Setelah acara pernikahan brain dan tasya selesai. Dan sekiranya para tamu undangan yang merupakan kerabat dekat sudah pulang. Hanya tersisa Dona, Ferry, Jonatan, Callista, Axel, Brain dan juga Tasya.
Karena pernikahan brain dan tasya begitu cepat dan tidak sempat membahas soal mereka kedepanya. Dua keluarga yang telah menjadi satu itupun berkumpul untuk membahas tentang brain dan tasya kedepanya.
Tasya yang tak kenal lelah masih menggendong baby cessa bersama verlee dan bayinya. Sedangkan yang lain sedang duduk di ruang keluarga.
"Sya sini sayang, mami dan papi ingin menggendong cucu kami."
Mendengan perkata'an Dona barusan membuat Brain tersenyum. Setidaknya putrinya di terima dengan baik di keluarga tasya.
Tasya yang mendengar panggilan dona, melirik brain seolah minta izin pada ayah si bayi. Brain mengangguk memberi isyarat mengizinkan.
Tasya menghampiri mami dan papinya dan menyerahkan baby cessa yang sangat menggemaskan.
"Pi lihat pi, cucu kita," ucap Dona antusias menggendong baby cessa yang terlihat cubby di usianya yang hampir genap tujuh bulan.
"Siapa namanya, sya?" tanya ferry.
"Namanya princessa Moana pi, biasa di panggil baby cessa," jawab tasya ikut duduk di samping maminya.
"Nama yang sangat cantik," ucap ferry sambil mengajak bercanda baby cessa.
"Kalian tidak capek? sya, ajak suamimu istirahat di kamarmu, nak," ucap Dona seketika membuat brain dan tasya saling pandang.
"Tidak usah tante, saya nanti ikut pulang bersama keluarga yang lain."
"Kok tante sih, nak? panggil mami, kan kamu sekarang sudah jadi mantu mami," timpal dona memberitahu.
"Kamu malam ini tidur di sini saja temani istrimu. Kami pulang berempat dan baby cessa akan pulang bersama kami," ucap Jonatan pada putra bungsunya.
"Tapi dad! kenapa aku harus tidur denganya? lagian besok kami masuk sekolah," ucap brain protes.
Callista memukul lengan anak bungsunya karena sikap putranya.
"Gimana sih brain! kalian kan sudah menikah. Apa salahnya tidur bersama?" timpal callista.
"Tapi kami masih sekolah Mom, brain gak ingin sampai lepas kontrol kalau sekamar sama dia."
Tasya membenarkan ucapan brain. Bagaimanapun status mereka sekarang. Mereka tetaplah seorang pelajar.
"Brain benar Mom, kami masih pelajar. Sangat bahaya jika kami sekamar berdua."
Kedua orang tua itu mengangguk juga membenarkan. Lagian mereka sudah memiliki cucu. Tidak lucu jika mereka berkata meminta cucu lagi di saat anak-anak mereka masih SMA.
"Tenang, di sini ada banyak kamar. Kalian bisa pisah kamar selama kalian masih sekolah. Lagian kami gak cepat-cepat minta cucu dari kalian. Kan kita semua sudah punya Baby cessa yang cantik ini.Iya kan sayang, duh gemesin banget ya mi?" timpal Ferry.
"Kau benar pi! sya, antar suamimu istirahat di kamar sebelah kamarmu, nak."
Tasya menuruti perintah maminya, karena masih berada di antara merekapun percuma. Yang ada tasya makin di buat malu dengan ucapan kedua orang tuanya. Tasya mengajak brain ke kamar yang di maksud. Mereka naik bersama karena lokasi kamar ada di lantai atas.
Di bukanya pintu menampakan kamar yang sangat luas. Di dekorasi warna putih keseluruhan beserta isinya. Brain bergidik ngeri saat memasuki kamar yang persis seperti rumah sakit yang serba putih.
"Istirahatlah, brain, aku juga lelah ingin istirahat. Kalau ingin sesuatu tinggal panggil aku saja. Di situ ada kamar penghubung kamarku dan kamarmu.
"Apa lo gak punya seprei selain warna putih? gua ngeri lihatnya kalau serba putih semua," ucap brain yang memandang seluruh sudut ruangan kamar.
"Ow tunggu sebentar, Aku akan menanyakanya pada asisten bik inah dulu. Karena biasanya bik inahlah yang memasang sprei di kamar ini."
Tasya memencet tombol penghubung antara kamar yang akan di tempati brain dengan dapur. Di panggilnya asisten rumah tangga yang ia panggil bik inah untuk datang.
Tak butuh waktu lama orang yang ia panggil telah tiba. Tersenyum memandang tasya yang juga tersenyum kepadanya.
''Bibik, apakah ada seprei selain warna putih?"
"Ada non,,,biar bibi pasangkan! sepreinya ada di sini non tasya," ucap bi inah memberitahu.
"Terimakasih ya bik! biar saya saja yang memasangnya sendiri. Bik inah istirahat saja, bik inah pasti capek melayani begitu banyak tamu undangan tadi.
"Gak papa kok non, biar bibik bantu."
"Gak usah bik, biar saya saja dan tasya yang memasangnya," timpal brain membuka suara.
"Baik den brain, kalau begitu bibik permisi dulu ya Non, den."
"Ya bik, silahkan," sahut tasya tersenyum.
Tasya segera mengambil seprei yang di tunjuk bi inah tadi. Dengan telaten tasya mengganti seprei lama dengan seprei yang baru. Brain hanya memperhatikanya saja tanpa ada niatan untuk membantunya sedikitpu.
Hingga tasya selesai memasang sepreinya. Ia menoleh hendak memanggil brain. Namun ucapanya menggantung saat pria yang baru saja resmi menjadi suaminya telah tertidur di sofa kamar itu.
Tasya mengbil bantal dan melangkahkan kakinya menghampiri suaminya. Dengan sangat pelan dan hati-hati tasya mengangkat kepala brain dan meletakan bantal di bawah kepalanya.
Brain yang belum tidur sepenuhnya membuka matanya. Iya memandang wajah mulus tasya dari jarak dekat.
Tasya seketika kaget saat mata mereka berdua saling bertemu. Gadis itu segera menjauh saat di rasa jantungnya mulai merasakan hal aneh.
"Mmma'af brain, aku hanya memberimu bantal untuk bersandar agar kepala dan lehermu tidak sakit. Kalau begitu aku ke kamar dulu, panggil aku
jika butuh sesuatu," ucapnya gugup segera membuka pintu penghubung dan segera masuk.
Setelah menutup pintu, Tasya meraba dadanya yang berdetak kencang.
"Hampir saja jantungku terlepas dari tubuhku," gumam Tasya lirih.
Tasya langsung duduk di meja rias untuk menghapus make up tebal yang menpel di wajahnya. Setelah membersihkan wajahnya, ia masuk ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya ke dalam bathup.
Aroma terapi dan air yang segar mampu sedikit menghilangkan rasa lelahnya. Ia keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di dadanya yang panjangnya hanya sebatas paha.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa," teriak tasya saat melihat brain berada di kamarnya. Brain berlari menghampiri tasya dan membungkam mulutnya yang sedangberteriak.
"Hei, diam! lo gila teriak sekenceng itu? bikin gendang telinga gua mau pecah," ucap brain membuat mata tasya melebar sembari tanganya menutupi dada.
"Kamu ngapain ke kamarku brain? keluar, gak sopan banget nyelonong masuk ke kamar cewek tanpa permisi."
"Memangnya kenapa apa yang salah?" sahut brain melirik penmpilan tasya yang hanya memakai handuk sebatas paha. Brain yang baru saja menyadarinya menelan ludahnya dengan susah payah.
"Hei,,,apa lihat-lihat?tutup matamu brain," teriak tasya lagi-lagi di bungkam mulutnya oleh brain.
"Elo ngapain sih teriak-teriak kayak mau gua perkosa saja. Lagian body tepos gak ada menariknya sama sekali di mata gua," bohong brain
Tasya melirik tubuhnya yang terlilit handuk setelah mendengar ucapan braian.
"Enak saja ngatain aku tepos," gerutu Tasya.
"Emang elo bodynya tepos kok," sahut brain masih memancing amarah istrinya.
"Enggak," ucap Tasya jengkel
"Masak sih?coba lihat," goda brain menahan tawanya.
"Gila! kamu gila brain, keluar dari kamarku."
"Enak saja, aku kesini mau tanya sama elo ada baju ganti buat gua gak?"
"Nanti aku kasih! sekarang kamu keluar dari kamarku," ucap tasya mendorong brain sampai ke pintu pembatas kamarnya dan kamar brain.
Brain hanya menahan tawanya berasa mendapat mainan yang sangat menarik. Sedangkan tasya langsung menutup pintu pembatas dengan sangat keras. Kemudian ia menyambar baju gantinya dan berganti ke dalam kamar mandi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
...Astaga! Sudah suami istri, gak papa kali buka dikit🤭...
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments