Pertemuan Hangat

Pagi itu, gerimis turun di hutan lebat Pulau Merundung ketika seorang pemuda tampan berjalan menyusuri hutan yang membawanya ke arah pusat komplotan Merdu.

Sepasang matanya yang tajam dan indah menatap lurus ke depan. Langkah kakinya tegap melangkah perlahan melewati hutan rimba pulau yang berada di wilayah antara Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Setelah melalui jalan sempit dan penuh semak belukar, Mahesa melihat ke arah puluhan bangunan sederhana di tengah pulau yang dijaga oleh beberapa orang yang berseliweran dengan malas di sekeliling bangunan itu.

Dengan mencabut sepasang pedang nya dari sarung di punggungnya, Mahesa melangkah secara berterang ke arah para penjaga yang berjarak belasan meter dari nya.

"Hei,, siapa kau?" Tanya seorang pria tinggi besar penuh brewok dengan senjata seperti parang bermata gergaji tajam di tangannya.

Beberapa bawahan lain ikut berlari dibelakang pimpinan jaga pagi itu mengurung Mahesa.

"Lepaskan para gadis Pulau Serasan yang kalian culik semalam. Suruh pimpinan kalian keluar atau kalian akan menyesal." Seru Mahesa memandang tajam dengan mata merah semerah hawa pedang yang ada di tangan kanannya.

"Hahaha, Siapa bocah ingusan yang berani mengancam Kaja?" Suara seorang pria berusia 45 tahun yang keluar dari bangunan kayu paling besar.

"Lepaskan gadis yang kau culik sekarang." Suara Mahesa terdengar tak sabar menekan amarahnya.

"Serang,," Seruan pria berambut putih tampan yang bersetelan tinggi itu.

Tidak kurang dari 12 orang penyerbu segera menyerang Mahesa yang siap menyambut mereka dengan pedangnya.

"Trang tring ting craaakkh triingg craakhh,," Baru beberapa kali senjata anak buah Pulau Merdu bertemu dengan pedang Mahesa, dua orang penjaga telah putus tangannya sebatas pergelangan.

Melihat hal itu, Kaja yang memanggil anak buahnya dengan berteriak kencang segera menyerang.

"Hiiaaaat,,, Criingg,, siingg, wuuut,, plaakh,, dukkhh,, Craaakkhh,," Kembali tiga orang bawahan terlempar terkena tendangan di muka, tendangan lutut di dada dan kuping hilang sebelah.

Para anggota pulau Merdu yang kini telah berjumlah 40 orang mengurung dengan sikap mengancam. Edo yang kini telah bergabung dengan Kaja mengitari tubuh Mahesa perlahan lahan.

"Kalau kalian ingin selamat, lepaskan semua gadis sekarang juga sebelum terlambat." Suara Mahesa terdengar seperti iblis pembunuh di telinga mereka.

"Jika kami melepaskan mereka, apa yang kau lakukan?" Edo yang lebih cerdik bertanya gentar.

"Tujuan ku kemari hanya menyelamatkan gadis gadis itu." Jawab Mahesa menggerakkan pedang berhawa biru di tangan kirinya.

Melihat keadaan tidak menguntungkan bagi pihaknya, Kaja dan Edo segera bermain mata dan saling memberi isyarat.

"Baiklah, kami akan lepaskan gadis gadis itu. Pergilah," Edo berkata kepada Mahesa.

"Semua gadis akan pulang bersamaku." Sahut Mahesa dengan nada yang tak bisa di tawar tawar lagi.

Tak lama kemudian, para gadis itu di iringi oleh Mahesa yang di antar dengan kapal besar oleh bawahan suruhan Kaja dan Edo.

.---***---. .---***---. .---***---.

"Kek, bagaimana dengan Rapit?" Tanya Jiraiya ketika tampak pemukiman penduduk Gesik ratusan meter di depannya.

"Bawa saja jika kau yakin bisa mengendalikannya." Jawab Kek Hafiz.

Melangkah lah Jiraiya di belakang Kek Hafiz di ikuti oleh Rapit yang meliuk aneh dengan cakar tajam di kedua kakinya.

"Assalamualaikum,," Seru Kek Hafiz di depan rumah Haji Ahmad.

"Wa alaikum salam,, Astaghfirullah," Seruan Nyonya Ahmad kaget saat membuka pintu.

"Tidak apa Nek, jangan khawatir, hewan piaraan ku ini jinak." Cetus Jiraiya.

Terlihat beberapa warga berbisik bisik dari jauh melihat Rapit si ular betina besar meski baru berusia enam bulan.

"Setelah mengeluarkan bunyi bunyi aneh ke arah raja piton albino itu, Jiraiya segera masuk ke dalam rumah bersama Kek Hafiz yang di sambut oleh keluarga Haji Ahmad dengan pandangan heran.

Rapit yang mendengar perintah tuannya, segera merangkak naik ke sebuah pohon durian yang sedang lebat buahnya.

Benar benar aneh melihat Rapit di atas pohon yang membelah durian memakai tungkai (kaki depan) nya membelah durian bekas digerogoti tupai dan memakan lahap durian durian itu.

Mungkin karena cairan aneh yang di minum komodo yang mempengaruhi otak nya sehingga Rapit menjadi Omnivora (Hewan pemakan tumbuhan dan daging).

Di dalam, seluruh anggota keluarga Haji Ahmad dan Kek Muhardi sibuk bertanya tentang binatang aneh itu.

Mungkin karena telah mengenal Candu, mereka beserta penduduk Gesik tidak lah begitu aneh melihat ular yang memiliki deretan gigi runcing bengkok ke dalam.

Mereka semua hanya penasaran kenapa ada hewan seperti Naga yang berwarna putih, bermata tajam dan indah.

"Hewan itu adalah keturunan Tangkalaluk, Nabau dan seekor komodo besar yang telah tewas ketiganya." Jawab Jiraiya singkat.

"Sudahlah, masih ada lain hari menceritakan hal itu." Seru Kek Hafiz.

"Bagaimana kabar Kakek, Paman dan Bibi semua?" Tanya Jiraiya seraya tersenyum.

"Kami selama ini sehat seperti engkau Jiraiya." Seru Kek Muhardi ramah yang kini telah berusia 110 tahun lebih.

"Yang lain mana Kek?" Kembali Jiraiya bertanya. Kali ini pertanyaan di tujukan kepada Kek Ahmad.

"Alvina sedang menempuh ujian di kota. Sedangkan Raisa dan orangtuanya pergi belanja untuk persiapan besok Nak," Sahut Kek Ahmad atau Kek Haji.

Segera terjadi percakapan yang hangat diantara mereka. Jiraiya dan Kek Hafiz bermalam di rumah besar Haji Ahmad.

Keesokan harinya, Satria bersama istrinya tiba di situ bersama putri mereka Cindi Cantika menunggang Candu yang kini telah berkembang hampir dua kali lipat tubuhnya yang dulu.

Baru saja mereka masuk menyambut Satria dan keluarganya, Jiraiya yang duduk antara Kek Hafiz dan Satria di ruang depan rumah Haji Ahmad tersentak mendengar suara ketakutan Rapit di belakang rumah.

Satria dan Jiraiya segera melesat di ikuti oleh Kek Hafiz dibelakang.

"Candu jangan, dia adalah peliharaan ku." Seru Jiraiya.

Candu yang telah berubah mengerikan itu perlahan tenang dan kembali ke asalnya semula.

Rapit segera menggeliat turun dengan cepat menuju ke arah Jiraiya dan mendekam di balik Jiraiya karena takut kepada Candu.

"Makhluk apa ini?" Seru Satria kepada muridnya.

"Rapit adalah keturunan campuran naga yang dulu itu guru." Jawab Jiraiya dengan senyuman keceriaan yang tampak diwajahnya.

"Rapit? Kakinya?" Tanya Satria mengerutkan keningnya.

"Dia keturunan raja komodo yang hilang setahun lalu dari Nusa Tenggara Timur." Jawab Kek Hafiz.

"Kek Hafiz yang memberikan nama Rapit." Sambung Jiraiya sambil tertawa.

Kek Hafiz tertawa mendengar kata kata Jiraiya. Sedang asyik asyik nya mereka berada di belakang, beberapa orang tiba mengucapkan salam dari depan.

"Assalamualaikum".

"Wa alaikum salam. Sebentar," Kek Ahmad dan istrinya tergopoh-gopoh menuju ke depan di ikuti oleh mereka semua.

Satria bersama Jiraiya dan Kek Hafiz kembali pula ke rumah Kek Ahmad setelah berpesan kepada Candu agar tidak menyerang Rapit.

Candu yang terlihat lucu itu hanya mengedipkan matanya menatap ke arah Rapit yang kini tampak meliuk liuk ke arah pohon durian di belakang rumah.

"Silahkan masuk Profesor. Mari, mari." Haji Ahmad dengan wajah tenang dan gembira menyambut Andi yang datang bersama istri, Santi dan putrinya.

Segera terjadi kehangatan diantara beberapa keluarga yang bersenda gurau bercakap-cakap riuh rendah.

"Hei,, Kak Cindi,, Seru Raisa yang datang bersama orang tuanya.

"Raisa, mari kita ke saung." Ajak Cindi meninggalkan keluarga mereka di ruang tamu depan.

Selama seminggu Satria tinggal disitu bersama anak istrinya hingga suatu hari, putranya tiba pula di sana. Mari kita ikuti petualangan Mahesa yang baru saja menyelamatkan para gadis yang di culik oleh kelompok pulau Merdu.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!