Luoyi yang kini di serang dari empat arah kelabakan juga. Meski pria pria itu bukan tandingan nya, namun karena ke empat lelaki kasar itu memegang alat kejut listrik yang dapat membuat seseorang pingsan, Luoyi sibuk mengelak ke sana sini menangkis dengan tongkat aneh nya hingga tiba tiba,
"Wiuw,, wiuw,, wiuw,," Suara besar itu mengejutkan mereka.
Dengan cekatan empat orang pria itu melesat ke arah asal suara meninggalkan Luoyi begitu saja.
"Hei,,, jangan lari kalian pria pria kurang ajar."
Seru Luoyi sambil mengejar kencang ke arah gudang yang tadi di tinggalkan nya.
Sesampainya mereka berempat di dalam gudang itu, mereka melihat dua orang pemuda tampan sedang mengamuk di bantu dua makhluk aneh, yang satu bersayap dan seekor lagi putih berkaki mengerikan.
"Jiko,,," Seru gadis manis lincah yang baru tiba di gudang itu.
"Hei, Yimoi, apa yang kau lakukan disini?" Teriak Jiraiya kaget melihat adiknya berada di situ.
"Aku akan membantu kalian." Luoyi berseru seraya meloncat ke arah Jiraiya dan Mahesa.
"Sraaat,," Sebuah sabetan kecil mengenai lengan Mahesa.
Ternyata Mahesa yang mengalihkan pandangan nya ke arah gadis yang di panggil Yimoi oleh Jiraiya itu terpesona untuk beberapa detik sehingga sayatan kecil mengenai lengan nya.
"Mahesa, hati hati, mereka berbahaya." Seru Jiraiya yang kini selain menyerang harus melindungi Luoyi juga.
Baru setengah jam mereka menyerang tengah hari itu, pasukan tambahan sebanyak 50 orang tiba di tempat itu membuat Jiraiya dan Mahesa mengeluh dalam hatinya.
"Bagus, panggil semua kawan kalian biar kurontokkan giginya." Seru Luoyi yang sangat bersemangat.
Ketika semangat Mahesa dan Jiraiya telah mengendur, muncul seorang gadis cantik yang beberapa tahun lebih tua dari Luoyi menyerbu pasukan penjahat dengan sepasang pedang yang memiliki dua ujung bergagang di tengah.
"Kakak cantik, siapa nama mu?" Tanya Luoyi yang kini makin mendekati gadis itu.
Jiraiya yang terus melindungi adiknya, otomatis juga terus bergeser mendekati gadis manis berlesung pipit dengan bulu mata lentik bernama Karina.
"Aku Karina, kau siapa adik manis?" Sahut Karina sambil melayani pengeroyokan lima orang yang mengepungnya.
Menyaksikan hal itu, Jiraiya dan Mahesa kagum di dalam hati mereka. Bagaimana gadis ini dapat melayani keroyokan lima orang sambil berbicara dan memandang ke arah Luoyi.
"Aku Luoyi, panggil saja aku Yimoi Kak, bolehkah aku menjadi adik mu?" Tanya Luoyi.
"Tentu saja boleh Yimoi." Jawab Karina yang kini fokus menghajar puluhan anak buah yang berada di gudang besar itu.
"Jiko, mulai sekarang kau sudah punya kekasih." Seru Luoyi yang membuat Jiraiya hampir terkena sengatan listrik dari alat di tangan penjahat penjahat itu.
"A,, Ap,,, Siapa?" Tanya Jiraiya kaget dan heran.
"Kak Karin ini lah,, Siapa lagi?" Seru Luoyi yang membuat tusukan penjahat mengenai pundak atas Karina.
"Hei, bocah bengal, kau diam saja, apa kau mau kami mati gara gara dirimu?" Seru Jiraiya yang kesal juga melihat adiknya yang cerewet di saat genting seperti itu.
Mendengar teguran Kakak nya, Luoyi marah besar dan melampiaskan nya kepada pengeroyok yang maju menyerangnya.
Ketika amarah nya menguasai dirinya, Luoyi seperti mendapat kekuatan baru yang sangat dahsyat. Bola matanya sedikit bersinar berkilat kilat, dia menyerang membabi buta dan segera tampak para penjahat kocar-kacir.
Jiraiya sampai kaget melihat adiknya bisa seganas itu. Dengan tongkat aneh di tangannya, Luoyi bahkan maju melewati jangkauan senjata 3 orang lainnya.
Setelah mengamuk dengan ganas, Jiraiya dan yang lainnya berhenti bertarung karena para bawahan gudang besar itu telah melarikan diri.
Segera mereka berempat menyusuri seluruh gedung dan membebaskan ratusan gadis yang di kurung di seluruh ruangan ruangan yang terdapat di dalam gedung.
Tak berapa lama, Mahesa telah kembali bersama seorang Nakhoda kapal besar yang mangkal di sekitar pelabuhan berjarak setengah km dari situ.
"Paman, tolong kau antar gadis gadis ini ke rumah mereka. ambil gelang ini untuk mu." Seru Jiraiya yang memberikan gelang kuno yang indah kepada paman tua yang memang agak segan menerimanya setelah melihat Candu dan Rapit berada di situ.
Saat itu Karina yang duduk melemparkan sebuah koin ke arah pengemudi kapal itu sambil berkata,
"Koin ini di Nusantara setara dengan uang ratusan juta. Simpan saja gelang mu,"
"Ambil saja gelang mu pendekar, dan koin ini juga, aku ikhlas membantu kalian semua." Seru paman itu dengan tulus.
"Ambil saja koin itu paman, aku masih punya banyak. Kau ikhlas, tapi kapal mu memerlukan bahan bakar kan?" Seru Karina.
Jiraiya segera mengambil gelangnya sambil menuju ke depan Karina dia berkata,
"Gelang ini milik mu, untuk mengganti koin itu."
"Aku tak bisa menerima nya." Sahut Karina yang nampak sangat tertarik kepada Jiraiya.
"Ambil saja Kak, gelang itu peninggalan khusus leluhur kami, siapa yang memegangnya harus diberikan kep,,em,em,,em." Suara Luoyi terhenti di bekap oleh Jiraiya.
Kalian berdua ku undang ke rumah kami, mari." Seru Jiraiya agak malu malu.
Anggukan kepala Karina dan Mahesa segera menggerakkan langkah mereka menuju ke Mongol Utara meninggalkan Nakhoda kapal yang sibuk mendata gadis gadis yang akan diantarkan nya itu.
Awal nya, Rapit dan Candu merasa risih juga dengan adanya Luoyi dan Karina. Namun lama kelamaan mereka menempuh perjalanan melalui hutan hutan itu, Candu dan Rapit akhirnya merasa biasa juga.
Tak ada satupun yang mengetahui selain Tuhan bahwa, empat manusia dan dua ekor hewan aneh itu akan menjadi tiga pasangan kelak suatu hari nanti.
.---***---. .---***---. .---***---.
Telah terlalu lama kita meninggalkan Profesor Andi dan keluarganya. Kini mari kita ikuti perjalanan Profesor Andi yang kembali melakukan perjalanan ke arah Kutai Barat Kaltim bersama seluruh keluarganya.
Baru subuh tadi Prof Andi menerima kabar bahwa Kek Muhardi telah meninggal dunia dalam semedinya selesai shalat isya.
Segera mereka semua berangkat menggunakan jalur laut bersama sama. Bahkan Ibu nya Rani dan Raja pun ikut kali ini.
Wanita tua yang biasa nya selalu memilih tinggal di rumah itu kini berjalan jua ke arah rumah Haji Ahmad setelah perahu besar mereka tiba di pinggiran sungai tersebut.
Mereka segera di sambut oleh Kek Hafiz dan Satria serta keluarga mereka bersama Haji Ahmad yang masih tampak sangat berduka.
Malam itu sekitar jam 10 malam ketika orang orang ramai baru saja kembali ke tempat nya masing masing setelah membacakan Samadiah, doa dan Tahlil bersama.
Satria sedang duduk di bagian dalam rumah Haji Ahmad mengobrol bersama Kek Hafiz dan keluarga lainnya yang masih di selimuti duka, terutama Lina dan keluarganya yang merasa sangat kehilangan.
Tiba tiba, Satria mengangkat tangannya ke atas membuat semua orang terdiam. Kek Hafiz dengan cekatan telah berdiri dan meloncat keluar saat Raisa, Cindi dan Putra berlarian melaporkan.
"Kek, Kak Apin dan Kak Ara di culik."
Segera Satria dan Kek Hafiz melesat kencang ke arah sungai dimana pergerakan banyak orang terdengar oleh nya.
"Jangan mengejar atau mereka mati. Jika kalian ingin kedua gadis itu selamat, suruh dua pemuda penunggang hewan aneh itu menjumpai kami." Seruan dalam kegelapan malam bergema.
"Siapa kalian?" Teriakan Satria menggetarkan pohon pohon sekitar.
Sunyi senyap, hanya suara jangkrik saja yang terdengar. Ketika keluarga Prof Andi dan Lina tiba di situ, Satria berkata.
"Jika kita mengejar, mereka semua pasti tewas. Namun lebih penting menjaga keselamatan mereka berdua."
"Mereka akan di celakakan." Prof Andi yang panik berkata gugup.
"Tidak Andi, jika ingin membunuh, mereka pasti mudah saja melakukan nya. Dari ancaman tadi, mereka sengaja memancing Jiraiya dan Mahesa. Kita tunggu saja. Kelak biar kedua anak itu yang akan menyelamatkan tunangan tunangan mereka."
Seru Kek Hafiz menenangkan mereka semua meski dalam hatinya terdapat rasa khawatir yang sangat besar.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments