Tepat pukul lima sore tasya terbangun dari tidurnya. Di pandangnya sekeliling kamar yang nampak sepi. Entah di mana suaminya saat ini,,,ia tidak peduli. Tasya mencuci mukanya lalu turun ke lantai bawah mencari keberada'an putri sambungnya. Tepat di anak tangga yang paling bawah. Tasya melihat mertuanya yang sedang memotong sayuran di dapur. Wanita yang masih terlihat muda di umurnya yang tak lagi muda lagi. Tasya tersenyum lalu melangkahkan kakinya mendekati callista.
"Selamat sore Mom."
"Sore sayang! Tasya kamu kapan datang nak?"
"Sudah dari tadi siang, Mom, hanya saja Tasya ketiduran di kamar atas."
"Ow begitu!"
Tasya celingkungan mencari keberada'an suaminya dan anak sambungnya yang entah kemana.
"Nyari'in baby cessa atau ayahnya, sya?" tanya callista menggoda menantunya.
"Hehehe, dua-duanya, Mom! apa Mom tahu mereka di mana?"
"Baby cessa ada di kamar bersama Verlee dan Axel. Kalau suamimu paling ke cafenya, sya. Apa dia tidak izin sama kamu tadi?"
"Tidak Mom! mungkin karena tadi Tasya masih tidur."
Tasya melirik sayuran yang di potong oleh mertuanya. Dia berfikir untuk membuang kebosanan lebih baik ia masak saja.
"Mom, mau masak apa? boleh kach Tasya bantu?"
"Boleh sayang! kebetulan Mom bingung ini sayuran mau di masak bagaimana."
Suara motor brain terdengar memasuki gerbang. Tandanya orang yang tasya cari telah pulang.
"Tuh sya, suamimu pulang! temui suamimu dulu, nanti saja masaknya.
Tasya mengangguk patuh lalu melangkahkan kakinya menghampiri suaminya.
"Sayang kamu darimana?" ucap tasya menyambut suaminya dengan mencium punggung tangan Brain. Brain yang melihat sikap dadakan tasyapun merasa kaget.
"Ada Mom, setidaknya perlihatkan jika kita akur," Bisik tasya melirik ke arah brain.
Brain menyeringa menatap istrinya dan berkata "Ternyata kau juga pandai berakting."
"Duh romantisnya pengantin baru, jadi mengingatkan Mommy waktu masih muda dulu," ucap callista melihat keromantisan putra dan menantunya.
"Kalian sedang apa di dapur?" tanya brain kemudian
"Ini istrimu ingin masak makanan untuk nanti malam," jawab callista
"Memangnya kau ingin masak apa?" tanya brain lagi.
"Aku ingin bikin semur jengkol kebetulan ini ada jengkolnya. lalapan sayur mentah sambal terasi," ucap tasya enteng tanpa melihat reaksi suaminya.
"Apa kau ingin aku segera mati keracunan dan kau berharap jadi janda perawan?" ucap brain menekankan.
"Ach kalian ini mau masak saja pakai bisik-bisik segala," timpal callista.
"Ini mom, kata brain masakan yang aku buat adalah makanan kesuka'anya, iya kan sayang?" ucap Tasya menjulurkan lidah pada suami.
"Ya sayang," Ucap Brain terpaksa dan tatapan tajam brain penuh amarah tertuju pada istrinya.
"Awas saja kau Tasya," bisik brain dengan sorot mata penuh permusuhan.
Tasya tidak berani menatap suaminya. Yang terpenting baginya mengerjain suaminya dulu. Soal hukuman nanti saja di fikir belakangan.
"Kau yakin brain mau makan, Sya? seingat mom dia tidak suka jengkol dan sayuran mentah," tanya callista heran
"Itu dulu Mom, kemarin buktinya pas di rumah Tasya, dia makan dengan lahapnya."
"Apakah ini yang di namakan cinta mampu merubah segalanya? kamu memang mantu mom yang hebat, Sya. Pelan-pelan rubah kebiasa'an buruknya ya, sya."
''Baik, Mom."
"Brain naik ke lantai atas mengambil putrinya di kamar kakaknya. Setelah mengambil putrinya, ia turun kembali ke lantai bawah. Di lihatnya Tasya sangat cekatan saat memasak.
Aroma harum masakanyapun tercium di indra penciuman brain dan seisi rumah.
"Duh sya, pinter banget sih kamu, siapa yang ngajarin nak?"
"Tasya biasa bantuin bik inah masak di dapur sekalian belajar, Mom."
"Bik inah asisten rumah tangga itu ya?"
"Pantesan kamu terlihat sangat berpengalaman. Sini Mom mau nyicipin semur jengkolnya, sya."
"Wangi banget, masak apa kalian? tanya jonatan yang memasuki dapur.
"Nih lo Dad, mantu kita pintar banget kan?" ucap callista merasa bahagia memiliki menantu yang pintar seperti tasya.
Wajah tasya bersemu merah saat mendapat pujian dari mertuanya. Kiranya masakan sudah matang, tasya menyajikanya di meja makan. Semua penghuni rumah turun seketika setelah mencium bau harum masakan tasya.
"Wah ada yang beda menu malam ini! tetapi apa bocah ganteng di sebelahku ini mau makan jengkol dan sayuran mentah?" tanya Axel melirik brain.
"Suka kok kak, iya kan sayang kamu suka?" ucapan tasya terpaksa di iyain brain. Bagaimanapun ia harus berandiwara di hadapan keluarganya.
"Brain, kamu benar-benar berubah,nak. Kalau begitu kamu bisa sering-sering masak ini ya sya. Selama ini kita jarang makan karena brain tidak suka.Mumpung brain sudah suka, kau boleh memasaknya lebih sering," timpal jonatan.
"Sya ini enak banget, nak! tidak ada bau menyengat aroma jengkol. Bahkan lebih mirip dengan daging sapi," sahut callista.
"Iya, akupun berfikir sama dengan Mom.Sumpah masakanmu gak kalah sama masakan di restauran," timpal verlee.
Berbeda dengan Tasya yang mendapat pujian. Brain malah pengen muntah melihat semua hidangan di depanya. Melihat tatapan yang beda dari suaminya, tasya lagi-lagi menjalankan aksinya.
"Aaaaaaaaaaaaa, sayang buka mulutmu," suara lembut tasya hendak menyuapi brain.
Brain menatap ngeri isi sendok yang sudah menempel di bibirnya. Dengan sangat terpaksa brain membuka mulutnya dan mengunyak semur jengkol yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Eeeeee, kok enak ternyata," batin brain memuji.
Melihat ekspresi suaminya yang biasa-biasa saja membuat tasya menjadi bingung. Seharusnya suaminya itu muntah atau apa. Tetapi ia malah terlihat menikmati masakan tasya.
"Kok dia biasa-biasa saja sih? minimal muntah atau apa gitu.Katanya dia tidak suka jengkol, kok ini malah terlihat doyan banget," gerutu tasya yang lagi-lagi gagal mengerjai suaminya.
"Benar katamu Mom! cinta mampu merubah segalanya. Lihatlah putramu yang selama ini tidak suka semur jengkol dan lalapan sayuran samb
Al trasi, ini malah jadi lahap Daddy lihatnya," ucap jonatan.
"Memang Tasya adalah jodoh yang tepat untuk brain, Dad," timpal callista.
"Dek, sumpah enak banget masakanmu,,,kalian seharusnya bekerjasama karena kalian berdua sama-sama jago masak," timpal Axel yang sebenarnya tahu fikiran adiknya saat ini.
"Kak Axel terlalu berlebihan, aku tidak sejago itu," sahut tasya malu.
Brain mengambil alih sendok dan piring dari tangan tasya. Tasya tambah tercengang saat brain menyendok sendiri makananya. Bahkan dia juga memakan sayuran mentah yang di campur sambal trasi buatanya. Brain memakanya dengan sangat lahap.
Tasya kecewa melihat ekspresi brain yang biasa-biasa saja. Sedangkan brain tersenyum puas melirik istrinya yang nampak kesal padanya.
"Hahahaha, kau gagal lagi mengerjaiku sya.Tunggu balasan yang setimpal dariku nanti," batin brain menyeringai sedangkan bulu kuduk tasya sudah merinding melirik tatapan brain yang licik.
Sedangkan Axel gelang-geleng melihat mereka berdua yang sedang perang batin.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Usil banget sih🤭...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nenk NOER
Aku mampir..Ada2 aja Axel ..perang batin 🤭😁
2023-12-28
1
teti kurniawati
semangat 😊
2022-10-31
0
Anonymous
Lanjutannnnnnn
2022-10-19
0