Siang telah berganti sore, dan sore akan segera berganti malam. Setalah menuruti kemauan kakak iparnya. Brain segera pulang ke kediaman Dirgantara. Rasa rindunya kepada putrinya tidak bisa di tahanya lagi.
Brain bergegas menuju kamarnya mencari keberadaan bayi mungilnya. Terdengar dari luar kamarnya suara wanita dan bayi tertawa. Brain membuka sedikit pintu kamarnya untuk memastikan siapa orang yang ada di dalam kamarnya.
"Baby cessa cantik, pintar banget sih minum susunya sampai habis. Bunda bantu sendawakan dulu ya, duh pintarnya langsung bisa bersendawa.
"Iiich gemesnya pipinya cubby banget pengen cium deh. Cium dikit boleh ya? mmmmuach, lagi-lagi di sini mmmmmuach duh wanginga. Cantiknya bunda sudah mandi, di mandi'in siapa tadi hah? di mandi'in bunda ya."
Brain sempat tersenyum sebentar melihat interaksi Tasya dengan putrinya. Namun tiba-tiba kekesalanya kepada tasya kembali lagi. Brain masuk ke kamar membuat tasya kaget. Tasyapun langsung berdiri sambil menggendong baby cessa.
"Kesini'in anak gua, ngapain loh kesini?" ucap brain dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Maaf brain aku sudah lancang masuk ke kamarmu. Aku baru saja bantu baby cessa mandi dan baru saja ngasih dia susu."
"Lo gak usah ngurusin anak gua lagi, lo urusin saja diri lo sendiri."
"Ini sudah menjadi tugas aku brain, terserah lo suku ataupun gak," timpal tasya.
"Siapa yang ngizinin lo nyuruh anak gua manggil lo dengan sebutan bunda? lo inget lo bukan siapa-siapa dia."
"Tapi almarhum mona mengamanatkan dia padaku," sahut tasya tak mau kalah.
"Lupakan amanah itu."
"Gak segampang itu brain, apa lagi itu amanah dari orang yang sudah meninggal."
"Bilang aja lo seneng kan mau di nikahkan ama gua?"
"Menikah ataupun tidak, aku tetap akan menja baby cessa."
"Serah lo, lo boleh pulang,,,gua mau tidur," ucap brain menyuruh tasya keluar dari kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya.
Tidak mau banyak berdebat, tugasnya juga sudah ia kerjakan. Diapun mencari orang tua brain dan berpamitan untuk pulang.
"Tante, tasya pamit pulang dulu, baby cessa sudah bersama ayahnya di kamar."
"Gak nunggu makan malam sekalian nak?"
"Gak usah tante terimakasih, lagian tasya harus pulang cepat mau belajar dan ngerjakan Pekerja'an Rumah (PR)."
"Ow ya sudah hati-hati ya nak, terimakasih sudah jagain baby cessa."
"Sama-sama tante, permisi," ucap tasya sopan dan segera melangkahkan kakinya dari kediaman dirgantara.
____________
Seperti biasa sebelum brain pulang sekolah. Tasya lebih dulu pulang dan segera menemui baby cessa. Pasalnya jika tidak cepat-cepat waktunya bersama baby cessa tidak bisa lama karena pasti di larang oleh brain.
Tasya sudah berada di kediaman dirgantara di susul satu jam berikutnya brain juga telah tiba. Brain membuka kamarnya dan mendapati tasya sudah berada di dalam bersama bayinya.
Ehemmmmmm," suara brain berdehem seketika membuat tasya kaget dan kelabakan.
"Ain, lo dah balik," ucap tasya gugup
"Hmmmmmm, keluar dari kamar aku sekarang," sahut brain mengusir dengan suara pelan dan wajah datarnya.
Tasyapun berdiri hendak keluar dengan posisi masih menggendong baby cessa.
"Mau lo bawa kemana anak gua? taruh dia di ranjang."
"Tapi aku masih pengen main sama baby cessa."
"Gak! lo dah nyuri waktu lama sebelum aku pulang, sekarang lo keluar."
"Gak,ain! aku masih pengen main sama babycessa," ucapnya menggeleng
"Oh, jadi lo masih tetep mau di kamar gua dan nyaksi'in gua ganti baju dan celana di depan lo?" ucapan brain membuat wajah tasya memerah. Dan tanpa aba-aba brain sudah melepas baju seragamnya dan mendekati tasya. Karena ketakutan akhirnya tasya lari keluar dari kamar brain. Tawa brainpun pecah setelah melihat wajah ketakutan tasya.
"Sok-sokan ngasih obat perangsang, giliran di deketin pas dalam keada'an sadarpun sudah takut," gumam brain menyeringai
Tasya keluar kamar brain dalam keadaan wajah yang memerah malu. Akhirnya ia memutuskan turun ke bawah siapa tahu ada hal lain yang bisa ia kerjakan sembari menunggu brain membawa baby cessa keluar kamar. Di lihatnya verlee yang sedang duduk di taman belakang melihat vidio tentang kehamilan. Tasya menghampiri verlee dan duduk di sampingnya.
"Kak er, sudah berapa bulan?" tanyanya sambil memegang perut verlee
"Eh tasya, empat bulan dek! kamu udah la di sini?"
"Setengah jaman kak, baru main sama baby cessa. Tapi ayahnya sudah datang, di usir deh akunya," keluh tasya pada verlee
"Sabar! terus saja buat hati brain luluh, dia tuh baik dan gokil sebenarnya. Mungkin karena kekecewa'anya padamu yang menjadikanya berubah.
"Aku gak tau harus bagaimana lagi kak, yang aku fikirkan saat ini bagaimana aku harus menjalankan amanah almarhum mona. Sedangkan brain membatasi dengan tembok yang tinggi."
"Runtuhkan tembok yang membentang tinggi itu. Cinta memang butuh perjuangan meskipun awalnya sakit tapi akan berbuah manis di akhir."
"Wah kak Er sangat berpengalaman sepertinya heheheh."
"Tentu saja! kau kira aku dan kak Axel selalu mulus jalan percinta'an kami? gak tasya sayang, kami juga telah melewati liku-liku yang sangan panjang. Bahkan kami dulu sempat ingin bercerai. Dan kau lihat? Tuhan akan tetap memberi jalan yang terbaik. Jadi tetaplah semangat meluluhkan hati brain.
"Semoga saja kak," ucap tasya lesu
"Apa kau sangat mencintai brain?" tanya verlee yang di anggukin tasya.
"Aku cinta sama dia, tapi dia tidak cinta sama aku. Dia cwo pertama di kehidupanku setelah papaku."
Verlee memeluk tasya seakan ingin menyalurkan energi positivenya.
"Wah ada tasya rupanya," ucap Axel yang baru saja datang membawa segelas susu hangat untuk istrinya.
"Sore kak Axel," sapa tasya
"Sore dek."
"Sayang, minum dulu susunya," ucap Axel menyodorkan segelas susu pada verlee. Dan semua itu tak luput dari penglihatan tasya.
"Andai aku dan brain bisa seperti mereka," gumam tasya dalam hati.
"Maka kau harus bersabar dan terus meluluhkan hati brain," timpal Axel seketika membuat tasya kaget.
"Lhoh kak, kok kakak bisa baca fikiranku?" tanya tasya dengan raut terkejutnya
Sedangkan verlee dan Axel hanya tersenyum melihat wajah tasya yang terkejut.
"Kau harus berhati-hati dengan dia, dek," sahut verlee
"Tidak perlu takut," timpal Axel di angguki tasya
"Sayang, kan aku udah bilang kalau mual minum susu ini."
Karena hormon kehamilanya membuat verlee semakin manja dengan suaminya. Axel yang mengerti kode dari istrinyapun tersenyum.
"Maaf ya dek,,,kami ke kamar dulu, bayi besar kakak minta di terapi," ucap Axel mengajak verlee ke kamar. Sedangkan tasya yang kurang fahampun Hanya mengangguk.
"Andai saja brain bisa menerimaku, mungkin kami bisa seromantis kak Axel dan kak Verlee," batin tasya
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Sabar, Tasya!...
...Cinta memang butuh perjuangan, kalau tidak di perjuangkan, paling juga memperjuangkan🤭...
...Kalian pengen memperjuangkan atau di perjuangkan, para Readers?...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
mom_abyshaq
sabar Tasya usaha tak kan menghianati hasil
2023-01-20
1