Pada jam istirahat Tasya duduk di dalam kelas sambil membaca bukunya. Sedangkan Debby ke kantin bersama temanya yang lain. Tiba-tiba brain masuk ke kelas Tasya. Untung saja di kelas hanya ada dia.
"Sya, kita di minta Mommyku ke butik sekarang."
"Ini kan belum waktunya pulang, kenapa gak nunggu pulang sekolah aja sih.
"Udah nurut aja, mereka udah izin ke kepala sekolah."
"Gak mau, nanti aja sepulang sekolah. Aku masih ada satu pelajaran dan gak mau ketinggalan."
"Dengar ya sya! saat ini gua benar-benar gak minat untuk debat sama lo. Lo mau kita nikah besok atau lo batalin juga terserah elo. Ya udah gak usah fitting kebaya. Lagian gak rugi gua kalau gak jadi nikah sama elo," ucap brain hendak keluar kelas langsung di hadang oleh tasya.
"Stop brain! ya sudah kamu berangkat saja dulu. Aku mau ngemasin bukuku dan nanti aku susul naik taxi."
"Gak bisa, Mommy minta kita berangkat bareng."
"Astaga, bahkan aku belum sempat makan dari pagi," grutu tasya
"Lo sendiri yang salah, apa peduli gua. Ini jam istirahat waktunya ke kantin makan. Bukan malah baca buku lama-lama nih buku lo telan.
"Udah, udah, udah! tungguin aku di tempat tadi pagi aku turun," ucap tasya sambil mengemasi bukunya.
Saat tasya ingin melangkah pergi tiba-tiba Debby datang membawakanya makanan.
"Eeeeeeeeed, sya lo mau kemana? ini mie ayam buat elo, woy."
"Aduh aku keburu-buru Deb! makasih ya, kamu makan aja dulu aku ada keperluan penting.
"Woy ini masih jam istirahat bukan maktunya pulang," teriak Debby yang tidak di dengar oleh Tasya karena ia sudah berlari sampai gerbang sekolah.
Setelah membuka gerbang dan menutupnya kembali. Tasya celingkungan mencari keberadaan brain.
Brain :
Gua ada di samping warung bakso,,,cepetan kesini
Tasyapun berjalan menuju ke tempat penjual bakso. Di lihatnya brain yang duduk di atas motor sportnya dengan jas kulit hitam yang melekat di tubuhnya menambah kesan keren di mata tasya.
Tasya berlari ngos-ngosan agar cepat sampai di warung bakso dan karena takut jika ada yang memergoki mereka.
"Lama banget sih," grutu brain.
"Ini sudah lari brain, gak liat apa sampai ngos-ngosan gini."
"Udah naik cepat."
"Beneran gak di turunin di jalan kayak kemarin kan?" sekali lagi tasya memastikan.
"Tergantung! pakai helmnya, cepetan naik, Mom udah nelpon gua berkali-kali."
Tasya naik ke motor brain dn langsung melingkarkan tanganya di punggung brain. Sekali lagi brain merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya membuat dia bergidik.
"Gak usah nempel-nempel,,,munduran sedikit," ucapnya dan setelah menuruti permintaan brain.
Brain melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Brain aku takut, jangan kenceng-kenceng dong, apa lagi peganganya kayak gini, entar kalau aku jatuh gimana?"
"Bawel banget sih," ucap brain memelankan laju motornya.
"Duh, nyebelin banget sih, meluk aja gak boleh. Pegal-pegal badan aku kalau seperti ini," grutu tasya dalam hati.
Brain yang melihat ekspresi kesal tasya dari kaca spionpun menyeringai puas karena telah berhasil membuat tasya kesal kepadanya.
"Yakin lo besok mau nikah sama gua? siapkan stok kesabaran yang banyak," ucap brain menyeringai licik.
"Apapun yang terjadi, aku tetap akan menjalankan janjiku pada almarhum mona. Sekalipun harus setiap hari harus berurusan denganmu.
"Hahahahaha," brain menertawakan reaksi tasya.
Tanpa terasa merekapun telah sampai di butik milik Mita ibu kandung almarhum mona. Kondisi mita selepas kepergian putrinya sudah baik seperti semula. Dia mencoba mengiklaskan kepergian putri semata wayangnya. Karena sedih hanya akan menghambat perjalanan putrinya.
"Selamat siang Mom, Bunda," ucap brain sopan di ikuti Tasya di belakangnya.
Mita melihat tasya dari bawah hingga atas. Tasya yang merasa di perhatikanpun malu dan merundukan kepalanya.
"Sini nak, mendekat pada bunda," panggil mita kepada tasya.
Tasya dengan ragu mulai mendekat dan menyalami tangan bunda mita.
"Kamu polos banget ya, pakai kacamata dan rambut di ikat dua," ucap mita membuat tasya tersadar karena ia lupa mengubah penampilanya kembali.
"Oh, maaf tante, kalau di sekolah saya suka dandan seperti ini."
"Padahal dia sangat cantik loh mit! kok dandan culun gini sih sayang. Kau membut tante sampai pangling. Tante kira tadi brain ngajakin siapa ke sini," ucap callista.
"Dia pantas dandan kayak gitu, bund, mom," timpal brain membuat tasya meliriknya sewot.
"Ayo ikut bunda nak, kita lihat-lihat kebaya mana yang cocok buat kamu," Mita mengajak Tasya berkeliling butik melihat semua gaun indah rancanganya.
"Tante, ini sungguh bagus-bagus semua gaun dan kebayaknya," ucap tasya dengan sorotan mata kagum.
"Panggil bunda mita saja, nak," timpal mita.
"Baik, Bunda."
"Nah, ini sepertinya cocok buat tubuhmu yang ramping seperti barbie," ucap mita memperlihatkan kebaya putih dengan belahan dada rendah.
"Wow,,,bagus sekali bunda, Tasya coba ya bund."
"Ya nak, kamu coba dulu."
Tasya memasuki ruang ganti melepaskan seragamnya dan menggantinya dengan kebaya cntik pilihan Mita. Tasya sendiri di buat kagum dengan penampilanya yang cantik setelah memakai kebaya. Tasya keluar dengan langkah pelan karena takut tersandung dan jatuh. Di bukanya tirai dan menampakan tasya dengan balutan kebaya menambah kesan cantik pada dirinya.
"Kamu cantik banget, nak! kebaya ini sangat cocok di badanmu," ucap mita
"Terimakasih tan, oOps maksud saya bunda."
"Yuk nak, kita minta pendapat Mom callista dan juga brain," Mita membantu Tasya berjalan menghampiri Callista dan Brain yang menunggu di sofa.
Callista dan Brain mendengar suara pintu yang terbuka seketika membuat mereka menganga termasuk brain. Terlihat Tasya yang keluar begitu sangat cantik dengan kebaya yang melekat pas di tubuhnya yang ramping.
"Bagaimana brain, apakah kebayanya sudah pas?" tanya mita membuat brain mendekat mengamati penampilan Tasya. Tasyapun gugup ketika di perhatikan brain secara inten.
''Apakah kau ingin memamerkan dada ratamu ke semua tamu besok," bisik brain di dekat telinga tasya yang membuat tasya segera menutupi belahan dadanya yang terlihat menyembul.
"Bisaka bagian dadanya agak di tutup bund?" tanya brain pada mita.
Mita dan callista menyadari perubahan raut Tasya ternyata karena brain. Mita melangkahkan kakinya menganbil hiasan dada yang terbuat dari kain tile dan menempelkan di dada tasya.
"Bagaimana, apa dengan begini sudah beres?" tanya mita pada brain.
"Ya bund, lebih baik daripada tadi seperti pamer dada rata," ucap brain ceplas-ceplos membuat callista memukul bokongnya.
"Aduh Mom, sakit," protes brain kepada callista
"Kamu itu suka ceplas-ceplos gak lihat keada'an sekitar. Kasian Tasya wajahnya sudah merah menahan malu karena ulahmu."
"Alah biasanya juga malu-maluin," celetuk brain langsung di bungkam oleh callista
"Sayang kamu boleh ganti baju kembali bersama bunda mita ya. Tidak usah dengerin omongan brain yang gak bisa ngontrol ucapanya ini.
"Tidak masalah Mom! Tasya ganti baju dulu kalau begitu," ucap tasya pergi dan segera mengganti kebayanya dengan seragamnya.
"Sumpah, aku sangat malu! berarti brain tadi ngelihatin dadaku. Ya tuhan kenapa aku sampai tidak sadar? aduh, malu banget gimana ini.
Setelah keluar dari ruang ganti, tasya menghampiri brain dan callista.
"Kamu itu sebenarnya sangat cantik sayang.Gak usah pakai kacamata ini lagi," ucap mita membenahi penampilan tasya.
Tasya sangat nyaman di sisi mita yang perhatian dan lembut kepadanya. Karena jarang-jarang ada yang perhatian kepadanya kecuali asisten rumah tangganya di rumah.
"Terimakasih bunda mita! tasya sangat senang bertemu dengan bunda. Tasya boleh peluk bunda? tanya lama tidak di peluk mami tasya."
"Sini nak," pinta Mita memeluk tasya sangat erat.Seperti ibu dan anak yang saling rindu.
Mita yang rindu memeluk almarhum putrinya. Begitupun tasya yang rindu di peluk maminya.
"Aduh, kok aku jadi terharu lihat kalian. Mom juga mau di peluk tasya," ucap callista dan langsung berhambur ke pelukan tasya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...🤭🤭🤭...
...Jangan lupa tinggalin jejak like, komen dan...
...subsribe ya...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments