armita memberi semangat dengan suara riang, membuat air mata Zubair menetes begitu saja.
Sungguh ia tidak sanggup melepas kekasihnya itu dan bersanding dengan wanita lain. Namun Zubair tak mampu mengelak. Ia tak bisa mengkir dari tugas yang telah diberikan oleh Laksamana.
Waktu terus berjalan. Persiapan pernikahan pun semakin matang. Setelah menjalani serangkaian tes dan sidang pranikah. Kini Zubair dan Zylda mulai menjalani sesi pemotretan prewedding.
Zylda sangat bahagia menjalaninya. Impiannya untuk hidup bersama Zubair sudah di depan mata.
Namun Zylda merasa sikap Zubair berubah. Raut wajahnya seperti menampakkan beban. Zylda mendekat dan bertanya, "Apa ada masalah? Kamu seperti memikirkan sesuatu."
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Zubair bertanya.
"Tentu saja." Jawab Zylda dengan yakin.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Zubair sekali lagi.
"Aku sangat mencintaimu." Jawab Zylda dengan senyum yang tulus.
"Tapi aku tidak mencintaimu." Butuh keberanian penuh bagi Zubair untuk mengatakan ini.
"Kamu yakin?" Zylda pikir setelah selama ini bersama akan mampu menumbuhkan bibit cinta di hati Zubair untuknya. Namun sepertinya Zylda harus lebih bersabar.
"Aku mengerti. Kamu memang belum mencintaiku. Tapi semua sikap baik dan tanggung jawabmu cukup untuk meyakinkan aku. Percayalah! Waktu akan mengubah hatimu. Dengan terbiasa hidup bersama, kita akan bisa saling mencinta." Zylda menjawab dengan bijaksana.
Zubair seolah tak mampu menyanggah lagi. Ia kehilangan kata-kata. Zubair hanya bisa mengikuti alur takdirnya.
Hingga hari pernikahan sudah semakin dekat dan semua undangan sudah tercetak. Surat undangan itu disebar ke semua teman dan kerabat dari kedua calon mempelai. Kecuali Armita, dan Ini adalah waktu untuknya memberikan surat undangan itu pada Armita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rima baharudin
ku tak sanggup untuk melanjutkan nya tapi aku cukup penasaran
kasihan armita, penantiannya sungguh sia-sia
semoga kelak armita mendapatkan jodoh yang lebih baik
2023-10-03
0
Elizabeth Zulfa
kasihan banget armita nya .. dia jagain jdoh orang 😔😔
2023-08-02
0
Sintya Ashari
aku suka cerita kamu kak menyentuh sekali
2023-07-15
0