Brain membawa pergi Tasya menjauh dari Mike. Tasya meronta-ronta minta di lepaskan cekalan tangan suaminya. Brain masih saja mencekal pergelangan tangan Tasya.Sehingga Tasya merintih kesakitan.
"Brain lepasin tangan aku sakit," rengek Tasya seketika Brain melepaskan cekalanya.
"Sorry," ucap Brain yang melihat pergelangan tangan istrinya memerah.
"Kita ke UKS?"
"Gak perlu! ngapain sih pakai tarik-tarik tangan segala? terus ngapain kamu bawa aku ke tempat ini?"
"Seharusnya lo berterimakasih karena gua udah nyelametin elo dari Ketos sialan itu."
"Gak perlu! tanpa kamu selametin aku bisa. Lagian sikapmu bisa bikin semuanya curiga."
Brain yang baru sadar dengan perbuatanya yang gegabahpun menyesal. Karena saking kesalnya melihat istrinya di ganggu. Sampai-sampai otaknya tidak berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.
Sya, cepetan kemari! pak tono sudah masuk kelas," chat dari Debby.
"Brain aku harus masuk ke kelas, pak tono sudah masuk ke kelasku."
Tasya berlari menuju kelasnya, sedangkan Brain berjalan santai mengikutinya dari belakang.
Tasya mengetuk pintu dan tersenyum kepada Pak Tono. Untung saja dia murid terpandai di kelasnya. Jadi guru matematika itu tidak marah melihat tasya terlambat masuk kelas.
Tasya segera duduk di tempatnya, dia langsung fokus pada materi yang di ajarkan Pak Tono. dia tidak ingin lagi terlambat mengikuti pelajaran. Bisa-bisa repotasi dia sebagai siswi terpandai bisa anjlok.
Sepulang sekolah Tasya langsung di jemput babang gojek yang mengantarnya tadi pagi. Tasya langsung memintanya mengantar ke rumah. Dia akan mempergunakan waktu luangnya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya mengajak bermain putri sambungnya yang telah ia anggap darah dagingnya sendiri.
"Sya kamu sudah pulang, sayang?"
"Selamat siang Mom! iya ini Tasya baru pulang Mom."
"Lalu suamimu mana, Sya? kok kalian tidak pulang bareng?"
"Tasya kurang tahu Mom, tadi Tasya lihat motornya sudah tidak ada di parkiran sekolah. Lagian mana mau dia pulang bareng Tasya, Mom."
"Nanti biar Mom yang kasih pelajaran ke dia, kamu sudah makan, sayang?"
"Jangan Mom, biarkan saja! Tasya sudah makan Mom. Tasya ke atas dulu ya Mom, mau ganti baju lalu bermain bersama Baby Cessa. Tasya sudah rindu berat sama si gembul kesayangan.
Tasya mengambil baju ganti dan membawanya sekalian ke dalam kamar mandi. Kali ini ia harus waspada. Ia tidak ingin terulang lagi keluar hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan di lihat Brain. Meskipun suaminya belum terlihat sudah pulang atau belum. Tidak ada salahnya jika ia tetap waspada.
Sa'at ia keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada tangan kekar menariknya dan menghimpitnya di sudut kamar.
Ternyata orang itu adalah Brain, yang baru saja pulang. Cowok itu menatap tajam istrinya tanpa Tasya tahu kesalahanya.
"Arrrrrk, lepasin Brain," ucap Tasya meronta-ronta.
"Lo ngomong apa ke Mommy gua?"
"Aku gak ada ngomong apa-apa kok. Mom sendiri yang lihat aku pulang sendiri. Lagian kamu dari mana tadi?"
"Gak usah tanya balik, bukan urusan lo," timpal Brain ketus.
"Harus Brain, kamu kan suamiku."
"Pernikahan kita hanya sekedar menjalankan amanah almarhumah Mona. Jadi lo gak perlu tahu urusan gua."
"Ini gak adil brain! kamu juga ngurusin urusanku, lantas kenapa aku tidak boleh?"
"Karena kamu masih istriku, dan kamu tidak boleh dekat-dekat dengan cowok lain."
"Brain kamu egois, benar-benar sangat egois. Dasar cowok menyebalkan, egois, mau menang sendiri," ucap tasya sambil memukul-mukul dada suaminya.
"Hei hentikan, pukulanmu tidak terasa sakit sama sekali. Malahan kamu bisa memancing yang di bawah sana. Apa kamu mau kita making love sekarang juga?" ujar brain menyeringai
"Gak mau, kamu gila Brain," ucap Tasya segera keluar dari kamar mereka sebelum melihat suaminya semakin gila.
Brain tertawa terbahak-bahak setelah berhasil menggoda istrinya. Buktinya wajah Tasya langsung blushing seperti kepiting rebus saat ia berucap making love.
Tasya berjalan mencari keberada'an putrinya. Di lihatnya putrinya sedang bermain boneka di ruang bermain. Tasya menghampirinya dan langsung menghadiahi puluhan kecupan pada baby Cessa.
Balita itu merasa geli dan tertawa cekikikan khas tawa balita. Saat Brain baru saja turun, ia mendengar suara putrinya yang cekikikan. Brain mencari sumber suara yang ternyata ada di ruang bermain. Brain melirik Tasya yang tertawa lepas bersama putrinya.
"Pap, pap, pah," celoteh Baby Cessa saat melihat Brain.
Balita itu hanya bisa memanggil Papa, meskipun Brain mengajarinya memanggil Ayah.
Tasya langsung menoleh saat Brain ikut bergabung bermain bersama baby Cessa. Perbuatan Brain kepadanya tadi membuat Tasya terbayang-bayang dan bergidik ngeri.
"Hai putri Ayah, lagi main apa sayang? Ayah boleh ikutan?"
"Yayayayah," ucap baliata itu dengan riang
"Ya, benar itu baru benar panggil Ayah.''
Tasya berdiri hendak membuatkan putrinya makan siang. Namun di tahan oleh Brain dan menyuruhnya duduk kembali.
"Mau kemana?"
"Mau buatin makan siang baby Cessa."
Setelah tahu alasanya, Brain membiarkan saja istrinya berkutat di dapur. Brain menggendong putrinya menuju meja makan setelah mencium wangi makanan balita buatan Tasya.
"Ye, mamamnya sudah jadi, Cessa mau makan?" tanya brain bersemangat agar putrinya juga bersemangat.
"Putri cantik mamam dulu ya, bunda suapin ya sayang? buka mulutnya nak, aaaaaaaaa, aaaaem."
Balita itu sangat laham memakan makananya. Bukan karena ia doyan makan atau memang karena lapar. Tetapi karena makanan yang di masak Tasya selalu enak dan membuat balita itu lahap memakanya.
Brain tersenyum melihat Tasya dengan telatenya menyuapi makan putrinya.
"Yeeeey sudah habis, anak bunda pintar sekali, horeee."
Tasya bertepuk tangan dan di ikuti oleh baby Cessa yang bertepuk tangan juga.
"Uluh, uluh, gemes banget sama si gembulnya Bunda.
"Masakan Bunda enak ya sayang? Ayah juga mau dong di masakin," kode keras dari Brain sambil melirik istrinya.
"Bikin aja sendiri," sahut Tasya ketus.
"Dosa loh Sya, kalau kamu kayak gitu sama suami. Lagian mana istri yang serajin tadi pagi?"
"Hilang di culik huluk," sahut Tasya ketus tetapi tetap melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memasakan sesuatu untuk Brain.
Tasya membuatkan Brain makanan simple yaitu laksa. Aromanya membuat Brain tidak sabar untuk menyantapnya.
Brain hendak menyerahkan baby Cessa pada Tasya. Namun balita itu tidak mau dan akhirnya Tasya berinisiatif menyuapi Brain
Brain memakanya dengan lahap sambil matanya melirik Tasya dengan telaten melayaninya. Hingga isinya kandas tak tersisa beserta kuahnya.
"Thanks," ucap Brain yang di balas anggukan oleh Tasya.
"Duh pengantin baru makin sweet aja,'' ucap Verlee, kakak ipar Brain yang baru pulang dari kampus.
"Eh kak Verlee, sudah pulang kak?" tanya Tasya sekedar basa basi.
"Baru aja pulang dek," ujar Verlee tersenyum lalu mencari Anxel calon anak jeniusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
FUZEIN
Laksa sarawak ke
2023-10-13
1