Petualangan Pertama

"Jiraiya, kau di panggil gurumu Nak," Seru seorang ibu yang tampak cantik dan anggun dengan suara penuh kasih sayang.

"Sebentar ibu saya segera ke situ," Jawab Jiraiya sambil berpamitan kepada Candu dengan memakai isyarat suara suara aneh.

Sesampainya di depan rumah, Jiraiya melihat gurunya sedang duduk bersama istri dan putrinya yang masih berusia beberapa tahun di bangku teras depan.

"Maaf Guru, ada apa memanggilku?" Tanya Jiraiya dengan wajah tampannya yang ceria.

"Duduklah Jiraiya. Hari ini kau harus pergi untuk melaksanakan tugas penting. Sebulan kemudian aku akan menyusul mu sekalian menjemput putraku di Gunung Kidul."

"Tugas apa Guru?" Jiraiya kembali bertanya dengan alis berkerut dan bibir masih tersenyum.

"Serahkan surat surat ini kepada Kakak ku, kepada Paman Andi di Kota Silim dan juga kepada Bibi Lina di Desa Gesik Kutai Barat daerah Kalimantan Timur. Denah tempat tinggal mereka sudah ku tuliskan di belakang sampul surat. Bekal mu hanya cukup untuk makan diperjalanan selama sebulan."

"Baik Guru, kapan saya berangkat?" Tanya Jiraiya senang.

"Nanti sore kau berangkatlah. Jangan suka menurunkan tangan maut dan jangan berbohong, aku akan menemui mu sebulan lagi di Gesik."

"Baik Guru." Jiraiya berkata sambil membungkukkan tubuhnya dalam dalam.

Karena hari masih pagi, Jiraiya mengajak anak gurunya bermain,

"Ayo Cin Moi (Adik Cin) kita bermain."

Cindi yang tertawa sambil menepuk tangannya kegirangan menjawab,

"Ayo kakak, ayo," Jiraiya segera menggendong Cindi yang kini genap berusia 7 tahun.

Terlihat Jiraiya berlari ke sana kemari menggendong Cindi yang tertawa cekikikan. Sungguh luar biasa jalinan perasaan ini.

Dulu ketika berusia setahun, Cindi di rawat oleh kakak Satria yang baru saja kehilangan putri nya karena kecelakaan. Untuk sedikit menghibur kakak iparnya, Sari menahan perasaan hatinya dan rela menyerahkan putri semata wayangnya kepada kakak nya.

Namun seiring berjalannya waktu, kakak Satria kembali dikaruniai anak perempuan. Sehingga Cindi yang berusia lima tahun itu dikembalikan kepada Satria dan Sari dua tahun yang lalu.

Setelah mengajak Cindi bermain berkeliling menunggang Candu, Jiraiya segera mengajak Cindi pulang karena waktu tengah hari tiba.

Setelah mandi dan makan siang bersama, Jiraiya yang baru saja selesai sholat berjamaah segera membungkus pakaian nya dalam sebuah tas ransel besar yang dulu menjadi milik gurunya.

Ketika sore hari tiba, Jiraiya pun berangkat menyusuri hutan dengan diantar Satria sampai ke bukit pertama di atas permukaan tebing dengan menunggang Candu.

Jiraiya yang berjalan dengan riang gembira sambil bernyanyi bersenandung merdu, memasuki sebuah Dusun yang menembus ke pantai dan dia singgah sebentar di rumah Mak Nem yang enam bulan lalu menjadi orang tua angkatnya.

Hanya setengah jam saja Jiraiya singgah di rumah Mak Nem yang sangat besar dan mewah di dekat Masjid Pantai Olele, untuk kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah kota Banda Aceh sesuai petunjuk denah lokasi di belakang sampul surat.

.---***---. .---***---. .---***---.

Di sebuah pulau yang sangat terkenal sebagai salah satu tempat bertemunya seluruh petarung di penjuru dunia setiap tahunnya, terlihat banyak pasukan berlatih dibawah komando Seorang remaja tinggi besar berwajah oriental pedalaman Tiongkok.

Dengan suara menggema Tuan Muda Bu (Bu Sam Khi) memberikan aba aba yang di ikuti oleh gerakan pasukan berbaju merah yang sangat banyak. Tidak jauh dari situ tampak ratusan pasukan berbaju kuning dilatih oleh rekannya bernama Bong Gan.

Di sebelah samping bangunan besar juga terlihat ratusan orang berbaju hijau dilatih oleh Khong Ki dengan pukulan pukulan mantap bertenaga. Suara menggema memenuhi angkasa disebabkan teriakan tiga pasukan besar itu.

Tempat itu bernama Pulau Bon atau lebih dikenal dengan nama Bon Island yang berjarak ratusan mil dari pinggiran pelabuhan Phuket yang masuk ke wilayah daratan Thailand.

Tempat ini dulunya dibangun oleh keluarga Ong yang menjadi pelarian perkumpulan hebat di daratan China yang kemudian dirampas oleh seorang pelarian yang sakti bernama Gulikan. (Baca Cerita SIHIR SATRIA PEDANG NAGA)

Namun karena pengkhianatan bawahannya yang dibuat cacat olehnya, Gulikan meninggalkan pulau bersama keluarganya.

Kini pulau besar tersebut dihuni oleh hampir 800 orang. Ketua pulau sakti yang dikenal dengan panggilan nya Ketua Bu, kini membuat pulau Bon menjadi perguruan silat yang kini terbesar di Thailand.

Para murid dibagi menjadi 7 tingkat yang kesemuanya dipimpin oleh tingkat satu.

Murid tingkat satu hanya 7 orang saja, mereka adalah Bu Sam Khi dan Bu Su yang merupakan putra Ketua Bu sendiri. Ada pula Khong Ki putra ketua Khong yang telah tewas dan juga Bong Gan yang menjadi keponakan ketua lama yaitu ketua Gong yang juga telah tewas tahun lalu. Tiga orang tingkat pertama lainnya adalah tiga saudara kembar yang merupakan keponakan luar Ketua Bu bernama Lai Tek yang di panggil Twako, Lai Kwan yang dipanggil Jiko dan Lai kwo yang di panggil Samko oleh semua murid tingkat satu yang lebih muda dari mereka bertiga.

Rencana yang dulu pernah diaturnya bersama kedua rekannya yang juga menjadi pimpinan pulau dulu, akhirnya dapat terlaksana meski diantara tiga sahabat itu, hanya Ketua Bu saja yang masih hidup.

Begitulah keadaan pulau yang telah terlalu banyak memakan korban berdarah itu. Nampaknya, melihat keadaan pulau kini, akan lebih banyak jatuh korban ke depannya. Entahlah, siapa yang tau???

.---***---. .---***---. .---***---.

Pemuda tanggung berusia 16 tahun melangkah perlahan menyusuri hutan sebelah titi perbatasan yang menghubungkan Kota Silim dengan kepulauan jawa.

Dengan langkah tegap dan hati ceria Jiraiya melangkah perlahan hingga terdengar suara bentakan keras,

"Hei, berhenti kau anak muda," Beberapa pria sangar bertampang preman mendekatinya dari arah belakang.

"Maaf, kalian siapa?" Tanya Jiraiya dengan wajah biasa saja.

"Siapa kau dan darimana asal mu? Mengapa kau membawa senjata tajam?" Tanya pria kekar yang menjadi pimpinan.

"Aku adalah Jiraiya, aku ingin menuju ke kota Silim untuk keperluan keluarga." Jawab Jiraiya dengan alis berkerut.

"Serahkan senjata mu sekarang juga,"

"Kalian siapa?" Bentak Jiraiya dengan suara sedikit keras.

"Banyak tingkah kau, Hiaaat,," Serangan dilakukan oleh kepala preman ke arah Jiraiya yang mampu berkelit dengan mencelat ke belakang.

Lima bawahan preman lainnya segera menyerang Satria dengan pukulan pukulan kuat yang sepertinya dapat merontokkan tulang kecil nya itu.

"Hei, apa apaan kalian? Sudah bosan hidup ya?" Keceriaan Jiraiya kembali dan dia sengaja mengolok olok preman preman itu sambil mengelak dan balas menyerang.

Para preman yang telah terkena tamparan dan tendangan itu menjadi sangat murka dan marah sehingga membuat mereka menyerang lebih dahsyat lagi.

Semakin besar tekanan, semakin besar pula pantulan. Agaknya pelajaran fisika itu cocok sekali dengan keadaan Jiraiya yang semakin gencar pula menyerang hingga beberapa anak buah preman kini mengaduh aduh kesakitan.

"Sebenarnya siapa kau anak muda?" Kepala preman yang merasa gentar kini bertanya membentak dengan kemarahan meluap.

"Aku adalah murid pendekar besar Satria Putra Mahmud."

"Ahhh, Maafkan kami yang telah lancang menyerang," Seru kepala preman tiba tiba.

Segera sikap mereka berubah, Jiraiya mereka ajak duduk dibawah pohon besar dan pimpinan preman berkata,

"Maafkan kami sekali lagi Tuan muda. Sebenarnya kami adalah utusan pemerintah yang menyelidiki tentang jejak sepasang ular besar di kalimantan. Kami mendengar beberapa hari yang lalu muncul disini namun kini telah kembali menyeberang laut ke daerah perbatasan Kutai Kartanegara. Banyak kelompok seperti kami dipecah oleh pihak pemerintah namun, jika pun kami dapat berhadapan dengan ular tersebut, bukannya dapat menangkap, bahkan kami yang akan celaka." Tutup cerita kepala yang sebenarnya adalah utusan pemerintah itu.

"Aku pernah mendengar bahwa dulu guruku pernah mengalahkan tiga ekor ular besar itu bersama Candu, tapi aku mana tau bagaimana cara mengalahkan naga itu, kalau cara mengenyangkan nya tau." Seru Jiraiya yang memancing tawa enam orang itu.

Setelah bercakap cakap beberapa lama, Jiraiya pamit dan berjanji akan menemui mereka di Kutai barat dua minggu lagi.

Berjalan lah Jiraiya melewati titi panjang berjalan kaki yang membawanya ke Kota Silim di Provinsi kepulauan Baru.

Sedikitpun Jiraiya tidak tau, bahwa seluruh sepak terjangnya dari awal memasuki hutan di Aceh dulu, di lihat oleh empat pasang mata dari tempat tersembunyi. Mereka adalah Satria, Sari dan Cindi yang menunggang Candu menuju ke Gunung Kidul.

"Assalamualaikum,"

Seruan orang mengucapkan salam mengejutkan Mahesa dari semedinya.

"Wa alaikum salam." Jawab Kek Hafiz dan Mahesa secara bersamaan.

Ayah, ibu, adiiik,,," Mahesa berseru girang seraya berlari merentangkan tangan memeluk adiknya.

"Bang Hesa,, Hihihihi," Seru Cindi yang di putar putar dalam pondongan Mahesa.

Setelah dipersilahkan duduk oleh Kakeknya, Sari, Satria dan Cindi segera mencium tangan kakeknya dengan penuh hormat dan haru.

"Kakek, kami mau minta izin kepada kakek untuk menjemput Mahesa selama dua bulan."

"Aku telah diberitahu Satria Nak. Kalian bisa kembali seminggu lagi menjemputnya. Karena masih ada latihan yang harus di selesaikan putra kalian." Jawab Kek Hafiz tenang.

"Memang kedatangan kami sekarang ini hanya karena permintaan cucu kakek yang manja ini nih," Seru Sari sambil mengucek kepala Cindi di pangkuannya.

"Besok, Saya akan mengantar mereka ke rumah Paman Haji, setelah itu baru saya akan menjemput Mahesa Kek," Satria berkata dengan tenang dan halus.

"Baiklah, kalau begitu mari ku ambilkan minum sebentar."

"Tidak usah Kek, biar Sari saja yang menyiapkannya. Kakek disini saja. Hesa, ayo temani ibu." Seruan Sari mengurungkan niat Kek Hafiz untuk bangun dari batu tinggi tempatnya bersemedi.

Bersambung ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!