Terbuka Tabir Rahasia

"Paman, Bibi, aku permisi dulu." Ucap pemuda tampan berambut panjang.

"Kau hati hatilah Jiraiya, salam buat semua keluarga mu." Seru wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.

"Baik Bi," Jawab Jiraiya yang berlalu pergi ke kiri.

"Hei Vina, aku akan kembali sekarang. Kau sudah jumpa Mahesa?" Tanya Jiraiya kepada gadis cantik berusia 13 tahun berbulu mata lentik.

"Belum, Mahesa belum kemari Kak. Kakak hati hatilah."

"Mari,," Tanpa menanti jawaban, Jiraiya segera berlalu pergi menuju ke depan.

"Kakek semua, Guru, Ibu, aku permisi."

"Hati hatilah di jalan Jiraiya, ingat pesan ku," Seru Satria.

"Kakak,,," Seru Cindi saat Jiraiya berlalu pergi.

"Jangan sedih Cin Moi, kita akan berjumpa kembali." Seru Jiraiya dengan senyum yang lebar.

Berangkatlah Jiraiya setelah bersuit mengajak hewan piaraan nya bernama Rapit yang meliuk kan badan ke arah sungai.

Melewati sungai panjang itu, Jiraiya menyusuri hingga berjumpa Muara ke laut lepas dan kembali ke Mongol lewat Laut Makasar.

Dari arah hutan kota rumah Haji Ahmad, terlihat seorang pemuda lainnya yang lebih muda 4 tahun lebih dari Jiraiya.

Sepasang gagang pedang tersembul dari punggungnya. Mahesa terus berjalan memasuki perkampungan hingga tiba di perbatasan Gesik dan Desa Rangkah.

Tak lama kemudian, Cindi yang sedang bersama di saung depan berteriak kencang.

"Abaang,,, Bg Hesa sampai,,, ayah, ibu,, Bg Hesa." Cindi yang heboh sendiri tidak memperhatikan bahwa Raisa berubah ceria mukanya, apalagi Alvina yang berlari dari dalam menuju ke teras luar mendengar nama idaman hatinya di sebut.

"Mahesa,," Desis Alvina saat melihat wajah pemuda tampan yang berjalan dengan wajah sedikit berkeringat menuju ke arahnya.

"Assalamualaikum," Seru Mahesa.

"Wa alaikum salam." Jawab semua yang berada di situ.

Setelah bersalaman dengan semua keluarganya, Mahesa berkata saat telah duduk beramai ramai di ruang tamu.

"Ayah, ibu dan Kakek semua, aku akan melanjutkan perjalanan besok. Tujuan ku singgah adalah untuk menanyakan hal yang tidak ku mengerti."

"Apa itu Nak?" Tanya Kek Hafiz yang berada di situ.

Sembari mengeluarkan selembar peta tua dari tas nya, Mahesa bertanya,

"Ini Kek, mengapa ada titik kecil dari Mongolia ke gudang pusaka ini?"

"Itu adalah jalur bawah tanah Mahesa, hal yang di ketahui oleh keluarga keturunan kerajaan saja pada masa itu." Jawab Kek Hafiz.

"Hafiz, kita ke tempatku sebentar, mari," Seru Kek Muhardi yang sudah 100 tahun lebih itu.

Kek Hafiz, Mahesa, Satria, Haji Ahmad dan Alvina pergi menuju ke bagian belakang bersama Kek Muhardi yang berjalan di depan.

"Coba jelaskan, apa maksudnya ini. Mengapa Mahesa? Bagaimana tentang ramalan bahwa orang orang itu berasal dari keturunan langsung Ong Barya?" Kek Muhardi bertanya setelah mereka semua duduk di ruang depan rumah sederhana nya.

"Beberapa minggu ini aku juga bingung sekali Kek, Namun setelah dipikir pikir, Satria pasti lah keturunan langsung Ki Bara Naya."

"Ah, bagaimana kau bisa yakin hal itu? Lewat jalur mana Hafiz?" Kek Muhardi bertanya pertanyaan yang hanya dapat dimengerti oleh Kek Muhardi, Kek Hafiz dan Haji Ahmad.

"Satria, coba ceritakan tentang kakek buyut mu." Tanya Kek Hafiz tegang.

"Kami berasal dari keturunan Mahmud Kek. Teuku Mahmud Musa adalah seorang penguasa di Madat dulu. Dia hanya memiliki seorang anak bernama,"

"Arsyad," Seru Kek Muhardi dengan mata terbelalak.

"Kakek tau tentang keluarga ku?" Seru Satria kaget.

Berlinang lah air mata di pipi Kek Muhardi, Kek Hafiz dan Haji Ahmad menatap wajah Satria.

"Lanjutkan Nak," Seru Kek Muhardi.

"Hanya sampai situ yang ku tahu Kek. Kakek Arsyad mempunyai anak bernama Abdullah ayah dari pada ayah ku Mahmud. begitu pula yang aku dengar dari Kak Sari." Tutup Satria sambil memandang ke wajah tiga orang tua itu dengan heran.

Dengan suara haru Kek Hafiz bercerita,

"Satria, kau adalah cucu Kek Mahesa."

"Apa???" Serentak pertanyaan itu keluar dari mulut Satria dan Mahesa putranya.

"Sekarang dengarlah hal yang membahagiakan ini. Dulu, Ki Bara Naya yang nama aslinya adalah Ong Barya, seorang keturunan kerajaan yang melarikan diri ke Nusantara mempunyai tiga orang anak. Anak pertama hanya di kenal dengan nama Ong Sianjin yang merupakan putra tertua dan menjadi kakek nya Teuku Muhammad Isa dan Teuku Muhardi Kakek kalian ini. Keturunan kedua Ki Bara Naya bernama Ong Ki Namh. Beliau kemungkinan besar adalah Kakek buyut nya Ong Kek Saiya ayah Jiraiya. Keturunan termuda bernama Ong Sam Hya atau Muhammad Muhibuddin yang tinggal di sekitar Pulau Jawa. Beliau lah yang menjadi Kakek buyut Muhammad Fatih yang dahulu menjadi Pembuka Dimensi Jin yang menjadi ayah Muhammad Arsyad Kakek mu." Kek Hafiz berhenti agak lama.

Kek Muhardi yang melihat keharuan menyelimuti mereka segera melanjutkan.

"Jauh sebelum Hafiz lahir, Arsyad, Raka dan Saif di bantu Nilam dan Bang Isa berhasil menutup Portal Jin. Setelah itu. Muhammad Arsyad menikah dengan Cut Tarisa Nuwaira, Teuku Muhammad Saif, satu satunya putra Teuku Isa Langsa menikah dengan Nilam. Putra ku sendiri menikah dengan Meli dan hidup dalam keadaan tenang dan aman hingga musibah itu datang. Saif bersama Nilam Cahya mempunyai anak yaitu Hafiz yang menjadi kakek istrimu Satria. Sedangkan Arsyad dan Tarisa, hilang dalam badai besar di tengah lautan saat kami kembali ke Aceh setelah pernikahan mereka dilangsungkan." (Baca Cerita MELAWAN DIMENSI JIN).

Dengan tangisan tanpa suara, Kek Muhardi menangis. Apalagi saat Satria menunduk dengan penuh keharuan mencium lutut Kek Muhardi dan Kek Hafiz bergantian.

Mahesa yang tegar namun tak dapat menahan keharuan nya pun melakukan seperti apa yang dilakukan ayah nya.

"Ternyata kita masih sekeluarga." Seru Haji Ahmad.

Melihat Mahesa sedikit mengerutkan keningnya, Kek Hafiz dengan senyuman santai berkata.

"Ketahui lah Mahesa, Nenek buyut mu Tarisa adalah kakak kandung Nenek nya Kek Haji bernama Tasya. Mereka adalah kakak kakak ayahku, putri putri Kek Mahesa."

Kembali keharuan menyelimuti mereka. Namun kini tangisan mereka perlahan lahan berhenti setelah Kek Muhardi berkata,

"Inilah maksud Bang Isa dulu, semua akan terbuka pada waktunya, jangan bersedih jangan berduka. Rahasia tak kan pernah ada."

Setelah mendengar pernyataan yang mengharukan, mereka kembali berkumpul bersama keluarga mereka.

Haji Ahmad membuat perayaan besar acara makan bersama penduduk kampung. Dalam acara itu, atas permintaan Alvina yang masih remaja itu, dan persetujuan Mahesa serta seluruh keluarga mereka, acara pertunangan pun di langsung kan antara Alvina putri Pak Alif dan Bu Lina dengan Mahesa putra Satria dan Sari.

Dua hari kemudian, Saat Mahesa ingin melanjutkan perjalanannya, Sang Ayah berkata,

"Mahesa, aku sudah bosan melanglang buana. Kau masih muda dan perlu banyak pengalaman. Bawalah Candu bersama mu karena dia pasti bosan berada di tebing terus terusan. Aku akan istirahat sambil mengajar kedua murid ku."

"Wah, selain Putra, ayah juga mempunyai murid baru?" Tanya Satria.

"Ya, murid perempuan yang sangat bawel dan manja bernama Cindi Cantika." Seru Satria menggoda putrinya.

Pecahlah tawa kebahagiaan mereka. Mahesa terpaksa menginap semalam lagi di sana menunggu Candu mengantarkan ayah, ibu dan adiknya ke Nanggroe Aceh Darussalam tepatnya di Tebing Maut Daerah Provinsi Aceh.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Cut Tisa Channel

Cut Tisa Channel

terimakasih banyak kakak, jangan bosan bosan ya, makasih 🙏🙏😅

2022-10-18

1

Ghie Noerback Al-fariezzie

Ghie Noerback Al-fariezzie

mantap cerita nya semuanya tersambung dengan detail, ttp semangat thor

2022-10-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!