Zubair berdiri di samping motornya. Menunggu Armita selesai dari tugasnya.
Zubair sengaja menjemput Armita kali ini. Ia harus mengatakan fakta yang sebenarnya kepada Amita.
Zubir masih termenung. Berdiri dengan pandangan serius menatap kerikil di bawah kakinya namun pikirannya melayang. Zubair mencoba mencari kata yang tepat dan merangkainya untuk memberi penjelasan kepada kekasihnya supaya bisa menerima berita pernikahannya.
“Hai Kapten ganteng?”
Suara Armita membuyarkan lamunannya. Ia terhenyak dan menatap sang kekasih dengan hangat.
“Sudah selesai tugasnya?” Zubair bertanya.
Armita adalah gadis lulusan kedokteran yang sedang menjalani koas di sebuah rumah sakit milik pemerintah yang lokasinya tak jauh dari kampus tempat kuliahnya dulu.
Amita kini masih harus berjuang untuk mendapatkan gelar dokter.
“I’m done! Mau kemana kita setelah ini?” Armita bertanya dengan senyuman yang memenuhi wajahnya. Senyuman yang selalu menentramkan hati. Terutama hati Zubair.
Ya, senyuman inilah yang selalu membuat Zubair semangat untuk mengejar mimpinya menjadi seorang tentara.
“Naiklah! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Zubair mengarahkan Armita untuk naik ke motor sport miliknya.
Armita pun naik setelah selesai memakai helm miliknya.
Zubair menggeber motornya membuat Armita reflek memeluk punggungnya. Motor mulai melaju memecah kepadatan jalanan kota.
Hingga mereka sampai di sebuah tempat di pinggir laut. Di Bawah jembatan yang membentang diatas laut yang menghubungkan dua pulau sekaligus menjadi icon kota tersebut.
Armita mulai turun dari motor dan duduk di tepi laut yang dibatasi oleh batuan yang tersusun sebagai tangkis laut.
Zubair berdiri di sebelahnya. memasukkan kedua tangannya kedalam kantong jaket. Satu tangannya terkepal sambil menggenggam erat sesuatu yang tersimpan didalamnya.
“Sore ini begitu cerah ya?” terdengar suara ceria Armita. “Apa kita bisa melihat matahari tenggelam dari sini?” Armita tampak menikmati momen ini.
Zubair masih diam. Armita sadar ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Ia pun beranjak dari tempatnya duduk. Berdiri tepat di samping Zubair, Merangkul lengannya.
“Apa tugas kali ini begitu berat?” Nada bicara Armita berubah. Serius namun penuh perhatian.
Zubair menunduk sambil memejamkan matanya. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya kepada Armita.
“Sangat berat! Aku harus menjalaninya seumur hidup!”
Armita masih tak mampu mencerna jawaban Zubair.
“Mita, Aku akan menceritakan padamu. Kumohon dengarkan baik-baik sampai aku selesai menjelaskan semuanya.”
Zubair merubah posisinya, berhadapan dengan Armita dan menatapnya lekat. Zubair mulai menceritakan awal penugasannya hingga kejadian penculikan Zylda. Ia menceritakan kejadian demi kejadian kecuali permintaan Zylda yang memaksa untuk mengakuinya sebagai kekasih.
Hingga Alur cerita sampai pada terapi Zylda. Armita mulai susah menelan ludahnya. tenggorokannya seperti tercekat. Namun ia masih setia mendengar Zubair bercerita tanpa menyanggahnya.
Air matanya mulai menggenang di kelopak mata saat Zubair mulai menjelaskan perintah dari Laksamana untuk menikahi Zylda. Hatinya sakit. Tapi masih ia tahan meski air mata lolos begitu saja dan jatuh ke pipinya. Armita masih bertahan karena ia belum mendengar kesediaan Zubair untuk menerima tugas dari sang Laksamana.
Kemudian Zubair mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya. Sebuah gulungan yang terikat pita cantik.
Zubair menarik tangan kanan Armita dan meletakkan gulungan itu di tangannya.
Perlahan Armita membuka gulungan itu dan melihat sebuah undangan pernikahan yang terpampang jelas nama seorang Mayor Zubair Al Tamish sebagai mempelai pria.
Dadanya terasa sesak. Serasa ada ribuan pedang yang menghujamnya. Semua air yang tergenang di pelupuk matanya sudah mengalir deras ke pipinya.
"Aku setia menunggu sampai kamu lulus pendidikan militer! Tapi justru ini yang kudapat?" Armita menangis terisak sambil meremas surat undangan pernikahan di tangannya.
“Bukankah kamu sudah berjanji? Kita akan bersama setelah meraih mimpi kita berdua?” Armita menarik napas untuk mencoba bicara karena dadanya terasa sangat sesak.
“Kamu sudah berhasil meraih pangkatmu dan sebentar lagi aku akan berhasil meraih gelar dokterku. Bukankah mimpi kita untuk bersama sudah didepan mata? Kenapa kamu mengingkarinya? Kenapa kamu justru menikahi dia?” Armita mulai berteriak sambil terus terisak.
Zubair hanya mampu terdiam. Hatinya sungguh hancur melihat wanita yang sangat ia cintai sampai menangis terisak. Namun ia tidak berdaya.
“Maaf.. maafkan aku..”
Zubair meraih kedua pundak Armita. “Maafkan aku. Aku tak mampu menolaknya. Aku sudah terikat sumpah padanya.”
Zubair tak mampu menolak karena terlanjur meng iya kan perintah dari Laksamana.
“Bukankah kamu juga sudah terikat janji padaku? Bukankah tekadmu menjadi Angkatan Laut juga untuk menikahiku?”
Armita mulai menuntut janji yang telah diberikan Zubair padanya. Ia harus melakukannya untuk mempertahankan Zubair menjadi miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rima baharudin
oh..... my.......
2023-10-03
0
Ifah Fatur
zubair ngk tegas,,,, seorang militer kan sikapny tegas,,, tp demi tugas biarpun mnyngkut masalh hati ttp dijalani,,,, tnpa sadar ada hati yg sngt terluka setelh penantian,,, moga armita dpet jodoh yg lbih baik dari zubair ,,, dia bukan jodohmu
2022-11-28
0
Indah Alifah
😭😭😭😭
2022-11-25
1