Jelma'an malaikat pencabut nyawa

Brain sudah selesai ritual mandi sorenya. Ia keluar dari kamarnya menghampiri tasya dan putrinya. Dari balik pintu brain memperhatikan perbincangan tasya dengan putrinya. Entah kenapa brain ikut tersenyum karena tasya mampu membuat putrinya tertawa senang. Brain mencuri foto tasya dan bayinya yang sedang tersenyum. Photo candid yang ia potret barusan terlihat sangat bagus. Terlihat wajah natural Tasya yang tersenyum tulus memandang bayinya.

Brain keluar dan berdehem membuat tasya menoleh. Di pandangnya sosok cwo yang ia cintai terlihat tampan dan fresh. Dengan celana pendek selutut di padu hoodie yang melekat pas di tubuhnya. Karena saking terpesona membuat tasya tidak sadar menganga.

"Usap tuh liur lo menetes di dagu,'' celetuk brain seketika tasya mengusap dagunga yang tidak ada air liurnya.

"Ckckckck, gampang banget sih lo di kibulin. Sini'in anak gua, gua mau gendong dia," ucap brain mengambil alih bayinya dari gendongan tasya.

Tanpa sengaja mereka saling bersenggolan tangan dan saling menatap wajah satu sama lain.

"Oweeeek," suara bayi membuyarkan tatapan mereka berdua.

"Sayang, putri ayah kenapa menangis? dia nakal ya nak," ucap brain menunjuk ke arah tasya.

"Enak aja,,,kok aku yang di salahkan," protes tasya tak terima.

"Pulang sonoh, ngapain lo masih di sini."

"Kan kamu mandi, dan tadi kamu nyuruh aku jagain baby cessa kalau kamu lupa."

"Sanoh pulang lo," usir brain membuat tasya jengkel.

"Tenang aja aku nanti pasti pulang tanpa kamu suruh. Ini lagi nungguin sopir aku on the way ke mari.''

"Kamu kan mau ke cafe brain! kenapa gak sekalian tasya di antar pulang.Antar tasya sekalian, kalian kan searah," ucap jonatan tiba-tiba datang dan perintah daddynya tidak mampu di tolak brain.

"Tidak usah om, saya akan menyuruh sopir keluarga kemari menjemput saya."

"Biar brain saja yang mengantarmu nak."

"Kalau bukan karena daddy gua, gua ogah nganter lo.Jadi lo jangan ke ge'eran karena gua antar," ucap brain lirih berbisik di dekat telinga tasya.

"Tasya yang baru saja merasa senang di buatnya kecewa karena ucapanya."

_____________

"Lo kalau naik motor yang bener, pegangan yang benar kalau lo tidak mau jatuh. Kalau lo jatuh gua ogah nolongin lo," ucap brain membuat tasya merubah peganganya dari berpegangan ke bahu brain menjadi melingkar ke perut brain.

Brain menyeringai senang karena hobby barunya membuat tasya bingung dan takut kepadanya. Walau mereka dulu sempat berpacaran satu bulan. Namun cara paracan mereka tidak seperti orang-orang di luaran sana.

Kalau hanya naik motor berdua dan melingkarkan tanganya ke perut brain itu hal biasa bagi tasya. Yang tidak membuat terbiasa karena ia sudah lama tidak naik motor berdua dengan brain. Hal itu membuat jantung tasya semakin berdetak dan gugup.

Brain semakin mempercepat laju motor sportnya membuat tasya takut dan semakin mengeratkan tanganya ke pinggang brain.

"Sumpah ini sangat nyaman banget meluk dia seperti ini," gumam tasya dalam hatinya merasa senang.

"Dada tepos gak usah nempel-nempel di punggung gua," ucapan brain seketika membuat tasya melepas pelukanya di punggung brain.

Brain yang merasakan sesuatu yang menonjol di punggungnyapun bisa menebak itu apa. Tiba-tiba motor brain berhenti, menimbulkan banyak pertanya'an di benak Tasya.

"Turun lo."

"Kenapa? ban motormu kempes ya? atau mogok?" tanya tasya penasaran.

"Lo pulang naik taxi, ogah gua nganter lo pulang," sahut brain ketus lalu turun dari motornya menghentikan taxi yang sedang lewat.

"Lo tahu alamat pulang kan? gua bayarin asal gak minta gua nganter lo, males tau."

"Gak perlu, terimakasih," ucap tasya ketus karena kecewa pada sikap brain.Di tutupnya pintu taxi sangat keras sehingga membuat kaget si supir taxi.

"Dasar cowok macam apa dia, menghentikan cwe di tengah jalan begitu saja. Ya tuhan, sanggupkah aku menjalani hidup bersama brain," gumamnya lirih.

"Non, mau di antar kemana?" tanya si supir taxi

"Lurus saja pak, nanti kalau saya ingin turun, saya kasih tahu," ucapnya sambil memanyunkan bibirnya karena masih kesal dengan sikap brain.

"Berantem ya non sama pacarnya."

"Dia bukan pacar saya pak, tapi jelma'an malaikat pencabut nyawa," sahut Tasya ketus membuat si sopir tertawa.

Sedangkan brain merasa lega terbebas dari tugasnya mengantar tasya pulang. Brain melajukan motor sportnya menuju cafe. Ada banyak pelanggan yang sedang menunggunya hanya untuk sekedar melihat si pemilik cafe yang ganteng.

Motor brain melaju cukup kencang melewati taxi yang di tumpangi Tasya. Tasya yang melihat brain ugal-ugalan meminta pada sopir taxi untuk mengikutinya. Hingga sampailah dia di depan cafe yang cukup ramai pengunjungnya yang mayoritas para cewek seumuranya.

"Selamat sore semua," sapa brain pada para pelanggan cafenya.

"Sore," teriak para pelanggan brain secara kompak.

"Dasar playboy gak ada insyafnya,'' grutu tasya ketika melihat brain jadi rebutan para cewek untuk berfoto dengan mereka.

"Non, jadi turun atau tidak?" ucap si sopir taxi

"Antar saya pulang saja ke alamat ini pak."

"Gak jadi nyamperin cwoknya, non?"

"Gak pak, buaya buat apa di samperin."

Beberapa menit kemudian sampailah Tasya di tempat kos sahabatnya Debby. Bukanya pulang ke rumah tasya malah mampir ke kos-kosan temanya. Entah saat ini gadis itu sedang kebingungan.

"Tok, tok! Deb, kamu ada di dalam kan?bukain dong, aku Tasya."

"Cekrek," suara pintu terbuka menampakan Debby yang baru saja selesai mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya.

"Astaga Debby! untung aku yang datang ke kamarmu. Coba kalau cwo yang datang ke kamarmu dengan keadaan kamu masih pakai handuk doang.Bisa-bisa bahaya tau gak sih."

"Lo gak baca ya sha pas masuk ke sini? Cwo di larang masuk ke kos putri. Mana mungkin ada cwo yang kesini Tasya, yang ada juga banci."

Tasya nyelonong saja masuk ke kamar Debby dan langsung berbaring ke tempat tidur.

"Lo darimana sih sya? seragam belum ganti, jam segini lo pasti juga belom pulang ke rumah lo kan?"

"Capek aku by, numpang tidur bentar aja ya."

"Ya elah jam segini tidur, udah mau magrib sya, pamali. Di kelonin pocong baru tahu rasa lo kalau tidur," ucapan Debby seketika membuat tasya bangkit dari tidurnya.

"Apa'an sih by, kok bawa-bawa pocong segala kan aku jadi takut.

"Hahaha, makanya jangan tidur anak gadis."

"Kayak emak-emak aja omonganmu, gak jadi tidur sini deh, pulang aja aku."

"Eh jangan ngambek dong sya, baru juga dateng. Lo tadi belum jawab pertanya'an gua. Lo dari mana saja jam segini masih pakai seragam?"

"Dari rumah brain," jawabnya singkat

"Whaaaaaaat?" Debby seketika di buatnya kaget.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

...Tega bener sih, Brain....

...Bilang saja kalau demen, di embat cowok lain, baru tahu rasa....

...Lanjut atau tidak? Jangan lupa like, coment, subsribe 👌...

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Terpopuler

Comments

teti kurniawati

teti kurniawati

saya mampir

2022-10-29

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan setelah sekian lama menghilang
2 Kebencian Brain pada Tasya
3 Mencari tahu tentangnya
4 Mencuri waktu
5 Mengabaikan brain
6 Terbongkar penyamaran tasya
7 Rencana lamaran
8 Jelma'an malaikat pencabut nyawa
9 Lamaran
10 Berangkat bersama
11 fitting kebaya
12 Brain menghilang
13 Syah
14 Kejadian di malam pertama
15 Kelicikan pasutri muda
16 pindah rumah
17 Gagal lagi
18 satu ranjang
19 Berebut tasya
20 melayani suami
21 Kecewa & Cemburu
22 Gagal menghukum
23 Membalas sang suami
24 Kecemburuan Tasya dan Brain
25 Pura-pura marah
26 Menggoda tasya
27 Sisi lain brain
28 di introgasi
29 Kejadian di kamar
30 Ketahuan
31 Menemukan anak asing
32 Dua anak cukup
33 Quality Time
34 Menghindar dari Boy dan Benny
35 Mencintainya
36 Ke panti asuhan
37 I Love You,Sya
38 Memulai kembali dari awal
39 pura-pura
40 Setatus pacaran
41 Bucin
42 membobolkan gawang pertahanan
43 Kesalah fahaman
44 Baikan
45 duo bucin kembali ke sekolah
46 ke cafe brain
47 Benny tahu semuanya
48 Gara-gara Benny
49 Kematian orang tua Tasya
50 Suasana Duka
51 Kembali ke Jakarta
52 Kembali ke rutinitas
53 Bencana ke dua kalinya
54 Family Time
55 Kemarahan Boy
56 Boy dan Debby
57 Emosi si Boy
58 Emosi Boy
59 Mimpi
60 Ke makam almarhumah Mona
61 Percobaan Bunuh Diri
62 Sedikit Peduli
63 Jadian
64 Double date
65 Kepergian Brain
66 Hari pertama di Universitas
67 Bakat Anak Yang Tertukar
68 Jebakan Arabella
69 Mensekakmat Lawan
70 Masalah yang terpecahkan
71 Rencana resepsi pernikahan
72 Kedatangan tiba-tiba
73 Ke Kampus Berdua
74 Pesta Resepsi
75 Resepsi 2
76 Membujuk Anak Nakal
77 Gejala bla-bla-bla
78 Adik untuk Cessa
79 Ngidam Aneh
80 Makin Sensitive
81 Rujak Buah Mangga
82 Keracunan Buah Mangga
83 Pusing Karena Cessa
84 Cessa vs Benny
85 Tujuh Bulanan
86 Kelahiran anak ke-2
87 Kedatangan Para Sahabat
88 Beberapa tahun kemudian
89 Terpaksa menikah
90 Mencuri First Kiss
91 fitting baju
92 Di pingit
93 Happy Ending
94 Ekstra Part
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Pertemuan setelah sekian lama menghilang
2
Kebencian Brain pada Tasya
3
Mencari tahu tentangnya
4
Mencuri waktu
5
Mengabaikan brain
6
Terbongkar penyamaran tasya
7
Rencana lamaran
8
Jelma'an malaikat pencabut nyawa
9
Lamaran
10
Berangkat bersama
11
fitting kebaya
12
Brain menghilang
13
Syah
14
Kejadian di malam pertama
15
Kelicikan pasutri muda
16
pindah rumah
17
Gagal lagi
18
satu ranjang
19
Berebut tasya
20
melayani suami
21
Kecewa & Cemburu
22
Gagal menghukum
23
Membalas sang suami
24
Kecemburuan Tasya dan Brain
25
Pura-pura marah
26
Menggoda tasya
27
Sisi lain brain
28
di introgasi
29
Kejadian di kamar
30
Ketahuan
31
Menemukan anak asing
32
Dua anak cukup
33
Quality Time
34
Menghindar dari Boy dan Benny
35
Mencintainya
36
Ke panti asuhan
37
I Love You,Sya
38
Memulai kembali dari awal
39
pura-pura
40
Setatus pacaran
41
Bucin
42
membobolkan gawang pertahanan
43
Kesalah fahaman
44
Baikan
45
duo bucin kembali ke sekolah
46
ke cafe brain
47
Benny tahu semuanya
48
Gara-gara Benny
49
Kematian orang tua Tasya
50
Suasana Duka
51
Kembali ke Jakarta
52
Kembali ke rutinitas
53
Bencana ke dua kalinya
54
Family Time
55
Kemarahan Boy
56
Boy dan Debby
57
Emosi si Boy
58
Emosi Boy
59
Mimpi
60
Ke makam almarhumah Mona
61
Percobaan Bunuh Diri
62
Sedikit Peduli
63
Jadian
64
Double date
65
Kepergian Brain
66
Hari pertama di Universitas
67
Bakat Anak Yang Tertukar
68
Jebakan Arabella
69
Mensekakmat Lawan
70
Masalah yang terpecahkan
71
Rencana resepsi pernikahan
72
Kedatangan tiba-tiba
73
Ke Kampus Berdua
74
Pesta Resepsi
75
Resepsi 2
76
Membujuk Anak Nakal
77
Gejala bla-bla-bla
78
Adik untuk Cessa
79
Ngidam Aneh
80
Makin Sensitive
81
Rujak Buah Mangga
82
Keracunan Buah Mangga
83
Pusing Karena Cessa
84
Cessa vs Benny
85
Tujuh Bulanan
86
Kelahiran anak ke-2
87
Kedatangan Para Sahabat
88
Beberapa tahun kemudian
89
Terpaksa menikah
90
Mencuri First Kiss
91
fitting baju
92
Di pingit
93
Happy Ending
94
Ekstra Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!