"SERANG LANGON"
goaaaaarrrrr
pertarungan dua hewan peliharaan itu telah dimulai. dengan lincah dan cepat, harimau putih menghindari setiap serangan dari ular besar itu.
"waktunya kamu melawanku pak tua" Fatahillah memegang kerisnya dengan erat
"hhh, kemampuan yang hanya seujung kuku itu tidak akan bisa mengalahkan ku anak muda" kakek tua itu merendahkan kemampuan Fatahillah
"kita lihat saja nanti" Fatahillah mengangkat sudut bibirnya
swing
swing
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
tanpa aba-aba Fatahillah melesatkan cahaya biru kepada kakek tua itu. hampir saja kakek tua itu terkena sihir dari Fatahillah namun untungnya dia dengan cepat menghindar.
"kurang ajar, naiklah kali ini aku akan benar-benar mencabut nyawamu anak muda. hiyaaaaaa"
wushhh
wushhh
swing
swing
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
mereka saling menyerang dengan sihir masing-masing. setiap kali sihir keduanya bertemu maka akan menimbulkan ledakan yang begitu keras. baik Fatahillah maupun kakek tua itu, kekuatan mereka sama-sama seimbang.
ddduuuaaaar
bughhh
Fatahillah terkena serangan dari kakek tua itu. dirinya tersungkur ke tanah dan terseret beberapa meter.
"hahaha, sudah aku katakan, kamu tidak akan bisa mengalahkan ku anak muda. rasakan ini, hiyaaaaaa"
kakek tua itu mengumpulkan kekuatan di telapak tangannya kemudian ia terbang ke atas dan mengarahkan sihirnya ke arah Fatahillah.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
ledakan yang begitu keras terdengar saat cahaya merah itu tepat mengenai Fatahillah. kepulan asap membuat tubuh Fatahillah tidak terlihat. kakek tua itu kembali mendarat di tanah dan melihat tubuh Fatahillah yang gosong terkena sihirnya.
"hahaha.... hahaha" dengan tertawa penuh kemenangan, kakek tua itu begitu puas telah melenyapkan Fatahillah
goaaaaarrrrr
harimau putih mengamuk saat melihat tubuh tuannya telah gosong terbakar. ia mencabik-cabik ular hitam yang besar itu dan melempar kepalanya di depan kakek tua itu.
"harimau sialan, beraninya kamu membunuh peliharaan ku. mati kamu"
kakek tua itu hendak melesatkan sihir ke arah harimau putih namun kemudian
ddduuuaaaar
bughhh
bughhh
kraaaak
"aaaggghh"
sihir yang diarahkan ke harimau putih dihalangi oleh sihir yang lain dan bahkan seseorang menyerang kakek tua itu dan mematahkan tangan kirinya.
goaaaaarrrrr
harimau putih melompati orang tersebut membuat mereka terjatuh di tanah. rupanya orang itu adalah Fatahillah, harimau putih memeluk Fatahillah tanda dirinya begitu khawatir dan senang tuannya baik-baik saja.
"aku tidak apa-apa Langon, jangan cemas" Fatahillah bangun dan memeluk harimau peliharaannya itu
kakek tua itu teriak kesakitan karena tangannya dipatahkan oleh Fatahillah. bahkan pukulan yang dilayangkan oleh Fatahillah membuat dada kakek tua itu terluka dan berasap.
"KURANG AJAR"
kakek tua itu duduk bersila dan memanggil semua penghuni gaib di tempat itu. seketika tempat itu mulai ramai dan Fatahillah serta harimau putih di kelilingi oleh para makhluk yang menyeramkan dan juga mengerikan.
"hahaha... hahaha, sekarang bersiap untuk mati anak muda" kakek tua itu tertawa puas melihat begitu banyaknya makhluk gaib yang datang untuk membantunya
sementara di dunia manusia, Panji dan Zelina menunggu di depan kamar dengan perasaan cemas dan juga takut.
"kenapa tidak ada suara di dalam...?" Panji menempelkan telinganya di daun pintu
"mereka baik-baik saja kan mas...?" Zelina mulai gelisah
"apa kita buka saja pintunya...?"
"tapi kita dilarang untuk masuk mas"
Panji memegang gagang pintu bersiap untuk membuka pintu kamar tersebut namun kemudian dirinya mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah tersebut.
"siapa yang datang larut malam begini mas" tanya Zelina
"aku akan periksa dulu"
"aku ikut" Zelina memegang lengan Panji
mereka berdua melangkah menuju ke ruang tamu. mereka tidak membuka pintu, keduanya melihat dari jendela siapa yang berada di luar sana.
"i-itu paman Hutomo mas... bagaimana ini" Zelina panik melihat saudara ayahnya itu telah menemukan tempat persembunyian mereka
tanpa banyak bicara Panji memegang tangan Zelina dan menuju ke kamar yang ditempati ayahnya. mereka berdua masuk ke dalam kamar dimana di dalam itu ada Fatahillah dan juga Yusuf. Panji ingin memberitahu keduanya kalau orang yang akan mencelakai mereka telah datang namun yang mereka tidak melihat keberadaan Fatahillah, Yusuf serta ayah mereka.
"kemana mereka, kenapa tidak ada di sini" Panji kebingungan begitu juga dengan Zelina
"bahkan kita tidak beranjak sedikitpun dari depan kamar ayah mas, tapi kenapa mereka malah menghilang" Zelina mencari kemanapun bahkan di kamar mandi tapi tetap saja tidak menemukan keberadaan ketiga orang itu
"bagaimana ini mas, apa mereka membawa ayah kabur" Zelina mulai berprasangka buruk
"tidak mungkin dek, mereka akan lewat dimana apalagi jendela kan mempunyai tralis besi" Panji mendekati jendela kamar itu
tak...
tak...
tak
suara langkah kaki mulai terdengar di dalam rumah itu. baik Panji maupun Zelina, mereka berdua saling pandang.
"dek, apapun yang terjadi jangan keluar dari kamar ini mengerti" Panji menatap Zelina dengan serius
"mas Panji mau kemana...?"
"aku akan menghadapi mereka"
"tidak, jangan mas... Zelin tidak mau" Zelina menggeleng kepala, air matanya mulai luruh jatuh membawasi wajahnya yang terhalang oleh cadar yang dipakainya
"aku akan baik-baik saja, percayalah. tetap berada di kamar ini dan jangan pernah keluar" Panji menangkup wajah Zelina dan mencium seluruh wajah adiknya itu
kemudian ia memeluk Zelina dengan erat setelah itu melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar. zelina hendak menahan Panji namun sayang kecepatan Panji tidak bisa ia kalahkan.
"mas Panji" Zelina menangis dalam diam
"Panji, Zelina, keluar kalian. aku tau kalian ada di tempat ini" Hutomo memanggil dua keponakannya
bersama dengan orang-orangnya, Hutomo menggeledah setiap ruangan untuk mencari keberadaan Panji dan Zelina.
"anda datang bertamu larut malam dan teriak-teriak di dalam rumah orang, apakah anda pantas dikatakan beradab, pak Hutomo Mandala yang terhormat" Panji datang menghampiri laki-laki adik dari ayahnya itu
Hutomo memandang Panji dengan tajam, ia menghampiri keponakannya itu dan berdiri di depannya sementara Panji sedang duduk di sofa.
"dimana ayahmu, aku tau kalian menyembunyikannya bukan" Hutomo bertanya
"untuk apa mencari ayahku paman, bukannya kalian berdua sudah tidak mempunyai hubungan apapun. apa paman lupa, paman sendiri yang memutuskan tali persaudaraan kalian berdua" Panji menjawab tenang
"bahkan paman mengancam ayah di pernikahan Andini waktu itu. apakah paman juga yang mengirim guna-guna kepada ayah" Panji menatap tajam Hutomo
Andini adalah anak dari Hutomo, sepupu dari Panji dan Zelina.
"hahaha, jadi kamu sudah mengetahui sakit yang diderita ayahmu. baguslah, dengan guna-guna itu perlahan ayahmu akan mati mengenaskan" Hutomo tertawa begitu puas melihat saudaranya tersiksa karena guna-guna yang dikirimnya
"paman benar-benar biadab, salah apa ayah sama paman. bukankah pembagian warisan telah paman setujui waktu itu. ayah anak pertama, dialah yang berhak mewarisi perusahaan dan menggantikan kepemimpinan eyang, bagaimana bisa paman begitu serakah ingin mengambil semuanya" Panji mulai tersulut emosi
"diam kamu" Hutomo menunjuk Panji dengan tatapan tajam
"sebentar lagi bukan hanya ayahmu yang akan ke alam baka, tetapi dirimu dan juga adikmu yang sok suci itu" lanjut Hutomo
"sebelum paman menyentuh mereka, langkahi dulu mayatku" Panji mengepalkan tangannya dengan erat
"hhh, tentu saja aku akan membuat dirimu menjadi mayat" Hutomo tersenyum licik
Fatahillah masih terus memberantas satu persatu para lelembut yang menyerang mereka. ketika kerisnya tertancap di tubuh para makhluk itu, maka mereka akan mengerang kesakitan dan lenyap begitu saja.
(kalau seperti ini, aku akan kehabisan tenaga) Fatahillah memikirkan cara untuk menghabisi setan-setan itu
"Langon, gunakan semburan api mu" perintah Fatahillah kepada harimau putih
goaaaaarrrrr
harimau putih mengeluarkan api yang begitu besar dari mulutnya kemudian membakar para setan itu. lengkingan suara kesakitan begitu menggema di alam gaib tersebut.
sedang Fatahillah membaca mantra, ia mengangkat kerisnya ke atas hingga langit bergemuruh, Guntur dan petir mulai menyambar-nyambar. kakek tua itu bahkan terkejut melihat kesaktian keris yang dimiliki oleh Fatahillah.
Fatahillah melayang ke atas, ia kini berada di atas semua para lelembut tersebut. cahaya putih terlihat di ujung keris tersebut.
"laaillaahillallah Muhammadarrasulullah ALLAHU AKBAR"
wuuuussshhh
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
"aaaggghh"
"aaaggghh"
Fatahillah menyerang semua lelembut itu dengan cahaya yang ada di ujung kerisnya. yang tadinya kecil perlahan cahaya itu kian membesar dan menghancurkan semua makhluk gaib yang ada di bawah sana.
bughhh
uhuk...uhuk
kakek tua itu terpental dan tersungkur di tanah. Fatahillah berhasil melenyapkan semua lelembut itu. ia kini turun kembali mendarat di tanah.
harimau putih datang dan bermanja di kakinya.
"terimakasih Langon sudah membantuku" Fatahillah mengelus kepala harimau itu
karena menerima kekalahan, kakek tua itu menghilang dari tempat itu. sementara Fatahillah mengikuti harimau putih untuk menyusul Yusuf yang mengejar setan yang membawa kabur laki-laki yang mereka tolong.
"apa benar dia di sini tadi Langon...?" tanya Fatahillah saat mereka tiba di tempat dimana Yusuf berada bersama harimau putih sebelum akhirnya harimau putih di panggil Fatahillah untuk membantunya
harimau putih menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. di tempat itu sepi tidak ada siapapun.
"Yusuf" Fatahillah memanggil dokter tersebut
"Yusuf"
"aku di sini" suara jawaban dari orang yang ia panggil terdengar
Fatahillah mencari suara itu, dilihatnya Yusuf sedang menggendong laki-laki paruh baya yang ia tolong tadi.
"kita kembali" ucap Fatahillah
sementara itu, Zelina begitu khawatir terhadap kakaknya yang sampai sekarang belum juga kembali ke kamar tersebut. dengan pelan ia membuka pintu kamar dan keluar.
"hahaha...hahaha" suara Hutomo begitu menggelegar
Zelina mendekat, ia bersembunyi agar tidak dilihat. matanya menangkap sosok yang terbaring dengan kepalanya diinjak oleh pamannya sendiri. Panji tergeletak di lantai, kaki Hutomo berada di kepala laki-laki itu.
"katakan dimana ayahmu, Harun sialan itu atau aku ledakkan kepalamu" Hutomo semakin menginjak kuat kepala Panji
"bahkan aku matipun, aku tidak akan memberitahumu manusia biadab" ucap Panji dengan wajah yang sudah berdarah-darah
"kamu benar-benar beras kepala Panji. bunuh dia" perintah Hutomo kepada anak buahnya
salah seorang mengarahkan pistol kepada Panji.
"tidak" Zelina berlari
dor
ugh
Panji tertembak di dadanya, darah mengucur begitu derasnya. Zelina histeris dan berlari cepat memeluk kakaknya itu.
"mas Panji, mas" Zelina memangku kepala kakaknya
"k-kenapa keluar...?" Panji menggenggam erat tangan Zelina
"bertahan mas, Zelin akan bawa mas ke rumah sakit. aku mohon jangan tinggalkan Zelin" air mata Zelina membasahi kain cadarnya
uhuk...uhuk
"mas"
"harusnya kamu memberitahu keberadaan ayahmu Panji, jadi kejadian seperti ini tidak akan terjadi. sayangnya kamu malah memperkeruh suasana" Hutomo duduk santai di sofa
"Zelina, katakan dimana ayahmu...?"
"aku tidak tau" Zelina menjawab sambil menangis memeluk Panji
Hutomo emosi, ia mendekati Zelina dan menarik jilbab panjangnya kemudian menyeret wanita itu menjauhi Panji.
"Zelina" Panji berusahalah untuk bangun namun sia-sia, dirinya kembali jatuh ke lantai
"aku tanya sekali lagi, dimana ayahmu" Hutomo mencengkram wajah Zelina dengan keras
"aku tidak tau paman, lepaskan aku"
plaaaak
tangan besar Hutomo mendarat di wajah Zelina. kepala wanita itu bahkan terbentur di ujung meja, pelipisnya mulai mengeluarkan darah.
"beritahu aku, atau kakak mu hari ini aku kirim ke akhirat menemui ibu kalian" wajah Zelina di arahkan ke arah Panji dimana laki-laki itu bersiap untuk di habisi oleh orang suruhan Hutomo
Panji menggeleng, memberitahu Zelina agar adiknya itu tidak mengatakan apapun.
"aku benar-benar tidak tau paman, aku tidak tau. tolong lepaskan mas Panji, aku akan melakukan apapun yang paman mau, tolong lepaskan mas Panji" Zelina bersimpuh di kaki saudara ayahnya itu
Zelina memang tidak berbohong, apa yang dikatakannya adalah benar bahwa dirinya tidak mengetahui dimana keberadaan ayahnya sekarang.
"kalian berdua benar-benar membuat ku marah. habisi mereka berdua"
dor
"MAS PANJI"
Zelina histeris melihat Panji ditembak tepat di jantung laki-laki itu. Panji terkapar di lantai, darahnya yang kental membasahi lantai yang putih itu.
kini giliran Zelina yang akan dihabisi, namun saat itu juga tiba-tiba sebuah keris tertancap di dada orang yang akan menghabisi Zelina sehingga orang itu akhirnya ambruk di lantai.
Fatahillah datang tepat waktu. Zelina berdiri dan bersembunyi di belakang Fatahillah sementara Yusuf dan seorang laki-laki baya yang mereka tolong tadi kini tengah berada bersama mereka dalam keadaan sadar.
"ayah" Zelina berbalik dan menghambur memeluk ayahnya
"mas Panji yah" Zelina terisak melihat Panji kini yang sudah tidak bernyawa
"hh, akhirnya kamu datang juga Harun" pak Hutomo tersenyum melihat kakaknya sudah berada di tempat itu
"nyawa harus dibayar nyawa Hutomo" pak Harun melepaskan pelukan putrinya dan mendekat ke arah Panji
putranya yang sudah tidak bernyawa, dipeluknya dengan erat.
"aku akan memberikan apa yang kamu mau" pak Harun berdiri dan menatap lurus ke arah pak Hutomo
"bagus, kalau begitu serahkan sekarang juga mustika merah itu, maka nyawamu akan aku ampuni"
"mustika merah...?" gumam Yusuf
sementara Fatahillah menelisik wajah pak Hutomo.
( dia kan yang aku tabrak saat di rumah sakit) batin Fatahillah setelah mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pak Hutomo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
woo... namaku disebut, salam kenal author 🙏😻
2023-07-11
2
Mr.VANO
ya ALLAH,,,,ak jd sedih ya,,,,kisah nyata yg semua org alami,,,,seebat hebatny mustika,,,tdk akan bawak berkaha,,,untk org yg tdk berhak,,,si tomo memaksakan diri😭😭😭😭
2023-04-28
2
V3
perang saudara Krn sebuah harta
2023-02-26
1