Ujian Akhir Latihan

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat bagi Mahesa yang sedang duduk bersama Jiraiya, Alvina, dan Raisa keponakan Lina yang empat tahun lebih muda dari Alvina.

"Benarkah besok kalian harus pergi selamanya?" Tanya Alvina sambil menatap wajah kedua remaja tampan itu secara bergantian.

Jiraiya beradu pandang dengan Mahesa sebelum menjawab,

"Sementara kok, bukan untuk selamanya. Beberapa tahun lagi, aku akan kembali mengunjungi kalian disini." Jawab Jiraiya seraya tersenyum lepas.

"Eh, Jiraiya, kau sudah mengunjungi mereka?" Tanya Mahesa seketika.

"Kemarin sudah, besok saat kita berangkat, aku akan mengunjungi mereka lagi." Jawab Jiraiya.

"Hei, anak anak, ayo masuk, makan malam sudah siap." Ucapan Satria yang terdengar tegas dan jelas membuat mereka semua bangun dari saung berjalan menuju ke rumah Haji Ahmad yang kini tampak semakin tua.

Ketika mereka sedang makan, sangat jelas terlihat wajah sedih Alvina yang selalu menatap Mahesa yang banyak diam menunduk.

Entah mengapa, di usianya yang masih jalan 9 tahun itu, Alvina merasa sangat tertarik kepada sosok Mahesa yang pendiam dan lembut.

Meski Jiraiya kadang memperlihatkan sikap manis kepada gadis bocah itu, tetap saja hatinya terpaut kepada Mahesa yang menjadi cinta pada pandang pertamanya.

Selesai makan malam bersama, keluarga besar itu berpencar menjadi beberapa kelompok.

Orang tua mereka duduk di ruang besar itu dan teras depan. Para ibu ibu ada yang masuk ke kamar Lina yang berada di belakang rumah besar Haji Ahmad itu dan sebagian ke kamar Alifah yang berada di bagian belakang rumah.

Anak anak tampak kembali ke saung. Jiraiya tampak ngobrol dengan Raisa dan Cindi adik dari Mahesa.

Mahesa yang duduk pula di saung tersebut tiba tiba di datangi Alvina,

"Kak Mahesa, aku ingin berbicara berdua dengan mu."

Mahesa yang melihat Alvina pergi ke saung bagian kiri, segera mengikutinya.

"Ada apa Dek?" Tanya Mahesa lembut ketika mereka telah duduk di saung kecil itu.

"Kak, kenapa kau jarang sekali berbicara dengan ku? Apa Kakak tak suka padaku?" Tanya Alvina dengan wajah serius dan alis berkerut.

"Bagaimana aku tak suka padamu. Kau adik ku, putri Bibi Lina."

"Maksud ku, bukan suka seperti itu."

"Ah.. Lalu suka seperti apa yang kau maksud Dek?" Pertanyaan Mahesa membuat Alvina terdiam dalam waktu yang lama sambil menahan rasa malu yang tampak pada mukanya yang kemerahan.

"Aku, kelak aku ingin menjadi istri mu Kak." Seru Alvina yang membuat jantung Mahesa hampir melompat keluar.

"Dek, kita masih kecil. Untuk apa berfikiran tentang suami istri, perjodohan dan cinta yang bahkan belum kita mengerti?" Seru Mahesa dengan nada masih tetap lembut.

"Terserah Kakak. Aku cinta kau, habis perkara." Ucapan Vina disusul oleh tubuh nya yang berlari pergi masuk ke dalam rumah.

Tinggal lah Mahesa di situ seorang diri dalam keadaan termenung. Tiba tiba, dia dikagetkan oleh Jiraiya yang mengendap endap bersama Cindi dan Raisa yang masih kecil dari belakang mengejutkannya.

"Hei Mahesa,, ngapain termenung. Bagus kau kejar dia ke dalam. Dia menangis tuh." Seru Jiraiya sambil duduk di dekat Mahesa.

"Dasar kalian, kecil kecil sudah tau menguping." Hardik Mahesa pura pura marah ke arah adiknya dan Raisa.

Kedua gadis cilik itu hanya cengengesan saja sambil melirik lirik ke arah Jiraiya.

Mereka pun larut kembali ke dalam percakapan sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam dan tidur.

Keesokan harinya. Tampak Satria menunggang Candu bersama Mahesa di iringi pandangan kesedihan dari wajah Alvina.

Satria, Sari, Alif dan Lina telah di ceritakan oleh Jiraiya tentang permasalahan Mahesa dan Alvina semalam. Dengan wajah girang Satria berseru,

"Alvina, doakan kita semua panjang umur. Paman berjanji akan membawa Kak Mahesa kembali kemari."

Mendengar dirinya di sindir, Mahesa hanya memandang Jiraiya dengan pandang mata penuh arti yang dibalas oleh Jiraiya dengan sikap pura pura bodoh sambil melirik ke sana sini.

Alvina yang muka nya memerah, menunduk sambil melirik wajah keluarganya dan wajah ... Mahesa yang salah tingkah ketika bertemu pandang dengan nya.

Satria memberi isyarat kepada Candu. Berangkatlah Mahesa bersama Ayah yang akan mengantarnya ke Gunung Kidul.

.---***---. .---***---. .---***---.

Hidup di dunia hanyalah masalah menjalani waktu yang singkat meski terasa panjang bagi kita yang merasakannya.

Kadang waktu berlalu sangat lama jika kita menunggu momen momen penting yang berarti bagi kehidupan kita.

Namun waktu akan terasa sangat cepat jika kita menjalani nya secara alami tanpa mengharap masa depan dan mengingat masa lalu.

Begitu pula cepat nya waktu yang di rasakan oleh Satria yang kini sedang menggembleng seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Jiraiya.

Telah lima tahun Jiraiya di latih dengan sangat keras oleh Satria sejak Gurunya melihat kehebatan putranya sendiri bernama Mahesa yang di gembleng seorang Kakek tua yang sangat sakti.

Selalu terjadi perlombaan di dalam hati manusia. Begitu juga Satria yang pernah menduduki Tingkat satu diantara seluruh ahli beladiri penjuru dunia.

Meski Kek Hafiz yang menjadi Guru putranya adalah kakek nya dan kakek istrinya sendiri, namun persaingan dihatinya membuat Satria bertekad keras untuk menggembleng Jiraiya secara keras dan sangat disiplin menjadi lebih hebat dari Mahesa.

Seperti pagi itu, Jiraiya terlihat bertarung dengan menggunakan sepasang ranting melawan Candu di tengah runtuhan air terjun besar yang mengganggu pandangan dan penglihatannya.

Gerakan gerakannya matang dan mantap. Bagaimana tidak, pemuda tampan berambut hitam panjang ke belakang tanpa di ikat itu benar benar telah menguasai ilmu beladiri tingkat tinggi yang di dapatkan dari kitab warisan kakek buyutnya di Pulau Bon.

Dengan dasar ilmu sepasang pedang yang diwarisinya itu, di tambah keahlian keahlian yang di dapat dari Guru sekaligus ayahnya bernama Gulikan, dan kini ditambah gemblengan manusia super sakti bernama Satria, maka dapat di pastikan bahwa kehebatan Jiraiya sangat sangat lah tinggi.

Tampak serangan serangan Naga terbang bernama Candu itu selalu terdesak mundur. Hanya karena kulit Candu yang keras, Hewan peliharaan Satria itu dapat mengatasi serangan sepasang ranting di tangan Jiraiya.

"Candu, mundur." Bentakan Satria membuat tubuh binatang itu melesat cepat ke arah belakang.

Jiraiya yang kini menghentikan serangan nya tersenyum puas ke arah Gurunya. Baru tiga tahun ini Candu menjadi lawannya berlatih atas perintah Satria.

Tahun pertama dan tahun kedua, Jiraiya sama sekali tak mampu mengalahkan Candu yang hebat dan lincah gerakannya.

Baru tahun ini dia mampu perlahan lahan mendesak Candu yang mempunyai tenaga kuat.

"Istirahatlah Jiraiya. Besok pagi uji coba terakhir mu."

"Baik Guru." Seru Jiraiya dengan wajah gembira.

Satria dan Candu segera pulang ke rumah. Sedangkan Jiraiya, kembali ke batu menonjol yang tepat berada di bawah pusat runtuhan air terjun.

Dia duduk bersila membiarkan kepalanya di timpa air besar yang jatuh seperti palu godam besar yang beratnya mencapai puluhan ton.

Saat hari telah siang, Jiraiya kembali ke rumah untuk makan dan tidur hingga pukul 3 sore, kembali dia menuju ke pangkal sungai untuk bersemedi hingga magrib pun tiba.

Keesokan harinya. Pagi pagi sekali. Satria telah menunggunya di lapangan sebelah kiri sungai tak jauh dari tempat air terjun berada.

Jiraiya yang baru saja tiba, melihat gurunya duduk bersemedi di atas tanah segera ikut duduk berhadapan dengan gurunya.

"Jiraiya,"

"Ya Guru,"

"Aku pesan kan kepadamu. Setelah melalui Ujian Akhir Latihan hari ini, kau sudah bebas berkelana. Jaga nama baik Gurumu, Ibu mu, Ayah mu."

"Baik Guru." Jawab Jiraiya sambil sedikit membungkuk ke arah Gurunya.

"Sambut serangan ku." Bentakan Gurunya membuat Jiraiya kaget setengah mati.

Satria secepat kilat menerjang ke arah muridnya dengan serangan maut yang mematikan.

Untuk beberapa saat, Jiraiya kaget, terpana, heran bercampur aduk dihatinya. Sesaat kemudian, Jiraiya yang berpikir pagi ini masih akan melawan Candu, mulai menyadari bahwa Ujian Akhir Latihannya adalah dengan mengalahkan sang Guru.

Dengan loncatan sebelah kakinya secara bergantian, Jiraiya menghindar ke sana sini. Namun semua langkah langkah nya, selalu saja dapat terbaca oleh Guru yang mengajarkan langkah ajaib itu padanya.

Awalnya, Jiraiya tampak terdesak hebat. Namun lama kelamaan, Jiraiya mulai dapat balas menyerang kepada Satria yang mengeluarkan senyum di bibirnya.

Segera terjadi pertarungan yang dahsyat, cepat dan indah antara keduanya. Jika orang lain melihat, pasti akan menyangka bahwa pertarungan itu adalah perkelahian mempertaruhkan nyawa.

Hampir sejam lama nya mereka saling menyerang, Jiraiya telah terkena beberapa pukulan yang tidak fatal akibatnya. Namun Satria tau. Jika muridnya menghendaki, tentu Satria juga telah terkena beberapa pukulan yang mematikan.

"Keluarkan seluruh kemampuan mu." Seruan Satria yang mulai mempercepat gerakan gerakan nya membuat Jiraiya semakin bersemangat hingga suatu ketika, Satria melepaskan pukulan tapak tangan nya ke arah Jiraiya sambil berseru keras,

"Sambut."

Secepat kilat, tangan Jiraiya menyambut telapak tangan Gurunya hingga keduanya menempel dalam waktu lama.

Perlahan, tampak peluh di kening Satria, begitu pula di wajah Jiraiya.

Semakin lama muka mereka berdua semakin memerah. Dari rambut perak Satria keluar uap putih, begitu juga di kepala Jiraiya.

Perlahan tenaga Satria melemah hingga Jiraiya melesat melompat kebelakang.

"Cukup Jiraiya."

"Terima kasih Guru." Sahut Jiraiya membungkuk sambil berjalan ke arah Gurunya.

"Kau sudah menjadi seorang yang hebat. Dengan kemampuan yang kau miliki, kau akan dapat menjagoi dunia." Seru Satria.

"Ah Guru bisa saja, mengalahkan guru saja aku tidak mampu, apalagi mengalahkan pendekar hebat lainnya." Jawab Jiraiya sembari tertawa.

"Mengalahkan orang lain lebih mudah daripada mengalahkan diri sendiri." Jawab Satria sambil menundukkan wajahnya dengan penuh duka.

"Aku akan ingat semua pesan dan pelajaran Guru." Seru Jiraiya memegang Gurunya penuh kasih sayang dan menuntunnya kembali ke rumah.

Jiraiya teringat dengan pengalaman pahit Gurunya yang tak mampu mengendalikan diri di Pulau Bon tujuh tahun yang lalu, hingga membuat ratusan nyawa melayang dan mendatangkan penyesalan besar bagi gurunya.

Penyesalan yang membuat Satria berduka setiap mengalami pertarungan yang membawa kenangan pahit dalam hidup nya.

"Semoga kau selamat dari nafsu iblis itu murid ku."

Kata kata Satria terdengar pelan menancap di relung hati Jiraiya yang berjalan bergandengan dengan Sang Guru yang sangat disayanginya itu.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Ghie Noerback Al-fariezzie

Ghie Noerback Al-fariezzie

mantap thor, GO ke petualangan anak murid satria seru kek nya

2022-10-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!