Pagi itu, Mahesa tampak berlatih dengan tekun. Pemuda yang berkulit bersih dan sehat dengan rambutnya yang hitam sedikit pendek itu mengeluarkan bentakan bentakan nyaring mengikuti petunjuk dari Kek Hafiz.
"Alirkan tenaga di pusar ke atas melalui lapisan dalam suara dan sentak kan sekalian menyatu dengan suara." Ucapan Kek Hafiz terdengar lembut dan santai.
"Haaiiit,,, Hhhiiiaaat,, Aaaacchh,," Teriakan demi teriakan terdengar menggema di dalam ruang gua itu.
Mahesa yang terus menerus melakukan hal itu akhirnya dapat mengeluarkan serangan suara tepat seperti perintah Gurunya.
"Hhaaaiiit,, Ggrrrruuuuuhhhhrhrhhrr." Suara teriakan nya diiringi reruntuhan batu batu kecil yang ada di dinding gua batu tersebut.
"Cukup Nak." Seru Kek Hafiz.
"Baik Kek." Jawab Mahesa yang kembali ke tempat khusus dimana selama 7 tahun ini dia duduk bersemedi sambil menghirup asap aneh yang keluar dari lubang uap panas di dalam perut bumi.
Hingga berjam jam lamanya mereka duduk di tempat masing masing sampai Mahesa sadar dari semedinya. Saat sudah merasa cukup bersemedi, Pemuda berusia 17 tahun itu segera menyiapkan santapan siang untuk nya dan sang Kakek yang masih tenggelam larut ke dalam kekuasaan alam.
Jika dilihat dan diperhatikan, hari hari Mahesa sangatlah membosankan. Dia seperti berada dalam penjara besar tanpa berinteraksi langsung dengan orang orang luar.
Hanya setahun sekali keluarganya berkunjung atau dia yang di beri waktu selama dua bulan untuk mengunjungi keluarganya tanpa boleh berlama lama.
Memang begitulah kehidupan Mahesa yang kini telah tau apa penyebab dia di kurung di dalam gua besar tersebut.
Hal itu diketahuinya ketika Ayah nya dan Kek Hafiz berbicara berdua saja di ruang batu Tebing Maut saat mereka berkunjung ke sana dua tahun yang lalu di jemput Candu.
Kala itu Ayahnya bertanya bagaimana keadaannya, Kek Hafiz menjawab, racun yang ada di tubuhnya kini telah netral sebagian besar. Hanya perlu setahun lagi saja Mahesa berlatih untuk pulih total.
Sejak saat itu, tak ada lagi ganjalan dihatinya untuk tinggal di situ bersama Kek Hafiz meski terkadang dia merasa terkekang bak hidup di penjara.
"Kek, mari makan siang," Seru Mahesa yang telah duduk di atas kakinya di depan Kek Hafiz.
"Mari Nak," Jawab Kek Hafiz yang meskipun usia Mahesa sudah 17 tahun dan telah menjadi seorang pemuda tegap gagah dan tampan, namun masih saja selalu memanggilnya 'Nak'.
Selesai makan, mereka segera shalat berjamaah di pimpin Mahesa yang memang memiliki suara merdu dan berbakat dalam membaca dan menghafal ayat ayat kitab suci.
Selesai melakukan aktifitas mereka, Kek Hafiz segera mengajak murid sekaligus cicitnya ke puncak gunung kidul.
Dengan senyum bahagia, Mahesa mengikuti Kakek yang tampak tua itu keluar dari lorong bawah tanah menuju ke lubang gua yang menanjak di dekat puncak.
Setelah keduanya berada di Puncak Kidul, Mahesa dan Kek Hafiz yang menghirup aroma alam terbuka itu memilih batu berjarak tiga meter yang saling bersandingan dan duduk diatasnya.
"Mahesa, hari ini seluruh latihan mu selesai." Seru Kek Hafiz.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan Kek?" Tanya Mahesa bingung.
"Nanti malam, kau harus turun gunung membawa kotak hitam ke Tebing Maut. Berikan kepada Ayah mu bersama surat yang tidak boleh kau buka sama sekali. Kedua hal itu harus kau jaga dengan taruhan nyawamu Nak, apa kau sanggup?"
"Akan ku coba Kek." Jawab Mahesa berdebar hatinya mendengar hal itu.
"Ingatlah Nak. Hidup ini adalah memberi dan diberi. Jika kau rasa senang diberi kebaikan, kau juga harus merasa senang memberi kebaikan. Jika kau rasa marah diperlakukan jahat, maka marahlah jika kau melakukan kejahatan. Hidup adalah roda, ketika kau menolong, kau akan ditolong."
"Maaf Kek. Bukankah banyak orang yang menolong malah dibalas tuba?" Tanya Mahesa.
"Ketika kau menolong, jangan mengharap kau akan di tolong. Namun kebaikan mu menolong itu pasti akan terbalas kepadamu, keluargamu, istri, anak, saudara, sahabat, kerabat, dan seluruh yang berhubungan dengan mu." Jawab Kek Hafiz.
"Aku masih bingung Kek."
"Begini Nak. Jika kau menolong seorang gadis dusun dari kejahatan. Kelak pertolongan itu akan kau rasakan balik. Hanya posisinya saja yang berbeda. Contoh, jika kelak adikmu ditolong orang, kau merasa sebagai abang si gadis dusun. Jika kelak anakmu yang di tolong orang, posisimu akan mengalami posisi ayah si gadis yang kau tolong. Jika cucumu yang di tolong orang, kau akan merasakan perasaan kakek si gadis saat kau tolong. Mengerti kah kau? Hanya tempat dan waktu serta pribadinya saja yang berbeda." Kek Hafiz menjelaskan dengan suara lembut dan rendah.
"Kalau begitu, hidup ini hanya putaran nasib saja Kek?" Tanya pemuda tampan itu dengan alis berkerut dan wajah serius.
"Begitulah Firman di dalam kitab suci Nak, Tuhan menciptakan kita hanya untuk menguji dengan berbagai macam nasib sehingga terlihat siapa yang lebih baik dari siapa, siapa pula yang lebih buruk dari siapa."
"Sekarang aku mengerti Kek. Pada dasarnya hidup ini hanyalah kosong belaka. Begitu kan Kek?"
"Benar. Dalam kekosongan itulah kita wajib berperan sebaik baiknya. Kekosongan ini akan terisi kelak dihari kita dihadapkan kepada Yang Maha Kuasa Nak."
Setelah berbicara panjang lebar yang berupa tanya jawab tentang pelajaran batin kerohanian, Kek Hafiz segera turun dari batu untuk kembali ke dalam lubang gunung menuju dasar melewati lorong gua yang berbelok menurun dan berliku liku.
Mahesa yang berjalan dibelakang hanya mendengar suara gemuruh kilat dan petir disertai hujan deras di luar. Tiba tiba cuaca dingin menusuk tulang Mahesa yang terbayang ingin tidur di pembaringan batu yang hangat dekat tempatnya bersemedi.
"Nanti malam, kau harus turun gunung membawa kotak hitam ke Tebing Maut."
Kembali suara Kakeknya tadi menggema di benaknya. Mahesa yang melamun sambil berjalan perlahan menarik napas panjang mengingat kata kata Kakeknya yang sekali di keluarkan tak dapat di tarik kembali.
Sesampainya mereka berdua di ruangan luas tempat mereka tinggal bertahun tahun. Mahesa segera melaksanakan Shalat bersama Kek Hafiz.
Selesai shalat, Mahesa mendengar gemuruh petir dan hujan disertai bayangan kilat dari ujung lubang gua ketika suara Kek Hafiz berkata,
"Mari makan. Selepas itu, bersiaplah Nak untuk melaksanakan tugas mu."
"Baik Kek." Jawab Mahesa dengan pasrah.
Agaknya malam ini memang sudah nasibnya mandi hujan.
Setelah berbenah, turunlah Mahesa membawa ransel besar melalui lereng gunung sebelah barat.
Petir besar dan kilat menyambar membuat jantung di dada Mahesa berdegup kencang. Hujan deras yang menimpanya terasa dingin menusuk tulang.
Namun dengan mengerahkan tenaga dalamnya yang sakti, Mahesa mampu menghangatkan tubuhnya.
Lereng gunung yang licin itu dituruninya dengan cepat dan hati hati. Sekali saja terpeleset, maka nyawanya akan berpisah dari tubuh yang hancur terguling guling ke dasar gunung.
Mahesa berhenti sesaat melihat ke atas. Cahaya kilat menerpa tubuh Kek Hafiz yang berdiri menatap nya dari pintu masuk ke gua bawah tanah.
Mahesa tidak dapat melihat wajah Kakek nya yang berjarak ribuan meter di atas. Jika saja dia memiliki penglihatan super seperti ayahnya, maka tentu dia dapat melihat linangan air mata di wajah Kek Hafiz yang puluhan tahun tak pernah terlihat sedikitpun.
Meski pandangan matanya tidak sehebat Ayahnya. Namun, mata Mahesa tetap tajam dalam kegelapan karena telah terbiasa selama bertahun tahun berada dalam ruangan bawah tanah yang gelap.
Dalam kegelapan malam itu, dia dapat melihat bebatuan yang dilaluinya dengan jelas.
Tak lama kemudian, sampailah Mahesa di dasar Gunung Kidul yang ber hutan lebat tepat di samping Dusun Kindul yang dulunya bernama Dusun Kigundul.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments