Zubair membuka pintu kamar. Tatapan matanya langsung berpusat ke arah ranjang.
Zylda duduk bersandar di atas ranjang mengenakan baju tipisnya.
Hampir setiap malam Zubair melihat ini. Namun sekalipun ia tak pernah terpancing untuk menikmati tubuh itu.
Tapi berbeda dengan malam ini. Zylda terlihat begitu menggoda.
Bukan! Bukan Zylda yang menggoda! Tapi dorongan nafsu dalam dirinyalah yang membuat ia begitu tergoda.
Zubair duduk di sebelah Zylda. Aroma parfum yang setiap malam ia hirup kini begitu menggoda.
Zubair mulai gelisah. Ia tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini.
Zylda merasakan Zubair berbeda. "Mas kenapa? Mas sakit? Apa perlu ku ambilkan obat?"
Bukan obat yang ia butuhkan, tapi tubuh Zylda.
Zubair menarik tangan Zylda yang hendak beranjak dari ranjang. Ia hempaskan tubuh itu hingga terlentang di bawahnya.
Zylda sedikit takut. Karena tatapan mata Zubair bak seekor singa lapar yang melihat kijang di depannya.
Zubair menopang tubuh dengan kedua tangannya. Jaraknya sangat dekat dengan Zylda. Ia semakin mengikis jarak itu dan mulai menempelkan bibirnya ke bibir Zylda.
Mata Zylda membola. Ini adalah ciuman pertamanya. Tapi ciuman Zubair sangat menuntut karena Zubair melakukan ini dengan nafsu.
Pikiran dan hati zubair menolak, ingin rasanya ia tahan supaya tidak menyentuh Zylda. Tapi reaksi tubuhnya seolah di luar kendalinya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan tubuhnya.
Zubair terus melanjutkan aksinya. Tubuhnya begitu tidak tidak sabar. Ia bermain dengan tempo yang cepat.
Zylda memekik ketika merasakan sakit yang amat sangat di area sensitifnya. Tapi suara Zylda yang terdengar justru membuat Zubair semakin bergaiirah.
Zubair terus melakukannya tanpa jeda. Berkali kali ia melakukan meski tubuh, pikiran dan hatinya tak sejalan. Hingga beberapa waktu Zubair merasa terpuaskan.
Ia tergeletak di sebelah Zylda. "Maaf."
Reflek Zylda menoleh ke arahnya.
Kenapa meminta maaf? Bukankah ini memang sudah seharusnya?
Zylda memalingkan wajahnya ke arah Zubair. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk menanyakan tapi urung ia lakukan. Ia melihat Zubair sudah terlelap di alam mimpinya.
Zylda coba menggerakkan tubuhnya. Daerah intinya masih terasa sakit. Meski begitu Zylda merasa sangat bahagia. Ia menjadi istri sepenuhnya malam ini.
Ia merelakan rasa sakit itu. Rasa lelah itu. Semua usahanya tidak sia-sia. Ia mampu menarik perhatian suaminya.
Zylda berpikir jika semua usaha kerasnya berhasil. Ia pikir sikap Zubair malam ini karena makanan favorit yang ia sajikan. Karena perut dan lidah Zubair merasa terpuaskan oleh masakannya.
Tanpa ia ketahui, sang ibu sudah memberikan minuman penambah stamina untuk Zubair. Minuman penambah gairah yang mendorong Zubair melakukan itu semua.
...○○○...
Hari berganti pagi. Pasangan suami istri itu masih terlelap dalam tidurnya.
Zylda tidur dalam dekapan Zubair. Kepalanya berada di atas dada Zubair.
Mata Zubair mulai mengerjap karena sinar matahari yang menembus jendela telah menerpanya.
Zubair menguap dan mulai mengumpulkan kesadarannya.
Saat kesadaran belum sempurna, Zubair terkejut dengan posisinya yang tidur dengan memeluk wanita.
Reflek ia menarik tangannya dari tubuh Zylda, melepas pelukannya. Lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya dan tubuh Zylda masih polos tanpa sehelai benang.
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku sampai melakukannya?
Zubair bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Timbul rasa sesal dalam hatinya. Sebenarnya ia tak ingin menyakiti Zylda lebih dalam. Melakukan hubungan suami istri tanpa hati. Zubair sangat merasa bersalah.
Zubair bersiap untuk berangkat dinas. Zylda juga sudah menyiapkan semua kebutuhannya.
Zubair pamit dan mulai berangkat.
Sepanjang ia bekerja, Zubair terus berpikir bahwa ia tidak bisa tinggal satu atap dengan mertuanya. Terlalu sungkan jika mertuanya sampai ikut campur dalam rumah tangganya kedepan.
Zubair memutuskan untuk mengajak Zylda tinggal di rumahnya sendiri.
Zylda setuju. Ia akan patuh pada apapun perintah suaminya. Sang mertua yang merasa keberatan karena harus berpisah dengan sang putri semata wayang pun tak bisa mencegah.
Mereka sadar bahwa tanggung jawab untuk Zylda sudah sepenuhnya berpindah ke Zubair. Meski berat, mereka harus merelakannya.
Dan ini adalah saat mereka pindah. Beberapa Ajudan dari kediaman Laksamana ikut membantu mereka dan mengantar sampai di depan rumah.
Zubair meminjam mobil sang ayah untuk ia gunakan memboyong istrinya dan perlengkapan milik mereka.
Mereka sampai.
Zylda menatap rumah sederhana yang terletak di dalam sebuah perumahan. Tidak terlalu besar namun cukup nyaman.
Zubair membuka pintu dan mulai memasukkan barang-barang.
"Ini adalah rumahku sendiri. Rumah yang aku beli dengan hasil menabung dari kerja kerasku selama ini. Sederhana. Tidak sebesar rumah Laksamana."
Zylda tersenyum. Begitu bangga pada suaminya. "Rumah ini nyaman. Aku suka."
Zylda berkeliling melihat isi rumah.
"Rumah ini seperti pernah ditinggali sebelumnya. Semua perabotan dan peralatan dapurnya sudah lengkap."
"Ah, iya. Aku sengaja menatanya. Beberapa Kali sudah pernah ku tempati."
Zubair bingung menjawab. Sebenarnya rumah ini adalah rumah impiannya bersama Armita. Bahkan Armita sendiri yang menata semua desain interiornya sesuai dengan seleranya.
Armita bahkan pernah menginap disini meski mereka berdua tak pernah melakukan hal lebih jauh namun tetap saja itu sangat membekas di ingatan Zubair. Kenangan bermalam satu atap dengan Armita.
Zubair mulai membantu Zylda untuk membereskan barang-barang dan menata koper. Cukup lama mereka berdua sibuk melakukannya. Menata baju-baju di dalam lemari dan menaruh beberapa benda penting lainnya.
Tiba-tiba ponsel Zubair berdering. Ada panggilan masuk untuknya.
Zubair mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Iya? Aku di rumah. Tidak! Aku tidak sedang bertugas. Ada apa?"
Zubair terlihat menyimak obrolan diseberang telepon.
"APA??? KENAPA?? TIDAK!! DIA TIDAK BOLEH NEKAD!" Suara Zubair meninggi memenuhi ruangan.
Zylda yang sedang berada di dapur sampai bergegas menghampirinya.
"Tidak! Cegah dia! Armita tidak boleh melakukannya! Dimana dia sekarang? Tahan dia! Aku segera kesana!"
Zubair mengambil kunci yang tergeletak diatas meja. Ia berlari keluar.
Namun langkahnya terhenti ketika Zylda memanggilnya.
Zubair hanya menoleh sebentar dan menjawab, "Aku akan pulang larut malam. Tidurlah lebih dulu! Jangan menungguku! Jangan lupa kunci pintunya sebelum tidur."
Hanya itu kemudian Zubair bergegas pergi ke tempat tujuannya meninggalkan Zylda di rumah sendirian.
Sementara Zylda masih terpaku ditempatnya berdiri.
"Armita?"
Zylda mendengar satu nama perempuan terucap dari mulut Zubair.
"Siapa Armita?"
Zylda merasa aneh dengan sikap Zubair kali ini. Rasa panik Zubair seakan tidak biasa. Seolah ia sedang mengkhawatirkan seseorang yang penting dalam hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ifah Fatur
armita mau bunuh diri x ya,,,,, eh jngan armita mending nikah am lelaki lain yg lebih baik dari si zubair
2022-12-09
0
Zia Tamala
Gimana nasib Armita? Kasian Armita. Masak Zubair jadinya sama Zylda? Kenapa enggak sama Armita? Trus Armita gimana?
Sabaaarrrr 😊,
Nikmati Alurnya, akan ada kisah indah untuk mereka semua,
enjoy Reading everyone 🥰🥰🥰
2022-12-09
3
Anonymous
lanjut thor
2022-12-09
1