"Sya ke kantin yuk, laper."
"Duh Deb, aku masih ngeri kalau ketemu dia."
"Dia? dia siapa? Brain maksut lo sya?" tanya Debby di angguki Tasya.
"Oh ya gua lupa, kok kayaknya kalian dekat banget sih. Sampai-sampai brain ke kelas kita, jarang-jarang loh dia nyamperin cwe, biasanya malah dia yang di samperin cwe.
"Dia mantan aku," ucap Tasya lirih.
"Whattttttttt?" teriak Debby langsung di bungkam mulutnya oleh tasya.
"Gak usah teriak keceng-kenceng lah Deb, suaramu yang beroktaf tinggi bikin kuping aku budek," Dengus tasya sebal.
"Gila, gila bener, sumpah lo gila bener sya, bagaimana bisa lo pernah pacaran sama brain cwo terganteng dan terpopular seantero sekolah ini."
"Ya kenyata'anya memang gitu gima dong."
"Lo bener-bener beruntung sya, pernah jadi pacarnya brain."
"Menurutmu beruntung ya," tanya tasya tersenyum getir.
"Ya beruntung lah, gua aja yang pengen jadi pacaranya, boro-boro jadi pacar, di lirik aja kagak."
"By the way gimana rasanya pacaran sama dia, sya?"
"Menyakitkan," jawabnya singkat
"Kok menyedihkan sih, bukanya bangga gitu. Secara lo cantik dan dia ganteng, cocok banget tau, sya."
"Dia cuma mainin aku," timpal Tasya terlihat sedih mengingat kenanganya bersama brain.
"Duh, kok lo jadi sedih gini sih, maaf ya sya, jangan sedih lagi. Lo perlu energi lagi sya, yuk makan ke tantin yuk."
"iiiiiiich kamu tuh teman sedih malah di suruh makn ke kantin sih."
"Ya bener kan? daripada lo sakit gak makan karena belum bisa move on dari mantan hehehehe."
"Ya udah, ayuk, daripada kamu ngomel terus,makin pusing aku,Deb."
Saat berjalan menuju kantin, Tasya dan Debby berpapasan dengan brain. Debby yang penasaran bagai mana reaksi mantan sepasang kekasih itu mendorong Tasya hingga tubuhnya menabrak brain.
"Wooi matanya di pakai kalau jalan, nyet,,,lo sengaja kan nabrak gua," bentak brain melihat wajah tasya yang semakin kesal.
Debby yang melehat reaksi brain dan tasyapun seketika kaget. Pasalnya mereka berdua seperti musuh bebuyutan.
"Eh ada brain! sorry ini bukan salah tasya, tadi gua yang gak sengaja nyenggol dia sampai nambrak elo.
Brain tidak menanggapi sedangkan tasya semakin di buat kesal oleh brain. Belum juga soal perkata'an brain yang menyakitkan kemarin. Di tambah lagi bentakan dia barusan. Tasya segera melangkahkan kakinya sambil menghentak-hentakan kakinya meninggalkan Deddy yang masih cari perhatian brain. Brain menyeringai melirik tasya yang terlihat marah padanya.
"Sya, tunggui gua woi main pergi aja," triak Debby berlari menyamakan langkahnya dengan tasya.
"Kok cinderella yang cantik balik jadi cupu lagi ya bro," cletuk boy
Brain tersenyun kepada boy lalu menoyor kepalanya.
"Bukan urusan gua, mau dia cindella atau monyet sekalipun," ucap brain melangkah pergi.
"Dasar Kambil lo," teriak boy tak terima di toyor kepalanya oleh brain.
________
Waktu bell pulang sekolah tasya bergegas keluar menunggu sopirnya datang. Ia sudah sangat rindu dengan baby cessa. Sebelumnya ia harus memastikan di mana saat ini brain berada. Karena jika brain ada di rumah akan sangat sulit ia bertemu dan bermain bersama baby cessa.
Saat tasya hampir sampai di gerbang sekolah. Gadis itu tak sengaja melihat brain di peluk oleh sesil. Tasya memalingkan muka seolah tidak tahu. Dalam hatinya yang paling dalam merasa sakit dan cemburu lelaki yang ia cinta di peluk gadis lain.
Brain yang menyadari keberada'an tanya segera melepaskan pelukan sesil. Sekilas ia melihat tasya tadi sempat melihatnya di peluk oleh sesil.Ingin Rasanya brain
Tasya terus melangkah hingga sampai di gerbang. Ia menengok kanan dan kiri mencari sopir yang menjemputnya. Di lihatnya jam, ia sudah menunggu hampir satu jam namun sopir pribadinya belum juga tiba. Brain yang baru saja keluar dengan mengendarai motor sportnya berhenti tepat di depan tasya.
"Lo mau nemuin baby cessa gak? kalau iya buruan naik."
"Gak usah terimakasih, sebentar lagi sopirku sampai," Tolaknya dengan wajah yang susah di artikan.
"Ya sudah kalau gak mau," timpal brain segera melajukan motornya pulang.
Tasya terus memandang kepergian brain hingga tak terlihat. Tak lama kemudian sopirnya tiba membawanya menuju kediaman dirgantara.
"Sayang, icess tantik! udah mandi ya? huyum banget cih, siapa yang mandi'in? grandma ya."
"Sya, kamu sudah datang, nak?"
"Selamat sore tante, iya saya baru saja sampai, tan."
"Sudah makan, nak?"
"Sudah , tante."
"Icess tantik sudah makan apa beyum cih?" tasya mengajak baby cessa bercanda. Bayi itupun merespon tertawa ceria.
"Icess kangen bunda ya sayang? maafin bunda ya baru datang. Sini sayang ikut bunda mumpung ayah belum pulang hehehe."
Tasya menggendong baby cessa membawanya ke depan rumah menunggu kepulangan brain. Rasanya ia seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang sambil menggendong bayinya.
Walaupun brain menolak menikah denganya, setidaknya berhayal tidak ada salahnya. Entah apa yang kurang pada dirinya sehingga brain tidak bisa menerimanya. Ia cantik, pintar, hampir memenuhi kriteria cwe sempurna.
Terdengar suara motor berhenti di garasi pertanda seseorang yang ia tunggu sudah datang. Brain melangkahkan kakinya dilihatnya tasya sedang berdiri sambil mengayun-ayunkan putrinya. Brain menghampiri mereka dan segera mencium bayinya.
"cup."
"Putri ayah, ayah pulang sayang! baby cessa nungguin ayah pulang ya," ucap brain lembut kepada putrinya.
Interaksinya bersama putrinya tak terlewatkan dari penglihatan tasya. Entah kenapa sikap brain langsung lembut jika berhadapan dengan putrinya.
"Andai saja kamu bisa selembut ini juga kepadaku," gumamnya dalam hati menatap wajah tampan yang sangat dekat di depan matanya.
"Gua udah tahu kalau gua ganteng, jadi biasa aja kali kalau ngliatin gua. Seperti tidak pernah lihat kegantengan gua saja," celetuk brain membuat tasya tersadar."
"Sinikan anak gua, gua mau gendong."
"Cuci tanganmu dulu! kau dari luar harus cuci tangan sebelum menggendong baby cessa."
"Kok lo jadi ngatur gua sih?" protes brain
"Bukanya aku ngatur, tapi alangkah baiknya memang begitu."
"Oke, oke gua sekalian mandi dulu, nitip anak gua," ucap brain di angguki tasya, setidaknya tasya cukup senang brain mau mendengarkan ucapanya walau hanya menyuruhnya mencuci tanganya.
"Sayang!" panggil callista.
"Iya tan."
"Begini, tante dan om rencananya ingin bertemu dengan keluargamu. Apakah Mama dan Papamu ada di rumah nak?"
"Oh, Mereka biasanya selalu sibuk tante, tetapi jika tante dan om mau bertemu mama dan papanya tasya, tasya akan bertanya dulu dengan mereka kapan mereka di rumah."
"Baiklah, kabari tante secepatnya ya, nak. Tante dan om ingin melamar kamu."
"Deg," Tasya kaget sekaligus tidak menyangka bahwa keluarga brain akan melamarnya. Benar-benar seperti mimpi dan jikapun ini mimpi ia cukup merasa sangat bahagia.
"Tante dan Om serius ingin melamar saya? tapi apakah brain bersedia menikah dengan saya, tan?"
"Mau tidak mau dia harus menikah denganmu, karena pamali jika kita tidak menuruti amanah orang yang sudah meninggal."
"Jadi pernikahan ini hanya sekedar menjalankan amanah tanpa cinta. Apakah aku mampu hidup dengan brain tanpa ia mencintaiku? tapi tak apa asal ada kamu,sayang," gumamnya melirik bayi yang tersenyum memandangnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Sabar-sabarin dulu si Brainya, sya😐...
...Lanjut atau tidak? Jangan lupa like, coment, subsribe 👌...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments