"ini uangnya pak, terimakasih"
"terimakasih kembali pak"
pak Umar keluar dari mobil taxi yang ditumpanginya, ia telah tiba di rumah sakit. saat sampai di lobi rumah sakit, ponsel pria baya itu bergetar di saku celananya. sambil berjalan ia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
tertera di layar ponsel tertulis nama istriku, itu adalah ibu Rosida yang menghubunginya. seakan enggan untuk menerima panggilan istrinya akibat perdebatan mereka tadi, pak Umar membiarkan saja ponselnya terus bergetar. ia masih terus melangkah menuju ke ruang ICU.
buuuk
di belokan menuju ruang ICU, pak Umar menabrak seseorang. orang itu adalah laki-laki yang ditabrak oleh Fauzan tadi.
"maafkan saya dokter" pak Umar merasa bersalah
laki-laki itu tidak bicara, ia hanya mengangguk dan pergi meninggalkan pak Umar. namun kemudian langkahnya terhenti.
"tunggu"pak Umar memanggilnya. dengan tegang ia berdiri menoleh ke arah pak Umar
"apa dokter yang menangani pasien di dalam ICU...? tanya pak Umar dan laki-laki itu menggangguk
"bagaimana keadaannya sekarang...?"
"sudah membaik, saya permisi" laki-laki itu pergi begitu saja
pak Umar jelas heran dengan sikap dokter itu, namun dirinya berbalik untuk melihat Hasan. saat itu juga kakinya menendang sesuatu di bawah sana.
"apa ini...?" pak Umar berjongkok dan mengambil botol yang sangat kecil, besarnya seperti jari kelingking. isinya kosong, tidak ada apapun di dalam botol kecil itu
pak Umar memegang benda itu dan melangkah mendekati pintu ruang ICU. ia kemudian masuk ke dalam namun betapa kagetnya ia saat melihat keadaan Hasan.
laki-laki muda itu kejang-kejang dan bahkan nafasnya naik turun. pak Umar begitu panik. ia keluar dan berlari mencari dokter.
"dokter....dokter" pak Umar mendatangi beberapa suster di ruang resepsionis
"ada apa pak...?" tanya seorang suster
"pasien di ruang ICU, dia kejang-kejang. tolong....tolong periksa dia, selamatkan dia"
"suster Yuli, panggilkan dokter Jordan di ruangannya"
"baik sus"
suster yang bernama Yuli langsung berlari menuju ke ruangan dokter Jordan, dokter yang menangani Hasan. sedangkan suster yang lainnya segera menuju ke ruang ICU bersama pak Umar.
"dokter" suster itu langsung menerobos masuk
"ada apa suster Yuli...?" dokter Jordan mendongak melihat wanita itu
"pasien di ruangan ICU, dia....kritis"
"bagaimana bisa"
dokter Jordan bergegas ke ruang ICU bersama dokter Yuli. tiba di sana mereka segera masuk ke dalam sedangkan pak Umar tidak diizinkan untuk masuk. selain petugas medis, ruang mengerikan bagi siapapun itu, dilarang masuk ke dalam.
drrrttt.... drrrttt
pak Umar
halo bu
istriku
kenapa baru mengangkat telpon ku pak, bapak marah sama ibu...? pergi juga tidak bilang-bilang
pak Umar
ada apa, apa Hanum kambuh lagi
istriku
hanya sakit biasa yang ia rasakan, seperti sebelumnya. bapak dimana
pak Umar
di rumah sakit, Hasan sedang kritis sekarang
istriku
ibu ingin ke sana
pak Umar
jangan bu, siapa yang akan menjaga Hanum jika ibu datang ke sini. doakan saja semoga Hasan baik-baik saja dan berkumpul kembali bersama kita
istriku
ya sudah, bapak hati-hati
pak Umar
iya
"ya Tuhan selamatkan Hasan" pak Umar mengusap wajahnya dengan kasar, pria baya itu benar-benar frustasi
di tempat lain, di sebuah rumah yang sederhana, seorang pemuda sedang mengurus ibunya yang sakit, dialah Fatahillah.
semenjak menjelang magrib ibu Fatahillah merasa tidak enak badan. hujan di luar sana membuat tubuhnya menggigil kedinginan namun di luar badannya panas.
"astaghfirullah bu, badan ibu tambah panas. kita ke rumah sakit ya" Fatahillah sedang mengompres kepala ibunya
"ibu tidak apa-apa, hanya sakit biasa nanti juga sembuh"
"biarpun sakit biasa tapi harus diobati bu, pokoknya kita ke rumah sakit dan Fatah tidak mau mendengar penolakan"
"ibu tunggu di sini ya, biar Fatah mencari taxi untuk mengantar kita" Fatahillah mencium kening ibunya kemudian keluar dari kamar
"ya Allah, bagaimana caranya aku mencari taxi kalau hujan deras seperti ini" gumamnya yang berdiri di teras rumah
ia berniat memesan taxi online, namun karena hujan deras dan juga disertai guntur dan petir, beberapa taxi yang dipesannya menolaknya. hal itu membuat Fatahillah bertambah frustasi.
"tidak ada cara lain, aku harus ke depan"
Fatahillah masuk kedalam rumah mengambil payung, kemudian ia menerobos hujan dengan menggunakan payung milik ibunya. di jalan raya dengan hujan yang deras, Fatahillah berdiri sambil melambaikan tangan ke arah kendaraan yang lewat namun tidak satupun dari mereka yang ingin berhenti.
ddduuuaaaar
"astaghfirullah"
suara guntur di langit sana membuat Fatahillah kaget. bagaimana tidak, suaranya terdengar begitu keras dan memekikkan telinga.
dengan pakaian yang sudah sebagian basah karena terkena air hujan, Fatahillah tetap semangat berdiri di pinggir jalan mencoba menghentikan mobil apa saja yang lewat namun usaha yang dilakukannya hanya sia-sia.
"ya Allah aku harus bagaimana"
Fauzan sedang mengemudikan mobilnya, di dalam sudah ada pak Odir yang ia jemput di bandara tadi.
laki-laki yang seumuran dengan pak Umar itu, melihat seseorang dari kejauhan yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangannya menghentikan kendaraan.
"Fauzan, tolong berhenti di depan pemuda itu. sepertinya dia membutuhkan bantuan" pak Odir menunjuk ke arah depan
"baik pak"
setelah dekat dengan Fatahillah, Fauzan memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di depan Fatahillah. pak Odir menurunkan kaca mobil.
"ada apa nak, kenapa kamu berdiri hujan-hujanan seperti ini...?" tanya pak Odir
"pak, boleh saya minta tolong. ibu saya sedang sakit, sejak tadi saya mencari taxi untuk membawa kami ke rumah sakit namun tidak ada satupun yang mau berhenti dan membantu saya" suara Fatahillah ia keraskan agar dapat didengar oleh pak Odir
"loh, bukannya kamu Fatahillah...?" Fauzan bertanya saat melihat siapa yang pak Odir ajak bicara
"eemm...kamu...."
"Fauzan mas, saya tadi yang di rumah sakit bersama pak Umar. kamu yang menyelamatkan Hasan kan"
"oh iya, maaf maaf saya tidak begitu ingat"
"dimana rumahmu biar sekalian kita berangkat bersama ke rumah sakit"
"di sana" Fatahillah menunjukkan rumahnya
"ya sudah kamu masuklah, kita jemput ibumu" perintah Fauzan
"terimakasih banyak mas"
Fatahillah masuk ke dalam mobil di kabin tengah. Fauzan memutar arah mobilnya untuk menuju ke rumah Fatahillah. mobil itu parkir di halaman rumah.
ketiganya keluar dari mobil, berlari menuju teras rumah. Fatahillah mempersilahkan mereka masuk dan langsung ke kamar ibunya.
"biar aku bantu mengangkat ibumu" ucap Fauzan
"tidak usah mas, saya bisa menggendong ibu saya. saya hanya minta tolong mas Fauzan memayungi kami saat masuk ke dalam mobil" jawab Fatahillah
"baiklah, ayo"
"bu, kita ke rumah sakit ya"
"hujan Fatah" ibu Fatahillah menjawab lirih
"kita naik mobil, sekarang Fatah akan menggendong ibu untuk masuk ke dalam mobil"
sang ibu mengangguk. Fatahillah dengan hati-hati mengangkat tubuh ibunya dan membawanya keluar. di teras rumah Fauzan bersiap dengan payungnya. saat Fatahillah datang, Fauzan memayungi mereka masuk ke dalam mobil. setelah itu Fauzan menjemput pak Odir lagi dan memayunginya masuk ke dalam mobil. kemudian setelah itu barulah ia memutari kendaraannya itu dan masuk ke dalam.
"selimutkan pakai ini agar ibumu tidak kedinginan" Fauzan memberikan jaketnya kepada Fatahillah
"terimakasih mas"
Fatahillah mengambil jaket itu dan menyelimuti ibunya. mobil Fauzan perlahan bergerak dan meninggalkan halaman rumah tersebut. mereka kembali membelah jalan raya di bawah guyuran hujan deras.
"pelan-pelan saja Zan, yang penting kita selamat sampai tujuan" pak Odir memberitahu
"iya pak" jawab Fauzan menuruti perintah laki-laki yang duduk di samping kemudi itu
untung saja malam itu mereka tidak terjebak macet sehingga hanya beberapa menit mereka tiba di rumah sakit. masih dalam keadaan hujan deras, Fauzan keluar dari mobil dan membuka pintu kabin tengah. Fatahillah keluar menggendong ibunya, Fauzan memayungi mereka. sementara pak Odir menerobos hujan dengan berlari kecil masuk ke lobi rumah sakit.
"suster, tolong ibu saya" Fatahillah mendekati dua orang suster yang sedang berjaga pada malam itu
"di bawah ke ruang pemeriksaan saja mas, saya akan memanggil dokter"
Fatahillah digiring ke ruang pemeriksaan, Fauzan dan pak Odir mengikuti di belakang. bagaimanapun juga mereka tidak bisa pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Fatahillah.
"saya periksa dulu ya pak, mohon tunggu di luar" dokter perempuan datang untuk memeriksa ibu Fatahillah
dengan berat hati Fatahillah keluar dari ruangan itu, ia duduk di kursi tunggu bersama pak Odir dan Fauzan.
"mas Fauzan, maaf saya mengabaikan anda. terimakasih untuk kebaikan yang anda lakukan, terimakasih telah membantu kami" Fatahillah mengucapkan rasa terimakasih dengan tulus
"bahkan apa yang saya lakukan tidak sepadan dengan apa yang kamu lakukan kepada Hasan saat itu. berkat kamu Hasan bisa ditangani secepatnya" Fauzan tersenyum
"oh iya pak, dia adalah Fatahillah, orang yang telah menyelamatkan Hasan dari kecelakaannya" Fauzan memperkenalkan Fatahillah kepada pak Odir
"masha Allah, terimakasih nak Fatah. saya pak Odir pamannya Hasan" pak Odir menjabat tangan Fatahillah dan memeluknya
"senang bertemu dengan anda pak. jadi kalian berdua mau menjenguk Hasan...?"
"iya, saya dari bandara menjemput pak Odir yang dari kota S" Fauzan menjawab
"bagaimana keadaan Hasan sekarang...?" tanya Fatahillah
"masih koma, masih dalam keadaan kritis. semoga saja dia bisa melewati masa kritisnya dengan cepat. kalau begitu kami permisi dulu ya, maaf tidak bisa menemanimu"
"tidak apa-apa, kalau memungkinkan saya akan menjenguk Hasan nanti"
"kalau begitu kami pergi dulu. ayo pak" ajak Fauzan kepada pak Odir
"mari nak Fatah"
"iya pak, silahkan"
Fauzan dan pak Odir meninggalkan Fatahillah seorang diri. mereka berdua bergegas ke ruang ICU tempat dimana Hasan terbaring belum sadarkan diri.
di sana mereka melihat pak Umar sedang duduk di lantai dengan pundak naik turun. pria baya itu sedang menangis.
"pak Umar, ada pak...?" Fauzan menghampiri bosnya dan membantunya untuk bangun
"Hasan... Hasan"
"kenapa dengan Hasan pak...?" pak Odir mulai khawatir
"Hasan m-meninggal... Hasan meninggal".
"innalilahi wainnailaihi Raji'un" pak Odir dan Fauzan berucap bersamaan
pak Odir luruh di lantai mendengar kabar keponakannya telah pergi. padahal dirinya baru saja datang untuk menjenguk keponakannya itu, namun ternyata waktu tidak berpihak kepada pria baya itu.
"ya Allah Hasan" jatuh sudah air mata pak Odir
"apa yang terjadi pak, bukankah tadi Hasan baik-baik saja. kenapa bisa seperti ini...?"
"saya tidak tau Zan. saat datang saya melihat Hasan kejang-kejang, nafasnya naik turun dan memburu"
"tadi... dokter sempat menyelam nyawanya bahkan bilang kalau kondisi Hasan kembali normal meskipun masih belum sadar. tapi menjelang satu jam, saat saya berada di dalam, tiba-tiba tubuh Hasan terangkat ke atas dan setelah diperiksa, dia sudah tidak bernyawa" pak Umar menjelang dengan air mata
Hasan sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. kedekatannya dengan Hanum membuat keluarga pak Umar begitu baik kepada Hasan. Hasan selalu dapat diandalkan oleh pak Umar, dia laki-laki yang baik dan santun. itulah mengapa pak Umar begitu kehilangan.
pintu ruang ICU terbuka, Hasan dikeluarkan dan akan dibawa ke kamar jenazah. pak Odir menghentikan langkah para suster dan dokter itu, dia ingin melihat keponakannya yang telah tiada itu.
"San, ini paman nak" pak Odir memeluk tubuh Hasan
"maaf pak, silahkan mengurus administrasi untuk bisa membawa jenazah korban pulang" salah satu suster memberitahu
jenazah Hasan dibawah ke kamar jenazah sedang Fauzan mengurus administrasi untuk memulangkan Hasan. pak Umar meminta Hasan di bawa ke rumahnya saja. pak Odir setuju, namun besok pagi mayat Hasan akan di terbangkan ke kota S untuk dikebumikan di kota kelahirannya.
"ibu anda terkena demam berdarah, untung saja anda dengan cepat membawa ke mari jadi langsung dapat penanganan" seorang dokter memberitahu penyakit ibu Fatahillah
"lalu bagaimana keadaan ibu saya sekarang dok...?
"harus menjalani perawatan pak. ibu bapak sekarang dalam pengaruh obat bius, mungkin 1 jam ke depan dia akan siuman. saya tinggal ya pak, kalau ada apa-apa silahkan tekan tombol di samping ranjang itu"
"baik dokter, terimakasih"
Fatahillah masuk ke dalam untuk melihat ibunya. wanita yang penuh dengan kelembutan itu kini sedang tertidur pulas di bawah pengaruh obat bius.
"cepat sembuh bu, dunia Fatah gelap kalau nggak ada ibu" Fatahillah mencium tangan ibunya
sudah pukul 10 malam, Fatahillah teringat dengan Hasan. di saat ibunya sedang tidur, Fatahillah menggunakan kesempatan itu untuk pergi melihat Hasan. dia meminta seorang suster untuk menjaga ibunya sampai dirinya kembali.
saat menuju ke ICU, Fatahillah melihat Fauzan di meja administrasi. ia kemudian menghampiri laki-laki itu.
"mas Fauzan" panggil Fatahillah saat Fauzan akan bergegas pergi
"Fatah" Fauzan memanggil lirih
"ada apa mas...?" Fatahillah bertanya karena dapat ia lihat wajah Fauzan yang kusut dan terdapat bekas air mata
"Hasan meninggal"
"innalilahi wainnailaihi Raji'un"
"lalu dimana mayatnya sekarang...?"
"di kamar jenazah"
"ya sudah, saya ikut ke sana"
mereka berdua bergegas ke kamar jenazah. pak Umar dan pak Odir yang sedang menunggu Hasan sejak tadi langsung melempar pandangan ke arah mereka.
"Fatahillah" ucap pak Umar
"iya pak, tadi saya bertemu dengan Fauzan di depan"
"bagaimana Zan, sudah seleksi mengurus administrasi...?" pak Umar bertanya.
"sudah pak, mayat Hasan bisa kita bawa pulang sekarang"
mereka masuk ke dalam untuk melihat Hasan. laki-laki itu sudah terbujur kaku di atas brankar. Fatahillah menelisik tubuh Hasan dari ujung kepala sampai ujung kaki. tangannya tergerak menyentuh kepala Hasan.
"astaghfirullahaladzim"
"kenap Fatah...?" tanya pak Odir
"maaf, maafkan saya. ini memang tidak masuk akal bagi kalian tapi saya harus mengatakan ini" Fatahillah menatap serius mereka bertiga
"ada Fatah, katakan saja" ucap pak Umar
"Hasan belum meninggal pak, jiwanya ditarik keluar dan dibawa pergi"
"apa...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Endro Budi Raharjo
ini baru sakti....
2025-03-22
0
warkop Teteh kuningan
assssyek masih bisa d selamatkan dwong....tunjukan pesonamu Fatah
2023-11-07
2
Mr.VANO
smg hasan bisa di selamatkan
2023-04-27
1