"ada pak, apa ada yang tertinggal...?" tanya Fauzan saat melihat bosnya itu kembali lagi
pak Umar menatap lekat wajah Fatahillah yang juga sedang menatapnya dengan bingung. pak Umar mencari sesuatu di saku celananya, benda itu selalu dibawanya jikalau tiba-tiba suatu saat dirinya menemukan pemiliknya. dia memang ingin menemukan pemuda yang hampir dirinya tabrak waktu lalu.
"Fatahillah Malik, apakah ini milikmu...?" tanya pak Umar dengan memperlihatkan tasbih yang ada di tangannya
Fatahillah mengerutkan kening dan melihat benda itu apakah miliknya atau bukan. hingga kemudian senyumnya mengembang dan mengambil tasbih itu.
"masha Allah, Alhamdulillah.... akhirnya tasbih ini ketemu juga" Fatahillah tersenyum sumringah melihat tasbih miliknya
"jadi benar itu adalah miliimu...?" tanya pak Umar lagi. sedangkan Fauzan, dirinya hanya memperhatikan pak Umar dan laki-laki yang baru saja dia kenal beberapa menit yang lalu
"benar pak ini memang tasbih saya. ada tulisan nama saya di tasbih ini" jawab Fatahillah
"masih ingat dengan seseorang yang hampir menabrak dirimu beberapa hari yang lalu. itu adalah saya dan saat kamu pergi saya menemukan tasbih itu"
"Masha Allah, dunia ternyata memang sempit. terimakasih banyak pak sudah menjaga tasbih ini dengan baik"
"harusnya saya yang berterimakasih karena berkat tasbih itu anak saya terselamatkan dua malam yang lalu"
"terselamatkan...? maksudnya bagaimana pak...?"
"anak saya...."
drrrttt.... drrrttt
ucapan pak Umar terhenti karena ponselnya kembali bergetar dan itu dari ibu Rosida.
pak Umar
halo bu, iya bapak akan segera pulang. mereka melakukan video call
ibu Rosida
pak anak kita pak, cepat pulang. Hanum kritis pak, cepatlah pulang.
tangis ibu Rosida pecah seketika. ibu Rosida mengarahkan layar ponselnya ke arah Hanum. terlihat gadis itu sedang muntah-muntah darah, darah yang hitam seperti oli yang tidak digunakan lagi. bahkan Hanum terus berteriak kepanasan
pak Umar
astaghfirullah, Hanum. bapak pulang sekarang.
tanpa berpamitan pak Umar meninggalkan Fatahillah dan Fauzan dengan berlari cepat menuju lobi rumah sakit.
"mas Fatah, tolong susul pak Umar. saya takut dirinya tidak bisa menguasai diri karena khawatir kepada anaknya. tolong mas" Fauzan meminta tolong kepada Fatahillah
"b-baiklah" Fatahillah segera mengejar pak Umar
benar saja, laki-laki paruh baya itu hampir saja menabrak seseorang karena kepanikannya.
"woi... punya mata nggak. ada orang nih, main tabrak aja" laki-laki yang hampir ditabraknya itu mengamuk dan mengetuk kaca mobil pak Umar
"maafkan saya mas, saya tidak sengaja. saya sedang buru-buru" ucap pak Umar langsung turun dari mobilnya
"kalau nggak bisa nyetir mobil nggak usah nyetir. mau dipenjara" laki-laki itu menunjuk-nunjuk wajah pak Umar
Fatahillah segera mengambil langkah. dia dengan cepat menghampiri keduanya dan menyelesaikan permasalahan itu. tentunya dengan setelah laki-laki itu diberi uang untuk tidak mengoceh panjang lebar.
"gini kek dari tadi, kan nggak sia-sia gue marah-marah" dia mengambil uang itu dan berlalu pergi
"bapak tidak apa-apa...?" Fatahillah melihat pak Umar
"tidak apa-apa, terimakasih telah membantu saya. maaf Fatah, saya harus pergi"
"saya ikut pak, biar saya yang menyetir. dalam keadaan panik seperti ini, bahaya untuk bapak mengendarai mobil sendirian" ucap Fatahillah
"terimakasih, kalau begitu ayo. putriku membutuhkan pertolongan secepatnya" pak Umar memutar dan masuk ke dalam mobil. Fatahillah pun ikut masuk dan mereka meninggalkan rumah sakit.
"tolong jangan ambil putriku ya Allah, jangan...hamba mohon jangan. selamatkan dia ya Allah, selamatkan putriku" ucap pak Umar pelan namun Fatahillah masih bisa mendengarnya
Fatahillah dapat melihat pak Umar yang begitu gelisah. jari-jarinya ia remas dan bahkan sesekali dirinya terus beristighfar.
(untung saja aku ikut kalau tidak entah apa yang akan terjadi diperjalanan jika bapak ini dalam keadaan kalut seperti ini) batin Fatahillah melirik pak Umar
"pak, ambil jalur kanan, kiri atau lurus...?" tanya Fatahillah yang memang tidak tau kemana arah mereka akan pergi
"lurus, di depan sana belok kiri" jawab pak Umar
Fatahillah mengangguk, tau dengan kegelisahan hati pak Umar tentang anaknya, Fatahillah mempercepat laju mobilnya dan melambung beberapa kendaraan yang lain.
tanpa keduanya sadari, di belakang mobil mereka, sebuah mobil berwarna hitam sejak tadi terus mengikuti mereka. hingga kemudian Fatahillah menyadari itu karena dimana dia mengambil jalur maka mobil itu akan mengikutinya.
"pak, sepertinya kita diikuti" ucap Fatahillah
"hah...?"
pak Umar langsung melihat di kaca spion mobil. benar saja, mobil berwarna hitam terus mengikuti mereka.
"ya Allah.... apalagi ini" pak Umar frustasi dan mengusap kasar wajahnya
drrrttt... drrrttt
pak Umar
halo bu, bapak sudah di jalan
ibu Rosida
pak Hanum pak... Hanum. tangisan pilu disebrang sana terdekat menyayat hati
pak Umar
ada apa dengan Hanum bu. pak Umar mulai khawatir terjadi sesuatu dengan putrinya
ibu Rosida
tubuhnya mengeluarkan nanah dan darah yang berbau busuk. dia terus muntah darah, bagaimana ini pak. ibu harus melakukan apa
"suruh istri bapak berwudhu lalu lantunkan asma Allah di dekat Hanum. jangan pernah berhenti sampai kita tiba" Fatahillah bersuara
pak Umar mulai memberitahu istrinya tentang yang dikatakan oleh Fatahillah. panggilan ditutup, sementara itu Fatahillah masih terus berusaha untuk melarikan diri dari pengejaran mobil hitam itu.
"siapa sebenarnya mereka pak, kenapa kita dikejar terus...?" tanya Fatahillah yang sesekali melirik ke arah kaca spion mobil
"saya juga tidak tau mereka siapa" jawab pak Umar
mobil hitam itu melambung mereka namun bukannya pergi mobil itu berhenti di depan mereka hingga membuat Fatahillah menginjak rem secara mendadak.
beberapa orang yang berpakaian seperti ninja keluar dari mobil itu. mereka bahkan membawa pedang samurai yang mengkilat.
"Allah, lindungi kami" ucap pak Umar
"bapak di sini saja, biar saya yang keluar" ucap Fatahillah
"jangan keluar, mereka terlalu banyak. bisa bahaya, kamu akan celaka" pak Umar menghentikan Fatahillah yang akan membuka pintu mobil
"percaya padaku pak, semua akan baik-baik saja. kunci pintunya dari dalam dan jangan sekalipun bapak membukanya" Fatahillah tersenyum
"tapi...." pak Umar ragu
"tidak apa-apa pak, percayalah"
tanpa ragu Fatahillah membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. seperti pesan Fatahillah, pak Umar mengunci pintu mobilnya dan dirinya tetap di dalam.
"lindungi anak muda itu Tuhan" gumam pak Umar
dengan santai Fatahillah duduk di atas mobil bagian depan dan menatap sepuluh orang yang berpakaian ninja itu.
"bukannya target kita pria baya, kenapa ini malah masih sangat muda" ucap salah satu dari mereka
"bukan urusan kita. dengar kata bos, siapa yang menghalangi hajar saja sampai mampus" jawab yang lainnya
"siapa kamu, kami tidak punya urusan denganmu. sebaiknya kamu pergi saja jika tidak ingin menjadi mayat"
"harusnya aku yang bertanya siapa kalian. mobil kalian menghalangi jalanku" Fatahillah menjawab dengan santai
"sekali lagi aku katakan kamu pergi atau kami akan benar-benar membuat dirimu menjadi mayat"
" kenapa aku harus pergi, memangnya siapa kalian sampai mengusirku. harusnya kalian yang pergi dan pindahkan mobil itu karena aku ingin lewat"
"banyak bacot juga nih orang, habisi saja dua-duanya sekaligus agar tugas kita cepat selesai"
"astaga, sepertinya mereka akan menghajarnya. apa yang harus saya lakukan" pak Umar gusar di dalam mobil
Fatahillah melompat turun dan bersiap melawan sepuluh orang yang berpakaian ninja itu.
"hiyaaaaaa"
Pertempuran pun terjadi. dengan brutal mereka menyerang Fatahillah. pedang-pedang tajam itu mengeluarkan bunyi yang beradu saat saling bersentuhan karena Fatahillah terus menghindari benda tajam itu.
"astaga, saya harus membantunya" pak Umar keluar dari mobil
"pak kenapa keluar, di luar berbahaya" ucap Fatahillah saat dirinya melompat mendekat pak Umar
"saya tidak mungkin membiarkan kamu menghadapi mereka seorang diri"
"bapak tau bela diri...?"
"entahlah, akan saya lawan sebisaku"
"woi...nggak usah banyak bicara, sebentar lagi kalian berdua akan menjadi mayat"
"BUNUH MEREKA"
"hati-hati pak"
kembali pertarungan terjadi, dua lawan sepuluh memang tidak seimbang namun Fatahillah mampu menumbangkan beberapa orang.
Fatahillah mengumpulkan kekuatannya di telapak tangannya, dengan jurus yang ia miliki hanya sekali pukul yang terkena pukulannya langsung memuntahkan darah dan langsung meregang nyawa.
dari sepuluh orang kini tinggal lima orang, Fatahillah telah menumbangkan tiga orang sedangkan pak Umar menumbangkan dua orang namun lengan pak Umar terluka terkena sabetan samurai.
"mundur pak, biar saya yang hadapi mereka" Fatahillah mengikat lengan pak Umar agar darahnya tidak terus keluar
"hati-hati" pak Umar kembali masuk ke dalam mobil
"kalian ingin menjadi mayat seperti kelima teman kalian...?" ucap Fatahillah
"kurang ajar, bunuh pemuda songong ini"
Fatahillah mengambil posisi kuda-kuda. kedua lututnya ia tekuk dan tangannya mengepal membentuk tinju. ia menyalurkan separuh energinya di kepalan tangannya dan juga kedua kakinya.
saat musuh menyerangnya, Fatahillah menyerang ulu hati mereka dengan tinjunya yang besar kemudian kakinya menendang bagian leher hingga terdengar bunyi suara tulang yang patah.
yang terkena pukulan tinjunya langsung muntah darah, sesak nafas dan mati di tempat. sedangkan yang terkena tendangnya mengalami patah dibagian leher dan terkapar tidak berdaya di tanah kemudian ikut menyusul mati di tempat.
pak Umar keluar setelah melihat para ninja itu dikalahkan oleh Fatahillah.
"kamu membunuh mereka...?" pak Umar meringis melihat mayat-mayat itu
"saya tidak punya pilihan lain. hanya ada dua pilihan, kalau bukan kita yang dibunuh maka mereka yang terbunuh. untuk menyelamatkan diri, saya terpaksa melenyapkan nyawa mereka semua. bicara baik-baik pun percuma dan satu-satunya cara hanya melawan"
"lalu apa yang harus kita lakukan kepada mayat-mayat ini...?"
"biarkan saja pak, biar bos mereka yang mengurus. saya sangat yakin mereka disuruh oleh seseorang untuk menghabisi bapak"
"terimakasih banyak Fatah, kamu sudah menyelamatkan nyawa saya. kini saya berhutang budi padamu"
"sudah sepatutnya kita saling menolong. sebaiknya kita pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat"
baru hendak kembali ke mobil, salah satu ponsel dari orang-orang itu berdering. Fatahillah mencari ponsel siapa yang bunyi kemudian mengambilnya.
"angkat saja, siapa tau itu adalah orang yang menyuruh mereka" ucap pak Umar saat Fatahillah meminta pendapat untuk mengangkat telpon itu atau membiarkannya saja
Fatahillah menggeser tombol hijau dan panggilan tersambung.
bos
bagaimana, kalian sudah menghabisinya...?
"sudah, bahkan anak buahmu sudah menjadi mayat sekarang. datang dan uruslah mereka sebelum mereka dimakan hewan buas"
setelah menjawab, Fatahillah mematikan panggilan dan membuang ponsel itu. keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
"brengsek, ada lagi yang menyelamatkannya. lihat saja Umar, kematianmu tinggal sebentar lagi" dia tersenyum menyeringai
mobil putih yang dikendarai pak Umar dan Fatahillah kembali melaju hingga kemudian mereka tiba di rumah besar tersebut.
"tuan...tuan, non Hanum tuan...non Hanum" bi Asi saat melihat pak Umar langsung berlari ke arahnya
"mana ibu...?" tanya pak Umar
"di kamar non Hanum"
pak Umar berlari menuju ke kamar Hanum. terlihat istrinya sedang duduk menangis diambang pintu kamar Hanum.
"bu, kenapa di luar...?" pak Umar memegang bahu istrinya dan membuatnya berdiri
"pintunya tidak bisa dibuka pak, tadi ibu keluar mengambil minum untuk Hanum namun saat ibu datang pintu kamarnya tidak bisa di buka. hiks... pak anak kita" ibu Rosida menangis di pelukan pak Umar.
"tenang bu, kita dobrak pintunya" ucap pak Umar
braaaakkk
braaaakkk
braaaakkk
beberapakali pak Umar mencoba untuk membuka pintu kamar itu dengan cara mendobraknya namun sama sekali tidak terbuka.
"dari tadi kami sudah mendobraknya pak namun tidak terbuka" ucap Anto satpam di rumah mereka
"bantu saya untuk mendobraknya lagi" perintah pak Umar
"pak, boleh saya mencobanya" Fatahillah mengambil langkah untuk membantu
"susah Fatah, sama sekali tidak bisa dibuka" pak Umar mulai frustasi
"biar saya mencobanya pak" ucap Fatahillah
"silahkan, tolong Fatah...buka pintunya. anak saya di dalam" begitu berharap pak Umar kepada Fatahillah
"in shaa Allah pak"
mereka menjauh dari Fatahillah, pemuda itu menatap lurus ke depan. dia mengambil kuda-kuda seperti di tempat pertarungan mereka tadi. kaki kirinya di belakang kaki kanannya. dua lututnya ditekuk dan ia menyalurkan energi ke kaki kanannya.
"bismillahirrahmanirrahim"
braaaakkk....
hanya satu tendangan pintu kamar itu hancur seketika bahkan roboh. Fatahillah berhasil membuka pintunya. setelah pintu berhasil di buka, pak Umar dan ibu Rosida dengan cepat masuk ke dalam. namun baru saja masuk, teriakan ibu Rosida begitu keras melihat anaknya yang sudah terangkat ke atas di ranjangnya. tubuhnya kejang-kejang seperti disengat listrik, mulutnya terus mengelus darah bahkan matanya melotot hampir keluar dari tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Endro Budi Raharjo
bismillah....
2025-03-22
0
Har Yanto
kebaxkn bacot ,,terlalu bertele tele
2024-01-26
0
Fahrur Rozi
kalau tulisan dari bahasa arab ke bahasa latin indonesia harusnya adalah maa syaa allah
2023-11-29
1