Setelah acara makan malam selesai. Tasya segera menggendong baby cessa. Gadis itu dengan penuh kasih sayang menimangnya hingga baby cessa tertidur.
Sebenarnya ia sangat ngeri melihat tatapan suaminya yang di penuhi rencana licik. Ingin laripun dia bingung caranya. Numpang tidur dengan verlee atau Callistapun pasti di larang oleh suami mereka masing-masing. Sedangkan ia sendiri belum siap jika harus sekamar dengan brain.
Untung saja ada baby cessa, Tasya menggendong bayinya memasuki kamar. Di baringkanya bayi gembul itu ke atas ranjang. Tiba-tiba brain datang dan menutup pintu.
Jantung Tasya semakin berdetak seolah baru saja mengikuti perlombaan maraton. Gugup itu yang ia rasakan karena malam ini pertama kali ia sekamar dengan seorang cowok.
Brain melangkahkan kakinya mendekati Tasya.Dia mengambil alih baby cessa dan memindahkanya di ranjang khusus balita.
"Lhoh kok," ucapan Tasya terputus saat brain memberi kode untuk diam. Tasya ingin protes lagi namun di urungkanya.
"Duh, ini jantung aku kenapa makin kencang sih," grutu tasya dalam hati.
Gadis itu melirik suaminya kemudian mengamati seisi ruangan. Matanya berbinar saat melihat sofa panjang. Ia segera mengambil bantal dan juga selimut. Tasya segera melangkahkan kakinya cepat dan berbaring di atas sofa.
Brain mengerutkan dahi ketika mendapati istrinya berbaring di atas sofa dengan selimut melilit tubuhnya.
"Ngapain lo tidur di situ? apa ranjang ini kurang besar?"
"Eh, gak kok, aku hanya ingin tidur di sofa," ucap tasya gugup.
Brain tersenyum licik ketika sebuah ide melintas di fikiranya. Ini adalah kesempatanya untuk menghukum istrinya yang telah berani kepadanya.
Brain melangkah mendekati tasya, sedangkan tasya semakin gugup melihatnya.
"Tidur di ranjang cepat."
"Gak mau, aku di sini aja tidurnya."
"Bangkit dan tidur di ranjang atau gua...
Brain menyeringai dan mendekatkan wajahnya pada tasya. Tasya mendorong tubuh brain karena saking takutnya.
"Apa'an sih brain? kamu sendiri saja yang tidur di ranjang,,,aku maunya di sini."
"Ow, Jadi kamu pilih, pilihan yang ke dua," ucapnya seraya tersenyum licik tanpa aba-aba di gendongnya tubuh tasya dan membaringkanya di ranjang. Brain mengukung Tasya dengan kedua tanganya dengan posisi tubuhnya di atas tubuh tasya.
"Jangan sesekali membantah ucapanku? aku adalah suamimu dan aku berhak akan dirimu," ucap brain menatap wajah tasya inten.
Tasya memejamkan matanya tak berani memandang wajah suaminya. Bahkan tubuhnya saat ini sudah gemetaran.
Melihat tubuh tasya yang gemetaran dan merasakan detak jantung istrinya yang sangat cepat. Brain beranjak dan berbaring di samping Tasya dengan jarak tak terlalu dekat. Tasya menghela nafasnya pelan ketika melihat brain beranjak dari atas tubuhnya. Tasya membuka matanya pelan saat di rasa tidak ada gerakan dari tubuh brain di sampingnya.
Bola mata tasya melebar dan saat itu pula ia ingin berteriak namun segera di bungkam oleh tangan brain.
"Sudah berani ya kamu ngerjain aku lagi seperti tadi? Aku akan menghukumu.
"Maaf! ini sudah malam, besok kita masuk sekolah. Apa bisa hukumanya di tunda besok saja?"
"Tidak bisa! justru hukumanya enaknya malam," ucap brain ingin tertawa dalam hatinya melihat ekspresi tasya yang berfikir keras.
"Hukuman apa sih, brain?"
Tasya masih di buat penasaran sedangkan brain sudah mendekatkan wajahnya pada tasya. Tasya semakin gugup saat wajah mereka berdua sangat dekat.
"Brain, menjauhlah dari tubuhku, apa yang kau lakukan? aku belum siap," ucap tasya ketakutan.
"Belum siap apa?" goda brain.
"iiiiitu," ucap tasya gugup.
"Itu apa sih?" brain terus menggodanya pura-pura tidak mengerti maksut tasya.
"Ya yang di lakukan suami dan istri."
"Apa yang ada di fikiranmu saat ini, hah? kau fikir aku akan menciumu dan making love denganmu.
"sorry gak minat, cepat tidur dan jangan coba-coba kau berani lagi kepadaku. Atau aku akan meminta hakku kapan saja," ucap brain beranjak dari atas tubuh tasya.
Dengan segera tasya berbaring miring membelakangi brain. Hingga jam dua pagipun tasya tidak bisa memejamkan matanya. Ini terlalu asing buat dia tidur satu ranjang dengan seorang cowok. Apalagi cowok itu adalah suaminya saat ini.
Tidak aneh jika suami istri tidur satu ranjang. Yang bikin aneh adalah perasaan mereka berdua. Mencintai hanya sepihak, bahkan brain yang terang-terangan mengatakan tidak mencintainya.
Karena tidak bisa tidur tasya bangkit dari tidurnya menuju ranjang kecil milik baby cessa. Di pandangnya bayi gembul itu dan tak sadar iapun meneteskan matanya.
"Bunda tidak akan menyerah sayang, meskipun ayah tidak mencintai bunda."
Di ambilnya buku, karena lebih baik pusing belajar daripada pusing memikirkan kelanjutan hidupnya. Hingga tanpa sadar tasya tertidur di atas tumpukan buku di meja belajar.
Ia terbangun pukul lima pagi untuk menjlankan peranya sebagai istri dan ibu sebelum berangkat sekolah. Mulai dari menyiapkan baju seragamnya dan juga baju seragam brain. Membuat bekal untuknya dan brain. Memasakan makanan untuk baby cessa.
Setidaknya ia menyiapkan semua keperluan baby cessa. Agar tidak terlalu merepotkan orang rumah saat ia sekolah.
Setelah di rasa sudah beres, ia bergegas untuk mandi terlebih dahulu mumpung brain dan anaknya belum bangun. Setelah ia selesai bertepatan dengan baby cessa yang baru bangun.
"Kesayangan bunda sudah bangun ya? duh semakin pintar ya sayang," ucapnya merasa bersyukur karena anak sambungnya ini bukan tipe bayi yang cengeng dan rewel.
"Bangunin ayah suruh dia mandi ya sayang."
Tasya mengendong baby cessa dan menurunkanya di atas ranjang di samping brain. Brain yang merasa ada guncangan di sampingnyapun segera membuka matanya.
Di lihatnya istri dan anaknya telah tersenyum manis di depan wajahnya. Baby cessa memukul-mukul wajah ayahnya sambil tertawa riang.
"Aduh, putri ayah, masak ayah di pukul sih," ucap brain dengan suara serah khas bangun tidur.
Muka bantalnya tak mengurangi kadar ketampanan di mata tasya. Meski cintanya tak terbalas, tasya tetap mencintai suaminya dengan caranya sendiri.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat dan baju seragamu. Aku dan baby cessa akan turun ke bawah."
Brain hanya mengangguk cuek, namun setelah di pastikan tasya sudah keluar kamar. Brain tersenyum dan menikmati hidupnya bagai seorang raja yang segala sesuatunya sudah ada yang menyiapkan. Ia merasa memiliki istri tidak seburuh seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Setelah di rasa semua sudah siap,sudah mandi, sudah ganti seragam dan mengambil tas yang isinya sudah lengkap berkat tasya yang sudah menyiapkanya tadi pagi. Brain turun ke lantai bawah. Di sana Tasya juga sudah menyiapkan sarapan untuknya. Entah harus bersyukur atau tidak menjadikan tasya sebagai istrinya. Gadis itu memang terlihat tulus menyayanginya dan putrinya. Namun bagaimana dengan hati yang belum bisa memberi cintanya untuk istrinya.
"Brain, sarapan dulu, aku akan berangkat dulu.Ini bekal untukmu di makan nanti siang."
"Haaaah? untuk apa bekal segala? aku tidak mau."
"Ya sudah kalau tidak mau, aku bawa semua," timpal tasya memasukan dua bekal ke dalam tasnya.
Lalu mengulurkan tanganya mencium tangan brain. Tanpa di suruh ia sudah tahu kewajiban istri. Brain awalnya ragu namun akhirnya ia mengulurkan tanganya untuk di cium tasya. Meskipun tujuan mereka sama yaitu berangkat ke sekolah yang sama. Namun tasya tahu diri tidak mungkin brain mau brangkat bersamanya.
"Mbak, titip baby cessa ya, tolong di mandi'in ya mbak. Soalnya aku kesiangan, baju dan perlengkapan lain sudah aku siapkan. Dan makanan untuknya juga sudah aku siapkan. Sebelumnya terimakasih ya mbak," pesan tasya pada baby sister yang merawat Baby Anxel.
"Sya, kamu kok gak bareng brain, nak?" ucap callista yang baru keluar dari kamarnya.
"Pagi Mom! tidak usah mom, nanti teman-teman yang lain curiga sama kita."
"Ya gak papa dong, memangnya apa yang salah. Kalian bisa bilang ke mereka kalau kalian pacaran.
Brain memakan sarapanya sambil memutar bola matanya saat mendengar ucapan Mommynya.
"Sudahlah Mom, biarkan saja orangnya tidak mau ya jangan di paksa," ucap brain enteng.
"Kamu tuh gimana sih brain, masak ngebiarin istri sendiri berangkat sendiri," omel callista.
"Ya dianya gak mau terus gimana lagi."
"Sudah-sudah! gak papa kok Mom, tasya berangkat dulu ya mom? tasya sudah pesan ojek online. Itu sudah berdiri di depan gerbang.
Tasya melangkahkan kakinya menghampiri ojek online yang ia pesan. Seketika Callista melihat seorang pria berdiri di depan gerbang memakai seragam gojek.
"Brain, pantas saja tasya milih naik ojek,,,orang babang gojeknya ganteng gitu," ucap callista memanas-manasi putra bungsunya. Brain tetap cuek tidak merespon. Namun seketika ia menyambar kunci dan berpamitan pada callista. Tanpa tasya tahu, brain mengikutinya dari belakang.
"Sial, benar juga kata Mom, tuh kang gojek ganteng juga."
Brain cuek melewati gojek yang di tumpangi tasya. Dari pantulan spion brain menyeringai melihat ekspresi istrinya yang kesal melihatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Kalau punya laki seperti Brain, mending di tukes sapi, dah🤭...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments