Bab 14 : Siapa Armita?

Zubair membuka pintu kamar. Tatapan matanya langsung berpusat ke arah ranjang.

Zylda duduk bersandar di atas ranjang mengenakan baju tipisnya.

Hampir setiap malam Zubair melihat ini. Namun sekalipun ia tak pernah terpancing untuk menikmati tubuh itu.

Tapi berbeda dengan malam ini. Zylda terlihat begitu menggoda.

Bukan! Bukan Zylda yang menggoda! Tapi dorongan nafsu dalam dirinyalah yang membuat ia begitu tergoda.

Zubair duduk di sebelah Zylda. Aroma parfum yang setiap malam ia hirup kini begitu menggoda.

Zubair mulai gelisah. Ia tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini.

Zylda merasakan Zubair berbeda. "Mas kenapa? Mas sakit? Apa perlu ku ambilkan obat?"

Bukan obat yang ia butuhkan, tapi tubuh Zylda.

Zubair menarik tangan Zylda yang hendak beranjak dari ranjang. Ia hempaskan tubuh itu hingga terlentang di bawahnya.

Zylda sedikit takut. Karena tatapan mata Zubair bak seekor singa lapar yang melihat kijang di depannya.

Zubair menopang tubuh dengan kedua tangannya. Jaraknya sangat dekat dengan Zylda. Ia semakin mengikis jarak itu dan mulai menempelkan bibirnya ke bibir Zylda.

Mata Zylda membola. Ini adalah ciuman pertamanya. Tapi ciuman Zubair sangat menuntut karena Zubair melakukan ini dengan nafsu.

Pikiran dan hati zubair menolak, ingin rasanya ia tahan supaya tidak menyentuh Zylda. Tapi reaksi tubuhnya seolah di luar kendalinya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan tubuhnya.

Zubair terus melanjutkan aksinya. Tubuhnya begitu tidak tidak sabar. Ia bermain dengan tempo yang cepat.

Zylda memekik ketika merasakan sakit yang amat sangat di area sensitifnya. Tapi suara Zylda yang terdengar justru membuat Zubair semakin bergaiirah.

Zubair terus melakukannya tanpa jeda. Berkali kali ia melakukan meski tubuh, pikiran dan hatinya tak sejalan. Hingga beberapa waktu Zubair merasa terpuaskan.

Ia tergeletak di sebelah Zylda. "Maaf."

Reflek Zylda menoleh ke arahnya.

Kenapa meminta maaf? Bukankah ini memang sudah seharusnya?

Zylda memalingkan wajahnya ke arah Zubair. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk menanyakan tapi urung ia lakukan. Ia melihat Zubair sudah terlelap di alam mimpinya.

Zylda coba menggerakkan tubuhnya. Daerah intinya masih terasa sakit. Meski begitu Zylda merasa sangat bahagia. Ia menjadi istri sepenuhnya malam ini.

Ia merelakan rasa sakit itu. Rasa lelah itu. Semua usahanya tidak sia-sia. Ia mampu menarik perhatian suaminya.

Zylda berpikir jika semua usaha kerasnya berhasil. Ia pikir sikap Zubair malam ini karena makanan favorit yang ia sajikan. Karena perut dan lidah Zubair merasa terpuaskan oleh masakannya.

Tanpa ia ketahui, sang ibu sudah memberikan minuman penambah stamina untuk Zubair. Minuman penambah gairah yang mendorong Zubair melakukan itu semua.

...○○○...

Hari berganti pagi. Pasangan suami istri itu masih terlelap dalam tidurnya.

Zylda tidur dalam dekapan Zubair. Kepalanya berada di atas dada Zubair.

Mata Zubair mulai mengerjap karena sinar matahari yang menembus jendela telah menerpanya.

Zubair menguap dan mulai mengumpulkan kesadarannya.

Saat kesadaran belum sempurna, Zubair terkejut dengan posisinya yang tidur dengan memeluk wanita.

Reflek ia menarik tangannya dari tubuh Zylda, melepas pelukannya. Lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya dan tubuh Zylda masih polos tanpa sehelai benang.

Apa yang aku lakukan? Kenapa aku sampai melakukannya?

Zubair bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Timbul rasa sesal dalam hatinya. Sebenarnya ia tak ingin menyakiti Zylda lebih dalam. Melakukan hubungan suami istri tanpa hati. Zubair sangat merasa bersalah.

Zubair bersiap untuk berangkat dinas. Zylda juga sudah menyiapkan semua kebutuhannya.

Zubair pamit dan mulai berangkat.

Sepanjang ia bekerja, Zubair terus berpikir bahwa ia tidak bisa tinggal satu atap dengan mertuanya. Terlalu sungkan jika mertuanya sampai ikut campur dalam rumah tangganya kedepan.

Zubair memutuskan untuk mengajak Zylda tinggal di rumahnya sendiri.

Zylda setuju. Ia akan patuh pada apapun perintah suaminya. Sang mertua yang merasa keberatan karena harus berpisah dengan sang putri semata wayang pun tak bisa mencegah.

Mereka sadar bahwa tanggung jawab untuk Zylda sudah sepenuhnya berpindah ke Zubair. Meski berat, mereka harus merelakannya.

Dan ini adalah saat mereka pindah. Beberapa Ajudan dari kediaman Laksamana ikut membantu mereka dan mengantar sampai di depan rumah.

Zubair meminjam mobil sang ayah untuk ia gunakan memboyong istrinya dan perlengkapan milik mereka.

Mereka sampai.

Zylda menatap rumah sederhana yang terletak di dalam sebuah perumahan. Tidak terlalu besar namun cukup nyaman.

Zubair membuka pintu dan mulai memasukkan barang-barang.

"Ini adalah rumahku sendiri. Rumah yang aku beli dengan hasil menabung dari kerja kerasku selama ini. Sederhana. Tidak sebesar rumah Laksamana."

Zylda tersenyum. Begitu bangga pada suaminya. "Rumah ini nyaman. Aku suka."

Zylda berkeliling melihat isi rumah.

"Rumah ini seperti pernah ditinggali sebelumnya. Semua perabotan dan peralatan dapurnya sudah lengkap."

"Ah, iya. Aku sengaja menatanya. Beberapa Kali sudah pernah ku tempati."

Zubair bingung menjawab. Sebenarnya rumah ini adalah rumah impiannya bersama Armita. Bahkan Armita sendiri yang menata semua desain interiornya sesuai dengan seleranya.

Armita bahkan pernah menginap disini meski mereka berdua tak pernah melakukan hal lebih jauh namun tetap saja itu sangat membekas di ingatan Zubair. Kenangan bermalam satu atap dengan Armita.

Zubair mulai membantu Zylda untuk membereskan barang-barang dan menata koper. Cukup lama mereka berdua sibuk melakukannya. Menata baju-baju di dalam lemari dan menaruh beberapa benda penting lainnya.

Tiba-tiba ponsel Zubair berdering. Ada panggilan masuk untuknya.

Zubair mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.

"Iya? Aku di rumah. Tidak! Aku tidak sedang bertugas. Ada apa?"

Zubair terlihat menyimak obrolan diseberang telepon.

"APA??? KENAPA?? TIDAK!! DIA TIDAK BOLEH NEKAD!" Suara Zubair meninggi memenuhi ruangan.

Zylda yang sedang berada di dapur sampai bergegas menghampirinya.

"Tidak! Cegah dia! Armita tidak boleh melakukannya! Dimana dia sekarang? Tahan dia! Aku segera kesana!"

Zubair mengambil kunci yang tergeletak diatas meja. Ia berlari keluar.

Namun langkahnya terhenti ketika Zylda memanggilnya.

Zubair hanya menoleh sebentar dan menjawab, "Aku akan pulang larut malam. Tidurlah lebih dulu! Jangan menungguku! Jangan lupa kunci pintunya sebelum tidur."

Hanya itu kemudian Zubair bergegas pergi ke tempat tujuannya meninggalkan Zylda di rumah sendirian.

Sementara Zylda masih terpaku ditempatnya berdiri.

"Armita?"

Zylda mendengar satu nama perempuan terucap dari mulut Zubair.

"Siapa Armita?"

Zylda merasa aneh dengan sikap Zubair kali ini. Rasa panik Zubair seakan tidak biasa. Seolah ia sedang mengkhawatirkan seseorang yang penting dalam hidupnya.

Terpopuler

Comments

Ifah Fatur

Ifah Fatur

armita mau bunuh diri x ya,,,,, eh jngan armita mending nikah am lelaki lain yg lebih baik dari si zubair

2022-12-09

0

Zia Tamala

Zia Tamala

Gimana nasib Armita? Kasian Armita. Masak Zubair jadinya sama Zylda? Kenapa enggak sama Armita? Trus Armita gimana?
Sabaaarrrr 😊,
Nikmati Alurnya, akan ada kisah indah untuk mereka semua,

enjoy Reading everyone 🥰🥰🥰

2022-12-09

3

Anonymous

Anonymous

lanjut thor

2022-12-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4 : Pengakuan Zubair
5 Bab 5 : Meminta Restu ayah
6 Bab 6 : Keputusan Zubair
7 Bab 7 : Zubair Hilang
8 Bab 8 : Permintaan Laksamana
9 Bab 9 : Hari pernikahan
10 Bab 10 : Malam Pertama
11 Bab 11 : Mengantar Zylda
12 Bab 12 : Menaklukkan Suami
13 Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14 Bab 14 : Siapa Armita?
15 Bab 15 : Bertemu Armita
16 Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17 Bab 17 : Ancaman
18 Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19 Bab 19 : Zylda Marah
20 Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21 Bab 21 : Hari Zylda
22 Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23 Bab 23 : Berita besar
24 Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25 Bab 25 : Zylda Tertabrak
26 Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27 Bab 27 : Zubair celaka
28 Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29 Bab 29 : Zylda khawatir
30 Bab 30 - Bertemu Bertiga
31 Bab 31: Melepas Zubair
32 Bab 32 : Tekad Zubair
33 Bab 33 : Armita celaka
34 Bab 34 : Armita Arkan
35 Bab 35 : Syarat Menikah
36 Bab 36 : Meminta Restu
37 Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38 Bab 38 : I love you Zylda
39 Bab 39 : Kapten Arkan
40 Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41 Bab 41 : Hukuman Armita
42 Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43 Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44 Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45 Bab 45 : Perpisahan
46 Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47 Bab 47 : Zubair Manja
48 Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49 Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50 Bab 50 : Kencan Arkan
51 Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52 Bab 52 : Monumen keakraban
53 Bab 53 : Melahirkan
54 Bab 54 : Zylda Pingsan
55 Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56 Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57 Bab 57 : Armita Pergi
58 Bab 58 : Pengobat Rindu
59 Bab 59 : Tugas Darurat
60 Bab 60 : Armita ditemukan
61 Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62 Bab 62 : Keras kepala Armita
63 Bab 63 : Evakuasi
64 Bab 64 : Tertembak
65 Bab 65 : Pilihan Berat
66 Bab 66 : Merelakan
67 Bab 67 : Rasa Kehilangan
68 Bab 68 : Rintangan Pernikahan
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4 : Pengakuan Zubair
5
Bab 5 : Meminta Restu ayah
6
Bab 6 : Keputusan Zubair
7
Bab 7 : Zubair Hilang
8
Bab 8 : Permintaan Laksamana
9
Bab 9 : Hari pernikahan
10
Bab 10 : Malam Pertama
11
Bab 11 : Mengantar Zylda
12
Bab 12 : Menaklukkan Suami
13
Bab 13 : Kebahagiaan Zylda
14
Bab 14 : Siapa Armita?
15
Bab 15 : Bertemu Armita
16
Bab 16 : Meminta Bantuan Laksamana
17
Bab 17 : Ancaman
18
Bab 18 : Terkuaknya Kenyataan
19
Bab 19 : Zylda Marah
20
Bab 20 : Pertemuan Zylda Armita
21
Bab 21 : Hari Zylda
22
Bab 22 : Perintah untuk Mencintaiku!
23
Bab 23 : Berita besar
24
Bab 24 : Permintaan maaf Zubair
25
Bab 25 : Zylda Tertabrak
26
Bab 26 : Armita dan Seorang Pemuda
27
Bab 27 : Zubair celaka
28
Bab 28 : Upaya Penyelamatan
29
Bab 29 : Zylda khawatir
30
Bab 30 - Bertemu Bertiga
31
Bab 31: Melepas Zubair
32
Bab 32 : Tekad Zubair
33
Bab 33 : Armita celaka
34
Bab 34 : Armita Arkan
35
Bab 35 : Syarat Menikah
36
Bab 36 : Meminta Restu
37
Bab 37 : Cukup Jadi dirimu
38
Bab 38 : I love you Zylda
39
Bab 39 : Kapten Arkan
40
Bab 40 : Pesona Kapten Arkan
41
Bab 41 : Hukuman Armita
42
Bab 42 : Armita Arkan Zubair
43
Bab 43 : Pingsan di tengah Hutan
44
Bab 44 : Mulai merasa nyaman
45
Bab 45 : Perpisahan
46
Bab 46 : Zylda pernah dilamar?
47
Bab 47 : Zubair Manja
48
Bab 48 : Hasil Pemeriksaan
49
Bab 49 - Penghancur kebahagiaan
50
Bab 50 : Kencan Arkan
51
Bab 51 : Berhasil jalan bersama
52
Bab 52 : Monumen keakraban
53
Bab 53 : Melahirkan
54
Bab 54 : Zylda Pingsan
55
Bab 55 : Jakfar Al Tamish
56
Bab 56 : Bertemu (calon) mertua
57
Bab 57 : Armita Pergi
58
Bab 58 : Pengobat Rindu
59
Bab 59 : Tugas Darurat
60
Bab 60 : Armita ditemukan
61
Bab 61 : Bermalam bersama Armita
62
Bab 62 : Keras kepala Armita
63
Bab 63 : Evakuasi
64
Bab 64 : Tertembak
65
Bab 65 : Pilihan Berat
66
Bab 66 : Merelakan
67
Bab 67 : Rasa Kehilangan
68
Bab 68 : Rintangan Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!