"Maaf mas, kemarin malam aku tidak bisa menyambut mas pulang dinas. Mataku terasa berat. Tak bisa kutahan sampai akhirnya aku ketiduran di dalam kamar.”
Zylda sedang menyiapkan sarapan untuk Zubair. Kini mereka berdua sudah berada di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, Zylda sudah menyiapkan makanan sesuai selera Zubair. Berkat bantuan ibu mertua, kini Zylda tau semua hal tentang Zubair. Apa yang dia suka dan tidak suka. Kebiasaan-kebiasaan Zubair mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.
“Tidak apa-apa.” Jawaban singkat Zubair seperti biasa.
“Mas, aku mau minta izin hari ini pulang malam. Aku sudah menerima tawaran untuk menjadi pembawa acara seminar di Mall G. Acaranya malam ini. Maaf aku tidak meminta izinmu dulu sewaktu menerima tawaran ini karena kupikir acaranya kan hanya dalam kota, Jadi kamu pasti tidak keberatan. Aku janji tidak akan pulang larut malam.”
“Iya aku tau. Aku melihat fotomu di Billboard depan Mall itu.” Jawab Zubair.
“Benarkah? Aku bahkan tak tau kalau acara ini perlu dipromosikan. Aku pikir hanya sebatas pengunjung Mall saja target penontonnya. Yah, tapi begitulah Amran. Selalu totalitas jika melakukan pekerjaan.”
“Amran?” Zubair terdiam ketika mendengar nama itu.
“Iya. Acara ini kan diselenggarakan oleh Event Organizer milik Amran. Selain memiliki stasiun Radio, Amran juga memiliki bisnis Event Organizer. Hebat ya mas? Dia itu anak orang kaya tapi tidak mau menumpang kekayaan orang tuanya. Semua bisnis yang dia punya adalah hasil jerih payahnya sendiri bahkan tanpa bantuan modal dari orang tuanya.”
Rasanya semua makanan di meja menjadi hambar ketika Zubair mendengar sang istri memuji lelaki lain dihadapannya.
“Mas bisa menjemputku setelah acara nanti malam?” Zylda menyodorkan gelas berupa air putih kepada Zubair.
“Hubungi saja jika acara itu sudah selesai. Aku akan menjemputmu.” Zubair beranjak dari kursinya. “Sekarang bersiaplah! Aku ada Apel pagi ini. Harus berangkat lebih pagi.”
Seperti biasanya, Zubair akan mengantar Zylda terlebih dulu di stasiun radio tempatnya bekerja.
Dan sudah menjadi kebiasaan pula, Amran akan selalu menyambut kedatangan Zylda, sang sahabat, di depan pintu.
...○○○...
Zylda menggosok-gosok telapak tangannya. sesekali ia tiup telapak tangannya. untuk menghilangkan kegelisahannya.
“Kenapa?” Amran heran melihat tingkah Zylda yang seperti tidak nyaman. Kini mereka berdua sudah bersiap di belakang panggung sebelum acara dimulai.
“I’m Nervous! Apa kamu tak bisa melihatnya?” Zylda mencoba bernapas dengan membuang napasnya secara kasar.
Amran terkekeh melihat tinggal Zylda. Apalagi pipi Zylda yang terlihat melembung seperti balon saat membuang napas.
“Zizyl, si presenter yang ceria dan super cerewet ini juga bisa grogi?” Amran menggoda Zylda untuk mencairkan mood sang sang sahabat. Amran sampai mencubit pipi Zylda karena gemas.
“Hei! Aku ini bukan Oprah Winfrey yang punya program acara sendiri sehingga tak perlu grogi karena seringnya muncul di TV! Aku hanya presenter panggilan! Maklumlah kalau aku grogi.” Ujar Zylda kesal. Tiba-tiba muncul ide untuk menjahili Amran.
“Kecuali kamu akan membuatkan acara khusus untuk aku menjadi presenter tetap di sebuah acara TV.” Ungkap Zylda dengan mode merayu sambil menaik-turunkan alisnya didepan Amran.
Zylda sengaja menggoda Amran karena tau kalau Amran adalah anak pengusaha pemilik stasiun TV besar di ibu kota.
“I Will! Aku akan melakukan apapun untuk mewujudkan impianmu. Asal kamu bahagia. Aku bahkan rela mengemis pada orang tuaku sendiri.” Nada bicara Amran berubah serius.
“Heiiii.. Aku hanya bercanda!” Ujar Zylda terkekeh sambil menepuk lengan Amran. Zylda tau bahwa sahabatnya itu adalah orang yang teguh memegang prinsipnya. Amran berusaha berdiri di kaki sendiri. Pantang baginya untuk meminta-minta fasilitas pada orang tuanya.
Acara dan pun dimulai. Penonton yang hadir pun diluar dugaan. Sangat banyak hingga memenuhi Hall yang berada di bagian tengah Mall. Suara ceria Zylda memenuhi seisi Mall. Zylda adalah seorang preseter Radio yang cukup terkenal di kotanya. Para Fansnya rata-rata adalah remaja dan orang-orang di usia produktif.
Sikap Zylda yang ceria dan pembawaanya yang menyenangkan mampu membuat suasana menjadi hangat. Para penonton pun antusias menikmati acara.
Acara berlangsung hingga pukul 8 malam. Zylda menutup acaranya dengan salam dan lambaian tangan. Zylda turun dari panggung dan menghampiri Amran.
Amran menyambut Zylda dengan senyuman bangga sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Good Job! Luar biasa! Terimakasih ya, Event kali ini sukses!”
Zylda pun tersenyum bangga. “Haaaa.. Kau membuatku terbang karena rasa bangga.” Ujar Zylda dengan ceria sambil menepuk-nepuk pundak Amran dengan kedua tangannya.
Kedua sahabat itu larut dalam kebahagiaan. Namun terganggu oleh kedatangan seorang gadis di hadapan mereka.
“Maaf, benar dengan Zylda ya?” Ujar gadis itu.
Zylda menatapnya dan tersenyum ramah. Zylda pikir itu adalah salah satu fansnya. “Benar. Ada yang bisa saya bantu, Nona?”
“Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu. Bisa kita mencari tempat untuk bicara?” ucap gadis itu datar.
Amran berusaha mencegah gadis itu. Ini sudah diluar urusan pekerjaan. Sudah waktunya Zylda untuk pulang.
“Maaf. Tapi ini adalah waktunya Zizyl untuk pulang. Anda bisa datang ke kantor Radio besok pagi untuk membicarakannya.” Cegah Amran.
Rupanya gadis itu tetap tak menyerah. Ia masih berusaha mendapatkan perhatian Zylda. “Ini tentang Armita!”
Sorot mata Zylda berubah serius. Armita adalah nama yang pernah terucap dari bibir suaminya. Siapa Armita? Adalah pertanyaan yang sempat membayanginya karena setelah mengucapkannya, Zubair langsung pergi meninggalkannya dan pulang larut malam.
“Baiklah, kita cari tempat untuk bicara!” Zylda mulai berjalan menuju Coffee Shop di dalam Mall tersebut. Gadis itu dan Amran mengikutinya. Amran merasa tidak nyaman dengan kedatangan gadis itu. Ia harus melindungi Zylda dari hal-hal buruk.
Mereka bertiga duduk berhadapan dengan sebuah meja bundar yang membatasi di tengah.
“Apa yang akan anda bicarakan?” Ujar Zylda setelah pelayan selesai mencatat pesanan dan pergi berlalu.
“Namaku Naya. Aku adalah sahabat Armita. Aku akan menceritakan padamu siapa Armita dalam hidup Zubair!” Naya yang berucap pada poin inti tanpa berbasa basi.
Zylda merasa ada sesuatu yang buruk yang akan ia dengar. Ia menyiapkan hatinya.
Naya mulai menceritakan tentang hubungan Zubair dan Armita. Bagaimana perjuangan mereka hingga penyebab mereka berpisah.
Zylda merremat erat genggaman tangannya. Hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya sesak menerima kenyataan bahwa dirinya adalah orang ketiga penyebab berpisahnya sepasang kekasih yang telah mengikat janji setia.
Naya terus melanjutkan ceritanya hingga keputusan Armita mendaftar ke Akademi Kemiliteran. Naya bahkan menjelaskan usaha Zubair menemui Laksamana. Semua ia jelaskan dengan rinci kepada Zylda.
Zylda terpaku ditempat. Ia menepuk dadak yang terasa sesak. Air mata pun seperti enggan turun ke pipinya karena tekanan di dadanya yang sampai mencekat keringkongan.
Rasa sakit ini menjadi berkali-kali lipat karena mengetahui ini semua disebabkan oleh perintah dari sang ayah yang begitu dibanggakannya.
“Ayah…. Zubair…” Dua nama yang sekarang seolah mengiris hatinya.
Bersambung…
Dengan ini menyatakan permohonan maaf
Karena terlambat Update untuk episode Zylda.
Maka dari itu, Otor akan berusaha
Untuk Update episode lagi hari ini.
Selambat-lambatnya nanti malam!
-Bacanya pakai nada ya, kayak baca undang-undang, Hehehe…
Di banyakin mawarnya yah,
jangan lupa klik jempolnya, subcribenya, dan Vote Vote Vote
Biar si Zubair, Armita dan Zyldanya makin Swemangat.
Enjoy Reading Everyone ^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Sahariah Chia
aku tim nya Zubair Armita
2022-12-16
1
Ifah Fatur
percuma naya cerita ttg armita ngk akan merubah zubair menikahi armita,,,,,zubair yg ngk tegas sbgai lelaki,
2022-12-16
4