pindah rumah

Tasya menghentak-hentakan kakinya saat melewati kamar brain. Ia berjalan sok acuk pura-pura tidak melihat suaminya yang sedang melipat tanganya di depan pintu sambil memperhatikan tingkah istrinya.

"Dalam hadist Rusulullah bersabda, Jika istri mengabaikan su,,,

"Stop! aku sudah tahu kelanjutanya," ucap Tasya ketus.

"Nah tuh pintar, jadi kemarilah," printah brain

"Gak mau, aku mau ke kamarku."

"Dosa kalau kamu gak nurut kata suami," ucap brain dalam hatinya bersorak karena mempunyai senjata ampuh untuk mengerjai Tasya.

"Kenapa sih, setelah kita menikah dan mentang-mentang kamu suamiku. Kamu sekarang bentar-bentar bilang Dosa. Aku gini gitu katamu dosa,,,jadi ustadz dadakan," grutu Tasya

"Bukankah ini yang kamu mau? menjadi istriku tidak semudah yang kamu bayangkan, sya."

"Menyesal aku nikah sama kamu, huh," ucapnya ketus lalu memasuki kamarnya.

Sedangkan brain mengikutinya masuk ke dalam kamarnya. Tasya membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Brainpun mengikuti Tasya berbaring di atas ranjang. Tasya masih dalam mode pura-pura tidak menganggap brain ada. Di bukanya buku matematika karena memikirkan rumus matematika lebih gampang daripada memikirkan rumah tangganya yang membuatnya pusing.

Brain kesal karena di cueki oleh istrinya.Ia membuka layar handphonenya yang sedari kemarin belum ia lihat. Di bukanya aplikasi tik-tok yang memperlihatkan vidio brain yang memakai baju koki sangat keren. Brain tersenyum membaca comentar yang mayoritas adalah kaum hawa.

Tasya melirik kepo hal apa yang membuat suaminya tersenyum sendiri. Bibirnya langsung menyebik ketika di lihatnya comentar cewek-cewek genit yang memuji suaminya.

Melihat istrinya tidak ada tanggapan, brainpun berdiri dan memperhatikan sekeliling kamar tasya.

"Lo belum ngemasin baju? atau lo sengaja gak ingin ikut gua?"

"Kenapa harus buru-buru sih? nanti agak siangan kan bisa?"

"Gua kangen sama anak gua! setengah jam lo belum ngemasin barang-barang lo, mending lo gak usah ikut gua. Lo tinggal saja di rumah ini sendiri," ucap brain ketus lalu pergi memasuki kamarnya lewat pintu pembatas.

"Menyebalkan banget sih? kenapa sih aku bisa cinta sama cowok mudel kayak dia. iiiiiiiich bodoh, bodoh, bodoh, menyebalkan," grutunya sambil membuka travel bag miliknya dan mulai memasukan barang-barangnya.

Selang satu jam kemudian mereka sudah sampai di kediaman dirgantara. Pertama yang mereka cari adalah keberada'an baby cessa. Bayi yang sudah mulai tumbuh besar dan menggemaskan.

Nampak seorang baby sister yang sedang bermain dengan baby cessa dan baby Anxel putranya Axel kakaknya brain.

Bayi yang menginjak umur tujuh bulan itu berteriak senang saat melihat brain dan tasya mendekatinya. Seolah ia sudah mengenali ayah dan bundanya.

Tasya sangat bahagia karena kini baby cessa telah resmi menjadi putrinya. Baby cessa merengek minta di gendong oleh tasya. Tasyapun segera mengambil alih bayi itu dari gendongan brain. Brain kesal karena putrinya sekarang sangat lengket dengan tasya.

"Sayang, putri bunda yang cantik sedang apa? baby kangen sama bunda ya nak? maafin ayah dan bunda ya sayang."

Seolah bisa merespon ucapan Tasya, bayi itu tertawa riang sambil menatap wajah tasya yang juga memandangnya penuh sayang.

"Oh, ayah cemburu! baby cessa sekarang gak mau di gendong ayah ya?"

Tasya hanya tersenyum melihat ekspresi brain. Sesekali ia juga mengajak bicara baby Anxel yang juga tertawa memandang tasya.

Brain tidak memungkiri, di lihatnya tasya memang terlihat tulus menyayangi putrinya.Namun rasa kecewanya pada gadis itu belum juga hilang. Jangankan membuka hati untuknya, di dalam hatinya saat ini hanya ada satu nama yaitu Mona.

"Titipkan baby cessa sama mbaknya, kamu susun barang-barangmu di kamarku sekarang," perintah brain.

"Apa kita satu kamar?" tanya tasya kaget.

"Tentu saja! gak ada kamar lain di sini,,yang ada kamar pembantu. Lo mau tidur di kamar pembantu dekat daput sono?"

Tanpa menanggapi perkata'an brain yang menyebalkan. Tasya pun segera masuk ke dalam kmar brain. Di lihatnya semua travel bag miliknya sudah berjjar rapi di dekat lemari.

"Lemari itu boleh lo pakai buat naruh baju lo," ucap brain yang ternyata ikut masuk ke kamarnya.

Ketika ia membuka lemari, tiba-tiba ada selembar foto terjatuh di lantai. Brain secepat kilat segera mengambil selembar foto itu. Tasya yang sempat melihatnyapun hanya tersenyum getir. Ternyata suaminya masih menyimpan ftonya bersama almarhumah Mona.

"Sadar sya, kamu di beri kesempatan untuk menjalankan amanah itu saja sudah mending. Gak usah mengharapkan cinta yang mustahil akan terbalas," Batin tasya berkata.

Tasya mencoba tersenyum sambil menata baju dan buku-bukunya. Brain tetap memperhatikan segala gerakan istrinya yang lincah menyusun barang-barangnya di dalam lemari.

Selesai menyusun, Tasya melangkahkan kakinya menuju ranjang. Tidak peduli brain yang juga duduk di atas ranjang, ia memejamkan matanya tidur karena tubuhnya sangat lelah.

Brain melirik tasya dengan matanya yang terpejam. Karena tak ingin menganggu tidur tasya, brainpun keluar dari kamarnya. Gak lucu jika ia masih berada berdua dalam satu kamar.

Sebelum membuka pintu,brain melihat handphone tasya yang tergeletak di lantai. Mungkin gadis itu tidak sadar jika handphonenya jatuh. Di ambilnya oleh brain dan berniat ingin menaruhnya di atas nakas.

Tiba-tiba handphone tasya menyala menampakan fotonya dan brain waktu SMP. Berain tersenyum getir setelah melihatnya.

"Secinta itukah elo sama gua?" ucapnya meletakkan handphone tasya di atas nakas lalu keluar meninggalkan tasya sendiri di kamar.

Brain menuju balkon kamarnya hanya sekedar ingin merokok. Sembari memandang langit yang sangat cerah.

Rasa-rasanya brain masih tak percaya satu hari yang lalu iya telah menikah. Menikahi dengan mantan pacarnya sendiri.

Memang Tasya sangat cantik bahkan lebih cantik dari mona. Namun brain tak mampu menggeserkan posisi mona di hatinya. Ia terlanjur berjanji akan setia pada mona dan meninggalkan kebiasaaan playboynya dulu.

Di matikanya rokok yang hampir habis ia sesasap. Brain kembali masuk ke kamarnya sambil melirik tasya yang masih tertidur pada posisi yang sama. Brain menyelimutinya lalu membuka lemarih dan mengambil jaketnya.

"Mungkin pergi ke cafe lebih baik daripada di rumah saat ini," gumamnya kemudian di sambarnya kunci motor lalu iapun pergi.

Sesampainya di lantai bawah brain menemui putrinya dulu yang masih berada di ruang bermain bersama baby sisternya baby Anxel.

"Anak ayah yang cantik, ayah pergi kerja dulu ya sayang. Cessa main dulu sama mbaknya lagi ya," ucapnya menciumi wajah cubby putrinya.

"Mbak nitik Cessa dulu ya, klau rewel kasihkan saja sama bundanya, ia tidur di kamar," pesanya pada baby sister dan iapun melangkah pergi meninggalkan putrinya yang melambaikan tanganya seolah telah terbiasa dan tahu ayahnya pergi kerja. Brainpun tersenyum membalas lambaian tangan mungil anaknya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sudahlah Brain, kasihan si tasya

Buka hati kamu, atau perlu aku bukain 🤭

Atau di bukain para readers🤭

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Terpopuler

Comments

teti kurniawati

teti kurniawati

saya mampir.. ☺

2022-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan setelah sekian lama menghilang
2 Kebencian Brain pada Tasya
3 Mencari tahu tentangnya
4 Mencuri waktu
5 Mengabaikan brain
6 Terbongkar penyamaran tasya
7 Rencana lamaran
8 Jelma'an malaikat pencabut nyawa
9 Lamaran
10 Berangkat bersama
11 fitting kebaya
12 Brain menghilang
13 Syah
14 Kejadian di malam pertama
15 Kelicikan pasutri muda
16 pindah rumah
17 Gagal lagi
18 satu ranjang
19 Berebut tasya
20 melayani suami
21 Kecewa & Cemburu
22 Gagal menghukum
23 Membalas sang suami
24 Kecemburuan Tasya dan Brain
25 Pura-pura marah
26 Menggoda tasya
27 Sisi lain brain
28 di introgasi
29 Kejadian di kamar
30 Ketahuan
31 Menemukan anak asing
32 Dua anak cukup
33 Quality Time
34 Menghindar dari Boy dan Benny
35 Mencintainya
36 Ke panti asuhan
37 I Love You,Sya
38 Memulai kembali dari awal
39 pura-pura
40 Setatus pacaran
41 Bucin
42 membobolkan gawang pertahanan
43 Kesalah fahaman
44 Baikan
45 duo bucin kembali ke sekolah
46 ke cafe brain
47 Benny tahu semuanya
48 Gara-gara Benny
49 Kematian orang tua Tasya
50 Suasana Duka
51 Kembali ke Jakarta
52 Kembali ke rutinitas
53 Bencana ke dua kalinya
54 Family Time
55 Kemarahan Boy
56 Boy dan Debby
57 Emosi si Boy
58 Emosi Boy
59 Mimpi
60 Ke makam almarhumah Mona
61 Percobaan Bunuh Diri
62 Sedikit Peduli
63 Jadian
64 Double date
65 Kepergian Brain
66 Hari pertama di Universitas
67 Bakat Anak Yang Tertukar
68 Jebakan Arabella
69 Mensekakmat Lawan
70 Masalah yang terpecahkan
71 Rencana resepsi pernikahan
72 Kedatangan tiba-tiba
73 Ke Kampus Berdua
74 Pesta Resepsi
75 Resepsi 2
76 Membujuk Anak Nakal
77 Gejala bla-bla-bla
78 Adik untuk Cessa
79 Ngidam Aneh
80 Makin Sensitive
81 Rujak Buah Mangga
82 Keracunan Buah Mangga
83 Pusing Karena Cessa
84 Cessa vs Benny
85 Tujuh Bulanan
86 Kelahiran anak ke-2
87 Kedatangan Para Sahabat
88 Beberapa tahun kemudian
89 Terpaksa menikah
90 Mencuri First Kiss
91 fitting baju
92 Di pingit
93 Happy Ending
94 Ekstra Part
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Pertemuan setelah sekian lama menghilang
2
Kebencian Brain pada Tasya
3
Mencari tahu tentangnya
4
Mencuri waktu
5
Mengabaikan brain
6
Terbongkar penyamaran tasya
7
Rencana lamaran
8
Jelma'an malaikat pencabut nyawa
9
Lamaran
10
Berangkat bersama
11
fitting kebaya
12
Brain menghilang
13
Syah
14
Kejadian di malam pertama
15
Kelicikan pasutri muda
16
pindah rumah
17
Gagal lagi
18
satu ranjang
19
Berebut tasya
20
melayani suami
21
Kecewa & Cemburu
22
Gagal menghukum
23
Membalas sang suami
24
Kecemburuan Tasya dan Brain
25
Pura-pura marah
26
Menggoda tasya
27
Sisi lain brain
28
di introgasi
29
Kejadian di kamar
30
Ketahuan
31
Menemukan anak asing
32
Dua anak cukup
33
Quality Time
34
Menghindar dari Boy dan Benny
35
Mencintainya
36
Ke panti asuhan
37
I Love You,Sya
38
Memulai kembali dari awal
39
pura-pura
40
Setatus pacaran
41
Bucin
42
membobolkan gawang pertahanan
43
Kesalah fahaman
44
Baikan
45
duo bucin kembali ke sekolah
46
ke cafe brain
47
Benny tahu semuanya
48
Gara-gara Benny
49
Kematian orang tua Tasya
50
Suasana Duka
51
Kembali ke Jakarta
52
Kembali ke rutinitas
53
Bencana ke dua kalinya
54
Family Time
55
Kemarahan Boy
56
Boy dan Debby
57
Emosi si Boy
58
Emosi Boy
59
Mimpi
60
Ke makam almarhumah Mona
61
Percobaan Bunuh Diri
62
Sedikit Peduli
63
Jadian
64
Double date
65
Kepergian Brain
66
Hari pertama di Universitas
67
Bakat Anak Yang Tertukar
68
Jebakan Arabella
69
Mensekakmat Lawan
70
Masalah yang terpecahkan
71
Rencana resepsi pernikahan
72
Kedatangan tiba-tiba
73
Ke Kampus Berdua
74
Pesta Resepsi
75
Resepsi 2
76
Membujuk Anak Nakal
77
Gejala bla-bla-bla
78
Adik untuk Cessa
79
Ngidam Aneh
80
Makin Sensitive
81
Rujak Buah Mangga
82
Keracunan Buah Mangga
83
Pusing Karena Cessa
84
Cessa vs Benny
85
Tujuh Bulanan
86
Kelahiran anak ke-2
87
Kedatangan Para Sahabat
88
Beberapa tahun kemudian
89
Terpaksa menikah
90
Mencuri First Kiss
91
fitting baju
92
Di pingit
93
Happy Ending
94
Ekstra Part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!