Membebaskan Tawanan

Seorang gadis berusia 17 tahun berjalan meninggalkan Desa yang menjadi tempat kelahiran nya dengan langkah lebar dan wajah tersenyum ceria.

Karina, begitulah nama gadis cantik berlesung pipit dengan kulit putih halus kemerahan dan bulu mata lentik.

Karina telah selesai belajar ilmu beladiri yang diwarisi turun temurun dari Kakek buyutnya yang merupakan seorang manusia yang sakti pada zamannya.

Sore itu, Karina melewati sebuah hutan besar yang lebat. Di dusun sebelumnya dia telah mendapat peringatan dari penduduk setempat tentang sekelompok perampok yang melarikan diri dari penjara di Kota Semarang Jawa Tengah dan bersembunyi di hutan tersebut.

Karina yang bahkan timbul kemarahannya kepada para perampok yang sebelum masuk hutan lebat itu sempat merampok penduduk dusun dan beberapa gadis, sengaja mengambil jurusan hutan tersebut untuk sekalian memberi hajaran keras kepada perampok yang menurut berita yang di dengarnya dari Kepala Dusun, berjumlah antara 11 atau 12 orang.

Tanpa membawa apa apa, Karina memasuki hutan rimba itu hingga hampir tiba ke tengah hutan. Hari saat itu hampir gelap ketika beberapa pria kasar keluar dari semak belukar mengancam gadis muda itu dengan golok besar mereka.

"Hei teman teman, malam ini kita mendapatkan barang bagus, hahaha," Seru seorang pria botak berkulit hitam dengan bekas luka di mukanya dan jenggot kasar.

"Ren, aku ingin mencium anu nya lebih dulu. Biar aku menangkapnya." Seru pria kecil bermuka licik dengan suara mencicit seperti tikus.

Segera pria kecil pendek namun kekar menubruk Karina yang kini berada di samping pohon besar.

Dengan cekatan, Karina melompat tinggi melewati kepala pria bersuara tikus itu dan menendang kan tapak kakinya ke kepala pria tersebut hingga kepalanya membentur keras ke pohon di samping Karina.

"Seraaaang,,,," Seru pria tinggi besar berkepala botak.

Tujuh orang perampok kasar itu segera berhamburan ke arah Karina. Hanya sekelebatan saja tangan gadis manis itu bergerak, tampak sinar putih kebiruan di tangannya yang ternyata adalah sepasang pedang aneh.

Kedua pedang itu sama bentuknya, mempunyai gagang di tengah dengan mata tajam meruncing di depan dan belakang pegangannya.

Pedang yang memiliki dua ujung tersebut segera di ayunkan oleh tangan lembut Karina hingga membuat para perampok sadis itu terkaget.

Dua orang yang maju paling dekat telah tersayat pergelangan tangan mereka oleh kelebatan pedang yang memiliki mata agak pendek itu.

Dengan cekatan, kedua ujung pedang sebelah kanan nya menangkis dan dua ujung pedang sebelah kiri Karina menyerang secara bergantian susul menyusul karena perputaran yang sangat cepat dan Dahsyat.

Tak berapa lama, Karina kembali di serang oleh mereka.

"Trang,, ting,,, tuukkhh,, craaakk,, singh,,, thinngh,,," Suara beradunya pedang aneh di tangan Karina dengan golok dan parang para perampok terdengar saling bersahutan.

Beberapa perampok kini kembali mengaduh aduh akibat sayatan menyakitkan di bagian tubuh mereka yang tidak begitu parah namun terasa sangat pedih.

"Siapa kau siluman?" Baru saja keluar dari seorang mulut perampok itu kata kata makian, segera dia merasakan akibatnya.

Pedang di tangan kanan Karina secepat kilat telah menyayat sepasang bibir nya yang mengucurkan darah sangat deras.

Para anak buah yang melihat kengerian wanita cantik itu segera berlutut menangis memohon ampun.

"Hei, apa yang kalian lakukan? Siapa wanita ini?" Tanya pemimpin komplotan mereka yang baru datang bersama seorang tangan kanannya.

"Ketua, kami tidak kenal siapa dia, tapi,,,," Seru seorang bawahan yang berlutut sambil menunjuk ke arah pria besar yang sedang berguling guling dengan teriakan tanpa suara saking ngeri dan sakit yang ditahan akibat kehilangan kedua bibirnya.

"Hei, siapa kau wanita iblis?"

"Singhh,, Crak crakkh,,," Terdengar putaran pedang Karina dan ... kedua belah telinga dan bibir ketua perampok telah berdarah.

"Auuhh,, Aduuuuh,, toloong, aduuh,," Seruan Ketua Rampok tersebut yang kini mengikuti bawahannya bergulingan dengan darah mengucur deras.

"Lepaskan gadis yang kalian culik, kalau tidak, leher kalian yang akan ku buntungi." Ucap Karina dengan pandangan tajam.

"Ampuun Nyony,, Eh Nona, gadis itu berada di gubuk belakang hutan ini. Ampuni kami Nona." Seru pria itu masih dengan bersujud menyembah ke arah Karina.

Karina yang telah menyimpan sepasang pedangnya dengan melibatkan pedang itu dari depan dan dari belakang menyambung ujungnya menjadi ikat pinggang tipis berkilauan yang melibat pinggangnya.

Ternyata sepasang pedang yang memiliki dua ujung itu adalah sabuk yang di pakainya makanya tidak kelihatan dia membawa senjata atau apapun selain dirinya saja.

Karina melangkah ke arah yang di tunjuk bawahan rampok tadi dan benar saja, langsung terlihat gubuk darurat di tempat itu.

Sesampainya ke dalam, Karina segera membebaskan para gadis tawanan berjumlah 4 orang yang diantarkannya langsung ke dusun yang dijumpainya hari itu.

.---***---. .---***---. .---***---.

Seorang pemuda berendap endap di dalam hutan malam itu dalam cuaca yang sangat gelap.

Setelah pingsan di pinggir hutan belantara itu, Jiraiya yang terbangun segera menuju ke tengah hutan saat malam tiba.

Sambil berjalan menunduk, dia memakan buah buahan yang banyak sekali dalam ransel nya. Sudah dari kemarin Jiraiya belum makan apa apa, maka hingga sampai saat itu, dia telah menghabiskan banyak sekali buah buahan segar untuk sekedar mengganjal perutnya.

Jiraiya melaju perlahan lahan seperti merayap dalam hutan itu agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dia melihat di atas atas pohon terdapat gerakan beberapa orang.

Ketika dia telah melewati tengah hutan, Jiraiya melihat perkampungan kecil dengan puluhan rumah yang sangat sederhana dibuat dari bambu yang di susun susun beratapkan dedaunan yang di ikat menjadi satu lalu di tumpuk tumpuk di atas atap kayu.

Penerangan dari obor yang merupakan kayu kayu bergetah khusus yang di bakar terpancang di depan tiap tiap rumah penghuni asli pulau tersebut.

Di tengah lingkaran besar rumah rumah itu, terdapat sebuah kerangkeng yang di buat menggunakan kayu di pinggiran laut yang sangat kuat dimana terkurung Rapit di dalamnya.

Dengan cekatan Jiraiya berlari sambil menarik pedang dari sarung di pinggangnya menuju tempat dimana Rapit terkurung dan terlibat dalam jaring khusus.

"Taakkh,, traakkk,, criing,," Suara aneh yang timbul dari sabetan pedang Jiraiya ke arah kerangkeng tersebut merobohkan pintu yang membuat Rapit berdesis senang dapat melihat Tuannya lagi.

Tak lama kemudian, tempat itu telah di kurung oleh manusia manusia aneh tak berbaju yang hanya memakai kulit kayu sebagai penutup ******** mereka.

Di depan rumah mereka, terlihat perempuan perempuan yang tak kalah aneh nya yang hanya memakai kulit kayu sebagai penutup ******** dengan dada telanjang.

Ada yang menggendong bayi dan anak anak berusia dua hingga tiga tahun. Ada pula anak anak kecil yang berdiri di samping ibu ibu mereka.

Melihat hal itu, Jiraiya menyarungkan sepasang pedang nya dan mengambil kayu pintu kerangkeng yang telah berhamburan itu.

"Aku tidak ingin menyakiti kalian. Biarkan kami pergi sekarang juga."

Jiraiya kini berjalan perlahan ke arah hutan di ikuti pandang mata ngeri dari penduduk aneh itu. Mereka jerih melihat Rapit yang meliuk liuk gagah di belakang Jiraiya sambil meliukkan kepalanya kesana kemari.

Hanya puluhan meter saja penduduk asli pulau mengikuti Jiraiya yang berjalan bersama Naga nya. Setelah jauh meninggalkan hutan lebat itu, Jiraiya segera melarikan diri dengan menunggang Rapit yang berenang di antara ombak laut tenang malam itu.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!