POV (Fatahillah)
melihat air mata yang ada di pelupuk mata istriku, aku jadi merasa kasihan. aku paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis, itu adalah kelemahan ku. itulah mengapa aku selalu berusaha untuk menjadi anak yang begitu berbakti kepada orang tua meskipun ayah sudah tidak ada.
aku tidak ingin ibu menangis seperti dulu dimana aku sengaja berbuat kesalahan untuk dikeluarkan dari pesantren. semua itu aku lakukan karena tidak bisa jauh dari ibu.
ibu menangis dan tidak ingin menegurku membuat aku begitu frustasi kala itu. saat itulah aku bertekad untuk jadi anak yang berbakti. air mata ibuku sangat berharga bagiku, dia adalah wanita yang paling aku cintai di muka bumi ini.
"maaf... maafkan aku" hanya kalimat itu yang bisa aku keluarkan dari bibirku
dengan memberanikan diri, aku menarik tubuh ramping Zelina dan memeluknya untuk menenangkannya. namun ternyata hal yang aku lakukan semakin membuat jantungku belingsatan dan seakan ingin melompat dari tempatnya.
(astaghfirullah, jantung oh jantung.... bekerjasamalah sedikit...jangan membuat rusuh) Fatahillah berkali-kali menarik nafas untuk mengatur debaran jantungnya
"mas kenapa...?" Zelina mendongakkan kepalanya untuk melihat wajahku. mungkin karena dia mendengar aku beberapa kali menarik nafas panjang. mata indahnya bertemu tatap sekian detik denganku sebelum akhirnya aku mengalihkan pandangan ke arah lain
"tidak ada apa-apa. jangan menangis lagi, aku sangat tidak bisa melihat perempuan menangis apalagi karena diriku" aku mencoba berusaha membalas tatapan teduh Zelina
"aku ingin mas janji satu hal padaku" Zelina menatap dalam padaku, aku bisa merasakan dia mengharapkan sesuatu dariku
"aku tidak ingin berjanji karena sesuatu yang kadang kita janjikan biasanya tidak bisa kita tepati. tapi aku akan melakukan keinginanmu jika aku bisa lakukan" jawabku dengan lembut
janji adalah sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. bukan apa-apa tapi terkadang memenuhi janji sangat sulit dibandingkan dengan memenuhi undangan pernikahan. aku tidak ingin orang lain sakit hati terhadapku hanya karena sebuah janji yang tidak bisa aku tepati.
"baiklah, kalau begitu aku ralat perkataaanku. aku mempunyai satu keinginan" Zelina mengubah kalimatnya dan aku mengangguk kecil
"sekarang aku hanya punya mas Fatah, suami aku. aku ingin mas tidak akan meninggalkanku suatu hari nanti, aku ingin kemanapun mas Fatah pergi maka aku akan ikut" setelah mengatakan itu Zelina menundukkan kepalanya, mungkin dia akan melanjutkan lagi ucapannya dan aku masih diam untuk mendengarkan
"bisa kan mas...?" Zelina mengangkat kembali kepalanya dan menatap ku dengan tatapan memohon
Allah
wanita ini sungguh sangat kasihan sekali. aku jadi merasa bersalah tadi telah mengatakan yang seharusnya tidak aku katakan sebagai seorang suami. harusnya aku berusaha untuk menerima pernikahan ini dan menjaganya seperti janjiku kepada sang pencipta ketika aku telah mengucapkan ijab qobul.
"tentu saja, sebagai seorang istri, kemanapun suaminya pergi maka dia harus ikut serta" ucapku tersenyum
aku mengiyakan keinginannya, bagaimanapun juga dia adalah istriku sekarang. meski baru saja sah beberapa jam yang lalu namun kini dirinya telah menjadi tanggungjawab ku.
Zelina tersenyum manis, aku melihat rona bahagia di matanya setelah aku menyetujui keinginannya. sungguh sangat sederhana sekali kebahagiaan wanita ini.
"Zelina" aku memanggilnya pelan
"iya mas"
"bagaimana dengan keluarga pak Hutomo, pamanmu. apakah tidak sebaiknya kamu memberitahu keluarganya kalau dia sudah meninggal" ucapku dengan serius
tarikan nafas istriku membuat aku berpikir kalau dirinya sedang memikirkan sesuatu.
"kenapa, apa ada masalah...?" tanya ku
"aku bingung harus memberitahu bibi Arum dan Andini bagaimana, kalau paman Hutomo sudah meninggal. aku takut aku akan disalahakan" bibir Zelina bergetar
"apapun yang terjadi nanti kita harus memberitahu mereka. urusan marah atau semacamnya kita atur belakangan"
"baiklah, aku akan menghubungi Andini nanti" bibirnya berusaha menampilkan senyum manisnya
di luar kamar aku sudah mendengar suara bibi Fatimah dan ibu. hingga kemudian suara ibu terdengar di depan kamar.
"Fatah, antar ibu ke pasar" suara panggilan ibu dari luar langsung membuat Zelina berdiri dan membuka pintu kamarku, lebih tepatnya pintu kamar kami karena sekarang kami akan sekamar berdua
"ibu mau ke pasar...?" Zelina bertanya setelah membuka pintu
"iya, suami kamu mana...?"
"mas Fatah masih berganti pakaian bu. kalau ibu mau, biar Zelina saja yang antar ibu ke pasar"
aku mendengar percakapan keduanya dari dalam. setelah mengganti pakaian, aku langsung menghampiri keduanya.
"memangnya kamu bisa bawa motor...?" tanyaku
"mobil saja aku bisa bawa mas. ibu aku saja yang antar ya, sekalian aku juga mau jalan-jalan melihat disekitar daerah sini"
"ya sudah, ayo...tapi kamu ganti mukenah mu dulu. ibu tunggu di depan ya" ibu tersenyum lembut kemudian meninggalkan aku dan Zelina
"mas kok bengong...?" Zelina yang berbalik menghadap ku bertanya
"tidak. kamu bersiaplah. aku ke depan dulu"
Zelina menganggukkan kepalanya setelahnya aku meninggalkan kamar menuju ke ruang tamu.
Zelina menyusul ibu setelah memakai kembali pakaian yang biasa ia gunakan. wajah cantik istriku sudah terhalang oleh cadar yang digunakannya.
"mas mana kunci motornya...?" Zelina datang menghampiriku
"tunggu sebentar, aku cari dulu di kamar" aku bangkit dari duduk dan kembali ke kamar
di dalam kamar aku memeriksa setiap laci meja dan aku menemukan apa yang aku cari. aku kembali ke depan, rupanya Zelina sudah berada di teras rumah.
"ini kunci motornya" ku serahkan benda itu kepada Zelina
"aku pamit ya mas" Zelina mencium tanganku setelah aku menyerahkan kunci motor
kebiasaan seperti ini mungkin akan terjadi setiap hari. aku sebenarnya belum menyangka saja kalau ternyata diriku telah berubah status menjadi seorang suami dari wanita yang bercadar yang sama sekali tidak aku duga.
setelah Zelina dan ibu tidak lagi terlihat di pandangan mataku, aku masuk ke dalam rumah menuju ke kamar untuk mengambil benda canggih ku. aku ingin menghubungi Yusuf.
namun ternyata saat aku masuk ke dalam kamar, benda pipih itu sudah berbunyi. ku raihnya di atas meja dan rupanya pak Umar yang menghubungiku.
Fatahillah
assalamualaikum pak
pak Umar
wa alaikumsalam. Fatah, bisakah kamu datang segera ke rumahku, aku ingin bicara denganmu
Fatahillah
sekarang pak...? apakah sangat mendesak, ini masih pagi sekali
pak Umar
kami tidak punya waktu Fatah, ini demi Hanum. hanya kamu dan Yusuf satu-satunya orang yang dapat aku mintai pertolongan
Fatahillah
baiklah, aku segera ke sana
setelah mematikan panggilan, aku langsung bersiap-siap dan keluar dari kamar. rupanya bibi Fatimah baru saja dari luar dengan kantung plastik berwarna putih yang berisi cemilan untuk di santap di pagi hari.
"bi, tolong beritahu ibu dan Zelina kalau aku keluar. ini sangat mendesak" ucapku
sebenarnya aku ingin menghubungi Zelina dan memberitahu kepergian ku namun aku tidak memiliki nomor teleponnya. kami belum sempat bertukar nomor telepon.
"kenapa buru-buru, tidak mau sarapan dulu...?"
"tidak usah bi, nanti saja di jalan. aku pergi ya, assalamualaikum"
ku cium tangan bibi Fatimah dan keluar dari rumah. karena motor dipakai oleh Zelina dan ibu ke pasar, maka untuk sampai ke rumah pak Umar aku harus naik taksi.
pagi-pagi seperti ini sangat sulit untuk mencari taksi. aku berjalan sekian meter ke depan berharap di depan sana aku bertemu ojek atau apalah untuk membawaku ke rumah pak Umar.
namun ternyata aku malah bertemu dengan Anisa. mobilnya berhenti di sampingku dan ia menurunkan kaca mobil.
"mas Fatah"
"Nisa"
"pagi-pagi begini mau kemana mas...?"
"kamu pagi-pagi begini mau kemana...?" aku malah balik bertanya dan Anisa terkekeh pelan
sejujurnya Anisa begitu cantik namun entah mengapa dirinya sama sekali tidak menggetarkan hatiku. aku hanya menganggap dia sebagai teman dari dulu.
"aku mau ke rumah sakit mas, ada operasi pagi ini. kalau mas mau kemana...?"
Anisa adalah seorang dokter, dia satu tempat kerja dengan Yusuf.
"ke rumah teman, aku sedang mencari taksi yang lewat"
"aku antar saja kalau begitu"
"apa tidak apa-apa...?"
"mas ini aneh sekali, jelas tidak apa-apa. ayo".
sekian menit aku berpikir dan akhirnya aku setuju untuk diantar oleh Anisa. daripada menunggu taksi yang belum tentu akan ada, lebih aku menumpang saja di mobil Anisa. lagipula aku tidak melakukan apapun dengannya dan juga pak Umar sudah menungguku di rumahnya.
"aku senang loh mas, kamu memakai hadiah dari aku" Anisa melirik jam tangan yang aku pakai kemudian tersenyum
jam tangan ini adalah hadiah yang dia berikan saat aku ulang tahun. aku tidak meminta namun dia yang berniat memberikan padahal waktu itu aku sendiri lupa dengan ulang tahunku.
"sayang kalau tidak di pakai Nis, barang sebagus ini masa iya mau dianggurin" jawabku seadanya
"aku harap kamu terus memakai jam tangan itu mas" ucap Anisa
di lampu merah mobil ini berhenti. aku mengalihkan pandangan ke kaca jendela mobil. masih pagi tapi sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang.
"mas Fatah" Anisa memanggilku dan aku menggerakkan kepala untuk melihat ke arahnya
"ayah ingin bertemu denganmu" ucapnya pelan namun aku masih bisa mendengarnya
"memangnya kenapa, apakah ada yang penting...?" tanyaku
aku bekerja di perusahaan ayah dari Anisa, pak Agung. hanya menjadi sebagai karyawan biasa. walaupun beliau sering menawarkan aku untuk naik jabatan namun aku terus menolak. bukan apa-apa hanya saja menduduki sebuah jabatan yang tinggi maka tanggung jawabnya juga besar. lebih baik menjadi karyawan yang biasa, hanya bekerja apa yang disuruhkan dan pulang saat jam waktu pulang. terkadang juga lembur namun aku menikmati itu semua.
selain bekerja di perusahaan ternama yang hanya menjadi karyawan biasa, aku sebenarnya mempunyai usaha bengkel yang Alhamdulillah sudah maju dan juga satu minimarket. tidak sebesar perusahaan ternama namun yang pastinya aku sudah menjadi bos. dua usaha yang aku dirikan ini, cukuplah nanti untuk menghidupi anak dan istriku kelak.
lah, kok aku malah berpikir tentang anak ya, dasar kamu Fatah. aku menertawakan diriku sendiri dalam hati.
"dia hanya ingin bertemu saja" Anisa menjawab dan kembali menjalankan mobilnya
setelah melewati beberapa lampu merah, kami sampai di rumah pak Umar.
"rumah siapa ini mas...?" Anisa tentu saja tidak kaget melihat rumah sebesar ini karena rumahnya pun juga besar. mungkin dia tidak percaya saja aku mempunyai teman orang kaya
"rumah teman. ya sudah aku keluar ya, terimakasih sudah mengantar aku. kamu hati-hati di jalan"
baru saja aku hendak membuka pintu mobil, Anisa menahan lenganku dan tentunya aku mengurungkan niat untuk keluar dari mobil.
"kenapa Nis...?" tanyaku, pintu mobil telah terbuka namun aku belum keluar
"kapan kamu akan bertemu ayah...?"
"sampaikan permintaan maafku padanya, aku belum bisa menemui beliau sekarang. mungkin nanti setelah aku tidak sibuk" jawabku
sudah beberapa hari aku tidak masuk ke kantor, mungkin itulah alasan pak Agung mencari ku. setelah ini sepertinya aku harus bertemu beliau dan mengundurkan diri dari perusahaan.
sebenarnya aku melihat Anisa masih ingin mengatakan sesuatu namun ternyata Fauzan datang menghampiriku karena ia melihatku saat dirinya baru saja datang.
"Fatah"
"terimakasih Nis" aku melepaskan tangannya di lenganku dan keluar dari mobil
aku lihat wajah Anisa menampakkan rasa kecewa. ia pun membunyikan klakson mobil dan pergi dari meninggalkan aku dan Fauzan.
"Yusuf sudah datang belum Zan...?"
"belum, tapi dia sudah dalam perjalanan ke sini. ayo masuk"
aku mengangguk paham kemudian kami berdua masuk ke halaman rumah. dari pagar untuk masuk ke dalam rumah harus melewati halaman yang lumayan luas.
rupanya kami sudah di tunggu di ruang tengah rumah besar ini. pak Umar dan juga ibu Rosida menampakkan wajah yang tegang, sementara pak Odir nampak terlihat lelah. Hasan ternyata sudah pulih, dia sudah bergabung bersama kami.
"kamu sudah sehat Hasan...?" aku bertanya karena memang ingin tau keadaannya
"Alhamdulillah sudah. terimakasih waktu itu kamu sudah menyelamatkan ku. padahal aku sudah sangat tidak berharap bisa selamat" ucap Hasan
"aku hanya melakukan apa yang aku bisa. tapi ngomong-ngomong, ada apa memanggil aku datang pagi-pagi sekali...?" aku mengarahkan pandangan kepada pak Umar
"assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
pertanyaan ku belum dijawab, Yusuf sudah datang memberikan salam. ia duduk di sampingku.
"semalam setelah kalian berdua pulang, kami diserang lagi bahkan lebih parah dari para ninja yang mereka kirim" pak Odir yang memulai pembicaraan
"mereka ingin mengambil Hanum namun digagalkan oleh pak Odir. tapi sekarang keadaan Hanum semakin memprihatinkan, dia seperti orang gila yang kerasukan setan" Hasan menambahkan
"kami bahkan beberapa kali menghubungi kalian berdua tapi sama sekali tidak bisa dihubungi" ucap pak Umar
aku dan Yusuf saling pandang. tentu saja mereka tidak bisa menghubungi kami karena semalam pun kami sedang menghadapi makhluk gaib.
"nak Fatah nak Yusuf, ibu ingin meminta tolong kepada kalian berdua. kami akan ke gunung Sangiran desa Malanda, di sana adalah tempat kiayi Zulkarnain....hanya dia yang bisa menyembuhkan Hanum. ibu ingin nak Fatah dan nak Yusuf menemani kami ke sana" ibu Rosida menatap penuh harap kepada aku fan Yusuf
"gunung Sangiran, itu jauh sekali" timpal Yusuf
aku pun tau kalau tempat itu sangatlah jauh. ibu pernah bercerita kalau di tempat itu sangat asri dan nyaman, di bawah kaki gunung para warganya tinggal dengan damai. aku jadi penasaran.
"memang sangat jauh namun hanya kiayi Zulkarnain yang bisa membantu kami menyembuhkan Hanum. aku meminta tolong kepada kalian berdua, akan aku bayar berapapun yang kalian minta asalkan kalian mau menemani kami ke sana" ucap pak Umar
aku dan Yusuf saling pandang, tentunya hal ini perlu kami diskusikan berdua. apalagi aku tidak mungkin meninggalkan ibu sendiri dan terlalu lama. jika aku pergi maka tentu Zelina akan ikut, aku sudah mengiyakan permintaannya untuk tetap bersamaku kemanapun aku pergi.
"aku tidak bisa menjawab sekarang pak, aku harus memberitahu ibuku terlebih dahulu dan juga.... istriku" ucap ku memberitahu
"kamu sudah menikah...? bukannya kamu ini masih sendiri...?" tanya pak Odir terhadap ku
"menikahnya dadakan pak bahkan baru saja terjadi semalam. dia ini sedang dalam masa-masa pengantin baru" Yusuf menjawab ucapan pak Odir
"wah selamat kalau begitu Fatah, semoga langgeng sampai akhir hayat" Fauzan menepuk pundakku pelan
"aamiin" aku mengaminkan doa Fauzan
"tapi kami berharap kalian berdua bisa menerima permintaan kami. Hanum harus segera diobati kalau tidak nyawanya jelas akan menjadi taruhannya" ucap Hasan dan aku serta Yusuf mengangguk paham
"pak Umar, sebenarnya kami juga ingin memberitahu sesuatu" ucap Yusuf
Yusuf memperbaiki posisi duduknya dan menatap pak Umar dengan serius. sepertinya kami memang harus memberitahukan pak Umar tentang mustika putih itu.
"sepertinya serius. apa yang ingin kamu katakan dokter Yusuf" pak Umar penasaran
Yusuf menoleh padaku dan aku menganggukkan kepala sebagai persetujuan kalau Yusuf yang akan bercerita.
sayangnya belum juga Yusuf memulai, terdengar teriakan dari kamar Hanum yang begitu keras dan melengking. tentu saja kami semua kaget.
"apakah itu Hanum pak...?" tanyaku
"iya. sejak semalam kami tidak berani masuk ke dalam kamarnya karena kelakuan Hanum sekarang begitu menakutkan. dia akan menyakiti siapa saja yang dia lihat. bahkan ia melukai dirinya sendiri, merayap di langit-langit kamar, dia kerasukan" pak Umar menjelaskan apa yang terjadi terhadap putrinya
aku jadi penasaran bagaimana kondisi wanita itu sekarang. aku pun mengajak Yusuf untuk melihat Hanum namun ibu Rosida malah menahan kami.
"jangan nak, kalian bisa dicelakainya" ucap ibu Rosida
"tenang bu, kami akan berhati-hati" ucapku mencoba meyakinkan
"kalau begitu kami ikut" Hasan pun ikut bangkit
akhirnya kami semua sepakat untuk melihat Hanum. saat berada di depan kamar, kami dapat mendengar suara gebukan yang bergitu keras. dengan pelan aku memegang gagang pintu dan membukanya secara perlahan.
pintu aku buka lebar, rupanya Hanum sedang membentur-benturkan kepalanya di lemari pakaiannya.
"hihihi... hihihi" Hanum tertawa
rambutnya yang panjang membuat dirinya seperti kuntilanak apalagi pakaian yang ia pakai berwarna putih. tubuhnya yang penuh dengan bisul yang mengeluarkan bau busuk dan nanah. lukanya itu sampai sekarang belumlah sembuh malah semakin parah saat pertama kali aku datang untuk menolongnya.
Hanum merasakan kehadiran kami, dia melihat ke arah kami dengan tatapan tajamnya. wajahnya sebelah sudahlah menghitam dan bahkan sudah sampai di leher. mata Hanum berubah menjadi warna putih keseluruhan.
saat melihatku, dia langsung menyerang namun untungnya aku sudah bersiap. ku lempar dirinya ke dinding menggunakan tenaga dalamku, kalau tidak seperti itu aku tidak bisa menghentikan Hanum.
"keluar pak, biar aku dan Yusuf yang menangani Hanum" ucapku kepada yang lain
"kami temani kalian di sini. pak Umar ibu Rosida dan paman, cepatlah keluar. di dalam sini berbahaya" Hasan mendorong ketiga orang itu keluar kamar dan mengunci pintu sementara kami berempat berada di dalam
Hanum memang bringas sekarang, itu karena dirinya yang dirasuki oleh sosok yang menginginkan jiwanya. aku harus membuat Hanum diam, mungkin dengan cara mengikat tubuhnya agar ia tidak menyakiti dirinya sendiri dan menyerang orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Mat Grobak
lah katanya fatih dosen, ko kerja sama bapak nya annisa
2024-09-21
1
Har Yanto
author stres,,,ga fokus nulisx
2024-01-26
0
sudin we
jdi menceritakan diri sendiri,,DAn tidak pake author Yach,,
2023-12-12
0