Mengukir Nama Besar

Malam itu Mahesa menunggang Candu ke arah hutan dimana terdapat sarang komplotan Pulau Merdu yang menjadi mata mata di pulau tersebut.

Melihat pasukan Merdu sebagian berkumpul minum minuman keras sambil mencolek gadis gadis yang tampak ketakutan di samping mereka, membuat Mahesa naik pitam.

Tidak seperti rencananya yang akan memata-matai mereka, Mahesa malah turun di atas punggung Candu sambil membentak kencang,

"Kurang ajar kalian, memang kalian tak bisa di biarkan hidup." Dengan sepasang pedangnya, Mahesa membabat siapa saja yang dekat menyerangnya.

Kadang kaki kanan yang buntung, kadang kaki kiri yang terkena. Ada juga sebagian lengan sebatas pergelangan pasukan Merdu yang hilang termakan pedang nya.

Semua bawahan pasukan Pulau Merdu terguncang hebat melihat kejadian mengerikan itu. Banyak sekali teman teman mereka yang tercincang kaki tangannya berteriak kesakitan.

Sebagian yang lain telah melarikan diri. Namun sia sia mereka lari, Satria yang telah meloncat kembali ke punggung Candu segera mengejar dan mencincang telinga dan hidung mereka dari atas.

Teriakan kengerian mewarnai malam itu. Para penduduk pulau pantai nelayan itu tak ada satupun yang berani keluar rumah mendengar teriakan teriakan kengerian dan kesakitan para penjahat tersebut.

Setelah puas mencincang habis anggota tubuh mereka, kini Mahesa memerintahkan Candu berkeliling dari udara melakukan patroli ke pulau pulau sekitar. Ketika melihat ada keributan terjadi di pulau itu, Mahesa segera turun bersama Candu dan melakukan keganasan dengan sepasang pedangnya.

Ada juga penjahat yang mengganggu penduduk itu yang melawan, namun tentu saja Jiraiya bukan lah lawan mereka.

Setelah habis berkeliling ke seluruh penjuru pulau pulau sekitar hingga hampir subuh, Jiraiya menuju ke pulau Merundung dimana para ketua mereka sedang menikmati gadis gadis lain yang di culik.

Kaja dan Edo yang memimpin anak buah pulau juga menjadi korban kemarahan Mahesa yang memotong telinga dan lengan mereka.

Sebelum Mahesa meninggalkan pimpinan Pulau Merdu, dia berseru lantang dari atas Candu yang terbang di tempat beberapa meter dari tanah.

"Aku bukan penjahat, seandainya aku seperti kalian, sungguh leher kalian semua sekarang sudah putus. Siapa saja yang masih melakukan kejahatan dengan ciri cacat seperti kalian, aku akan memenggal leher nya. Camkan itu."

Mahesa segera berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang sedang merintih rintih hingga malam tergantikan mentari pagi yang indah.

.---***---. .---***---. .---***---.

Jiraiya terus berjalan melewati Mongol hingga hampir sampai ke rumahnya.

Ketika dari jauh Jiraiya melihat seorang gadis cantik manis belasan tahun di ganggu oleh beberapa orang pria kasar dan kejam di pinggiran hutan, dia segera melesat kesitu di ikuti Rapit dari jauh.

"Hei, hentikan,," Seru Jiraiya.

Jiraiya yang datang langsung menyerang lima pria kasar itu.

"Taak,, Plaaakkh,, duukhh, auhh,," Ketiga pria yang di serang Jiraiya dapat mengelak dan menangkis, sedangkan seorang lagi terkena tinju di ujung bahunya.

"Siapa kau?" Bentak orang itu dengan bahasa daerahnya.

"Kalian siapa? Berani nya hanya dengan anak kecil." Seru Jiraiya bernada emosi.

"Hei hei hei,, siapa yang kau sebut anak kecil Ha?" Jawab gadis imut yang cantik manis itu.

"Maaf Nona, aku ingin menyelamatkan mu. Siapa mereka?"

"Siapa yang butuh kau selamatkan ha?" Jawab gadis itu dengan nada ketus.

Dalam hatinya Jiraiya berkata, gadis sombong ini harus diberi pelajaran. Jiraiya segera menuju ke bawah pohon dan duduk di temani oleh ular naga putih nya.

"Hei, kalian penjahat busuk, silahkan berurusan dengan gadis itu, aku malas berurusan dengan nya." Seru Jiraiya yang mencabut ilalang dan menggigitnya.

"Hei gadis bengal, kau harus menebus hinaan mu kepada kami." Seru pria kasar itu sambil tersenyum senyum genit.

"Dasar kalian cari mati, kalau ayahku datang, kepala kalian akan hancur semua." Seru gadis manis itu dengan hati mendongkol kepada pria pria itu terlebih kepada ... Jiraiya.

"Ha hahaha, ayo, panggil ayahmu manis biar sekalian ku injak kepalanya."

"Kurang ajar kalian berani menghina ayah ku."

"Memang nya siapa sih ayahmu sampai sampai tak boleh di hina? Hahahaha," Seru pria yang sepertinya menjadi kepala pria lainnya.

"Kalian tidak perlu tau." Ucap gadis itu sambil menyerang kuat.

"Haiiit,, plakh, plakh, dukkkh dhaaasss,,"

Dua kali tamparan gadis remaja cantik itu dapat ditangkis. Namun tendangan si gadis manis mengenai paha kepala penjahat itu berbareng tangan yang mengenai bahu si gadis yang membuatnya terpelanting.

"Hei, jangan kasar kalian." Seru Jiraiya yang melihat tiga orang penjahat memegang lengan dan kaki si gadis.

"Mengapa kau begitu usil ha? Kau bilang tidak ada urusan sama kami dan gadis ini," Hardik Balgur yang menjadi kepala mereka.

"Aku bilang malas berurusan, bukan tidak ada urusan." Jawab Jiraiya sambil berjalan ke arah mereka.

Rapit yang melihat Jiraiya bangun segera mengikuti. Para penjahat kaget sekali melihat ada ular besar mengikuti pria itu. Dari tadi mereka memang tidak begitu perhatian kepada Rapit yang sebagian tubuhnya terhalang pohon besar itu.

"U,u,u,, Mon,, Monsteeeerrr,,," Mereka semua melarikan diri sambil teriak teriak ketakutan.

Padahal para penjahat itu merupakan preman preman yang memiliki ilmu beladiri lumayan. Namun melihat Rapit, tak pernah mereka bertemu ular sebesar itu. Apalagi warnanya putih susu dan berkaki empat.

Jiraiya melihat gadis itu terbelalak menatap ke arah ular yang sangat dengan nya tepat berada di samping Jiraiya yang berhadapan beberapa meter saja darinya.

Saking kaget, takut dan geli nya, gadis tersebut hanya berdiri seperti patung dengan muka pucat dan mata terbuka lebar.

"Jangan takut Nona kecil, dia Rapit, temanku. Dia tidak berbahaya kok," Seru Jiraiya menenangkan.

"Sh,, shh,, shhiy,,"

Melihat gadis itu tak mampu bicara saking ngeri nya, Jiraiya berkata lantang,

"Rapit, kau tunggu aku di pohon," Seperti mengerti saja, Rapit segera meliuk liuk ke arah pohon dan memanjat pohon itu untuk nengkreng duduk melingkarkan badannya di situ.

Setelah ular itu tak ada, baru lah gadis cantik itu dapat berseru,

"Siapa k, kau?"

"Aku? Hem hem hem, aku Jiraiya yang bar,,"

"Kanda? Kau Kanda Jiraiya?" Seru gadis manis itu dengan wajah girang.

"Maaf, kau kenapa Nona? Siapa kau?" Tanya Jiraiya.

"Siapa ibu mu?" Tanya gadis itu.

"Untuk apa kau mau tau siapa ibuku?"

"Apakah kau putra tiri Master Gu? Gulikan?"

"Ya, kau siapa?"

"Aku adikmu Koko, sudah lama kami menunggu mu pulang."

"Maaf Nona, mengapa kau menyebutku Koko?"

"Kalau begitu aku akan menyebutmu Jiko saja. Mari kita pulang." Seru gadis itu sambil menggandeng tangan Jiraiya.

"Shhh,, shhhiit,,shhhuuut,, ngggeukk," Desis aneh keluar dari mulut Jiraiya yang berjalan ke arah gadis itu menariknya.

"Jiko, baru kali ini aku melihat mu. Ayah ibu pasti senang sekali melihat mu. Kakek sakit keras, aku di suruh mencari obat." Seruan gadis itu terdengar sepanjang jalan tanpa di jawab Jiraiya.

"Kau siapa Nona?" Seru Jiraiya.

"Ah, maafkan aku Jiko. Aku Luoyi, putri Master Gulikan." Jawab gadis manis itu.

"Ah,, ternyata sudah sangat lama kepergian ku sampai sampai aku tak tau adik ku sudah sebesar ini." Seru Jiraiya tertawa sambil merangkul adiknya yang memang lebih dewasa dari usia sebenarnya itu.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!