Tasya masih duduk di taman belakang berharap brain akan segera keluar membawa baby cessa. Entah mengapa bayi imut itu membuat Tasya ingin selalu berada di dekatnya. Bukan karena janjinya pada almarhum mona saja. Tasya memang benar-benar tulus menyayangi baby cessa seperti putrinya sendiri.
Tasya membayangkan suatu hari ia bisa menikah dengan brain. Menjadi istri yang setiap hari bisa memandang wajah tampan cwo yang di cintainya. Dan setiap hari bisa menemani baby cessa seperti anaknya sendiri.
Entah mengapa membayangkanya saja ia sudah merasa sangat bahagia. Apalagi jika itu benar-benar terjadi. Tanpa sadar gadis itu tersenyum sendiri membayangkanya.
Brain dan putrinya yang baru saja keluar dari kamarnya memastikan apakah tasya sudah pulang atau belum. Di lihatnya seorang gadis di taman belakang sedang tersenyam-senyum sendiri. Brain mengeryitkan alis mencoba memastikan lebih dekat. Brain semakin mendekat melihat tasya yang masih saja terhanyut dalam lamunanya.
"Ternyata lo sudah gila ya, senyam-senyum sendiri. Kesambet setan penunggu taman ini mungkin," ucapan Brain membuat tasya tersadar dari lamunanya. Bayangan indah yang baru ia bayangkan musnah di terjang kenyata'an yang tak seperti bayanganya.
"Baby cessa, yuk ikut bunda," ucapnya mencoba mengambil alih baby cessa dari gendongan tasya
"Sejak kapan gua nikah sama lo, lo nyebut diri lo bunda hah?"
"Please brain, jangan mempermasalahkan sebuah panggilan."
"Tentu saja masalah karena lo bukan bundanya baby cessa. Bunda baby cessa hanya almarhum mona asal lo tahu."
"Aku tahu, dan gak perlu di perjelas semua tahu kalau aku bukan bundanya baby cessa. Tapi please biarkan baby cessa memanggilku bunda, setidaknya aku akan menggantikan almarhum mona untuk menjadi bundanya."
"Hahahaha, mimpi saja sono di tempat tidurmu. Dah sore pulang sono, hampir malem juga. Jangan lupa langsung tidur biar langsunv mimpi."
"Ain, kenapa sih kamu segitu benci banget sama aku. Apa sih salah aku? aku hanya ingin menjalankan amanah dari almarhum mona. Kalaupun kamu keberatan kita menikah, kita tidak perlu menikah. Lagian aku gak mau nikah sama orang yang gak cinta sama aku. Tapi please, biarkan aku menggantikan almarhum mona untuk menjadi bundanya baby cessa. Aku gak minta lebih brain, aku tahu aku melakukan kesalahan fatal. Apakah aku harus menerima hukuman yang paling berat agar kamu mau memaafkanku. Atau kamu bunuh saja aku, biar aku mati dan bisa berkata pada almarhum mona jika aku sudah berusaha menjalankan amanahnya," ucap tasya panjang lebar dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu ia melangkah pergi meninggalkan brain dan kediaman dirgantara.
Sedangkan Brain tercengang dengan perkata'an tasya barusan. Ia memandang langkah tasya yang semakin menjauh dan hilang dari pandanganya.
Callista yang baru tiba dari acara arisanya pun memandang penuh tanya saat melihat Tasya berlari keluar dari rumah sambil menangis. Callista membuka pintu mobil berjalan memasuki rumah lalu mencari keberada'an putra sulungnya.Ia yakin pasti putra sulungnyalah yang membuat tasya menangis.
"Brain, di mana kamu."
"Brain."
"Ada apa sih mom teriak-teriak," tanya Jonatan yang baru keluar dari ruang baca.
"Itu loh Dad, barusan Mom lihat tasya berlari sambil menangis. Pasti ini ulah brain yang membuatnya menangis," ucap Callista melanjutkan mencari putra sulungnya.
"Brain, di mana kamu."
Di lihatnya di dalam kamar kosong kemudian callista mencoba mencari di tempat lain. Ternyata yang di cari sedang duduk di taman belakang rumah.
"Brain, bawa masuk putrimu, hari mulai gelap tidak baik jika bayi di luar rumah," perintah Callista pada brain dan di angguki brain.
"Putri ayah, mari kita masuk ke dalam rumah ya."
Setelah brain dan putrinya sudah masuk ke dalam rumah. Callista memanggil brain kembali dan brainpun mengeryitkan alisnya.
"Ada apa Mom?"
"Kau apakan Tasya?"
"Maksud Mom apa sih?"
"Tadi mom lihat tasya berlari keluar rumah sambil menangis. Pasti ini ulahmu kan?jawab brain kau apakan tasya?"
"Oh,,,dia saja yang lebay," ucap brain santai
"Kalian akan menikah, tolong jangan buat anak orang sedih."
"Lagian siapa sih Mom yang mau nikah sama dia."
"Mau gak mau kamu harus menikah. Karena ini amanah dari almarhum mona. Pamali jika kita tidak menjalankan amanah orang yang sudah meninggal," ucap callista
"Kita akan menemui orang tua tasya," sahut Jonatan ikut berbicara
"Ah, kalian semua main memutuskan sendiri tanpa meminta persetujuanku,'' ucap brain kecewa
"Tidak perlu persetujuanmu, ini sudah yang terbaik untuk masa depan kalian dan baby cessa," timpal jonatan
"Terserah," ucap Brain pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan masuk ke kamarnya kembali.
Sedangkan tasya yang masih menangis di dalam mobil membuat sopirnya kebingungan.
"Non tasya kenapa sih tiba-tiba menangis? kita jadi langsung pulang ke rumah atau kemana nih, non?" tanya pak pur sopir pribadi keluarga tasya
"Sebentar pak, biar saya tenang dulu. Nanti Papi dan Mommy melihat mataku pasti banyak tanya."
"Tapi ini sudah malam, nanti pak pur di marahin papi non tasya."
"Tenang saja pak, pak pur gak akan di marahi papi. Tasya sudah bilang sama papi kalau tasya lagi main di rumah teman ngerjain Pekerjaan Rumah (PR)."
"Dosa loh non bohongin prang tua," ucap pak pur
"Ya kan gak semuanya bohong pak, tasya memang benar main ke rumah teman kan."
Panggilan telpon masuk dari brain di abaikan oleh tasya. Hingga lima kali panggilan terus saja di tolak oleh tasya. Tasya saat ini masih kecewa dengan sikap brain kepadanya.
Hingga brain mengiriminya chat lewat whatsapp. Tasya cuma melirik tanpa ingin membacanya. Perasa'anya saat ini masih terluka karena ucapan brain tadi sore.
"Pak pur, tasya lapar! di mana makanan yang enak pak?"
"Aduh non tasya, pak pur tidak tahu selera anak muda. Yang pak pur tahu ya cuma makanan di pinggir jalan doang non. Pak pur tidak yakin non tasya akan suka."
"Memangnya kenapa kalau di pinggir jalan?" tanya tasya
"Nanti non bisa sakit perut! non tasya kan tidak terbiasa makan makanan pinggir jalan."
"Kata siapa? aku sering kok makan bakso di pinggiran jalan dekat sekolah bersama temanku."
"Beneran non tidak akan kenapa-kenapa jika makan di pinggir jalan?"
"Aman pak pur."
"Bagaimana jika makan mie ayam non? pak pur punya langganan enak banget."
"Jalan pak pur, kelihatanya enak dan cocok. Aku ingi makan yang pedas saat ini."
"Tapi kalau non sakit perut nanti pak pur di marahin mommy dan papi non tasya bagaimana?"
"Aman lah pak! tidak perlu takut.Ayo segera kesana aku sudah lapar. Ternyata menangis bisa bikin energiku habis hehehe."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Duh, teganya si Brain
Sabar-sabarin dulu, Sya🤭
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
FUZEIN
Brain marah2 sayang ye dengan tasya
2023-10-13
1
juli
untunglah tasya menyayangi anak mona😌😁
2023-01-09
0