Axel mengerahkan semua anak buahnya untuk berpencar mencari keberada'an Brain. Axel juga membobol seluruh cctv di setiap jalan yang mungkin di lewati adiknya.
Lelaki jenius itu dengan mudahnya menemukan keberada'an adiknya dalam waktu setengah jam. Di pandangnya dari jarak jauh seorang lelaki berkemeja putih bercelana bahan berwarna hitam dengan jas hitam yang berada di pundaknya.
Lelaki itu adalah Brain adiknya yang saat ini terduduk di atas pusara makan almarhumah Mona.
Brain menunduk meneteskan air matanya. Bukan karena ia pria yang cengeng ataupu lemah. Itu karena ia menumpahkan beban yang saat ini ia rasakan di dalam dadanya.
Siapa yang akan sanggup menjadi dirinya di posisinya saat ini. Menyadari cintanya pada Mona saat gadis itu telah meninggal. Meninggalkanya dengan kejutan yang membuat batinya tersiksa. Mengetahui bahwa dia telah memiliki seorang putri setelah Mona tiada. Dan saat ini ia harus menikahi Tasya atas permintaan Almarhumah Mona.
Brain meraba ukiran nama yang terukir di batu nisan. Ia memandangnya seolah ia saat ini sedang memandang wajah Mona yang tengah berbaring. Di usapnya berkali-kali air matanya yang menetes.
"Seharusnya elo yang gua nikahi saat ini Mona, bukan dia. Kenapa elo tega ngelakuin semua ini sama gua. Bukankah gua dulu sudah bilang akan menikahi lo. Tapi kenapa elo pergi dan menyisakan luka yang teramat sakit di dunia ini pada gua."
Brain menggepalkan kedua tanganya menangis sejadi-jadinya saat ia mengingat kembali janjinya pada almarhumah Mona.
"Gua bahkan sudah berhenti jadi lelaki playboy hanya untu lo, Mon. Gua udah janji bakalan setia sama elo dan nikahin elo. Bukan ini yang gua mau, bukan ini yang gua inginkan, Mona."
"Elo bahagia jika gua menikahi tasya dan menjadikanya ibu pengganti untuk putri kita?Ya, gua akan menikahinya hari ini. Namun gua gak bisa menjanjikan hati gua untuk dia. Karena hati gua udah terpaut pada lo."
Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya di makam Almarhumah Mona. Brain berdiri melangkah pergi dari area pemakaman.
Sesampainya di pintu gerbang pemakaman. Seseorang memanggil brain dengan suara datarnya. Suara itu tidak asing bagi brain, karena suara itu adalah milik kakanya Axel.
"Jangan suka ngilang tanpa pamit! kau sudah membuat orang tua kita menghawatirkanmu."
"Persiakan dirimu, kita akan segera ke rumah keluarga tasya," ucap Axel menepuk bahu adiknya pelan memberi semangat
"Ya, Aku akan segera pulang dan berangkat bersama kalian. Maafkan aku jika telah membuat kalian cemas," ucap brain berjalan menuju tempat motornya terparkir.
Axel merasa lega dan dia sudah mengabari orang tuanya setelah tadi menemukan keberada'an adiknya. Brain mengendarai motornya pelan sambil memantapkan hatinya sebelum acara pernikahanya .
Hanya butuh waktu sepuluh menit, kini brain telah turun dari motornya setelah sampai di garasi kediaman Dirgantara. Callista dan Jonatan segera menghampiri anak bungsunya. Sebelumnya mereka sudah di wanti-wanti oleh Axel jangan sampai memarahi brain. Karena saat ini brain sedang menahan kesedihanya.
Callista dan Jonatan sebera berhambur memeluk putra bungsunya. Brain merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya kawatir.
"Dad, Mom! maafin brain jika brain membuat kalian kawatir. Brain hanya pergi sebentar ke kuburanya Mona."
"Ya, Nak, pakah kau sudah siap?" tanya Jonatan
"Ya, brain sudah siap, Dad."
"Kalau begitu sini Mom bantu kamu merapikan penampilanmu. Mom tidak ingin melihat wajah putra Mom yang tampan menjadi jelek jika kurang rapi."
Brain tertawa dengan ucapan Mommnya, "Aku akan selalu terlihat tampan dalam kondisi apapun, Mom," ucap brain membuat kedua orang tuanya tertawa.
"Tin, tin," suara klakson mobil di bunyikan oleh Axel berkali-kali memanggil sang penghuni rumah.
"Ayo berangkat sekarang! tidak lucu jika mempelai pria sampai terlambat," teriak Axel di dalam mobil.
"Sayang, jangan teriak-teriak seperti tukang sayur keliling," ucap Verlee yang menggendong putra mereka.
"Hehehehe, maaf sayang," ucap Axel tertawa
"Duh,,,yang nikah aku apa kamu sih kak? perasaan aku yang mau nikah, tapi kamu yang gak sabaran," grutu brain saat ia sudah masuk kedalam mobil kakaknya. Sedangkan Callista dan Jonatan mengendarai mobil mereka sendiri di belakang mobil Axel.
"Siap ya? kita berangkat," ucap Axel mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah Tasya.
Sesampainya di kediaman keluarga tasya. Mereka di sambut hangat oleh seluruh keluarga tasya yang menghadiri acara pernikahan brain dan tasya. Terutama Ferry sangat antusias menyambut calon besanya.
"Pak Jonatan bu callista selamat datang," ucap Ferry papinya tasya menyambut.
"Terimakasih pak Ferry, akhirnya kita akan menjadi besan," timpal Jonatan tak kalah senang.
"Di mana calon mantu saya pak Ferry?" tanya callista antusias.
"Tasya di kamar sedang di rias bu Callista. Di sana juga ada istri saya yang menemaninya."
"Apakah saya boleh kesana, pak?"
"Tentu saja boleh bu, silahkan."
Setelah mendapat persetujuan dari calon besan. Callista mengajak Verlee menuju kamar tempat tasya si rias.
"Tok, tok, tok," ketukan pintu terdengar dan segera di buka oleh Dona.
"Aduh jeng Callista, silahkan masuk jeng," sambutan hangat dari Dona dan callista langsung masuk melihat calon menantunya.
"Mantu Mommy cantik sekali, Mommy sampai pangling lihat kamu nak," ucap callista sambil memegang kedua tangan Tasya.
"Tante dan kak Verlee sudah datang, aduh ada anak aku sedang bobok ya," timpal Tasya tersenyum.
"Kok masih panggil tante sih? padahal kemarin sudah benar manggil Mom," protes callista.
"Maaf Mom, tasya belum terbiasa.''
"Di biasakan dong sayang, sebentar lagi kamu kan jadi menantunya Mom."
"Baik, Mom."
"Kita turun ya sayang?" ucap Dona mengajak putrinya turun.
Tasyapun turun dengan perasaan yang sangat gugup. Di dampingi Maminya, callista dan juga verlee di sampingnya.
"Tunggu mi! sebentar tasya mau mengatur nafas dulu," ucapnya gugup.
Di rasanya cukup, Dona dan callista pun mengajak Tasya turun. Suara ramai yang tadinya mengisi ruang tamupun seketika menghilang ketika semua mata tertuju pada tasya yang begitu anggun dan cantik. Terutama brain yang memandang tasya tanpa bisa di artikan.
Kegugupan Tasya semakin bertambah saat tanpa sengaja ia melihat brain menatapnya dari jauh. Dona mengajak tasya untuk mendekat kepada calon suaminya dan menyuruhnya duduk di samping suaminya.
Tasya menarik nafas dalam-dalam sambil menggenggam tangan maminya. Dona yang menyadari kegugupan putrinyapun membisikan sesuatu.
"Putri mami jangan gugup? ada suami ganteng yang mau bacain ijab kabul," ucap Dona bukanya membuat tasya tenang malah semakin membuat putrinya deg-degan.
Brain memandang Tasya dari jarak dekat. Ternyata wajah calon istrinya itu semakin memancarkan aura kecantikanya dari jarak yang lebih dekat.
"Ehemmm, mempelai wanitanya sudah siap. Apakah acara ijab kabulnya bisa kita mulai bapak-bapak dan ibu-ibu hadirin semuanya?'' brain mengangguk siap
"Bapak Ferry dan nak Brain ikuti ucapan saya ya,'' ucap pak penghulu.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Brain Dirgantara bin Jonatan Dirgantara dengan anak saya yang bernama Queena Anastasya dengan maskawin perhiasan emas total 20 karat dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Queena Anastasya binti Ferry sanjaya dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.
"Sah," ucap semua orang yang hadir secara bersama'an.
"Alhamdulillah."
"Selamat kalian telah resmi menjadi suami istri."
Tasya masih diam terpaku tak percaya akhirnya ia telah syah menjadi istri cowok yang di cintainya. Melihat Tasya hanya diam saja, Dona mendekat dan berbisik di telinga putrinya.
"Sya, cium tangan suamimu," ucap Dona membuat tasya yang tidak tahupun menjadi bingung. Tasya menghadap ke arah brain. Ia menatap brain sekilas kemudian meraih tangan kanan brain untuk di cium. Brainpun yang gugup hanya diam saja dan sebenarnya dia juga bingung harus bahagiamana.
"Di cium keningnya dong brain istrimu," ucap Axel mendapat lirikan dari brain. Mau tidak mau terpaksa brain mendekatkan dirinya pada kening tasya dan menciumnya singkat.
Seperti terkena sengatan listrik, begitulah perasa'an tasya saat ini ketika di cium brain. Bahagia tentu saja saat ini ia bahagia. Berbanding terbalik dengan brain yang merasa sangat terpaksa menjalankan pernikahan ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Cieh yang sudah sah🤭
Hai Readers, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, subsribe, ya 🤭
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
teti kurniawati
mau gak tukeran iklan novel?
2022-10-29
1