POV Zylda
Aku menatap diriku di cermin. Wajahku nampak berbeda. Bukan karena riasan makeup nya, tapi, entahlah.
Aku merasa menjadi orang yang berbeda.
Nervous? Iyah! Aku merasakannya.
Tapi aku pun tak tau perasaan apa yang pasti sedang ku rasakan saat ini. Karena rasa rindu juga memenuhi hatiku.
Sudah sangat lama rasanya aku tak bertemu Zubair. Jangankan melihat wajahnya, bahkan suaranya pun tak pernah kudengar karena dia tak pernah menjawab panggilan ku.
Aku hanya berpikir jika orang tuanya melaksanakan adat pingit.
Memisahkan calon pengantin untuk tak bertemu beberapa waktu sampai hari pernikahan.
Ku lihat tanganku yang berhias mahendi masih belum tersemat sebuah cincin.
Senyumku mengembang. Sebentar lagi statusku akan berubah. Akan ada nama baru yang tersemat untuk namaku.
Zylda istri Mayor Zubair.
Membayangkannya saja membuat pipiku merona.
Hingga suara speaker terdengar di telingaku. Suara ayah dan Zubair memulai ikrar.
Ah! Zubair salah menyebut nama! Rupanya dia juga terlalu grogi. Sama sepertiku.
"SAAAAHHH!!!"
terdengar nyaring suara itu sampai membuat satu tetesan air dari mataku.
Seorang MUA langsung menghampiriku dan mengusap air mataku.
"Aku bahagia mbak! Aku sangat bahagia." Ucapkan pada MUA yang tersenyum membalas ucapanku.
Pintu terbuka. Zubair masuk dan menghampiriku. Aku menggigit bibir bawahku
Zubairku sangat tampan!
Tidak! Aku harus merubah panggilanku untuknya. Dia telah menjadi suamiku. Aku harus merubah panggilanku untuk menghormatinya.
Mas! Iyah! Mas Zubair! Mulai sekarang aku akan memanggilnya Mas Zubair.
Dia menggandeng tanganku dan membawaku ke hadapan penghulu. Tanpa sepatah kata pun.
Kenapa dia hanya diam?
Ah, mungkin dia sama sepertiku. Aku pu tak mampu berucap apapun. Hatiku tidak stabil saat ini. Terlalu bahagia untuk bisa mengungkapkannya dengan ekspresi apalagi kata-kata.
Satu cincin tersemat di jari manisku. Aku pun memasang cincin satunya di jari manisnya.
Dia mencium keningku! Mencium keningku? Ini adalah ciuman pertamaku! Meski hanya di kening, tapi ini adalah pertama kali keningku dicium oleh laki-laki selain ayahku.
Setelah acara akad nikah selesai. Kami berdua diminta untuk beristirahat sejenak. Setelah itu harus bersiap untuk menuju gedung tempat berlangsungnya resepsi pernikahan.
Kini kami berdua sudah berada di kamar. Kamarku yang telah di hias indah menjadi kamar pengantin.
Zubair merebahkan dirinya di atas ranjang. Satu lengannya menutupi kedua matanya.
Apa ia sudah tidur?
Aku memberanikan diri untuk mendekat dan naik ke atas ranjang.
Aku duduk bersandar persis di sebelahnya.
"Capek ya?" Tanyaku. Namun Zubair masih diam tak bergerak.
Ah, mungkin dia sudah tidur. Namun tiba-tiba tangannya bergerak turun dari wajahnya.
"Apa kamu tidak lelah?" Dia bertanya sambil merubah posisi tidurnya jadi membelakangiku.
"Tidak! Aku tidak lelah! Sebentar lagi kan upacara pedang pora lalu resepsi pernikahan."
Aku berkata benar. Aku memang tidak merasa lelah. Aku tak sempat merasa capek karena semangatku sangat menggebu untuk menyelesaikan acara hari ini. Acara yang sangat ku nanti dalam hidupku.
Dia diam lagi. Sepertinya dia tertidur.
Zubair memang begitu. Laki-laki dingin dan cuek. Sejak pertama kali aku mengenalnya, dia memang sudah seperti itu. Laki-laki yang terkesan kaku tapi sangat melindungi.
Aku masih sangat ingat bagaimana dia melindungiku. Bahkan sampai mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku.
Begitu bangganya aku! Suamiku adalah pahlawanku!
Aku kembali tersipu.
Beberapa jam kami beristirahat di dalam kamar. Hanya diam tanpa pembicaraan. Bahkan saat makan siang diantar ke kamar kami, Zubair melahap makanannya tanpa melihat aku.
Apa dia begitu gugup sampai tak berani memandangku?
Padahal aku juga merasa hal yang sama tapi aku masih berani mencuri pandang padanya.
○○○
Kini waktunya untuk pelaksanaan pedang pora.
Aku sudah berganti kostum, menggunakan gaun putih indah impianku.
Sejak dulu, aku ingin menjadi seorang princess di hari pernikahanku. Dan sekarang semua itu terwujud.
Zubair berjalan ke arahku. Menekuk lengannya di sampingku sebagai perintah bahwa aku harus menggandengnya.
Suamiku benar-benar tampan!
Memakai baju prajurit putih dengan topinya. Berjalan tegap dan berwibawa.
Kami seperti seorang raja dan ratu.
Kami berjalan diatas karpet merah menuju pelaminan.
Begitu sampai di depan pelaminan, kami berhenti. Pasuka pedang pora itu mengelilingi kami.
Aku tau waktu apa ini! Aku sering menghadiri acara pedang pora pernikahan angkatan laut. Dan ini adalah waktunya! Kiss moment! Waktunya pasangan pengantin berciuman.
Dadaku bergemuruh. Aku sangat gugup! Ini adalah ciuman pertamaku!
Instruksi komandan membuat pasukan pedang pora berjongkok dan menunduk.
Semua mata menuju ke arah kami.
Aku siap!
Dan, cup!
Zubair mencium keningku! Keningku?
Entah kenapa timbul rasa kecewa di hatiku. Beberapa temanku melakukannya di bibir. Meski hanya kecupan tapi selalu di sambut riuhnya suara tamu undangan.
Tapi kali ini tidak! Zubair hanya mencium keningku.
Mungkin dia terlalu malu. Iyah! Itu alasan yang tepat. Zubairku malu.
Selesai pedang pora, kami melanjutkan acara resepsi pernikahan.
Sampai beberapa lama kami bersalaman dengan semua tamu undangan. Rekan-rekan ayah, ibu, Zubair dan tamu undangan dari pihak keluarga Zubair serta teman-temanku.
Teman-temanku sangat heboh. Aku yang seorang penyiar radio remaja memiliki cukup banyak teman seru dan heboh.
Mereka bahkan berpose memenuhi panggung pelaminan. Senyumku merekah sempurna ketika mendapat ucapan selamat dan doa-doa dari teman-temanku. Meski beberapa kali aku memandang zubair tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Suamimu terlalu datar! Semoga aja ntar malem gak datar! Kan gak enak klo gak kliimaks! Auch!"
Aku langsung mencubit pinggang Bella, sahabatku. Berani-beraninya dia berbisik seperti itu di telingaku padahal jelas-jelas suamiku ada di sebelahku.
Dia meringis menahan sakit tapi segera menggantinya dengan senyum ketika Zubair melihat ke arah kami.
Hingar bingar pesta telah selesai. Malam pun semakin larut. Kami kembali ke kediaman menggunakan mobil pengantin yang dikemudikan oleh seorang anggota.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamar untuk berganti baju dan membersihkan diri.
Ini adalah malam pertama kami. Aku harus mempersiapkan tubuhku untuk menyambutnya.
Aku kenakan baju dinas malam seorang istri untuk menyambut suami suaminya diatas ranjang. Tak lupa parfum dengan aroma sensual sudah aku semprotkan di tubuhku.
Aku berbaring di ranjang. Bersiap untuk menyambutnya datang.
Sangat malu sebenarnya. Tapi aku harus aku lakukan! Ini adalah kewajibanku. Kewajiban pertamaku untuk melayani suamiku.
Aku menunggu dengan gelisah. Beberapa kali menatap pintu kamar yang bisa saja sewaktu-waktu terbuka. Aku harus selalu siap dengan senyumku untuk menyambutnya ketika masuk kamar.
Cukup lama aku menunggu. Zubair masih belum datang menghampiriku.
Kemana dia? Apa masih banyak tamu dibawah?
Aku tak mungkin keluar kamar untuk mencarinya. Baju yang kukenakan sangat tidak pantas. Aku pun enggan untuk bergangi baju lagi. Khawatir Zubair tiba-tiba masuk kamar dan aku belum siap.
Aku bimbang!
Aku putuskan untuk menelponnya. Namun telepon genggamnya tertinggal di atas nakas samping tempat tidur.
Hah! Baiklah! Sepertinya aku yang tidak sabar menantikan malam pertama!
Tenang Zylda! Tugasmu hanya harus menunggu! Sabar menunggu!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ifah Fatur
pernikahan karena terpaksa demi bakti pd ortu,,,,, zubair anak yg berbskti semoga pernikahanmu bahagia walaupun hatimu ngk bahagia,,, ah aku bingung zubair😅😅😅😅😅😅😅😅
2022-12-05
1
Anonymous
gara2 bapaknya anaknya jadi menderita
2022-12-05
1