Pertemuan Pertama

Di Pulau Bana, Profesor Andi bersama beberapa ilmuan lain sedang mempersiapkan uji coba yang ke dua ratus kali.

Seorang pria yang menjadi pimpinan pulau hanya melihat saja kegiatan yang mereka lakukan di ruang bawah tanah.

Raja yang menjadi adik ipar Profesor Andi sekaligus pemimpin pulau Bana kini berjalan keluar ruangan tersebut untuk menyambut orang orang yang membawa barang yang mereka pesan seminggu yang lalu.

"Profesor Andi, apa kau tidak memiliki sampel zat yang meracuni anak kalian?" Seru Prof Michel yang dipanggil Profesor Mike oleh mereka

"Aku belum menemukan bahan bakunya Prof. Namun setelah diteliti, zat itu membuat ku teringat kepada proyek beberapa tahun yang lalu." Seru Prof Andi sembari mengambil alat pipa penyuntik.

"Apa yang kau maksud projek gagal disini dulu?"

"Ya, jenisnya sangat mirip, namun ada beberapa molekul berbeda yang terdapat dalam sel darah putri ku dan putra Raja." Ucap Andi menjelaskan.

"Menurutku, akan sia sia saja uji coba kita kali ini jika zat dasar itu tidak kita ketahui." Prof Wang berkata.

Sesaat kemudian, tampak berjalan beberapa orang di iringi Raja yang mengantar mereka membawa barang barang didalam bungkusan karton yang tertutup rapat.

"Kak, barang keperluan kalian sudah tiba." Seru Raja kepada Andi yang mengangguk padanya.

Setelah menyuruh mereka meletakkan barang di sudut ruangan, Raja mengajak orang orang tersebut ke kamar di sebelah kanan dimana dia mentransfer harga barang yang telah diantarkan tadi.

Di luar ruangan, Andi berkata kepada para profesor lainnya,

"Kita istirahat seminggu, hari kamis kita lanjutkan uji coba,"

Semua Profesor itu mengangguk mendengar perkataan Andi yang memang di tunjuk sebagai pemimpin Projek tersebut.

.---***---. .---***---. .---***---.

Beberapa hari setelah mengantarkan istri dan putrinya di daerah Kutai Barat. Satria segera memacu tunggangannya kembali ke Kidul.

Tak perlu waktu lama bagi Satria yang menunggang naga aneh peliharaannya yang di panggilnya Candu itu untuk sampai ke Gunung Kidul.

Sesampainya di sana, Satria memperhatikan latihan putranya dari jauh. Dia sengaja tidak singgah ke puncak gunung tersebut agar tidak merusak latihan putranya. Satria kini berputar putar melihat sekeliling gunung kidul.

Saat sedang berputar putar tersebut, dia melihat seorang wanita dusun yang berlarian di dalam hutan di kejar seekor ular yang lumayan besar.

Ular sendok sebesar lengan anak anak itu terus mengejar dalam jarak yang hampir dekat.

Melihat itu, Satria segera menepuk punggung Candu sambil berkata,

"Candu kebawah sana," Tunjuk Satria dengan tangan kirinya.

Segera Candu melesat cepat, dalam waktu uang amat genting bagi wanita dusun itu, Candu menyambar dengan cakarnya membawa ular kobra itu ke atas dan melemparnya jauh.

Dapat dibayangkan, betapa kaget hati wanita itu melihat sosok mengerikan berbentuk ular besar bertanduk dengan sayap dan cakar dari dua pasang kaki yang kuat lewat di atas kepalanya.

Setelah menolong wanita dusun itu, Satria tidak menghiraukan lagi pekik dan jeritan ketakutan dari wanita dusun itu.

Satria memutuskan kembali ke gunung dimana putranya masih terlihat berlatih dengan tekun.

"Ayah,,"

"Lanjutkan Nak, ayah akan istirahat dulu."

Satria berjalan di dalam ruang gua yang luas itu menuju ke sudut dan mulai lah dia duduk melipat kakinya bersemedi dan mengatur nafas nya panjang panjang.

Beberapa hari kemudian, berangkatlah mereka berdua setelah mendapatkan izin dari Kek Hafiz yang tetap tinggal di gua tersebut.

Satria kini terlihat menuju ke arah Pulau Kalimantan di atas punggung Naga nya yang sangat setia bersama seorang remaja 13 tahun yang tampan dan lembut wajahnya.

Sesampainya mereka di perbatasan Kutai Kartanegara, dengan matanya yang tajam, Satria melihat dua ekor ular besar yang tampak seperti cacing dari atas sedang berada di tanah lapang yang luas dikelilingi oleh ratusan manusia.

Dengan cekatan, Satria mengisyaratkan Candu untuk turun. Semakin dia turun, semakin dia melihat bahwa ular ular tersebut tidak terikat, tidak bergerak, tidak terluka, tidak mengalami apa apa, hanya mendeprok saja seperti cacing mati.

Puluhan orang pria berteriak histeris saat melihat ada seekor naga besar turun dari angkasa membawa dua sosok manusia yang satu besar dan satunya lagi kecil turun ke tengah lapangan dimana seorang pemuda berdiri sangat dekat dengan kedua ular tersebut.

"Guruuu,," Seru pemuda itu yang tidak lain adalah Jiraiya.

"Jiraiya? Sedang apa kau disitu?" Tanya Satria saat telah turun dari punggung naga terbang tunggangannya.

"Maaf Guru, aku tertahan menenangkan ular besar ini disini, makanya aku belum bisa menjumpai Guru di rumah Bibi." Seru Jiraiya tenang.

"Apakah kau yang menjinakkan ular ular ini?" Cetus Mahesa tiba tiba.

"Ya, kau tentu Mahesa putra Guru dari Kidul kan?" Tanya Jiraiya sembari tersenyum senang.

"Benar, sambut serangan ku," Bentak Mahesa tiba tiba.

Jiraiya yang merasa bingung diserang tiba tiba oleh bocah remaja yang sangat di hormati nya itu melesat mundur mengelak ke sana sini dengan susah payah.

"Jiraiya, balas serangan, jangan membuat malu Gurumu," Satria berkata melihat Jiraiya yang sungkan kepada putranya.

Mulailah Jiraiya balas menyerang, ratusan orang utusan pemerintah dan para pawang yang berasal dari masyarakat sekitar itu diam seperti menahan nafas mereka.

Meski pertarungan yang mereka saksikan hanya di lakukan oleh anak remaja saja, namun sungguh melebihi perkelahian yang pernah mereka saksikan.

"Hait,," Mahesa mengelak dari tendangan Jiraiya yang mengancam bahunya.

"Hiaaath,,,," Serangan balasan Mahesa membuat ujung kaki Jiraiya terkena sampokan tangannya.

Kembali terjadi pertarungan sengit antara Jiraiya dan Mahesa. Satria yang menyaksikan hal itu mengerutkan keningnya dalam dalam.

Banyak mata memandang ke arah pria paruh baya berambut putih keperakan dengan wajah tampan yang diselimuti awan gelap.

Dalam hatinya, Satria sungguh penasaran sekali. Penasaran yang dibalut rasa girang tertahan di hatinya.

Bagaimana mungkin, putranya Mahesa yang baru setahun berlatih di kidul mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Gerakan gerakannya bahkan dapat mengimbangi Jiraiya yang berusia 4 tahun di atasnya. Bukan itu saja, Jiraiya juga telah dilatih dasar dasar yang hebat oleh Kek Hafiz saat di Kaltim dulu. (Baca Cerita SIHIR SATRIA PEDANG NAGA)

Jiraiya melanjutkan pelajarannya kepada Gulikan yang sakti, juga selama setahun ini, di gembleng oleh Satria dengan ilmu silat tinggi.

Namun jangankan untuk mengalahkan Mahesa yang masih bocah itu, mendesaknya saja dia tidak mampu.

Benar benar hebat putranya itu. Meski hati Satria senang mendapatkan kenyataan itu, namun jiwanya sebagai pendekar nomor satu belasan tahun lalu merasa kecewa karena ilmu yang diturunkan kepada muridnya masih begitu rendah dibandingkan latihan latihan yang di bentuk oleh Kek Hafiz di gunung kidul.

Setelah ratusan jurus mereka bertanding, belum tampak ada yang terdesak, Satria berseru,

"Cukup Mahesa, hentikanlah." Mendengar suara ayahnya, Mahesa segera mencelat tiga meter ke belakang tepat di samping ayahnya.

"Wah, kau sangat hebat." Seru Jiraiya secara tulus.

"Kau yang hebat, sekuat apapun aku berusaha, tidak pernah bisa mendesak mu." Balas Mahesa dengan wajah polos dan suara tenang.

"Baiklah, mari kita kembali," Ucap Satria menuju ke punggung Candu.

"Guru, biarkan aku dan Mahesa menunggang ular ular ini, kami akan melalui sungai depan ke Gesik." Seru Jiraiya sambil mendesis desis dan mengeluarkan suara suara aneh ke arah kedua ular naga itu.

"Terserah kalian" Jawab Satria.

Ratusan orang yang tampak berisik saling berbisik satu sama lain melihat dengan muka terbelalak pucat, kedua remaja itu tenang saja melangkah ke atas sambungan leher dan badan ular besar itu.

"Hati hati Nak," Beberapa pria tua memperingatkan mereka berdua.

Namun, dengan langkah tenang, Jiraiya melangkah ke arah ulat besar, sedangkan Mahesa dengan sedikit khawatir naik ke punggung Tangkalaluk yang lebih kecil untuk segera dibawa oleh kedua ular itu yang menggeliat geliat menuju ke arah sungai.

Dengan gelengan kepala dan decak kagum semua yang hadir, mereka berdua perlahan menjauh di atas tubuh ular yang meliuk liuk mengikuti aliran sungai bersama Candu yang telah lebih dulu memimpin dengan terbang di depan mereka membawa Satria di punggungnya.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!