Dua orang remaja terlihat duduk di atas air sambil bercakap cakap ringan. Jika diperhatikan lagi, ternyata kedua remaja tersebut duduk di atas bayangan Ular besar di dalam air sungai yang agak keruh itu.
Mahesa yang duduk di atas seekor Tangkalaluk yang lebih kecil. Sedangkan Jiraiya yang lebih besar badannya dari Mahesa duduk di atas badan Ular Nabau dalam bahasa daerah itu.
"Hei Jiraiya, aku yakin kau tentu hebat sekali. Apalagi kau kini menjadi murid ayah. Namun Bagaimana kau bisa menaklukan ular ular besar ini? Jika saja aku tidak mendengar cerita ayah dulu, tentu aku akan pingsan melihat sepasang naga ini, iiihhh," Seru Mahesa bertanya.
Jiraiya yang duduk di sebelahnya segera menceritakan pengalaman nya sehingga dapat bertemu dengan ular ular tersebut.
"Kala itu pukul 5 pagi, aku sedang berjalan menuju ke Kutai dari rumah Paman Andi. Tiba tiba ada orang menarik ku sembunyi di bawah titi di sungai tadi. Ternyata mereka adalah orang utusan pemerintah yang pernah ku jumpai dulu di perbatasan. Mereka berbisik bahwa dua ekor ular ini sedang kawin. Ketika mereka melepaskan jaring besar dan tebal, ratusan orang keluar dari sembunyi nya sambil memegang senjata tajam mengurung sepasang ular ini. Dari jeritan jeritan ular ini aku dapat mengerti bahwa mereka hanya ingin bebas dan tidak di ganggu. Aku menyuruh mereka melepaskan jaring itu dari kedua ular ini."
"Mengapa mereka mau melepaskan ular ini?" Potong Mahesa yang duduk di di atas tubuh besar Tangkalaluk.
"Hehe,, karena aku mengaku sebagai putra Guru. Makanya mereka mematuhi perintahku." Seru Jiraiya sambil menggaruk kepalanya.
"Teruskan," Pinta Mahesa dengan kencang karena desiran air akibat sepasang Naga yang berenang menimbulkan suara keras.
"Aku bertanya kepada ular ular ini mengapa mereka mengganggu warga, padahal dulu Guru bilang mereka telah di tundukkan oleh Guru dan Candu."
"Aku telah mendengar cerita Ayah dulu." Mahesa memotong lagi untuk mempersingkat cerita Jiraiya.
"Ular ini mendesis desis berkata yang dapat ku mengerti bahwa seekor teman mereka yang menjadi pasangan ular tunggangan mu itu dibunuh oleh manusia pemburu di hutan. Makanya mereka mengamuk menyerang manusia."
"Aku semakin penasaran, mengapa kau bisa mengerti bahasa binatang?" Tanya Mahesa mengerutkan keningnya.
"Aku pun tidak tau. Aku baru menyadari kemampuan ku ini ketika setahun lalu dibawa Guru ke Tebing Maut. Kala itu, apapun yang di serukan Candu dapat ku mengerti. Entahlah, aku juga bingung."
"Hei, Ayah sudah membelok ke daratan," Seru Mahesa.
Mahesa melihat Jiraiya menepuk leher dekat kepala ular Nabau yang dinaikinya, Ular itu perlahan menuju ke pinggir sungai. Jiraiya segera meloncat bersama Mahesa ke daratan.
Kepala Nabau dan Tangkalaluk kini menyembul keluar di pinggir sungai. Dengan suara mendesis desis dan mengeluarkan suara dari leher berbunyi "Ngut,, Nget,," Jiraiya berkata aneh kepada kedua ular besar tersebut.
Tak berapa lama, dua ekor ular itu pergi menyusuri dasar sungai ke arah aliran sungai di iringi pandang mata Mahesa yang sibuk menatap dengan rasa kagum dan bangga kepada dirinya yang telah menunggang ular besar itu tanpa celaka.
"Hei, Mahesa, ayo,,,, ngapain disitu,," Seru Jiraiya sambil melangkah lebar ke arah Barat Daya.
"Jiraiya, apa yang kau katakan kepada mereka?" Tanya Mahesa penasaran.
"Aku menyuruh mereka sembunyi di hutan seberang sampai waktu aku menemui mereka kembali."
"Hanya itu saja?"
"Aku juga berpesan agar mereka menjauh dari manusia sehingga tidak ada korban lagi."
"Wah,,, Aku benar benar kagum kepadamu Jiraiya," Seru Mahesa dengan pancaran mata bersinar ke arah Jiraiya.
"Aku juga kagum kepadamu Mahesa." Seru Jiraiya sambil berjalan cepat dan kadang melompat.
"Kagum apanya? Jangan mengejek ku," Seru Mahesa dengan wajah kecut sambil berlari pelan berlompatan di belakang Jiraiya.
"Kau tau, sepanjang jalan belum ada orang dewasa yang mengeroyokku dapat menang dariku." Seru Jiraiya.
"Dalam latihan tadi aku pun tak mampu mengalahkan mu," Ucap Mahesa merendah.
"Jika di lanjutkan lebih lama, aku pasti akan kalah. Lagipula usiamu masih sangat jauh dibanding aku. Dulu ketika kau lahir, Aku masih berusia 4 tahun lebih mungkin. Aku ingat saat kau dulu sering ku ajak berantem saat kau bayi." Jiraiya menceritakan kenangannya.
"Kau sudah bersama ayah dari dulu?" Tanya Mahesa.
"Dulu, aku dan ibu serta kakek ku tinggal di rumah kakek mu. Bahkan saat kecil aku ingat sekali, Kakek buyut mu sering mengajariku dasar dasar penghimpunan tenaga dalam."
"Aku tak pernah tau hal itu. Kau harus menceritakan kepadaku semua nya." Mahesa berkata sambil menatap Ayahnya yang sudah turun dari punggung Candu dari jauh.
"Kita sudah sampai, kelak aku akan menceritakan semuanya kepadamu." Janji Jiraiya yang di ingat oleh Mahesa di lubuk hatinya.
Jiraiya dan Mahesa kini telah sampai ke sana. Mereka bersama Satria dan Candu di sambut oleh banyak orang. Di antara mereka ada Haji Ahmad beserta Istrinya, ada Paman Alif dan Bibi Lina bersama putri mereka yang bernama Alvina berusia antara 8 sampai 9 tahun.
Tak lama kemudian, keluar pula Sari dan putrinya bernama Cindi bersama seorang kakek yang sudah sangat tua sekali.
Mereka segera masuk ke dalam atas permintaan Haji Ahmad kedalam rumah besarnya.
Segera mereka semua terlibat percakapan, masing masing saling bertanya kabar. Ruangan Haji Ahmad riuh rendah karena terlalu banyak orang yang mengobrol.
Mereka hanya memusatkan perhatian tatkala cerita Jiraiya dan Mahesa dikisahkan. Semua mendengar penuh kagum dan takjub.
Haji Ahmad sampai mengeluarkan air mata. Ketika Putrinya yang baru datang bersama suami dan anaknya bertanya, Haji Ahmad berkata,
"Kakek ku pernah bercerita tentang silsilah keluarga kita, dimana beliau katakan bahwa kakek beruntung dapat menjalin kekeluargaan dengan keluarga kalian. Aku hanya terharu nak, jika saja bukan karena kebahagiaan yang besar dapat melihat keturunan mereka yang hebat hebat, maka tak mungkin aku menangis."
Sedikit keharuan hati Haji Ahmad dalam ruang tersebut tak dapat membuyarkan suasana ceria dan bahagia ketika mereka semua berkumpul seperti itu.
Lihatlah keluarga mereka, kebahagiaan hadir hanya dengan berkumpul bersama menceritakan susah senang keluh kesah dalam jalinan Silaturrahim.
Hal telah lama hilang dari kita semua, setiap kita berkumpul duduk beramai ramai, kita sibuk dalam dunia kita sendiri. Ada yang sibuk dengan dunia Game online, dunia sosmed, dunia Tiktok, Facebook, IG, Youtube dan lain sebagainya.
Bukan tidak perlu berinteraksi dengan dunia luar, hal itu sangat perlu, namun perlu adanya penanganan waktu yang tepat. Memakai perasaan yang dalam. Jangan sampai ada saudara, sanak, kerabat, teman dan sahabat yang merasa di acuhkan oleh kita yang sedang duduk bersampingan dengannya.
Istilah, Yang Jauh Dekat, Yang Dekat Rapat sudah tidak bisa kita terapkan kepada kita dewasa ini. Sebutan yang benar sekarang adalah, Yang Dekat Menjauh, Yang Jauh Pura Pura Dekat.
Akibat Medsos. Akibat manusia yang menyalahgunakan Medsos.
Satria dan keluarga nya, lama tinggal di sana. Apalagi tiga hari mereka berada di situ, Prof Andi dan istri serta putri nya tiba disitu.
Prof Andi hanya dua malam saja menginap di rumah Kek Muhardi, selanjutnya dia permisi untuk segera melakukan uji coba projek barunya yang dikerjakan secara ilegal bersama 4 profesor yang menjadi sahabat karibnya.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments