sepeninggalan Fatahillah dan Yusuf, pak Umar serta yang lainnya masuk ke dalam rumah.
Hasan dibawa masuk ke dalam kamar karena keadaan laki-laki itu sebenarnya belum begitu pulih total.
"pak sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kita diserang oleh orang-orang yang berpakaian ninja...?" ibu Rosida bertanya
"bapak juga tidak tau bu, kenapa mereka begitu menginginkan bapak untuk mati. padahal bapak tidak punya masalah apapun kepada orang lain" pak Umar menjawab pertanyaan istrinya
"maaf pak, tapi menurut saya tidak mungkin orang-orang itu datang menyerang kalau tidak ada yang mereka inginkan dari bapak" Fauzan mencoba mengutarakan pemikirannya
"tapi mereka inginkan apa dari saya Zan" pak Umar memijit pelipisnya
"yang pastinya sesuatu yang pak Umar punya, seperti harta yang bapak miliki sekarang atau lebih dari itu. apa pak Umar tidak pernah tau mungkin ada saudara pak Umar yang iri dengan kekayaan bapak sekarang atau mungkin saingan bisnis pak Umar sendiri" pak Odir menimpali
"apa sekejam itu dunia bisnis sampai harus melenyapkan nyawa seseorang...?" ibu Rosida tentu merasa perkataan pak Odir tentang orang-orang yang menghilangkan nyawa seseorang hanya karena bersaing dalam bisnis adalah sesuatu yang gila menurutnya
"persaingan yang dilakukan dengan cara curang memang akan melakukan hal itu bu" pak Umar memberitahu istrinya
"coba bapak ingat-ingat, siapa saingan bisnis bapak yang menurut bapak begitu agresif dan ingin menjatuhkan bapak" ucap Fauzan
"entahlah, aku juga bingung memikirkan itu Zan. karena banyak kalangan pengusaha sukses yang bekerjasama dengan perusahaan kita dan aku tidak begitu membaca dan memperhatikan karakter mereka semua" ucap pak Umar
"tidak masalah kalau pak Umar tidak bisa mengingat mereka. tapi setelah ini kita harus lebih berhati-hati. orang yang mengincar pak Umar bukan hanya mempunyai pasukan yang banyak dan kuat tapi sepertinya juga, orang itu mempunyai ilmu sihir hitam. buktinya dia bisa menggendam para penjaga dan juga kita dibuat tidak sadar olehnya. untung saja ada Fatahillah yang menolong kita" timpal pak Odir
"benar, untung saja ada Fatahillah. pak, kita pekerjaan saja Fatahillah menjadi pengawal kita pak. dia bisa menjaga kita diperjalanan saat mengantar Hanum ke gunung Sangiran" ibu Rosida menatap harap suaminya
"bapak juga inginnya seperti bu, tapi.... Fatahillah memiliki tanggung jawab lain yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. ibunya tidak mungkin ia tinggalkan seorang diri"
"sepertinya bukan hanya Fatahillah yang mempunyai ilmu sihir pak Umar, dokter Yusuf sepertinya juga memiliki kemampuan seperti Fatahillah. terlihat tadi, saya sempat melihat dia mengeluarkan kekuatannya untuk menghabisi para ninja itu" ucap pak Odir
"iya, saya juga sempat melihatnya. ternyata dokter Yusuf sama seperti Fatahillah
"kalau begitu kita meminta pertolongan kepada keduanya saja pak" ucap ibu Rosida
"kita bisa membicarakan itu nanti dengan Fatahillah dan Yusuf. sebaiknya sekarang kita istrahat. aku akan kembali ke kamar Hasan" pak Odir bangkit dan meninggalkan mereka
"kamu juga istirahatlah Zan" pinta pak Umar kepada Fauzan
"baik pak"
mobil Yusuf tiba di rumah Fatahillah. mereka keluar dari mobil, Fatahillah begitu tergesa-gesa ingin sampai di pintu rumah dan masuk ke dalam.
"assalamualaikum" Fatahillah mengucapkan salam kemudian membuka pintu
"ayo Yus" ajaknya kepada sahabatnya itu
Yusuf mendekat dan mereka berdua masuk ke dalam rumah. Yusuf duduk di ruang tengah sementara Fatahillah mencari keberadaan ibunya.
dibukanya pintu kamar sang ibu dengan pelan, rupanya malaikatnya itu sedang melaksanakan sholat. Fatahillah kembali ke ruang tengah.
Fatahillah mengajak Yusuf masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan sholat karena sholat isya belum mereka kerjakan sementara sholat magrib waktunya telah berlalu.
setelah keduanya selesai, mereka pun keluar dari kamar dan duduk di rumah ruang tengah.
"Fatah, kamu sudah pulang...?" ibu Fatimah yang baru keluar dari kamar tamu langsung menyongsong mereka di sofa
"baru sampai bi" Fatahillah mencium tangan ibu Fatimah
"ini....?" ibu Fatimah mengingat-ingat Yusuf
"saya dokter Yusuf bi, sahabat Fatahillah. masa bibi sudah lupa dengan saya" Yusuf tersenyum dan mencium punggung tangan ibu Fatimah
"Oalah.... dokter Yusuf toh. maaf ya, bibi lupa. maklum sudah tua" ibu Fatimah tersenyum
"bibi masih cantik kok, tidak kalah sama ABG di luar sana" ucap Yusuf dengan bercanda
"helleh, tau aja kamu kalau bibi masih cantik" ibu Fatimah mencubit lengan Yusuf membuat dokter itu meringis namun terkekeh pelan
"kenapa lama sekali kalian pulangnya. dari tadi ibumu menunggu, sampai dingin makanan di atas meja. ibu mu belum makan, dia ingin makan bersama kamu" ibu Fatimah mengalihkan wajah ke Fatahillah
"kami ada urusan bi, kebetulan tadi Fatah membantu menyelesaikan pekerjaan saya makanya dia telat pulang" Yusuf mencoba menjawab agar Fatahillah tidak kebingungan mencari alasan untuk jawabannya
"Fatah" ibu Khadijah yang keluar kamar langsung menghampiri putranya
"bu" Fatahillah bangkit dan langsung memeluk ibu Khadijah
"ibu sudah sehat kan, tidak sakit lagi kan...?" Fatahillah membantu ibu Khadijah untuk duduk di sofa bersamanya
"Alhamdulillah, ibu sudah sehat. kenapa lama sekali...?" tanya ibu Khadijah
"Fatah tadi masih membantu saya bi, maafkan saya telah membuat Fatahillah terlambat pulang" Yusuf menjawab
"oh ada dokter Yusuf. bagaimana kabarnya dokter, seminggu ini dokter sudah jarang main ke sini" ibu Khadijah melihat Yusuf
"saya baru saja pulang dari luar kota kemarin bi" jawab Yusuf dan ibu Khadijah manggut-manggut
"kalian sudah makan...? kalau belum ayo kita makan bersama" ibu Khadijah menatap Fatahillah dan Yusuf bergantian
"belum Bu, kebetulan kami berdua belum makan. ayo, Fatah juga sudah sangat lapar"
"ya sudah, ayo"
"saya tidak ikut lagi ya mbak, soalnya sudah makan tadi" ibu Fatimah memberitahu
"kalau begitu buatkan cemilan untuk keduanya saja Imah, pisang masak ada di dapur" pinta ibu Khadijah
"baiklah, kalau begitu saya keluar beli minyak goreng dulu. tadi habis saat saya menggoreng ayam"
"bi, pakai uang Fatah saja" Fatahillah menahan langkah ibu Fatimah
"tidak perlu. simpan untuk uang Panai mu, carikan calon mantu untuk bibi dan ibumu agar nanti kami dapat menggendong cucu" selosor ibu Fatimah tersenyum menggoda Fatahillah sementara Fatahillah hanya menggaruk kepala jika sudah membahas masalah wanita
ibu Khadijah bersama Fatahillah dan Yusuf menuju ke meja makan. dengan telaten ibu Khadijah mengurus kedua laki-laki itu seperti anak kecil yang ia urus untuk mengambilkan makanan.
"mau lauk apa nak...?" ibu Khadijah bertanya kepada Yusuf
"ayam saja bu sama udang goreng" jawab Yusuf
ibu Khadijah mengambilkan lauk yang diinginkan oleh Yusuf. ia juga mengambilkan makanan untuk Fatahillah.
mereka makan dengan sesekali bercerita tentang pekerjaan Yusuf dan juga calon pasangan kedua laki-laki itu.
"tidak ada yang mau sama saya bi. wajah pas-pasan seperti ini, para wanita tidak minat untuk mendekat" ucap Yusuf
"tidak ada yang mau atau kamu yang tidak mau" ibu Fatimah baru saja pulang dari membeli minyak goreng
ia segera mengambil pisang dan mengupasnya untuk ia goreng.
"menikah memang bukan perkara mudah, harus memilih calon yang benar-benar dapat mendampingi kita sampai tua. tapi ingat....jangan kelamaan milih-milih, nanti kalian berdua keburu tua" ucap ibu Khadijah
"doakan saja yang terbaik untuk kami berdua bu" timpal Fatahillah
"sama Zulaikha saja mau Yusuf, anak gadis ibu itu sekarang sudah besar" ucap Fatimah yang menggoreng pisang
"Zulaikha itu bagai bidadari yang turun dari kahyangan bi, sementara aku hanya pemuda biasa, mana mau dia sama aku" Yusuf menjawab sambil mengunyah makanannya
"Zulaikha masih kecil bi, baru juga kelas satu SMA. masa iya mau dijodohkan sama yang aki-aki" timpal Fatahillah enteng
"heh, siapa yang kamu bilang aki-aki...wajah tampan begini bisa-bisanya disamakan dengan aki-aki. umur aku saja satu tahun lebih muda dari kamu ya" Yusuf mengomel seperti Fatahillah tersenyum jahil
"memangnya berapa umur nak Yusuf sekarang...?" tanya ibu Khadijah
"30 tahun bu" jawab Yusuf
"wah umur segitu lagi mateng-matengnya atuh... Fatahillah umurnya 31. kalian berdua benar-benar akan jadi aki-aki kalau pilih-pilih pasangan" cerocos ibu Fatimah
"ya jangan sampai begitu juga kali bi. doakan anakmu ini cepat ketemu jodohnya Napa" ucap Yusuf
"semua rencana Allah, tidak ada yang tahu. semoga kedua anak ibu ini secepatnya dapat jodoh yang baik sampai ke Jannah-nya" ibu Khadijah bersuara lembut.
"aamiin" mereka mengaminkan doa wanita yang lembut itu
selesai makan, pisang goreng pun telah selesai digoreng oleh ibu Fatimah. mereka kembali berkumpul di ruang tengah dengan teh hangat dan pisang goreng yang masih panas.
"Imah, suamimu tidak akan marah kamu menginap di sini...?" tanya ibu Khadijah
"ya tidak toh mbak, lagipula aku juga kan jarang-jarang datang ke sini" ibu Fatimah menjawab
"tapi dari kemarin bibi sudah menjaga ibu, apa sebaiknya bibi Fatah antar pulang saja" ucap Fatahillah
"kemarin saat kamu belum pulang entah kemana, pamanmu sama Zulaikha datang bahkan menginap. tidak perlu cemas, kamu kan tau bagaimana sikap pamanmu sendiri itu. Zulaikha akan mengurus keperluannya, besok saja bibi pulang" timpal ibu Fatimah
"paman Imam sehat kan bi...?" tanya Yusuf
"Alhamdulillah sehat. kapan-kapan jalan-jalan ke rumah, dia pasti senang bertemu dengan kalian berdua"
"in shaa Allah bi, kalau ada waktu" jawab Yusuf
pukul 10 malam, Yusuf berpamitan untuk pulang namun ibu Khadijah menahannya agar laki-laki itu menginap di rumah mereka.
"tapi saya tidak membawa b
pakaian ganti bi"
"kan ada pakaian Fatahillah, kamu bisa memakai itu. lagi pula sering juga kan kamu menginap dan memakai baju Fatahillah" ucap ibu Khadijah
"nginap aja Yus, ada yang aku mau bicarakan sama kamu" ucap Fatahillah
"baiklah" Yusuf akhirnya setuju
mereka kembali bercerita hingga pukul 11 malam, ibu Khadijah dan ibu Fatimah menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat. sementara Fatahillah dan Yusuf masih di ruang tengah.
"aku tidak menyangka tadi itu kita seperti petarung hebat yang memberantas para penjahat" Yusuf bersandar di sofa
"bahkan aku pernah melawan mereka seorang diri" timpal Fatahillah
"oh ya...? kenapa bisa mereka mengincar mu...?" Yusuf menarik tubuhnya untuk duduk normal kembali
"mereka bukan mengincarku tapi mereka mengincar pak Umar" jawab Fatahillah
"apa yang mereka mau dari pak Umar. padahal selama ini, menurut kacamata penglihatanku, pak Umar orangnya baik"
"kalau menurut ku, mereka menginginkan sesuatu dari pak Umar. tapi saat aku tanya kepada pak Umar, dia juga tidak tau apa yang mereka inginkan darinya"
"bahkan sakit yang diderita putrinya, itu bukan sakit biasa. apakah keluarga pak Umar di kutuk oleh seseorang...?"
"entahlah. aku juga penasaran siapa yang mengirimkan santet kepada anaknya itu. bahkan Hasan dicelakai saat berencana akan mengantar Hanum untuk berobat"
ting
pesan masuk di ponsel Fatahillah. ia mengerutkan kening, siapa yang larut malam seperti ini mengirimkan pesan kepadanya.
karena di rasa penting, Fatahillah membuka pesan tersebut. nomor baru yang tidak ia kenal mengirimkan pesan kepadanya.
08xxx : tolong ayahku
Fatahillah membaca pesan tersebut dengan ekspresi yang menampilkan kebingungan di wajahnya.
"ada apa...?" Yusuf bertanya ketika melihat ekspresi wajah Fatahillah
"entahlah, sepertinya nomor kesasar" Fatahillah menyimpan ponselnya di atas meja
hanya berselang satu menit setelah terkirimnya pesan itu, ponselnya berdering.
Fatahillah dan Yusuf saling pandang, kemudian Yusuf mengkode agar Fatahillah mengangkat panggilan itu.
Fatahillah
halo
08xxx
mas, tolong... tolong ayah saya
Fatahillah
ini siapa
08xxx
saya yang kamu temui di rumah sakit saat salah masuk kamar. tolong ayah saya mas, tolong
saat itu juga Fatahillah mengingat wanita yang bercadar dengan ayahnya yang berada di rumah sakit, yang terkena guna-guna dari kiriman orang lain menurut penglihatan Fatahillah.
Fatahillah
sekarang kamu dimana
08xxx
di rumah sakit, saya mohon mas tolong datang selamatkan ayah saya
Fatahillah
jangan panik. masuk ke dalam kamar mandi terus berwudhu kemudian baca ayat kursi berulang-ulang kali di telinga ayahmu. saya akan ke sana sekarang juga
"Yus, antar aku ke rumah sakit"
"jam segini...? ngapain...?"
"nanti kamu juga akan tau, ayo cepat" Fatahillah bergegas dengan cepat
"kita tidak minta izin sama ibumu dan bibi Fatimah...?"
"tidak perlu, mereka sudah tidur"
Yusuf menyusul Fatahillah yang sudah berjalan terlebih dahulu. di malam yang selarut itu, mobil Yusuf kembali dikemudian dan meninggalkan rumah Fatahillah menuju rumah sakit.
"rumah sakit mana...?" tanya Yusuf
"tempat kamu kerja" jawab Fatahillah
"memangnya yang menelpon kamu siapa sampai kita harus keluar larut malam seperti ini"
"seorang wanita"
ciiiiiit
Yusuf dengan spontan menginjak rem mobilnya secara mendadak. untung saja mereka memakai sabuk pengaman sehingga keduanya aman-aman saja.
"gila kamu, mau bikin kita mati ya"
"hanya karena seorang wanita kamu jadi terlihat khawatir seperti ini...?" Yusuf menelisik wajah Fatahillah
"ck, bukan seperti itu. itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan. cepat jalankan kembali mobilmu. dia butuh pertolongan kita"
"pertolongan apa pertolongan...?" Yusuf menaikkan satu alisnya
"Yus, ini menyangkut nyawa seseorang. ayolah, nanti juga kamu akan tau saat tiba dan melihat"
"oke...oke" Yusuf menjalankan mobilnya kembali
Fatahillah menyuruh sahabatnya itu untuk melajukan kendaraannya karena waktu mereka sangat terdesak.
setibanya di rumah sakit, tanpa aba-aba Fatahillah langsung berlari masuk meninggalkan Yusuf yang masih di dalam mobil.
"woi, tungguin Napa" Yusuf keluar dan ikut berlari masuk
Fatahillah menuju ke ruang rawat dimana ibunya di rawat dan sekarang orang lain yang menempati tempat itu. namun saat membuka pintu, tidak ada siapapun di dalam.
Fatahillah menghubungi nomor wanita yang menghubunginya tadi, sedang Yusuf baru saja tiba menghampirinya.
Fatahillah
kamu dimana
08xxx
jalan setapang nomor 12, datanglah di tempat itu
Fatahillah
bukannya tadi kamu bilang sedang berada di rumah sakit
"Zelina, bacakan terus doa di telinga bapak" suara laki-laki terdengar
"iya mas" wanita itu menjawab
Fatahillah
halo.... halo
08xxx
temui kami di alamat itu. kami sengaja meninggalkan rumah sakit karena orang-orang kiriman pamanku akan datang mencelakai ayah
Fatahillah
baiklah, saya ke sana
"kemana lagi...?" tanya Yusuf karena Fatahillah meninggalkan ruangan yang dibuka pintunya tadi
"ke jalan setapang nomor 12" jawab Fatahillah
buuuk
karena terburu-buru, Fatahillah menabrak seseorang. bukan hanya seseorang tetapi ada beberapa orang yang berada di belakang orang yang ia tabrak itu.
"maaf mas saya bersalah. mas tidak apa-apa...?" Fatahillah bertanya sopan
"tidak" jawab singkat dan datar laki-laki itu kemudian berlalu pergi bersama orang-orang yang ada di belakangnya sementara Fatahillah dan Yusuf masih di tempat mereka melihat orang-orang itu berjalan sampai tidak terlihat oleh mata keduanya
"Yus, apa kamu merasakannya...?" Fatahillah bertanya tanpa menoleh
"hitam dan.... panas" Yusuf masih tetap menatap ke depan dimana yang ditatapnya sudah tidak terlihat sejak tadi
"ayo" ajak Fatahillah
mereka berdua balik kanan dan melangkah cepat menuju ke parkiran. kali ini Fatahillah yang menyetir karena dirinya benar-benar harus secepatnya sampai di tujuan. Yusuf duduk di sampingnya.
"Fatah, aku belum mau mati. belum merasakan nikmatnya surga dunia"
"siapa juga yang mau mati Yus" Fatahillah menjawab tenang
"cara mengemudi mu ini akan membawa kita ke alam baka" Yusuf tegang dan cemas
Fatahillah mengemudikan mobil Yusuf dengan kecepatan tinggi, jalanan yang lenggang karena larut malam membuat Fatahillah semakin bebas.
"percaya padaku saja" ucap Fatahillah
sepanjang perjalanan, Yusuf terus merapalkan doa dan beristighfar beberapa kali. cara Fatahillah mengendarai mobilnya akan membuatnya jantungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Har Yanto
amburadul critax,,muter 2 ga jelas,,dasar author gadungan
2024-01-26
0
Putra_Andalas
biasanya ujung SUF yg d pake
2023-07-08
2
LANANG MBELING
apakah yusuf ini temen seperjuangan dari fatah...
sakti juga tapi tetap di bawah fatah!!!
2023-03-22
1