Bab 4 : Pengakuan Zubair

Zubair berdiri di samping motornya. Menunggu Armita selesai dari tugasnya.

Zubair sengaja menjemput Armita kali ini. Ia harus mengatakan fakta yang sebenarnya kepada Amita.

Zubir masih termenung. Berdiri dengan pandangan serius menatap kerikil di bawah kakinya namun pikirannya melayang. Zubair mencoba mencari kata yang tepat dan merangkainya untuk memberi penjelasan kepada kekasihnya supaya bisa menerima berita pernikahannya.

“Hai Kapten ganteng?”

Suara Armita membuyarkan lamunannya. Ia terhenyak dan menatap sang kekasih dengan hangat.

“Sudah selesai tugasnya?” Zubair bertanya.

Armita adalah gadis lulusan kedokteran yang sedang menjalani koas di sebuah rumah sakit milik pemerintah yang lokasinya tak jauh dari kampus tempat kuliahnya dulu.

Amita kini masih harus berjuang untuk mendapatkan gelar dokter.

“I’m done! Mau kemana kita setelah ini?” Armita bertanya dengan senyuman yang memenuhi wajahnya. Senyuman yang selalu menentramkan hati. Terutama hati Zubair.

Ya, senyuman inilah yang selalu membuat Zubair semangat untuk mengejar mimpinya menjadi seorang tentara.

“Naiklah! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Zubair mengarahkan Armita untuk naik ke motor sport miliknya.

Armita pun naik setelah selesai memakai helm miliknya.

Zubair menggeber motornya membuat Armita reflek memeluk punggungnya. Motor mulai melaju memecah kepadatan jalanan kota.

Hingga mereka sampai di sebuah tempat di pinggir laut. Di Bawah jembatan yang membentang diatas laut yang menghubungkan dua pulau sekaligus menjadi icon kota tersebut.

Armita mulai turun dari motor dan duduk di tepi laut yang dibatasi oleh batuan yang tersusun sebagai tangkis laut.

Zubair berdiri di sebelahnya. memasukkan kedua tangannya kedalam kantong jaket. Satu tangannya terkepal sambil menggenggam erat sesuatu yang tersimpan didalamnya.

“Sore ini begitu cerah ya?” terdengar suara ceria Armita. “Apa kita bisa melihat matahari tenggelam dari sini?” Armita tampak menikmati momen ini.

Zubair masih diam. Armita sadar ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Ia pun beranjak dari tempatnya duduk. Berdiri tepat di samping Zubair, Merangkul lengannya.

“Apa tugas kali ini begitu berat?” Nada bicara Armita berubah. Serius namun penuh perhatian.

Zubair menunduk sambil memejamkan matanya. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya kepada Armita.

“Sangat berat! Aku harus menjalaninya seumur hidup!”

Armita masih tak mampu mencerna jawaban Zubair.

“Mita, Aku akan menceritakan padamu. Kumohon dengarkan baik-baik sampai aku selesai menjelaskan semuanya.”

Zubair merubah posisinya, berhadapan dengan Armita dan menatapnya lekat. Zubair mulai menceritakan awal penugasannya hingga kejadian penculikan Zylda. Ia menceritakan kejadian demi kejadian kecuali permintaan Zylda yang memaksa untuk mengakuinya sebagai kekasih.

Hingga Alur cerita sampai pada terapi Zylda. Armita mulai susah menelan ludahnya. tenggorokannya seperti tercekat. Namun ia masih setia mendengar Zubair bercerita tanpa menyanggahnya.

Air matanya mulai menggenang di kelopak mata saat Zubair mulai menjelaskan perintah dari Laksamana untuk menikahi Zylda. Hatinya sakit. Tapi masih ia tahan meski air mata lolos begitu saja dan jatuh ke pipinya. Armita masih bertahan karena ia belum mendengar kesediaan Zubair untuk menerima tugas dari sang Laksamana.

Kemudian Zubair mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya. Sebuah gulungan yang terikat pita cantik.

Zubair menarik tangan kanan Armita dan meletakkan gulungan itu di tangannya.

Perlahan Armita membuka gulungan itu dan melihat sebuah undangan pernikahan yang terpampang jelas nama seorang Mayor Zubair Al Tamish sebagai mempelai pria.

Dadanya terasa sesak. Serasa ada ribuan pedang yang menghujamnya. Semua air yang tergenang di pelupuk matanya sudah mengalir deras ke pipinya.

"Aku setia menunggu sampai kamu lulus pendidikan militer! Tapi justru ini yang kudapat?" Armita menangis terisak sambil meremas surat undangan pernikahan di tangannya.

“Bukankah kamu sudah berjanji? Kita akan bersama setelah meraih mimpi kita berdua?” Armita menarik napas untuk mencoba bicara karena dadanya terasa sangat sesak.

“Kamu sudah berhasil meraih pangkatmu dan sebentar lagi aku akan berhasil meraih gelar dokterku. Bukankah mimpi kita untuk bersama sudah didepan mata? Kenapa kamu mengingkarinya? Kenapa kamu justru menikahi dia?” Armita mulai berteriak sambil terus terisak.

Zubair hanya mampu terdiam. Hatinya sungguh hancur melihat wanita yang sangat ia cintai sampai menangis terisak. Namun ia tidak berdaya.

“Maaf.. maafkan aku..”

Zubair meraih kedua pundak Armita. “Maafkan aku. Aku tak mampu menolaknya. Aku sudah terikat sumpah padanya.”

Zubair tak mampu menolak karena terlanjur meng iya kan perintah dari Laksamana.

“Bukankah kamu juga sudah terikat janji padaku? Bukankah tekadmu menjadi Angkatan Laut juga untuk menikahiku?”

Armita mulai menuntut janji yang telah diberikan Zubair padanya. Ia harus melakukannya untuk mempertahankan Zubair menjadi miliknya.

Terpopuler

Comments

Rima baharudin

Rima baharudin

oh..... my.......

2023-10-03

0

Ifah Fatur

Ifah Fatur

zubair ngk tegas,,,, seorang militer kan sikapny tegas,,, tp demi tugas biarpun mnyngkut masalh hati ttp dijalani,,,, tnpa sadar ada hati yg sngt terluka setelh penantian,,, moga armita dpet jodoh yg lbih baik dari zubair ,,, dia bukan jodohmu

2022-11-28

0

Indah Alifah

Indah Alifah

😭😭😭😭

2022-11-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!