Pagi itu, terlihat seorang pria tampan berusia 32 tahun baru tiba di rumah yang lumayan indah.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam, Eh, Nak, mari masuk." Seru seorang ibu tua yang membuka pintu dari dalam.
"Santi mana Bu?"
"Ada, dia dikamar lagi menemani Putra yang dari semalam demam." Jawab Nyonya tua itu.
Segera lelaki itu berlari menuju ke kamar melihat putranya bernama Putra. Sesampainya didalam, Santi segera menyambut suaminya dengan wajah lega.
"Syukurlah kau selamat." Seru wanita yang sebaya dengan suaminya itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Raja seraya melihat keadaan anak lelaki berusia hampir 14 tahun.
"Demam nya sudah turun. Tadi pagi sudah dikasih obat sama Kak Andi."
"Kak Andi dimana?" Tanya Raja kepada Istrinya.
"Dia belum pulang, pergi sama Kak Rani dan Tiara." Jawab Santi sambil duduk di tepi pembaringan.
"Sayang, aku keluar sebentar,"
"Mau kemana?" Tanya Santi.
"Menyuruh mereka kembali ke pulau."
Raja segera keluar di iringi tatapan mesra istrinya.
"Ali, Dani, kalian ku tugaskan menjaga pulau. segera kembali ke sana lakukan penjagaan ketat. Aku yakin, yang menyerang kemarin pasti para pengkhianat itu dibantu pasukan B.K.G." Seru Raja sesampainya di luar.
"Baik Kak. Permisi." Kedua bawahan kepercayaannya segera melangkah pergi.
Baru saja akan masuk, Raja melihat mobil Kakak nya dari jauh menuju ke situ.
"Raja,"
"Kak, darimana?"
"Kami baru akan ke pulau. Sampai ke pelabuhan, penjaga bilang kau baru mendarat. Segera kami menyusul kesini."
"Mari kita masuk Kak, didalam kita ngobrol." Ajak Raja kepada Andi yang segera masuk.
"Bagaimana keadaan Putra?" Tanya Andi kepada Raja yang kini duduk di sofa tamu.
"Demam nya sudah turun Kak." Jawab Raja.
"Ceritakan serangan kemarin."
"Aku dan Santi sedang berada dikamar ketika suara ledakan dan hiruk pikuk serta teriakan teriakan terdengar." Raja bercerita tentang keadaan pulau dengan semangat.
Raja berkata bahwa ketika melihat hal itu, Dia segera menyuruh bawahan mengawal Putra dan Santi ke rumah Andi. Sedangkan dia segera bergabung bersama para pasukan BISA.
"Jika saja aku ikut melarikan diri, pasti pasukan habis dibantai. Ku lihat para penyerang hanya sekitar 140 orang lebih. Namun pasukan malah kocar kacir. Ketika melihat ku datang, mereka kembali semangat dan akhirnya, pihak musuh dapat di pukul mundur."
"Berapa pasukan yang tewas di pihak kita?"
"16 orang tewas, 23 lainnya luka luka. Namun mayat musuh yang kami urus melebihi 50 orang Kak."
"Hebat kau Raja, Kakak bangga padamu."
"Terimakasih Kak. Berkat latihan tambahan dari Kakak, pasukan pulau sangat kuat dan cekatan."
Segera percakapan mereka berlanjut hingga rencana Raja yang akan membawa Putra kepada Satria diceritakan juga oleh nya kepada Prof Andi. Mendapat persetujuan dari Kakak iparnya, Raja semakin yakin untuk menitipkan putranya kepada Satria di Tebing Maut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Sore itu sekitar pukul tiga, Mahesa menuruni tebing dimana keluarganya tinggal. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak melewati lorong menurun yang di tutupi batu besar di balik semak, Namun Mahesa langsung turun dari dinding Tebing Maut yang tingginya mecapai beberapa kilometer.
Sesampainya di bawah tebing, Mahesa segera lari ke rumah secepat kilat. Melihat adiknya sedang berlatih silat seorang diri.
"Dek," Seru Mahesa yang berdiri dibelakang Cindi.
"Abang? Bang Hesa, Ibu,, Bang Hesa pulaaang,," Teriak Cindi sembari berlari menubruk Abang kandungnya yang langsung memeluknya.
"Wah, Kau sudah sangat besar Cindi,,," Seru Mahesa yang melempar tubuh gadis berusia 11 tahun lebih itu.
Tak berapa lama, Bu Sari keluar dari pintu depan berlari memeluk putra nya yang kini telah menjadi seorang pemuda tampan.
"Hesa,, kau sudah pulang Nak,, kau tidak kembali lagi ke sana kan?" Tanya Bu Sari sambil memeluk putra nya yang telah menurunkan Cindi.
Di pintu tampak seorang lelaki berambut putih perak panjang melewati bahu dengan mata mencorong tajam melihat putranya yang saling berpelukan dengan istri dan putrinya.
"Kenapa kau kembali Mahesa?" Tanya Ayahnya ketus.
"Maaf Ayah, Kakek yang memerintahkan aku menemui Ayah."
"Ayo masuk." Seru Satria sedikit lebih lembut.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah yang luas itu dimana Mahesa melepaskan kangen dengan Bik Mi dan suaminya yang kini telah semakin tua.
Setelah Mahesa selesai mandi dan sholat, kini dia telah bergabung dimeja makan besar dimana kemarin pagi masih di tempati oleh Jiraiya.
Selesai makan malam bersama, Mahesa bertanya kepada ayahnya.
"Jiraiya mana Yah?"
"Baru kemarin dia pergi mengunjungi orang tuanya."
Mahesa teringat dengan pemuda yang dijumpainya di warung kemarin, apakah itu Jiraiya? Namun keinginan hatinya untuk bertanya bagaimana ciri Jiraiya kepada Ayahnya di urungkan nya.
"Bagaimana kabar Kakek? Apa ada pesan buat ku?" Tanya Satria kepada putranya.
"Kakek sehat. Beliau menitip salam buat Ayah sekeluarga. Sebentar,," Jawab Mahesa yang berlari menuju kamarnya di samping kiri.
Beberapa saat kemudian, Mahesa kembali membawa sebuah amplop di kanannya, dan kotak hitam kecil di kirinya.
"Ini pesan Kakek untuk ayah." Seru Mahesa sambil menyodorkan kedua tangannya ke depan.
Satria yang mengambil kedua barang itu segera meletakkan Kotak Hitam di meja makan yang sedang dibereskan oleh Bik Mi, dibantu Cindi dan ibunya.
Setelah membaca surat yang dibawa putranya, Satria mengangguk angguk sambil mengerutkan kening.
Segera dia membuka kotak hitam berisi dua buah bola kecil mirip bandul karet, sebuah gelang emas kuno yang sangat indah dan sebuah kertas tua yang tebal dan berwarna coklat karena usang. Di atas kertas itu terlukis garis dan petunjuk seperti peta.
"Mahesa, dengarlah pesan ini."
"Tapi Ayah, Kakek bilang surat itu tidak boleh ku buk.."
"Diam dan dengarkan saja." Seru Satria yang mulai bercerita.
"Kakek mu memerintahkan agar kau melaksanakan tugas yang berbahaya."
"Tugas Ap,,"
"Diam dan dengar, sekali lagi ku ulangi, diam dan dengarkan."
Mulai lah Satria bercerita. Menurut ramalan Ki Bara Naya yang merupakan leluhur Kek Hafiz, kelak akan ada tiga generasi langsung Ki Bara Naya yang luar biasa. Seorang anak yang mampu membuka Dimensi Jin. Sepasang ksatria yang pertama memiliki kuasa ajaib di luar nalar manusia dan kedua seorang bocah beracun yang mampu menggetarkan gua di dasar gunung mendapat petunjuk ke gudang pusaka Timur. Seorang lagi wanita yang menggetarkan dunia dengan kehebatannya hingga mengalahkan kehebatan Ki Bara Naya sendiri.
"Guru Kakek mengira bahwa salah satu bocah itu adalah Kek Hafiz. Namun ternyata setelah mencoba hingga tua, tetap saja dia tak mampu melakukan nya." Jelas Satria yang mulai melanjutkan cerita bahwa,
Secara tak di sangka sangka, malah Mahesa yang mampu melakukan itu saat dilatih tenaga suara yang dapat menggetarkan hati musuh. Tanpa diketahuinya, ketika getaran terjadi di ruang bawah tanah, sebuah gundukan di sudut pecah mengeluarkan kotak hitam itu.
"Kotak ini harus kau bawa mengikuti peta yang ada di dalamnya. Kakek mu berpesan agar kau selalu membela kebenaran melawan kejahatan. Karena jika benar ramalan Kakek buyut mu, kau lah manusia dewa yang akan mendapatkan kekuatan mukjizat itu." Seru Satria menutup ceritanya.
"Wah, sulit dipercaya. Benarkah kita keturunan Pendekar sakti Ki Bara Naya Ayah?"
"Entahlah, dulu aku pernah diceritakan Guru ku bahwa keturunan Pendekar besar Bara Naya hanya tiga orang lelaki saja. Ketiganya merantau dan menetap di tempat berbeda. Yang tertua di Aceh, yang kedua kembali ke kampung halaman nya daerah Tiongkok. Seorang lagi tinggal di Pulau Jawa."
"Siapa yang mengetahui silsilah keturunan kita Yah?" Tanya Mahesa.
"Selain Kek Hafiz, mungkin Kek Muhardi. Tapi Kakek mu Haji Ahmad juga banyak tau tentang silsilah keturunan kita." Seru Satria yang semakin tertarik dengan pembicaraan itu.
"Tapi kau sepertinya bukan keturunan langsung. Karena darah Bara Naya hanya turun melalui ibumu." Seru Satria bingung.
"Lantas bagaimana Ayah?" Tanya Mahesa.
"Kau ikuti saja petunjuk Kakek mu. Istirahatlah dulu beberapa hari. Setelah itu kau berangkatlah." Seru Satria yang langsung mengajak putranya tidur.
Tiga hari kemudian, Satria kedatangan tamu yang tidak lain adalah Prof Andi dan Raja bersama anak istri mereka.
"Silahkan masuk Paman," Seru Satria yang mempersilahkan mereka semua dengan ramah.
Setelah mereka duduk, Prof Andi dan Raja bergantian menceritakan serangan yang di alami Raja beberapa hari lalu.
"Karena kami khawatir keselamatan Putra, maka saya ingin meminta tolong kepada Kak Satria untuk menerima Putra sebagai murid Kakak. Biar dia belajar disini dengan aman."
"Baiklah. Mulai sekarang kau tinggal bersamaku Putra." Seru Satria sambil tertawa lepas.
Sebenarnya kegirangan Satria timbul karena keadaannya yang saat itu merasa lengkap. Baru mengalami kepergian muridnya Jiraiya, putranya tiba. Ketika putra nya harus pergi melaksanakan tugas, datang pula Putra yang akan menjadi muridnya.
Prof Andi dan semua keluarganya pun pamit setelah menginap semalam di rumah Satria. Mereka hanya meninggalkan Putra dan bekal bekal untuk nya selama disitu.
Mulai hari itu, Satria kembali menggembleng seorang murid bernama Putra yang sangat di sayang oleh seluruh penghuni Tebing Maut termasuk Candu dan Cindi.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments