Sepasang Serangan Dahsyat

Jiraiya mengayunkan sepasang pedang nya yang berkilauan ke arah seorang penyerang terdekat,

"Criinggg,,, Traakkkhhh,, Crraaakkhh,," Lengan penjaga pantai itu putus di sebelah bawah siku.

Melihat para pasukan pulau mundur karena keganasan Jiraiya, dia dan Rapit terus melangkah maju perlahan hingga kini bangunan bangunan besar tampak berdiri megah.

Kembali bawahan pulau menyerang, dengan mudah Jiraiya membabat semua senjata mereka hingga suatu saat, serangan nya dihentikan oleh seorang pemuda tampan yang di panggil Tuan Muda Bu oleh pasukan yang sedang kocar kacir di babat Jiraiya.

"Siapa kau? Mengapa kau membuat kekacauan di tempat kami?" Seru Bu Su yang baru tiba di sana.

"Hehehe, apa? Tempat kalian? Perkenalkan, aku Ong Ji Raiya putra Ong Kek Saiya yang menjadi pewaris Bon Island ini." Jawab Jiraiya sambil tertawa tawa.

"Yang menguasai pulau adalah Gulikan, ayah ku merebutnya dengan susah payah."

"Kau dibohongi ayahmu bodoh. Aku menyaksikan sendiri penghianatan ayah mu bersama Khong dan Gong yang dibuntungi oleh guru ku Gulikan. Kau pikir ayah mu cacat kenapa? Hahaha." Ejek Jiraiya yang sengaja memanaskan lawan.

"Kau bohong." Teriak Bu Su.

Pada saat itu, dari jauh terlihat Ketua berlarian ke arah mereka dengan lengannya yang hanya sebelah saja yang lengkap.

"Tanya saja si Bu itu kalau kau tak percaya."

"Siapa kau?" Tanya Ketua Bu sesampainya di situ.

"Aku murid Master Gulikan dan Master Satria yang dulu melihatmu merengek rengek minta ampun kepada kedua Guruku. Hahaha," Seruan Jiraiya menusuk tepat di jantung Ketua Bu.

"Kurang ajar, kau bocah, ku bunuh kau." Ketua Bu langsung menyerang Jiraiya yang masih tertawa tawa.

"Hahaha, bagaimana kabar kedua teman mu yang dibuntungi pula oleh Guruku Gulikan?"

Ketua Bu tampak semakin dahsyat menyerang. Bu Su hanya terdiam saja di tempat nya. Dia benar benar terguncang karena mendapatkan ayah nya ternyata seorang pengecut.

Dia selalu di ceritakan tentang keberanian dan kehebatan ayahnya namun kini, yang di dapatkan malah lain sekali dari keadaan sebenarnya.

"Hehe,, hahaha,,, Kau tau Si Bu, aku lah yang layak mendapatkan pulau ini karena kakek ku dulu yang membangunnya. Untung guruku tidak memenggal leher kalian dulu, kalau leher bukan lengan kiri yang dibuntungi, tentu kalian sekarang sudah menjadi Ketua pulau hantu. Hahahaha," Jiraiya terus saja mengejek sambil menangkis sana sini.

Tiba tiba, Bu Su lari ketika mendengar suara ayah nya.

"Anak ku, bantu aku."

Dimata Bu Su, ayah nya seperti seorang anak kecil yang merengek rengek minta tolong.

Secepat kilat dia lari menuju ke Timur untuk kemudian menghilang dan tak pernah terdengar lagi nama nya sedikitpun.

Namun Bu Su yang kelak akan menjadi seorang yang sakti akan dapat teman teman jumpai di cerita lainnya.

Di sebelah Timur pulau, Lai Tek dan Bu Sam Khi menghadang Mahesa. Karena Mahesa yang telah banyak menyayat kecil tubuh pasukan pulau, dia pun malas meladeni kedua lawan yang lumayan tangguh itu lebih lama lagi.

"Candu, pergi sekarang." Ucap Mahesa yang meloncat ke atas di sambut oleh Candu yang terbang melesat ke arah atas untuk segera menuju ke sebelah Barat.

Mahesa yang melihat pemuda tampan bersama Naga putih sedang bertarung dengan pria tua berlengan kiri buntung segera berteriak sambil turun.

"Hei,, Jiraiya, tak perlu meladeni mereka. Ayo, ada hal yang lebih penting." Seruan Mahesa terdengar hingga ke tengah pulau.

"Hei, kau,,, Mahesa?"

"Siapa lagi?" Jawab Mahesa tersenyum ramah di atas punggung Candu beberapa meter dari tanah.

Jiraiya yang sangat ingin berjumpa Mahesa segera mengajak Rapit ke pantai. Ketua Bu yang marah itu sadar diri dan tidak mengejar Jiraiya yang kini telah telah menunggang Naga putih di lautan luas itu mengikuti Naga terbang yang di tunggangi pemuda lainnya.

.---***---. .---***---. .---***---.

"Ayah, ibu, aku ingin pergi berkelana seperti Jiko. Mengapa Jiko boleh aku tak boleh?" Seorang gadis remaja merengek kepada ibunya yang cantik dan lembut dan ayahnya yang seram dan sangar bertubuh tinggi besar seperti raksasa.

"Luoyi, Jiraiya sudah menguasai ilmu yang tinggi. Bahkan aku sendiri tak dapat menandinginya. Sedangkan kau,, kau masih perlu banyak belajar Nak." Seru Gulikan dengan wajah cemas serba salah.

"Kalau ayah dan ibu tidak mengizinkan ku tak apa, aku akan lari dari rumah dan tak akan pernah kembali." Ancam gadis yang memang terkenal manja dan nakal itu.

"Baiklah, ibu mengizinkan mu, ayah juga begitu kan?" Seru Nyonya Mei sembari menatap suaminya yang mengerutkan alis itu.

"Kau urus lah anak manja mu ini. Aku akan ke tempat Suhu." Seru Gulikan yang langsung bangun dan melangkah keluar.

Beberapa jam kemudian, tampak lah seorang gadis membawa sebuah tas kecil dan sebatang tongkat besi berbentuk kayu yang mempunyai cabang cabang di ujung nya seperti tanduk rusa jantan.

Gadis itu berloncat loncatan dengan riang gembira. Sedikit pun dia tak menyangka bahwa ada seseorang dari jauh yang selalu mengikuti dan mengawasinya.

Luoyi terus berjalan dan kadang naik kendaraan melewati perbatasan Mongol hingga sampai di sebuah pemukiman tak jauh dari pantai pelabuhan.

"Hei, Nona, kau tidak boleh ke sana." Seru seorang pria berpakaian petugas sambil lari ke arah nya.

"Kenapa?" Tanya Luoyi geram.

"Tempat ini sudah di tutup," Seru pria itu sambil menunjuk ke arah pagar besi yang terkunci.

"Aku ingin naik kapal ke Pulau Bon."

Pria penjaga gerbang tersebut pucat wajahnya mendengar gadis itu mau ke Bon Island yang di takuti oleh seluruh penjahat dimana pun berada.

"Ah, ternyata Nona adalah penduduk Pulau Bon. Maaf aku berlaku lancang. Silahkan Nona ke arah kiri ini lurus ke depan. Nanti akan terlihat kapal speedboat yang bisa di sewa." Seru pria tersebut.

"Baik lah, terimakasih. Sebenarnya aku bukan penduduk Pulau Bon, aku ke sana ingin mencari Kakak ku." Seru Luoyi sambil berlalu pergi.

Kembali gadis itu melangkah mengambil jalan yang sangat sukar melewati hutan lebat yang penuh dengan binatang buas.

Tiba tiba sesosok bayangan berkelebat dari hutan di sampingnya. Luoyi berada dalam keadaan siap waspada.

"Siapa kau? Lekas keluar." Seru Luoyi sambil memegang tongkat bertanduk rusa nya.

"Hahahaha,, Hei Nona manis, mau kemana kau? Sini biar aku jual, eh, biar aku antar maksudnya." Seru pria yang tadi berjumpa dengan gadis itu.

"Kau,, penjaga gerbang itu? Mau apa kau?" Tanya Luoyi keheranan.

"Aku mau membawa mu ke gudang tadi. Mari manis, hahaha." Pria yang kini datang bersama tiga temannya berjalan mendekat.

Ke empat pria itu segera menyergap dan menerjang ke arah gadis remaja itu. Dengan cekatan, Luoyi mengelak dan membalas serangan tepat mengenai muka tiga pria itu dan kepala seorang lainnya.

Kita tinggalkan dulu Luoyi yang sedang di serang oleh 4 orang pria yang kaget dan tak menyangka bahwa gadis itu ada kepandaian juga.

Jiraiya yang mengikuti Mahesa kini telah berada di Laut Thailand jauh dari Pulau Bon dan Pulau Phuket.

"Kau mau kemana Mahesa?"

"Aku akan ke perbatasan Mongol. Ayo."

"Tapi, aku harus merebut kembali Bon Island memenuhi pesan ayah mu."

"Lain kali hal itu bisa kita lakukan bersama. Sekarang ada hal yang lebih penting yang merupakan perintah dari ayah dan kakek." Seru Mahesa yang kini duduk di samping Jiraiya meliuk liuk di atas laut.

"Apa itu?"

"Nanti aku ceritakan setelah kita sampai di gudang Ming Hai."

"Baiklah," Jawab Jiraiya yang kini fokus mengendarai Rapit yang berenang di permukaan laut itu.

Hanya beberapa jam saja, Jiraiya dan Mahesa kini tiba di pelabuhan tak jauh dari sebuah gudang.

Saat itu bertepatan dengan Luoyi yang di hadang oleh Sekuriti penjaga gerbang gudang tersebut.

Mahesa dan Jiraiya kini telah melewati pagar besi tinggi itu dan menuju ke dalam gudang melalui pintu gerbang belakang.

Saat mereka menerobos, alarm berbunyi kencang,

"Wiuw,, wiuw,, wiuw,,"

Di selingi alarm yang terus berbunyi nyaring memekakkan telinga, Mahesa dan Jiraiya yang kini di hadang oleh puluhan anak buah penjaga gudang tersebut terus mengamuk merobohkan mereka dengan pedang di tangan.

"Untuk apa kita menyerang mereka?" Tanya Jiraiya sambil terus merobohkan siapa saja yang datang menyerbu.

"Mereka adalah penjahat penjahat yang menampung gadis gadis yang di culik untuk di jual ke luar Negeri oleh Komunitas penjahat yang di pimpin Pulau Bon."

Mendengar hal itu, Jiraiya semakin gila amukannya. Kini bukan hanya tendangan kaki nya saja yang merobohkan mereka, melainkan sepasang pedangnya juga ikut membabat ke sana sini.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!