Selama beberapa hari ini Zubair sibuk merawat sang ayah di rumah sakit milik. Ia harus bergantian jaga dengan sang ibu.
Saat pagi, Zubair berangkat bertugas dan tugas menjaga sang ayah digantikan oleh ibunya.
Saat malam hari, Zubair yang bertugas jaga dan sang ibu pulang untuk istirahat.
Tak ada waktu bagi Zubair untuk bertemu Armita ataupun urusan pribadi lainnya. Ayah Zubair dirawat di rumah sakit milik Angkatan Laut sedangkan Armita menjalani Koas di rumah sakit Umum daerah di kota itu.
Setelah 5 hari di rumah sakit, Ayah Zubair sudah diperbolehkan pulang dan melakukan rawat jalan. Zubair mengantarkan ayah dan ibunya menggunakan mobil milik sang ayah. begitu sampai dirumah dan membantu ayah istirahat di kamarnya, Zubair pamit pergi untuk mengurus sesuatu.
Sang ayah berpikir jika Zubair mungkin sibuk dengan pekerjaannya atau sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Ayah mengangguk untuk mengizinkannya pergi. Zubair mencium tangan sang Ayah, “Ayah harus lekas sembuh. Biar bisa kuat berjalan lagi seperti sebelumnya.”
Setelah itu Zubair pergi dengan menggunakan motornya.
Melalui jalanan kota dari siang hari sampai sore. Zubair seperti tak tau arah kemana ia harus pergi. Ia biarkan roda motornya menggelinding memutari kota.
Hingga saat ini ia melewati Rumah Sakit Umum Daerah tempat Armita menjalani Koas. Zubair berhenti di seberang jalan. Cukup lama ia menatap pintu masuk rumah sakit itu. Berharap bisa melihat wajah Armita untuk mengobati rasa rindunya.
“Armita…”
Zubair turun dari motornya. Ia melihat Armita dan beberapa teman yang masih menggunakan sneli dokter berjalan keluar rumah sakit.
Armita terlihat bercanda dengan teman-temannya. Terukir senyum indah yang sangat ingin dilihat oleh Zubair.
“Akhirnya dia bisa tersenyum..” Sesak di dadanya terasa terurai saat melihat senyum Armita.
Pandangan mata Zubair terus mengikuti langkah Armita sampai di parkiran rumah sakit. Disanalah Armita terpisah dengan teman-temannya.
Zubair masih memperhatikan.
Armita duduk diatas motornya. Ia terdiam. Tampak termenung sambil menundukkan kepala.
Sampai beberapa saat Armita menunduk, Ia lalu menghela napas dan tampak mengusap pipinya. Armita memakai helm dan mulai melajukan motornya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Zubair kembali merasakan sesal dalam hatinya. Dia adalah penyebab air mata Armita menetes jatuh ke pipinya. Dia adalah penyebab kesedihan Armita.
Ingin sekali Zubair mendekat dan merengkuh Armita dalam dekapannya. Namun dia sadar bahwa dia tak bisa menjanjikan apapun lagi untuk kekasih hatinya. Ia tak bisa menghapus kesedihan Armita.
Zubair kembali melajukan motornya. Berkeliling kota tak tentu arah. Tanpa berniat untuk pulang ataupun kembali ke pangkalan.
...૦૦૦૦૦૦૦...
“Selamat pagi ayah..” Zylda memeluk punggung sang ayah yang sedang duduk di meja makan.
“Pagi nak, bagaimana harimu kemarin? Menyenangkan?” Balas Laksamana Yudha pada sang anak.
Zylda melepas pelukannya dan bergabung untuk mulai sarapan bersama.
“Ayah, apa Zubair mendapat tugas penting? Aku sangat sulit menghubunginya selama seminggu ini. Padahal acara pernikahan hanya tinggal beberapa hari lagi.”
Laksamana Yudha terdiam. Beliau sampai berhenti mengunyah. Pertemuan terakhirnya dengan Zubair adalah saat keputusan pembatalan pernikahan putrinya.
Laksamana mulai gelisah.
“Apa mungkin Zubair kembali pada keputusan awalnya untuk membatalkan pernikahan? Tapi bukankah Tuan Suwandi mengatakan bahwa Zubair tetap melanjutkan rencana pernikahannya?”
Laksamana Yudha sempat bertemu dengan Ayah Zubair saat menjenguk di rumah sakit. Begitu mendengar penjelasan dari Tuan Suwandi bahwa Zubair tetap menjalankan rencana pernikahannya, Laksamana pun tidak lagi mengkhawatirkan Zubair.
Namun penuturan Zylda kembali membuatnya khawatir. Bagaimana jika Zubair nekat?
“Ayah belum bertemu dengan Zubair. Beberapa waktu ini ayah cukup sibuk jadi tidak sempat menanyakan kondisinya. Nanti coba ayah akan bertemu dengannya.”
Laksamana mencoba bicara datar supaya sang putri tidak cemas.
“Jika ayah bertemu dengannya, tolong sampaikan supaya menjawab teleponku. Aku harus memastikan bridesmaid untuk pengantin laki-laki karena aku tidak mengenal teman-teman Zubair.”
“Baiklah nak, nanti akan ayah sampaikan.” Laksamana menyudahi sarapannya. “Ayah berangkat dulu ya?” Laksamana uda beranjak untuk berangkat dinas. Tak lupa mengecup pucuk kepala Zylda lalu berangkat dengan diantar sang istri sampai ke mobil dinasnya.
...0000000...
Sesampainya di ruang kerja, Laksmana langsung menghubungi Zubair. Namun panggilannya tak juga dijawab oleh Zubair. Kemudian beliau meminta ajudannya untuk memanggil Zubair.
“Coba cari di kapal! Mungkin ia sedang berada di kapal.”
Sang ajudan pun bergerak cepat dan kembali dengan membawa berita yang tak ingin didengar oleh Laksamana bahwa dirinya tidak berhasil menemukan Zubair.
Laksamana mulai panik. Hari pernikahan sudah semakin dekat dan sekarang pengantin pria tidak diketahui keberadaannya. Laksamana meminta semua ajudannya untuk mencari keberadaan Zubair.
Bahkan beberapa pasukan dikerahkan untuk mencarinya, namun Zubair tetap tidak ditemukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Shantieka
kesel deh ma si laksamana, maksain mujair nikahin anaknya biar anaknya bahagia. tapi dia gak mikir anak org yg jd korban keegoisannya
2023-02-11
2
Ifah Fatur
aku kecewa sama zubair tp demi baktiny pda ortu aku salut,,,,, restu ortu adalah kunci kebahagiaan ,,,,, armita ihlaskan zubair menikah dg wanita lain mungkin dia ngk baik untukmu,
2022-12-03
2