Gadis Luar Biasa

Pagi itu, terlihat seorang gadis remaja sedang berlatih seorang diri. Dibawah sinaran mentari pagi, kulitnya yang putih mulus tampak sehat kemerahan. Hidung yang mancung kecil dengan bibir proposional, wajah oval rambut yang tebal hitam sedikit berliku namun masih tampak lurus dengan anak rambut memenuhi sekeliling muka bagian atas dari depan telinga kiri ke kanan.

Benar benar sukar dilukiskan dengan kata kata keindahan pada wajahnya. Di dukung dengan tubuh agak tinggi berbadan indah dengan lekuk lengkung sempurna.

Dari jauh datang seorang pria setengah tua bertubuh tinggi hampir dua kali manusia normal dengan mata sipit dan bibir besar berbadan tegap.

"Bagus Luoyi, perkembangan mu sangat pesat." Seru pria setengah monster menegur gadis cantik bermata indah itu.

"Ayah,, Ibu dan Kakek mana?" Tanya gadis yang di panggil Luoyi tadi.

"Ibu mu sedang mempersiapkan makanan. Kakek Ang seperti biasa, hanya melamun sambil meneliti sajak. Kakek pergi ke gunung Himalaya untuk berjumpa dengan saudaranya." Jawab pria besar yang ternyata adalah ayah si gadis cantik tersebut.

"Hei,, Gulikan, dimana kau? Aku telah memecahkan sajak Kakek mu. Cepatlah." Teriakan seorang pria tua yang berjalan perlahan kesitu membuat ekspresi Gulikan berubah gembira.

Secepat kilat Gulikan berlari ke arah Kakek Ang di susul putrinya sambil berseru girang,

"Aku segera ke sana Paman, tunggu,," Tak sampai dua menit, jarak 700 meter sebentar saja di lalui Gulikan dan putrinya.

Sesampainya anak dan ayah yang tak ada persamaannya sedikitpun itu segera duduk mendoprok di depan Kakek Ang yang memakai kacamata melihat sebuah kitab dari kulit kayu tebal.

"Harimau jantan, sepasang bangau putih. Tertatih tatih, mencari tambatan. Pendekar tampan, berpakaian putih. ingin meraih, dua kerajaan." Kakek Ang melantunkan sajak (pantun kuno) dengan irama mendayu khas Tiongkok.

"Paman Ang, apa artinya itu?" Seru Gulikan mengerutkan keningnya.

"Aku tau, Harimau itu tentu seorang yang luar biasa hebatnya. Bersama bangau putih mencari pasangan. Pendekar tampan baju putih merebut dua kerajaan. Benarkan Kek Ang?" Tanya Luoyi bangga.

"Hampir,, hampir benar Siauw Yi." Jawab Kakek Ang senang mengangguk angguk.

"Lantas, apa artinya Paman?" Gulikan yang penasaran kembali bertanya.

"Zaman dahulu, ada seorang pendekar keturunan Raja Tiongkok yang sangat hebat berjuluk Pendekar Harimau Putih. Dia menikah dengan Putri Thailand dan mempunyai sepasang anak yang dimusuhi oleh kerajaan China berjuluk Bangau Putih dan bangau merah. Bangau Putih lama tak mendapatkan jodoh hingga usia 45 tahun dia menikah dengan seorang pendekar wanita dari Nusantara. Sedangkan Bangau Merah menikah dengan seorang ahli pedang dunia. Pendekar Bangau putih mempunyai seorang anak saja bernama Ong Barya atau lebih dikenal dengan pendekar baju putih Bara Naya yang menikah dengan putri Bangau Merah sepupunya sendiri dengan tujuan menyatukan kekuatan Pulau Thai dan Nusantara menjadi sebuah kerajaan besar yang mampu menandingi Tiongkok. Dari pernikahan Bara Naya dengan dengan putri Bibinya, mereka memiliki tiga orang putra yang merantau dan menguasai tiga tempat berbeda." Paman Ang atau Kakek Ang mengakhiri ceritanya.

"Ah, kalau begitu, Siapa saja keturunan mereka Paman?" Tanya Gulikan.

"Hanya sampai di situlah pengetahuanku. Mungkin Nanti, rahasia besar lainnya akan terbongkar melalui kitab aneh ini, Entahlah."

"Aku harus mengetahui rahasia itu. Ayah, izinkan aku merantau mencari Kakak untuk meluaskan pengalaman." Seru Luoyi.

"Kau belajarlah yang rajin Nak, kelak kau pasti akan pergi meninggalkan kami." Seru Gulikan sedih.

"Ayo makan, makanan sudah siap." Seru Nyonya Ang dari rumah yang tak jauh berada dari situ.

.---***---. .---***---. .---***---.

Jiraiya malam itu mengajak Kek Hafiz menyusuri sungai bersama binatang piaraan barunya bernama Rapit ke rumah Kek Ahmad dan Kek Muhardi.

Sepanjang jalan Kek Hafiz terus bertanya tentang binatang aneh itu. Di bilang ular tapi berkaki, di bilang berkaki tapi persis ular.

Akhirnya melalui keahliannya yang sangat unik, Jiraiya melakukan percakapan panjang bersama Rapit yang kini selalu mengikutinya.

Sambil berjalan menyusuri sungai dan hutan perlahan lahan, Rapit menceritakan bahwa dirinya adalah anak Tangkalaluk. Entah siapa yang menjadi ayahnya, saat Rapit menetas dari telur, dia melihat dua bangkai mayat di dalam gua didasar lubang besar hutan Laguna itu.

Seekor bangkai ular besar yang tidak lain adalah Nabau, dan seekor ... Bangkai binatang aneh yang dari ciri cirinya, kemungkinan besar adalah komodo.

Baiklah, agar pembaca tidak penasaran, marilah kita lihat kejadian setahun yang lalu.

Di pusat Pulau Komodo yang berada di wilayah Nusa Tenggara Timur terjadi kegegeran besar. Pasalnya seekor komodo yang paling besar lepas dari jeruji kerangkeng sumur besar.

Komodo yang telah berusia 50 tahun seberat 125 kg sepanjang hampir 3 setengah meter melarikan diri ke arah Sabalana Islands melewati Laut Flores dan singgah di Bana Island tepat dimana Putra dan Tiara keracunan zat aneh dari hasil Riset yang di lakukan oleh Kunto Aji dahulu kepada Komandan Walhans. (Baca SIHIR SATRIA PEDANG NAGA).

Akibat datang nya Komodo super besar itu, cairan kontaminasi itu bersih di santap komodo yang hampir mencapai batas usianya.

Tanpa mengganggu penduduk Pulau Bana, raja komodo itu kembali menyusuri laut dalam keadaan mengerikan menuju ke arah Utara melewati Selat Makasar hingga akhirnya dia sampai ke Laguna dimana Nabau dan Tangkalaluk sedang mengalami musim kawin.

Di situlah terjadi perkelahian antara Ular Nabau besar jantan itu melawan komodo yang telah terkontaminasi cairan aneh.

Selama dua bulan setengah, komodo dan Nabau berkelahi memperebutkan kesempatan kawin dengan Tangkalaluk yang hanya mendekam penuh berahi.

Secara bergantian komodo dan Nabau mengawini Tangkalaluk betina dengan buas dan ganas hingga Tangkalaluk bertelur.

Setelah Tangkalaluk bertelur, Nabau dan Komodo akhirnya berdamai secara bergantian mencari makanan untuk Tangkalaluk yang sedang mengeram.

Dua bulan setengah kemudian, lahirlah 5 ekor bayi ular mirip Nabau dan 3 ekor ular bayi yang lebih menyerupai komodo.

Mulai lah mereka membunuhi bayi bayi mungil itu. Komodo memangsa bayi ular Nabau dan Naga besar itu menelan semua bayi komodo.

Tinggal sebuah telur yang belum menetas. Semakin hari semakin ganas perkelahian komodo dan ular Nabau hingga mengakibatkan luka infeksi di tubuh Nabau akibat gigitan komodo dan racun yang makin menjalar di tubuh komodo pun mulai melemahkannya.

Hingga sebulan kemudian, menetas lah telur terakhir yang dierami Tangkalaluk. Melihat seekor bayi ular putih betina yang sedikit menonjol di atas kedua alisnya yang memiliki sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang yang lebih besar berjari tiga dengan kuku panjang, Nabau dan komodo yang berada dalam keadaan lemah dan sakit saling melindungi bayi putih yang aneh tersebut.

Mungkin karena memiliki insting terancam, Ular Nabau dan Komodo itu kembali bergelut hingga keduanya tewas.

Cerita Jiraiya kepada Kek Hafiz yang banyak menggunakan perkiraan itu tidak sepenuhnya benar. Karena setelah Nabau dan Komodo itu tewas di dalam ruang besar dibawah gundukan bukit Laguna, Ular putih yang kini mempunyai penggilan Rapit itu memakan bangkai kedua ayahnya bersama Tangkalaluk betina.

Mungkin karena cairan di tubuh komodo yang berbahaya, akhirnya Tangkalaluk betina itu mati dengan kulit sedikit hangus. Kembali Rapit yang kelaparan memakan bangkai ibunya sendiri.

Makanya ketika Jiraiya dan Kek Hafiz datang, itulah pertama kalinya Rapit keluar dari sarang setelah enam bulan usianya.

Dalam enam bulan usianya saja, pertumbuhan tubuh Rapit (Raja Piton) sangat pesat. dari ukuran sebesar tangan remaja, kini dia telah tumbuh hingga tubuhnya kini sebesar pohon palem (pinang paling besar) dan bertambah panjang 3 meter lebih.

Begitulah asal muasal Rapit yang kini menjadi peliharaan Jiraiya. Mungkin kelakuan Rapit yang memakan kedua ayah dan ibunya yang telah tewas kita anggap kejam?

Menurut penulis, sedikitpun dia tidak kejam dan ganas. Rapit melakukan itu karena insting (Naluri) hewan nya yang merasa kelaparan. Bukan dipengaruhi kekejaman yang timbul dari nafsu rendah yang dimiliki manusia.

Malah kita manusia yang sebenarnya kejam dan ganas. Demi pangkat, jabatan, kesenangan, nama baik, kita tega mengorbankan nyawa manusia lainnya demi KEPENTINGAN Pribadi kita.

Berapa banyak orang yang tega membunuh hanya demi uang, makanan, pangkat dan jabatan?

Berapa banyak manusia yang rela membiarkan ayah ibunya menderita demi kepuasan binatang hati si anak? Berpikirlah wahai sahabat. Bukan kita yang pantas menilai hewan seperti Rapit dan Candu buas dan ganas.

Namun seyogyanya, binatang binatang buas itulah yang menilai kita manusia sebagai makhluk yang lebih buas dan ganas.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!