Di sebuah pulau bernama Phuket, tepatnya di Kota Phuket yang berada di Provinsi Phuket Negara Thailand tampak banyak orang mengantri di depan gedung mewah besar yang sering disebut Perguruan B.K.G dimana terdapat tulisan BUKHONGGONG di gerbang gedung itu.
Perguruan tersebut dipimpin langsung oleh seorang pria tua yang cacat lengan kirinya sebatas siku.
Pria yang memiliki badan tegap dan rambut panjang beruban itu sering di panggil Ketua Bu karena dia memang merupakan seorang ketua besar perguruan BUKHONGGONG (B.K.G) yang berpusat di pulau berjarak ratusan kilometer dari Pantai Phuket.
"Antrian selanjutnya silahkan masuk." Teriakan petugas di pintu masuk terdengar lantang.
Satu persatu orang orang masuk ke pintu gerbang besar tersebut untuk menemui Ketua Bu yang selain ahli beladiri juga menjadi ahli pengobatan selama setahun ini.
Banyak orang yang mengalami sakit, sembuh ketika ditangani oleh Ketua Bu. Karena hal itu, banyak orang yang masuk ke perguruan beladiri B.K.G untuk mendaftar kan diri atau mendaftarkan putra putrinya untuk belajar di perguruan terbesar di Thailand tersebut.
"Selanjutnya, silahkan." Kembali petugas khusus berseru setelah ada orang yang keluar dari ruang depan setelah mengalami kesembuhan yang dirasanya.
Beberapa saat kemudian, tampak tiga orang anggota B.K.G tingkat dua yang datang dari pulau berjarak ratusan km dari situ. Mereka segera masuk ke dalam memotong antrian.
Seorang kakek bermata lamur berkata,
"Hey, pemuda botak, antri dulu. Enak saja main serobot."
"Kek, mereka bukan pasien. Mereka murid murid Ketua Bu." Sergah seorang remaja yang menarik bahu kakek nya.
Tanpa memperdulikan teriakan si kakek, petugas khusus yang matanya juling itu segera berteriak kencang.
"Tuan Tuan, harap menunggu sebentar. Tuan Bu sedang ada keperluan penting. Harap bersabar."
Terdengar gerutu kecil suara berbisik diantara kerumunan pasien yang mengantri dibawah teriknya matahari.
Di dalam, Ketua Bu yang kedatangan anak buah nya dari Pulau Bon segera bertanya,
"Ada apa?"
"Maaf ketua, Twako mengutus kami untuk memberitahukan berita penting kepada Ketua."
"Berita apa, cepat katakan,"
"Utusan kita ke Pulau Bana yang menyelematkan dua orang bawahan Kaja dan Edo tewas oleh kelompok B.I.S.A di Pulau tersebut."
"Kurang ajar. Suruh Lai Tek dan Bong Gan menyelesaikan masalah itu. Bawa 50 bawahan tingkat 2 dan 50 bawahan tingkat 3. Lakukan serangan mendadak besok malam. Biar mereka tau, siapa sebenarnya BUKHONGGONG." Perintah Ketua Bu yang merah mukanya.
"Perintah diterima. Kami permisi ketua."
"Ya." Jawab Ketua Bu yang kembali duduk di kursi pengobatan nya di iringi derap langkah kaki ketiga bawahan nya menuju keluar.
Pengobatan pun di lanjutkan seperti biasa. Orang orang kembali dipanggil satu persatu dengan berbagai macam keluhan penyakit yang mereka derita.
Kini mari kita ikuti ketiga bawahan tingkat dua yang kembali ke pinggir pelabuhan melalui perjalanan yang jauh hingga mereka tiba di Rawai Beach (Pantai Rawai) untuk kemudian langsung menuju ke Pulau Bon (Ko Bon) menggunakan Speedboat yang di labuhkan di sana.
Sesampainya ketiga anak buah tingkat 2 tersebut, mereka segera memberitahukan perintah Ketua mereka kepada Wakil utama di Pulau Bon yang sering mereka sebut Tuan Muda Bu, putra tertua Ketua Bu sendiri.
"Panggil Twako dan Bong Gan." Seru wakil ketua pulau kepada penjaga.
Beberapa menit kemudian, terlihat berjalan dua orang yang usianya sangat jauh berbeda.
Lai Tek yang biasa di sebut Twako berusia 32 tahun, sedangkan Bing Gan masih berusia 23 tahun.
"Ada apa Adik Bu memanggil kami?" Tanya Lai Tek.
"Silahkan duduk Twako, Bong Gan. Bawahan yang ku utus ke Kota Phuket sudah kembali membawa perintah dari ayah."
"Bagaimana? Apakah Ketua setuju dengan usul ku?" Kembali Lai Tek bertanya penuh semangat.
"Ya, Ayah memerintahkan Twako dan Bong Gan memimpin 100 Pasukan tingkat dua dan tiga untuk menyerang B.I.S.A."
"Ah, bagus sekali. Kapan Ketua menyuruh kami berangkat?" Lai Tek berseru girang.
"Besok malam serangan tiba tiba dilakukan. Ajak juga Kaja dan bawahannya di Pulau Merundung. Masalah jadwal dan persiapan keberangkatan kalian, ku serahkan kepada Twako dan Adik Bong."
"Baik, kami akan mempersiapkan nya sekarang juga. Permisi Adik Bu." Seru Lai Tek seraya bangkit dari kursi empuk itu.
"Silahkan Twako." Jawab Bu Sam Khi seraya mengangguk ramah.
Persiapan pun di lakukan dengan cepat. Pukul 10 malam, berangkatlah mereka semua menggunakan tiga kapal besar berlayar ke arah sebuah pulau kecil bernama Pulau Merundung yang sering juga disebut Pulau Merdu oleh puluhan orang yang tinggal di sana dipimpin oleh dua orang pimpinan bersama Kaja dan Edo.
.---***---. .---***---. .---***---.
Keadaan Pulau Bana kini sangat kuat. Pulau yang berpenduduk 300 Kepala Keluarga itu pula menjadi sebuah tempat berlatih pasukan khusus yang di bangun oleh Ketua Pulau bernama Raja.
Meski Raja menguasai seluruh Pulau Bana dan ratusan pasukan BISA (Bana Island Secret Army), namun masalah lainnya seperti keuangan, administrasi, pengaturan usaha para penduduk pulau banyak di kuasai oleh Santi yang menjadi Ratu di pulau tersebut.
Meski mengetahui suami nya adalah seorang yang gila perempuan, namun Santi yang sudah maklum itu tidak begitu memperdulikan hal itu, asal Raja tidak secara berterang main gila di depannya.
Raja yang tidak begitu ahli dalam hal beladiri sore itu terlihat melatih strategi dan kekompakan kepada para pasukan BISA yang berlatih dengan penuh semangat.
"Coba ulangi sekali lagi sistem dan strategi tempur 5 M yang ku ajarkan kemarin." Perintah Raja yang tenang tenang saja berjalan hilir mudik didepan mereka.
Segera puluhan orang BISA tingkat atas melakukan kegiatan menakjubkan melalui dalam hutan di samping lapangan luas tempat mereka latihan sambil berseru serentak,
"Mengintai," Kembali pasukan melakukan gerakan gerakan hebat sambil berseru,
"Menyergap." Dilanjutkan suara gegap gempita dari teriakan para prajurit khusus itu
"Menyerang," Pasukan BISA melakukan serangan serangan baik dengan senjata dan ilmu beladiri standar yang diajarkan oleh Prof Andi yang kadang kadang berkunjung ke situ.
"Mundur atau Menang." Pasukan mulai terlihat kacau balau dan tiba tiba,
"Menghilang." Seruan para pasukan seraya melakukan langkah mundur yang sangat teratur dan tertib sekali.
Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan sekali melihat keindahan dan kekuatan kerjasama pasukan yang begitu terkoordinir dengan baik.
Karena hari hampir menjelang magrib, para pasukan khusus itu pun di bubarkan oleh Raja yang menuju ke ke rumah nya dibangunan paling besar yang ada di sebelah kanan lapangan luas itu.
Malam itu, baru saja penghuni pulau beristirahat, mereka dikejutkan oleh suara teriakan teriakan penjaga bagian belakang pulau.
"Serangaaan,,, bersiap ada serangaan,,,"
Riuh rendah suara para penjaga yang di serang tiba tiba oleh pasukan yang turun dari empat buah kapal besar.
Para pasukan yang sore tadi di latih oleh Raja, segera berkumpul dengan pakaian dan senjata lengkap ikut menyerang para penyerang gelap itu.
Sekelompok penjaga khusus segera menuju ke bangunan besar menemui Raja.
"Lapor Kakak Ketua, ada musuh menyerang bagian belakang pulau."
"Siapa mereka? Berapa banyak jumlah pasukan mereka?" Tanya Raja tegang.
"Mungkin sekitar 150 orang ketua."
"Kalian sekarang juga kawal istri dan putraku ke kota Silim. Santi, bawa Putra kepada Kak Andi. Minta tolong kepadanya untuk mengantarkan Putra belajar kepada Kak Satria di Aceh. Cepat,," Melihat suaminya memakai pakaian tempur dan mengambil senjata, Santi bertanya.
"Kau mau apa? Kau kan tidak bisa bertarung."
"Aku tidak boleh meninggalkan prajurit ku mati sia sia sayang. Cepat, lewat depan sekarang,,," Teriak Raja yang segera di turut oleh istrinya.
Raja melihat istri dan anaknya dibawa oleh Pasukan khusus kepercayaan nya berjumlah 11 orang.
Setelah Boat mereka menghilang dikegelapan malam, Raja yang berbadan tegap itu segera menuju ke belakang pulau bergabung dengan pasukannya yang kocar kacir meski berjumlah lebih banyak dari penyerang.
"Hei kalian, semangat. Gunakan strategi lima M sekarang." Perintah Raja sesampainya di situ.
Melihat Ketua mereka yang mereka tahu tidak bisa beladiri itu, para pasukan dicekam keharuan. Seperti air bah di musim badai, semangat pasukan pun meningkat dan bertambah puluhan kali lipat.
Segera tampak kelincahan gerakan pasukan Pulau Bana menyerang musuh dengan sangat teratur. Sibuklah para penyerang gelap itu menghadapi pasukan pulau yang kini jauh lebih lihai dan cekatan.
"Serang pemimpinnya,," Terdengar teriakan ketua penyerang gelap yang tidak lain adalah Lai Tek.
Beberapa musuh yang ahli dan lihai segera mendekati Raja yang memegang senjata tajam di tangan kanan dan senjata api di tangan kiri.
Beberapa pihak musuh tewas di tangannya. Meskipun Raja tidak bisa beladiri, namun tenaga dan kekuatannya memang besar. Apalagi dulunya dia sering di latih Taekwondo oleh mendiang ayahnya yang merupakan seorang penjahat ahli.
Meski para penyerang berusaha mendekati Raja, setelah mendengar suara pemimpin pasukan BISA yang berteriak,
"Lindungi Ketua, Lindungi Tuan Raja."
Para pasukan segera mengurung Raja untuk melindunginya dari serangan gelap pihak musuh.
hingga sejam lebih pertempuran terjadi. Melihat kerugian kini melanda pihaknya, Lai Tek, Bong Gan dan Kaja memutuskan menarik mundur pasukannya.
Gegap gempita suara teriakan anak buah Pulau Bana membuat musuh semakin ketakutan dan melarikan diri secepatnya.
Setelah para penyerang yang masih hidup habis melarikan diri dari situ, teriakan teriakan semangat segera terdengar,
"Hidup Ketua,, Hidup Ketua Raja,,, Hidup Tuan Raja,,,,"
Tempat yang diterangi oleh lampu besar dan puluhan lampu rumah itu menjadi tempat yang mengerikan.
Mayat bergelimpangan membuat suasana riuh itu semakin menyeramkan.
"Periksa pasukan yang gugur dan urus semua mayat sebaik baiknya." Ucapan Raja setelah mengangkat kedua tangannya yang membuat suara ribut ribut itu seketika senyap.
Raja dan kepala pasukan kembali ke tempatnya setelah memeriksa semua anggota yang terluka dan tewas.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments