Mari Pulang, Marilah Pulang

Seorang pemuda tampan rupawan khas Asia yang tampak kental dari sepasang matanya yang sedikit sipit berambut panjang ke belakang dengan hidung mancung berkulit putih sehat saat itu sedang duduk di atas air laut melaju santai meliuk liuk ke arah Laut China melewati selat Makasar menembus Laut Sulawesi lewat kepulauan Sulu.

Jika di perhatikan benar, pemuda itu ternyata duduk di atas seekor Naga Laut berwarna putih memiliki cakar seperti komodo di depan dan belakang bagian tubuhnya.

Jiraiya dan Rapit melakukan pelayaran yang jauh sekali. Mereka hanya singgah ketika melihat daratan untuk makan minum dan mengumpulkan bekal untuk kembali menempuh perjalanan jauh ke arah Mongolia.

Tidak ada hambatan apapun dalam perjalanan nya kecuali sekali saat dia mendekati sebuah pulau dan singgah di situ.

Terdapat suku bangsa yang sangat jauh dengan peradaban manusia. Rasanya sulit di percaya ada tempat seperti itu padahal dunia bisa di katakan telah hampir modern sepenuhnya.

Namun kenyataan nya seperti itu. Saat Jiraiya memasuki sebuah hutan lebat di pulau tak bernama itu, dia segera di kepung oleh manusia aneh yang turun dari pohon pohon besar dimana bulatan daun bersusun susun seperti sangkar burung yang besar.

Agaknya tempat itu menjadi rumah bagi mereka. Dengan suara Ah uh ah uh sambil memegang kayu kayu runcing, puluhan orang itu mengepung Jiraiya.

"Ssuuuiiiittt,," Suara suitan Jiraiya membuat mereka bingung hingga tiba tiba seekor ular putih besar datang dari arah belakang Jiraiya yang membuat puluhan orang aneh itu ketakutan dan pucat lari menjauh.

Jiraiya terus menyusuri hutan tersebut perlahan ke arah tengah pulau. Rapit yang meliuk liuk di belakangnya membuat para penduduk asli pulau itu hanya dapat memandang dari atas pohon dan semak semak dengan pandang mata ketakutan.

Sesampainya Jiraiya bersama Rapit di tengah pulau, dia melihat terdapat buah buahan yang sangat banyak dan segar tergantung di pohon yang bertebaran di sana.

Segera Jiraiya menggunakan keahlian nya yang hebat meloncat tinggi ke pohon pohon yang berjarak 6 hingga tujuh meter itu dengan mudah sambil memetik buah memasukkannya ke dalam tas.

Rapit yang mendapat izin dari Jiraiya untuk berkeliling mencari binatang sebagai mangsa segera pergi menjauh dari tuannya.

Setelah setengah jam Rapit hilang, segera orang orang itu mendekat perlahan lahan ke arah Jiraiya memegang senjata berupa kayu yang di pasang batu tajam di ujungnya.

Adapula yang menggunakan tongkat batu pendek dan tombak kayu runcing panjang sebagai senjata.

"Hei,,, aku tidak berniat buruk kepada kalian. Aku hanya ingin makan buah dan membawanya sedikit sebagai bekal." Seruan Jiraiya menggema hingga ke seluruh hutan.

"Beberapa penduduk asli yang berbadan besar tanpa pakaian itu segera naik ke pohon dimana Jiraiya berada dan langsung menyerang nya sambil mengeluarkan suara suara aneh.

Sibuk lah Jiraiya mengelak ke sana sini meloncat dari dahan ke dahan, dari pohon satu ke pohon lainnya sambil membereskan ransel yang terisi penuh buah buahan.

Dengan memakai ransel nya, Jiraiya mematahkan sebuah ranting pohon dan mencoba menangkis serangan yang semakin lama semakin banyak ke arahnya.

Pada suatu ketika, para penduduk asli melemparkan puluhan lembing kayu yang di elak kan oleh nya, namun sebuah lembing dapat menggores bahu nya.

Rasa gatal yang sangat dirasakan Jiraiya semakin menjalar ke bagian lain sekitar bahu.

Jiraiya tidak menyangka bahwa lembing kayu itu telah di lumuri racun ganas. Dengan suitan berkali kali Jiraiya berdiri siap siaga memegang sepasang pedang sambil menatap ke arah puluhan orang yang kini telah mengepungnya.

Mendengar suara berkeresekan di sebelah belakang mereka, para penduduk ganas itu segera berlarian. Ternyata mereka kini dapat mengerti bahwa suitan tersebut adalah kode khusus memanggil ular mengerikan yang mereka takuti.

"Rapit, kita pergi dari sini." Seru Jiraiya sambil berlari ke arah luar pulau dengan kencang.

Karena baru menelan seekor kijang hutan besar, tubuh Rapit tidak segesit biasanya. Para penduduk pulau yang melihat ular naga tertinggal jauh dari pemuda sakti itu beramai ramai mengurung dan menangkapnya.

Meski dua orang menjadi menjadi korban, Rapit akhirnya dapat di tangkap oleh mereka menggunakan jaring yang dibuat dari hati daun pisang kering yang diberi pemberat di setiap pinggirnya seluas 5X5 meter.

Jiraiya yang telah jauh berlari segera berbalik ketika mendengar suara teriakan berupa desisan besar Rapit yang kini di bawa ke sebuah gua di ujung pulau.

Baru saja akan berlari, Jiraiya mengalami pusing akibat serangan racun di bahunya hingga dia pingsan semalaman.

Ketika itu hari telah menjelang malam, karena pakaian Jiraiya hitam hitam, begitu juga ransel yang sekilas mirip batu besar di malam tanpa bulan itu, tak ada satupun penduduk pulau yang tau bahwa Jiraiya semalaman pingsan di hutan pinggir pantai tersebut.

.---***---. .---***---. .---***---.

Seorang pemuda tampan berusia hampir 18 tahun terlihat duduk di punggung seekor ... Naga terbang yang mengepakkan sayap nya ke arah Barat Laut menuju ke Pulau Bon.

Dengan mengendarai hewan yang kini tampak bersemangat melanglang buana bersama nya, Mahesa selalu memperhatikan pulau pulau atau daratan yang dilaluinya.

"Candu, kita singgah di pulau itu sebentar." Teriak Mahesa sambil menepuk pelan bahu Candu dan menunjuk ke arah kanan.

Naga yang agaknya mengerti perkataan putra Tuannya atau yang sekarang menjadi Tuannya segera membelok ke kanan.

Melihat mereka di udara, rasanya sulit di percaya bahwa ada manusia penunggang Naga seperti itu di kehidupan nyata. Namun keberadaan Mahesa dan Candu yang saat itu menuju ke pulau dekat kepulauan riau menjadi bukti kuat bahwa terkadang dongeng pun bisa menjadi nyata suatu saat.

Seperti halnya kita yang sekarang dapat berbicara melalui Video Call dalam jarak yang jauh, mungkin sekali hal itu di anggap oleh orang zaman dulu sebagai mitos atau tahayul saja.

Namun kini semua itu terbukti benar adanya. Setelah mendarat di pinggir pantai pulau, beberapa penduduk nelayan lokal yang ketakutan berlarian.

"Bapak bapak, ini aku Mahesa. Jangan takut." Sebagian yang mendengar hal itu segera melihat lebih teliti dan berhenti.

Sebagian yang lain tetap saja lari karena tidak mengetahui siapa siluman aneh yang datang bersama Naga terbang yang tak pernah mereka lihat bahkan dalam mimpi.

"Hei,, itu pendekar." Teriakan para warga dusun pantai nelayan itu membawa mereka kembali mendekat belasan meter dari arah Mahesa berdiri.

"Binatang apa itu?"

"Apa tidak berbahaya?"

Belasan pria dan beberapa wanita besar kecil yang sedang bekerja di pinggir pantai bertanya.

"Tidak apa Pak, aku hanya singgah sebentar melihat keadaan kalian. Apakah masih ada gadis yang di culik? Apa mereka masih mengganggu?" Tanya Mahesa.

"Marilah kita singgah di rumah dulu Tuan Pendekar." Seru seorang pria tinggi dan gagah yang menjadi kepala dusun.

Berjalan lah Mahesa bersama Candu yang di ajak mengikuti tuan baru nya itu ke rumah pertama yang ada di hutan pinggir pantai.

Semua mata tak henti hentinya memandang ke arah Candu dengan pandang mata heran. Pernah dulu mereka mendengar cerita para pedagang yang lewat kampung mereka tentang makhluk naga terbang dan naga besar penguasa Kalimantan.

Namun, tanpa menyaksikan sendiri, mana mereka mau percaya hal seperti itu. Kini begitu melihat dengan mata kepala sendiri, barulah mereka tercengang.

"Silahkan masuk Tuan Muda," Seru kepala dusun.

"Panggil saja Mahesa Pak." Balas Mahesa dengan agak sungkan.

"Baiklah Tuan Pendekar, hanya karena permintaan mu saja maka aku memanggil mu Mahesa." Pak Kadus berkata bangga karena tempat nya kini di kelilingi para penduduk yang berani agak mendekat ke Candu yang berdiri saja di pelataran rumah itu sambil bermain main pasir.

Melihat warga mendekat, Mahesa yang tau bahwa Pak Kadus akan membicarakan hal penting segera menyuruh Candu pergi.

"Candu, tunggu aku di pinggir pantai." Seru Mahesa dengan keras hingga tiang tiang kayu rumah Pak Kadus bergetar keras.

Para warga yang melihat Candu terbang ke pinggir pantai segera mengikuti arah naga itu terbang.

Meski mereka tidak seberapa takut lagi kepada Naga terbang aneh itu, namun warga tetap hanya melihat dari jarak 6 meter paling dekat dengan Candu.

Pak Kadus yang tinggal berdua saja dengan Mahesa, leluasa menceritakan tentang sepak terjang para bawahan Pulau Merdu yang kini mendapat dukungan dari para penjahat Pulau Bon.

"Memang mereka tidak pernah lagi menculik gadis untuk dibawa ke Pulau mereka. Namun gadis gadis itu langsung di ganggu dan diperkosa di rumah mereka. Hanya Pulau ini saja yang tidak mereka ganggu, pulau pulau sekitar menjadi lahan kejahatan mereka Mahesa." Tutup Pak Kadus sambil melihat ke sana sini.

"Kenapa Bapak kelihatan takut seperti itu?" Tanya Mahesa sambil melihat ke kanan kiri.

"Pulau ini memang tidak mereka ganggu, namun banyak anak buah mereka yang menyusup di sini. Mereka tinggal di tengah hutan itu."

"Adakah warga dusun yang tinggal di sana?" Kembali Mahesa bertanya.

"Tidak, semua rumah rumah baru itu di huni oleh kelompok Merdu." Sahut Pak Kadus.

"Baiklah, malam nanti aku akan menyelidiki ke sana." Seru Mahesa mengerutkan keningnya.

"Ya, kau tinggal lah di sini Mahesa."

"Aku harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Bon Pak, sebelum itu aku akan menghentikan kejahatan mereka dan membuat mereka jera." Seruan Mahesa menunjukkan kekesalan dan kegeraman nya.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Ghie Noerback Al-fariezzie

Ghie Noerback Al-fariezzie

the best

2022-10-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!