Jiraiya yang duduk di hadapan Gurunya di teras depan rumah, menundukkan kepalanya mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut orang yang sangat dikaguminya itu.
"Hari ini, pulanglah engkau melihat keadaan orang tuamu. Aku dengar, kepemimpinan Pulau Bon kini disalahgunakan oleh para bawahan Gulikan. Mereka melakukan kejahatan yang sudah melampaui batas."
"Apa yang harus ku lakukan Guru?"
"Jiraiya, kau sudah dewasa. Kau lah yang menjadi pewaris keluarga Ong yang sejak zaman dulu berkuasa di Pulau Bon. Sudah sepatutnya kalau kau membersihkan nama leluhur mu yang kini dikotori oleh orang orang tak bertanggung jawab."
"Apakah saya harus membasmi mereka semua Guru?" Tanya Jiraiya.
"Jangan lakukan kesalahan yang pernah ku lakukan dulu murid ku. Tugas mu hanyalah meluruskan mereka meski untuk itu harus ada kepala kepala yang menjadi korban. Ekor ular hanya mengikuti kemana kepalanya pergi."
"Saya mengerti Guru."
"Pergilah Jiraiya, bekal mu sudah ku berikan pada Ibu."
"Terimakasih Guru. Kelak, bolehkah aku kembali kesini mengunjungi Guru?" Seru Jiraiya sambil menitikkan air mata.
"Bukan kau yang kembali Jiraiya, tetapi langkah nasibmu yang akan membawa mu kesini." Seru Satria yang duduk bersemedi lalu memejamkan matanya.
Jiraiya segera masuk setelah membungkuk memberi penghormatan terakhir kepada Gurunya.
Di dalam dia segera menjumpai Bu Sari yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri. Setelah menerima bekal berupa uang, makanan dan oleh oleh buat keluarganya di Mongol, Jiraiya pun melangkah pergi di antar Candu hingga ke atas tebing.
Jiraiya pun kini melangkah ke arah Pantai Olele (Ulee Lheue) dimana seorang nenek tua sedang menunggunya.
"Permisi Nek, Jiraiya mohon pamit untuk berkelana setahun dua tahun ya Nek." Seru Pemuda berambut panjang itu kepada Nek Nem.
"Ya sudah. Kau baik baik lah. Ingat pesan pesan Nenek ya Nak. Jangan salah gunakan setiap anugrah yang Tuhan berikan kepada kita."
"Baik Nek." Ucap Jiraiya sambil melangkah pergi.
"Ehh, Nak. Tunggu dulu. Bawalah ini sebagai bekal diperjalanan mu." Seru Nek Nem sambil memberikan seuntai gelang emas indah yang tentu mahal sekali harganya.
"Ah Nek, tidak usah repot repot. Nenek simpan saja. Ibu sudah memberikan ku banyak sekali bekal tadi."
"Gelang ini adalah perhiasan pemberian lelaki yang sangat ku cinta Nak."
"Siapa Nek? Suami Nenek ya?" Tanya Jiraiya menggoda sambil tertawa.
"Beliau adalah Kakek Gurumu. Teuku Isa Langsa."
"Ah, apakah Nenek dulu pernah ... Menjadi kekasih Kek Mahesa?" Tanya Jiraiya serius.
"Tidak, dia seperti bukan manusia. Tidak terikat lagi perasaan nafsu rendah. Aku saja yang begitu bodoh hingga berani mencintai lelaki seperti beliau."
"Sudahlah Nek, tak usah bersedih. Baiklah, akan ku terima hadiah ini. Dua tahun kemudian aku akan kembali membawa hadiah ini kemari." Seru Jiraiya.
"Berikan gelang itu pada gadis yang kau cinta." Sahut Nek Nem yang sudah keriputan semua wajahnya.
"Baiklah Nek. Terserah Nenek saja. Aku pergi Nek."
Setelah mengambil Gelang Emas yang sangat indah itu, Jiraiya lari sekencang kencangnya.
Dia merasa seperti burung yang baru terlepas dari sarangnya. Jiraiya berjalan perlahan melewati hutan perbukitan yang sangat lebat.
Sinar mentari disiang itu menembus melalui celah celah daun yang membuat pemuda tampan tersebut merasa gerah.
Pria berpakaian hitam hitam itu memutuskan untuk duduk di bawah pohon kayu besar yang rindang untuk makan minum dari bekal yang tadi dibawanya.
Kini kita tinggalkan dulu Jiraiya yang sedang santai menyantap makanan enak buatan Bu Sari yang dipanggilnya Ibu itu.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di malam itu, seorang pemuda memasuki warung nasi yang berada di daerah pertengahan Gunung Seulawah bernama Saree.
Kota Saree memang biasa menjadi tempat persinggahan orang orang yang ingin menuju ke Banda Aceh, baik menggunakan mobil angkutan atau kendaraan pribadi lainnya.
Namun pemuda tampan berusia 17 tahun itu tak tampak membawa kendaraan apapun. Bahkan anehnya, di punggungnya terlihat senjata sepasang pedang yang di ikat rapi dari dalam bajunya dengan kedua gagang yang menyembul ke atas di kanan kiri lehernya.
Mahesa memasuki warung nasi di pinggir jalan itu sembari memesan nasi dan lauk pauk serta segelas minuman dingin.
Tak berapa lama. Terlihat pula seorang pemuda berambut panjang hitam berwajah tampan dengan alis seperti golok dan hidung sedang yang mancung berkulit putih.
"Hei, berikan aku sepiring nasi dengan ayam bakar dan segelas teh dingin." Suara Jiraiya yang malam itu telah sampai di daerah Saree terdengar lantang.
Mahesa hanya mendengar suara tersebut sepintas lalu saja. Karena Jiraiya duduk membelakangi Mahesa maka mereka berdua tidak saling mengenal.
Jiraiya yang membawa pedang yang tergantung di kedua pinggangnya hanya melihat sekilas saja kepada pemuda tampan yang menarik perhatiannya.
Karena kini Mahesa benar benar memiliki wajah matang yang dewasa dengan badan tegap maka Jiraiya tidak mengenalinya. Lagipula Jiraiya hanya melihatnya dari samping saja.
Secara kebetulan, kedua pemuda yang berbeda namun memiliki hubungan yang erat itu berada dalam satu tempat tanpa saling mengetahui bahwa kedua pemuda yang duduk berselang beberapa meja itu adalah manusia sakti yang baru pulang berguru kepada Guru mereka masing masing.
Setelah menyelesaikan makan nya, Jiraiya segera keluar, sedangkan Mahesa masih duduk di warung tersebut karena dia berencana untuk menginap di situ malam ini.
Jiraiya mengambil jurusan ke Timur Laut dimana dia melalui jalan hutan yang semakin lama semakin menurun.
Dengan naluri nya sebagai seorang pendekar sakti, Jiraiya terus berjalan hingga dia di hadang beberapa pembalak kayu liar di tengah hutan lebat itu.
"Hei, berhenti." Seru seorang mandor bertubuh kekar yang memegang parang lengkung yang panjang.
"Siapa itu Man?" Tanya seorang temannya yang memegang kapak besar.
"Entah,, Hei,, Siapa kau?" Bentak pria yang di panggil Man oleh temannya.
"Maaf Pak, aku hanya seorang yang kemalaman di jalan."
"Mau kemana kau?"
"Mau pulang ke Kalimantan." Jawab Jiraiya yang menutup matanya dengan tangan karena silau oleh lampu penerangan yang dibawa oleh seorang pria kurus lainnya.
"Hehehe, tinggalkan dulu tas mu, baru kau boleh berangkat."
"Aku tidak mau membuat masalah, permisi." Seru Jiraiya sambil melangkah ke arah kanan.
"Hei, kau membangkang ya? Aawuuuucchh,," Teriak kesakitan keluar dari mulut mandor yang mencoba menyerang Jiraiya.
"Hei, kurang ajar." Seru pria lainnya yang langsung menyerang Satria dengan kapak besarnya.
"Adduuuuhhh,,," Tendangan di dada membuat kapak ditangannya terlepas sejauh 7 meter.
"Hei, tolong,,, habisi bedebah itu." Seruan mandor ketika melihat 10 bawahannya telah berada di situ dengan kapak dan parang di tangan.
Jiraiya yang dikepung sebelas orang itu segera mencabut sepasang pedangnya yang ada di pinggang.
Dengan tas ransel masih tergantung di punggung, Jiraiya menyerang ke sana sini membuat senjata kesebelas orang itu terlepas dari tangan mereka dengan luka sayat di tangan kesebelas orang kasar itu.
"Sekali lagi kalian menghentikan ku, leher kalian yang ku sayat." Ancam Jiraiya yang malas berurusan dengan cecunguk cecunguk kasar itu.
Setelah memasukkan pedang nya ke sarung, Jiraiya segera melenggang pergi seperti tak pernah terjadi apa apa.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments