Brain Dirgantara POV
Ternyata sesakit ini rasanya saat kita baru menyadari perasaan cinta saat orang yang kita cintai telah tiada. Penyesalanku semakin dalam saat ku ketahui kenyataan yang membuatku seperti lelaki tak berguna. Karena selama ini sahabatku telah diam-diam mengandung darah dagingku dari hubungan kami semalam sewaktu di vila milik keluargaku. Jiwa dan hatiku hancur saat ku pandang tubuh sahabatku terbaring tak lagi benyawa. Meninggalkan berjuta kenangan indah yang sempat kita lalui bersama.
Tapi aku sadar, aku harus tetap tegar demi putri kami bukti cinta kami berdua. Aku bertekat harus bangkit dan mencoba merelakan sahabatku pergi dengan tenang. Setidaknya putri kami mampu mengalihkanku dari keterpurukan. Hingga saat tak terduga dan saat yang paling ku benci itu tiba. Saat di mana gadis yang membuatku kecewa muncul kembali setelah sekian lamanya menghilang. Gadis itu adalah Queena Anastasya mantan kekasihku sewaktu SMP.
Dia kembali untuk memenuhi janjinya kepada almarhumah mona untuk menjaga putriku dan menikah denganku. Tentu saja semua itu membuatku terpancing emosi. Membayangkan menikah denganya bukanlah impianku. Bahkan aku sudah berniat untuk tidak menikah seumur hidup demi kesetiaanku kepada mona. Namun apa?keluargaku malah mendesaku untuk menikah dengan tasya.
Saat tasya sudah pergi dari ruamah keluargaku. Daddyku memanggilku dan menanyakan sesuatu hal yang sangat malas untuk ku tanggapi.
"Brain, tadi Tasya kemari," ucap daddyku
"Ya aku tahu! memang kenapa denganya?" timpalku malas membahas tasya
"Ini lihatlah bukti chattingan dari alamarhumah mona," ucap kakaku memberitahuku
"Gak, Aku gak akan izinkan dia merawat putriku dan apa ini? menikah denganya? gak, aku gak sudi," ucapku emosi setelah melihat chatingan almarhum mona dan juga tasya.
"Tapi ini amanah orang yang sudah meninggal brain, dan kamu wajip menjalankan amanah itu."
"Gak, aku gak mau kak! kau tahu gadis itu pasti telah mempengaruhi kalian semua."
"Tidak brain, dengarlah kakak sempat merekam pembicara'an kami tadi.
Fikiran saya sa'at itu buntu tante! jujur saya tidak pernah pacaran karena saya ingin fokus sekolah. Namun semenjak kenal dengan brain, dia selalu mendekati saya sampai saya jatuh hati kepadanya. Dan kami sempat berpacaran selama satu bulan. Entah karena apa, brain tiba-tiba memutuskan saya secara sepihak. Saya tidak terima karena brain sudah mengusih hati saya. Brain adalah cinta pertama saya, dan oleh karena itu saya nekat berbuat seperti itu karena saya tidak ingin kehilangan brain. Namun perbuatan saya malah menghancurkan brain dan mona, Om, tante," Tasya menceritakan panjang lebar kejadian satu tahun silam. Tasya menunduk ketakutan setelah menceritakan kejadian dulu.
"Masalah ini bersumber pada dirimu sendiri brain. Kau mempermainkan perasa'anya, kau membuatnya mencintaimu kemudian kau memutuskanya sepihak," timpal kak Axel
"Itu karena aku tidak menyukainya," ucapku
"Lalu kenapa kau mendekatinya? padahal dia tidak ingin berpacaran."
"Ya itu karena iseng, buktinya hanya dia yang lebay, Yang lainya setelah ku putus bersikap biasa-biasa saja," sahutku membela diri
"Kau fikir setiap orang memiliki hati dan fikiran yang samaDaddy sudah memutuskan kalian harus menikah," timpal Daddyku final
"Daddy, kau tidak bisa memaksaku, aku tidak ingin menikah denganya. Lagi pula aku masih SMA, bagaimana bisa aku di nikahkan denganya.
"Kau bilang kau masih SMA dan bagaimana bisa menikah? apa kau lupa jika kau sudah punya anak di bangku SMA?"Seketika aku terdiam tidak bisa protes.
"Kau tetap saja harus menikah, kasihan bayimu juga butuh seoragg ibu," timpal Daddyku dengan sikap tegasnya.
Fikiranku mendadak kacau karena terusik. Kutitipkan bayiku kapada mommyku sebentar. Ku langkahkan kakiku menuju balkon kamarku. Kunyalakan korek api untuk menyalakan sepuntung rokok yang ingin ku sesap.
Entah sejak kapan aku mulai merokok, mungkin semenjak fikiranku menjadi kacau dengan masalah yang bertubi-tubi datang menghampiriku. Ku sesap rokoku hingga tersisa setengah batang.
Ucapa Tasya, Daddyku, momyku dan juga kakaku seolah saling bersahutan di fikiranku. Dan yang paling parah ucapan almarhum mona yang di putar di vidio yang kakaku perlihatkan tadi kepadaku.
Tuhan, jika bukan demi putriku aku ingin menyusul mona saja rasanya. Semua keluargaku bukanya mendukungku malah menyuruhku menikah dengan gadis yang telah membuatku kecewa.
"Sejak kapan kau belajar merokok? apakah kau lupa kau masih pelajara SMA," ucap kakaku yang tiba-tiba muncul merampas rokok yang sedang ku sesap.
"Kembalikan kepadaku kak, aku butuh ketenangan."
"Ketenangan katamu? dengan merokok kau bilang ketenangan? apakah kau sudah gila," timpal kakaku yang mulai marah kepadaku.
"Ya aku sudah gila, lebih gila lagi setelah melihat kalian malah mendukung gadis sialan itu untuk menikah denganku."
"Tapi itu adalah amanah dari orang yang sudah meninggal brain. Mau ataupun tidak kau harus tetap menjalankanya. Kau dan tasya harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian.
"Aku? dia sendiri yang harus mempertanggung jawabkan semua sumber masalah adalah padanya," ucapku mulai emosi
"Tapi kau yang mulai membuatnya seperti itu, karena tingkah playboymu itu yang menyakiti perasa'anya hingga ia berbuat senekat itu," timpal kakaku yang ku sadari memang kesalahanku.
"Tapi tidak untuk menikahinya, bahkan aku masih kecewa dan marah kepadanya," ucapku meninggalkan kakaku sendiri di balkon dan memasuki kamarku.
____________________
Ke esokan harinya pagi-pagi sekali Tasya datang ke kediaman. Tasya membawakan banyak mainan anak untuk babby cessa.
"Selamat pagi tante, bolehkah saya bertemu baby cessa?"
"Pagi nak, ayo masuk nak! kebetulan baby cessa di gendong grandpanya. Brain masih di kamar mandi."
"Selamat pagi , Om."
"Pagi tasya."
"Bolehkah saya menggendong baby cessa, om?" Jonatan mengangguk menyerahkan baby cessa kepangkuan tasya.
"Hallo incessa, kamu menggemakan sekali sayang. Lihat kau sangat mirif ayahmu, hidungmu, matamu sangat mirif ayahmu. Tasya tersenyum menatap bayi mungil yang terlihat nyaman di pangkuanya
"Lepaskan tangan kotormu dari putriku," teriak brain yang tiba-tiba datang. Merebut paksa putrinya dari pangkuan tasya. Seketika bayi mungil itu ketakutan dan menangis tanpa henti.
"Brain, lihatlah kau membuat putrimu ketakutan. Biarkan saja Tasya merawat baby cesaa. Biarkan dia menjalankan amanah dari almarhum mona.
"Brain, kau boleh membenciku, namun izinkan aku merawatnya," ucap tasya melihat baby cessa tetap menangis di dalam gendongan brain.
Dengan keberanianya tasya akhirnya berhasil mengambil baby cessa dari gendongan brain. Mata brain melotot menakutkan, namun seketika pudar setelah melihat Tasya berhasil membuat diam putrinya.
"Cup, cup, oOh anak pintar gak nangis lagi," ucap tasya tersenyum mengusap kepalanya.
Tangis kebahagiaan tasya pecah saat menggendong bayi mungil itu di tanganya. Ia mengayun pelan sosok mungil yang di peluknya. Meskipun masih kelas dua SMA, aura keibuanya sangat terlihat saat ia memperlakukan babby cessa dengan penuh kasih sayang. Bukan acting semata atau sekedar memenuhi janji. Tasya yang dasarnya anak semata wayang di keluarganya sangat menyukai anak kecil sebagai pelengkap kesepianya.
Semua yang ada di ruangan itu memandang kagum pada sosok tasya. Kecuali brain, di mata brain tasya hanya bersandiwara memerankan ibu tiri yang baik padahal busuk. Tasya masih saja mengayunkan baby cessa sesekali bersenandung merdu membuat bayi itu terlelap.
"Apakah dia sudah tidur?" tanya callista dengan suara lirihnya.
"Ya tante, di mana aku bisa menidurkanya?"
"Naiklah di kamar brain, di sana ada box bayi. Brain antarkan tasya ke kamarmu," perintah dari mommynya yang terpaksa di iyakan oleh brain.
"Permisi ya Om, tante, brain," ucap tasya sebelum melangkah masuk ke kamar brain.
Brain menunjukan letak kamarnya kemudian tasya dengan pelan menidurkan baby cessa dengan sedikit menepuk-nepuk bokong baby cessa. Selesai menidurkanya tiba-tiba tanganya di tarik oleh brain sampai tubuhnya menempel ke dinding.
"Lo, gak usah bersandiwara dengan akal licik lo. Katakan apa yang kau inginkan agar kau bisa segera menghilang lagi dari kehidupanku," ucap brain menatap tajam tasya. Sedangkan tasya berusaha kuat untuk memberanikahn dirinya menatap brain.
"Terserah kau menganggapku bersandiwara ataupun apa. Yang jelas aku hanya ingin memenuhi janjiku kepada almarhum mona. Terlepas kau suka ataupun tidak aku akan tetap menjalankan amanah darinya," ucap tasya hendak meninggalkan brain
"Ternyata kau pemberani juga dan sama sekali tidak takut dengan ucapanku. Baiklah kita bermain bersama, seberapa jauh kau bisa bertahan di dekatku," brain menyeringai licik memandang tasya yang masih mencoba memberanikan diri.
"Aku akan terus pada perinsipku brain, apapun yang terjadi aku kan tetap memenuhi janjikubpada mona," ucap tasya tak kalah dengan ucapan brain yang tegas.
Seringai licik brain dengan mata memperhatikan seragam yang di kenakan tasya.
"Jadi selama ini kita bersekolah di sekolah yang sama. Apa kau mengikutiku secara sembunyi-sembunyi? bahkan hidungmu saja tak pernah nampak di depan mataku."
Ucapan brain memang benar karena tasya selama ini berpenampilan culun agar brain tidak mengenalinya. Tasya merutuki kebodohanya karena lupa menutupi seragamnya dengan jaket. Karena terlalu terburu-buru datangbkemari pagi-pagi sekali. Tasya tidak menanggapi ucapan brain. Dia berlalu begitu saja keluar dari kamar brain menuju ruang utama.
"Tasya,,,sini nak kita sarapan bareng," ajak callista
"Selamat pagi kak," sapa tasya pada Axel dan Verlee yang baru terlihat pagi ini.
"Ma'af tante, saya lngsung ke sekolah saja. Tadi pagi-pagi sekali saya sudah sarapan. Ma'af jika saya tidak sopan menolak ajakan tante," dusta Tasya beralasan karena jengah melihat tatapan brain yang penuh kebencian padanya.
Sedangkan Axel yang bisa membaca fikiran brain dan tasya menggelengkan kepala. Dua siswa dan siswi berseragam SMA itu seperti perang batin dalam diamnya.
"Sekali lagi tasya minta maaf ya tante dan semuanya. Terimakasih telah mengizinkan tasya pagi ini bertemu dengan baby cessa. Tasya pamit mau berangkat sekolah dulu."
"Gak papa sayang! kalian satu sekolahan kenapa gak berangkat bersama saja," ucap callista
"No mom! aku tidak mau berangkat bareng sama dia," tolak brain
"Brain, jaga sikapmu," ucap jonatan
"Tidak usah tante, om! saya sudah ada pak sopir yang menunggu di depan. Saya permisi dulu ya om, tante, kak," timpal tasya yang di angguki callista, jontan, Axel dan juga verlee.
Gadis itu berjalan keluar rumah memasuki sebuah mobil mewah yang menunggunya di depan gerbang kediaman dirgantara.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Berjuanglah untuk meluluhkan hati Brain Dirgantara, Queena Anastasya👏
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Laila antoniii
ntar bucin kau brian
2023-01-09
1
mom_abyshaq
semangat Tasya, gass poll sampai mendapatkan brain
2023-01-08
0
rintik hujan
wah, jadi makin penasaran ini. gimna, ya nanti tasya sama brain?
2023-01-08
0